LOGINKemarin aku hanyalah gadis miskin yang berasal dari desa kecil. Namun tiba-tiba keberuntungan memihakku, statusku berubah menjadi putri keluarga politikus terpandang. Segala kemewahan dan kenyamanan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya kini ada di depan mata. Sayangnya surga itu harus aku tebus mahal. Demi menyokong posisi Ayah di pemerintahan, aku harus menggantikan adik tiriku yang menolak dijodohkan dengan Julian—pria yang rumornya impoten sekaligus punya penyimpangan seksual—tapi punya power luar biasa di pemerintahan. Namun siapa sangka Devan, Kakak tiriku yang terobsesi padaku sejak pandangan pertama menawarkan diri menjadi selimutku? Belum aman, lagi—Arthur, adik ibu tiriku juga memberiku perhatian di luar batasan yang membuatku perlahan nyaman. Aku bingung harus pilih yang mana di antara mereka bertiga!
View MoreDi depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Ratusan kristal swarovski yang dijahit tangan pada kain lace Prancis itu berkilauan setiap kali dia bernapas. Namun bagi Renata, setiap kilauan itu seperti mata-mata yang mengawasinya.
Tepat sebulan yang lalu, tangan Renata masih kasar karena pekerjaannya sebagai pemanen sayur di desa kecil—Brompton, asal mendiang ibunya. Sekarang jemarinya yang lentik dipoles kuteks bening mahal. Dia bukan lagi Renata si gadis yatim piatu yang miskin. Tapi Renata Doe, putri dari seorang politikus yang sedang naik daun, Henry Doe. Sebuah identitas yang dipaksakan, dia dibawa kembali setelah terpisah lama dari ayahnya. Tapi hanya dijadikan alat agar ayahnya bisa melunasi utang budi politik pada Julian Cooper. "Jangan melamun, Renata. Kau terlihat seperti orang bodoh jika mulutmu terbuka seperti itu." Suara tajam itu memecah keheningan. Renata tersentak mendengar langkah Sandra, ibu tirinya yang masuk ke ruang rias dengan aura mengintimidasi yang kental. Napas Renata tertahan begitu Sandra telah berdiri di belakangnya, menatap pantulan putri tirinya itu dengan tatapan menilai yang dingin. "Kau ini sungguh beruntung," lanjut Sandra sambil meraih tiara berlian dari kotak beludru. "Gadis desa sepertimu biasanya berakhir menjadi pelayan toko atau menikah dengan kuli. Tapi lihat dirimu sekarang! Kau akan menikah dengan Julian, SEKJEN dari Partai Merah. Semua wanita di London akan iri denganmu, karena hanya kau yang berhasil menikahi pria idaman mereka!" Renata meremas buket mawar putih di pangkuannya. Duri yang sengaja tidak dibersihkan sempurna oleh pelayan atau mungkin atas perintah Sandra. Menusuk telapak tangannya, terasa perih namun ia tidak meringis di depan wanita itu yang tak pernah bersikap baik padanya sejak menginjakkan kaki di kediaman Doe. Di belakang ayahnya, Henry, Renata diperlakukan seperti pembantu. "Semua wanita di London iri denganku?" Renata akhirnya bersuara, yang terdengar serak namun tegas. "Maksud Nyonya, mereka iri karena aku bisa tidur dengan pria yang rumornya impoten dan punya penyimpangan seksual? Kenapa tidak berikan saja keberuntungan ini pada putri kandungmu, Alice? Kenapa dia justru dikirim ke luar negeri saat perjodohan ini diumumkan?" PLAK! Tamparan itu mendarat keras di pipi kiri Renata. Rasa panas seketika menjalar di kulitnya yang pucat, hingga membuat kepalanya terhentak ke samping. "Tutup mulutmu!" Sandra melotot. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Renata. "Alice punya masa depan yang cerah. Dia tidak pantas disandingkan dengan pria cacat seperti Julian. Berbeda denganmu yang hanyalah sampah yang kami pungut dari lumpur." Perkataan itu seperti belati menembus jantung Renata. Matanya seketika memanas, dadanya terasa sesak. Entah kenapa meski seringkali direndahkan oleh Sandra, kali ini rasanya begitu sakit melebihi tamparan tadi? "Buat posisi ayahmu selalu aman." Sandra kembali mengecam, "jika kau sampai berani macam-macam? Mempermalukan keluarga Doe atau melarikan diri ... ingatlah nenekmu yang jompo itu." Dia menyeringai, menunjukkan kekuasaannya yang membuat nyali Renata ciut. "Satu telepon dariku, oksigen di rumah sakit itu akan dicabut!" Debar jantung Renata semakin meningkat mendengar ancaman itu. Air matanya hampir jatuh, namun setengah mati ia tahan. Harus lebih bersabar lagi menelan semua harga dirinya, membiarkan bara kebencian mengendap di dasar hatinya. Menjadikannya fondasi kuat untuk membalas dendam suatu hari nanti. 'Tidak, aku harus kuat demi Nenek! Lagi pula ini hari terakhirku keluar dari neraka ini!' batinnya menguatkan diri. "Kau mengerti?!" sentak Sandra. "Aku mengerti," jawab Renata. "Aku akan melakukannya." "Bagus!" Sandra tersenyum puas, seolah baru saja menjinakkan seekor hewan liar. Ia lalu memasangkan tiara di kepala Renata dengan gerakan kasar. "Sekarang hapus tatapan sedihmu. Tersenyumlah! Karena di luar sana, ribuan kamera telah menunggumu!" Renata pikir, selepas keluarnya Sandra, ia dapat menyendiri beberapa saat sebelum drama baru hidupnya akan dimulai. Tapi pintu besar itu kembali terbuka. Bukan pelayan yang masuk, melainkan seorang pria muda dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuh atlestisnya bersandar di bingkai pintu. "Kenapa k-kau di sini?" tanya Renata gugup mendapati keberadaan Kakak tirinya, Devan. Pria yang sejak hari pertama dirinya menginjakkan kaki di rumah itu, selalu menatapnya dengan cara yang membuatnya ingin bersembunyi di bawah tempat tidur. Namun Devan tidak bicara saat melangkah perlahan mendekati Renata yang beranjak dari duduk terburu-buru. Ketukan sepatu pantofelnya bergema di ruangan sunyi itu dan berhenti tepat di belakang Renata, menggantikan posisi ibunya. "Kau tidak seharusnya ada di sini," peringat Renata dengan tubuh membeku, melihat mata gelap Devan menelusuri tubuh Renata begitu dekat. Mulai dari bahu yang terbuka hingga pinggangnya yang ramping. "Bidadariku sangat cantik hari ini," bisik Devan dengan suara berat, dengan nada tidak wajar. "Terlalu cantik bersanding untuk pria impoten seperti Julian." Tubuh Renata menegang saat merasakan jari besar Devan menyentuh bahunya yang terbuka. Sentuhan itu dingin, namun terasa membakar kulitnya. "Pergilah, Dev. Upacara pernikahanku akan dimulai lima menit lagi!" usirnya halus. "Upacaramu resmi menjanda, maksudmu?" kekeh Devan. Renata membelalak. Tapi tangan Devan dengan cepat turun ke arah punggung Renata yang terekspos karena model gaunnya yang rendah. "Ckk! Renata... Julian tidak akan pernah menyentuhmu. Beda denganku ..." Devan mendekatkan wajahnya ke leher Renata yang tersengal napas. Menghirup aroma citrus yang melekat, hingga Renata gelisah merasakan napas panas pria tampan itu. "Jangan lancang, Dev! Aku ini adik tirimu!" peringatnya dengan berusaha kabur, tapi Devan menahan pinggangnya agar bisa dipeluk. "Adik tiri? Tidak. Kau tetaplah gadis desa yang aku inginkan sejak pertama kali melihatmu turun dari bus dengan baju loakmu itu," bisik Devan posesif. Renata meronta. "Lepaskan aku!" "Oke, tapi ingatlah Renata. Jika malam nanti kau kedinginan di ranjang, telepon aku dan aku akan datang menjadi selimutmu." "Kau gila!" Devan tersenyum miring melihat reaksi marah Renata yang menggemaskan, saat ia melepas tangan dari pinggang ramping itu sebelum berbalik pergi. Renata gemetaran hebat, merasa dikelilingi oleh monster. Ayah yang tega menjualnya, Ibu tiri yang mengancam nyawa sang nenek, Kakak tiri yang terobsesi padanya dan sebentar lagi ... ia akan hidup dengan suami misterius dan berbahaya. "Aku tidak boleh lemah begini." Sesaat Renata menarik napas panjang, menenangkan diri dan menatap pantulannya sekali lagi. Tidak, bekas tamparan di pipinya yang merah harus segera ditutupi. Dengan gerakan amatir Renata menutup bekas itu, mengaplikasikan ulang bedak dengan gemetaran. Selesai. Bertepatan setelah itu Aliyah, pelayan yang khusus mendampinginya selama tinggal di kediaman Doe mengetuk pintu. "Nona Renata, sudah saatnya." Renata berdiri. Ia mengangkat dagunya tinggi saat keluar menuju altar, disambut Aliyah yang mengangkat ekor gaunnya yang panjang. Melewati lorong gereja yang dipenuhi orang-orang penting yang menatapnya penuh penilaian. Sementara itu di depan Pendeta, berdiri seorang pria tinggi dengan aura begitu mendominasi hingga udara di sekitarnya terasa menipis. Tidak salah lagi, itu pasti Julian. Renata baru pertama kali mengetahui wajahnya dengan jelas. Pria itu tidak tersenyum. Matanya tajam seperti elang menatap Renata yang berada di sampingnya. Bukan sebagai pengantin wanitanya, melainkan seperti musuh yang harus diwaspadai. "Mulai saja, Pendeta!" suruh Julian yang terkesan dingin. Renata terpaku mendengar Julian mengabaikan kesakralan pernikahan mereka, yang dijalani hanya demi misi politik. Detik berikutnya, Julian meraih tangan Renata untuk menyematkan cincin, ia merasakan dingin luar biasa, bukan karena AC gereja melainkan aura Julian. "Lalu sekarang cium istrimu, Tuan Julian!" Pendeta memberi aba-aba dengan tersenyum. Jantung Renata seolah berhenti saat mata mereka berdua bertemu, walau dibatasi veil dia bisa melihat jelas tatapan Julian yang sulit ia deskripsikan. Seketika mengingatkannya ucapan terakhir Devan di ruang rias. 'Kalau Julian mau menciumku, berarti rumor kalau dia impoten adalah bohong!'Dingin. Itu hal pertama yang Renata rasakan saat tubuhnya menghantam air di Pelabuhan. Airnya pekat, berminyak, dan berbau solar menyengat. Telinganya masih berdenging oleh suara letusan pistol peredam milik Sandra, meski kini suara itu kalah oleh desis air yang memaksa masuk ke telinganya. Bahu kirinya terasa seperti dibakar. Peluru tadi sempat menembus bagian tubuhnya sebelum tubuh Renata tersungkur jatuh ke dalam pelukan dingin laut yang gelap. Di bawah sana, dunia berubah jadi biru tua yang mencekam. Renata mencoba menggerakkan tangan, tapi rasa sakit yang tajam membuatnya lumpuh seketika. Dari kejauhan, cahaya lampu pelabuhan tampak berpendar samar di permukaan, kian lama kian kecil, seolah mengejek tubuhnya yang terus tenggelam. Blazer tebal dan sepatu hak tingginya menariknya makin dalam. 'Apakah ini akhirnya? batin Renata. Saat kesadaran mulai kabur. Setelah semua intrik gila, setelah berlari sana-sini menghindari bahaya, dia malah mati di tangan wanita yang paling ia
"Renata, menjauh dari sana!" teriak Julian, moncong senapannya terkunci tepat di kepala Devan. "Dev, dengar aku! Lepaskan Renata, maka aku akan membujuk Julian untuk mengampunimu!" seru Arthur, berdiri di samping Julian dengan posisi yang ambigu. Devan menyadari dirinya terjebak dalam sandiwara maut. Dengan refleks gila, ia menarik Renata, menempelkan pisau tajam ke leher wanita itu hingga darah menetes. "Jangan mendekat! Aku akan membunuhnya! Aku bersumpah!" Suasana membeku. Tiga pria paling berpengaruh dan berbahaya dalam hidup Renata kini saling mengarahkan senjata, menciptakan segitiga kematian dengan Renata sebagai pusat pusaran badai. "Cukup!" Teriakan Renata menggelegar, menghentikan segala kebisingan. Dengan kekuatan yang tak terduga, ia meronta dari cengkeraman Devan, mendorong pria gila itu hingga terhuyung ke belakang, lalu berdiri tegak di tengah-tengah mereka. Tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena adrenalin kekuasaan yang baru saja ia ambil alih. "Kalian
Ujung pisau lipat itu menggores kulit rahang Renata, meninggalkan garis merah tipis yang kontras dengan pucatnya wajah wanita itu. Namun, Renata sama sekali tidak berkedip. Tidak ada getaran ketakutan, tidak ada air mata yang jatuh. Ketenangannya justru membuat Devan merasa tindakannya sia-sia, seperti mengancam patung es yang tak tersentuh api. "Kenapa kau tidak panik? Kenapa kau tidak takut saat besi dingin ini menyentuh kulitmu, Baby?" tanya Devan, suaranya serak oleh kebingungan yang mulai berubah menjadi kemarahan. Renata menatap lurus ke depan, matanya kosong namun tajam bagai silet. "Karena kau... tidak akan berani merusak wajahku." Devan membelalak. Tawa getir meledak dari tenggorokannya, terdengar menjijikkan di dinding gudang yang lembap itu. Renata sudah berubah. Bukan lagi wanita polos yang dulu ia culik dari kediaman Doe, yang gemetar ketakutan dan butuh perlindungan. Wanita di hadapannya kini memiliki aura dingin yang mampu membekukan darah lawan-lawannya. "Benar!
Ponsel milik Julian berdering, suaranya membelah keheningan ruang tamu yang masih menyisakan aroma gairah mereka. Tanpa melepas pandangannya yang tajam dari Renata, tangan pria itu meraih perangkat dari saku celana dan menempelkannya ke telinga."Anda sudah di pengadilan?"Suara Julian datar, namun matanya masih mengunci Renata, seolah memastikan wanita itu tetap miliknya. Namun, detik berikutnya, tatapan itu terputus. Julian berbalik, meninggalkan Renata yang masih terduduk lemas di atas meja, gaunnya tersingkap tak senonoh, napasnya belum sepenuhnya teratur.Mata Renata mendelik. Apa? Dirinya dicampakkan begitu saja setelah dibuatnya terus mendesah dan basah kuyup oleh sentuhan pria itu?"Brengsek kau, Julian!!" Renata mengumpat kesal, menatap langkah lebar pria itu yang menjauh seolah tak pernah terjadi sesuatu yang intim antara mereka berdua. Dingin. Seolah Renata hanya alat pemuas sesaat, bukan mitra dalam permainan berbahaya ini.Renata bangkit dari meja dengan raut masam. Kakin
Renata terbangun sebelum alarm weeker berbunyi. Ia hendak beranjak, tapi perhatiannya terpusat pada Julian. Bibirnya menyunggingkan senyum ketika ia menatap Julian yang masih terlelap di sampingnya. Dalam kondisi tidur, wajah suaminya itu tampak lebih manusiawi. Garis-garis keras di rahangnya sedi
Julian tidak bertanya lagi pada Renata. Diamnya pria itu jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarahnya. Rahangnya yang mengeras dan deru mesin mobil adalah satu-satunya suara yang mengisi ruang kabin. Mobil mewah yang dikendarainya itu membelah kesunyian malam London dengan kecepatan yang nyari
Waktu seolah membeku di dalam ruang toilet yang dingin itu ketika Devan akhirnya melepaskan cengkeramannya, tubuh Renata merosot jatuh ke lantai marmer, seperti boneka pertunjukan yang tali-talinya diputuskan. Gaun malamnya yang indah kini tampak menyedihkan, robek dan kusut, mencerminkan kehancur
"Siapa di sana?" tanyanya dengan degup jantung cepat.Tidak ada jawaban, bulu kuduk Renata meremang dan ia seketika merasa cemas seolah suatu hal buruk akan terjadi. Ia lalu berbalik dengan cepat dan seketika itu juga, seluruh keberaniannya runtuh.Mata Renata membelalak, napasnya tertahan. Di sana
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews