Beranda / Romansa / Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu / Bab 12 - “Kamu Menyukainya?”

Share

Bab 12 - “Kamu Menyukainya?”

Penulis: Kharamiza
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 22:00:51
Acha sedikit terperanjat mendengar perkataan Elvano barusan.

Kepalanya yang semula tertunduk, perlahan terangkat. Sejenak, ia hanya menatap Elvano, memastikan pendengarannya tidak salah.

‘Ke luar kota? Dengannya?’

Padahal, Acha sudah bersiap menerima kemarahan. Setidaknya teguran dingin, atau mungkin tatapan kecewa yang akan membuatnya semakin merasa bersalah. Namun, yang keluar dari mulut Elvano justru di luar dugaan.

“I-ikut Bapak … ke luar kota?” ulangnya pelan, nadanya sedikit goyah.

“Ke Malang,” jawab Elvano singkat. “Saya akan meninjau pembangunan pabrik. Selama di sana, kamu yang pegang jadwal.”

Kalimat tegas itu diucapkan tanpa penjelasan tambahan.

Acha menelan ludah yang mendadak terasa keras di kerongkongannya. Dadanya penuh sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Ia ingin membuka mulut, ingin bertanya sekadar memastikan mengapa harus dirinya bukan Raka? Kenapa justru dirinya, setelah kecerobohan yang belum sehari berlalu? Bahkan, ora
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 14 - Tidak Wajib Menyenangkan Semua Orang

    Acha masih menggenggam ponsel ketika suasana kamar itu perlahan terasa semakin sunyi.Ia membaca ulang pesan dari istri atasannya, lagi dan lagi, sampai ponsel di tangannya terasa berat. Acha tidak langsung membalas. Dadanya mengencang pelan, seakan ada sesuatu yang menahannya untuk segera mengetik.Ia menelan ludah sebelum jari bergerak di atas layar. Sejak lama, Acha tahu, satu kalimat bisa terdengar berbeda tergantung siapa yang membacanya.Hal itu ia rasakan sekarang. Melihat nama Tiara muncul di layar seharusnya biasa saja, tetapi telapak tangannya justru terasa dingin.Acha menarik napas pendek, lalu mengetik balasan.[Iya, Bu. Saya dan Pak Elvano lagi di Malang.]Pesan itu terkirim.Acha mengetuk pelan sisi ponsel dengan ibu jari sembari menunggu. Tak sampai semenit, balasan dari Tiara pun muncul di layar.[Acha, kalau begitu saya titip Elvano selama di sana ya. Tolong jaga dia.]Acha terdiam.Kata ‘jaga’ itu bertahan terlalu lama di kepalanya. Kalimatnya terdengar lebih dari

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 13 - Pesan dari Nomor Tak Dikenal

    Acha sontak menoleh. Mulutnya sedikit terbuka. Ia hampir tak percaya Elvano melontarkan pertanyaan yang arahnya sangat jelas.Padahal, Acha mencari Raka bukan karena ada maksud lain.Lalu, apa motivasinya pertanyaan itu?Acha buru-buru mengalihkan pandangan. Tawanya tiba-tiba meledak, mula-mula pelan, lalu sedikit lebih keras. Bukan karena lucu, melainkan karena ia merasa dihakimi hanya karena mencari seseorang.“Ya, nggak mungkinlah, Pak,” katanya di sela tawa. “Ada-ada saja saya suka Pak Raka.”Elvano tak menanggapi lagi. Ekspresinya tetap datar, bahkan tidak ada reaksi apa pun yang bisa ditafsirkan sebagai percaya atau tidak. Pria itu kembali fokus pada tablet di tangannya, seakan percakapan barusan telah usai.Elvano baru mengangkat pandangan ketika mereka tiba di bandara. Itu pun hanya sebentar. Begitu duduk di pesawat, perhatiannya kembali tertambat pada layar tablet. Sesibuk itu, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.Sangat berkebalikan dengan Acha yang duduk di dekatnya. Bahu

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 12 - “Kamu Menyukainya?”

    Acha sedikit terperanjat mendengar perkataan Elvano barusan. Kepalanya yang semula tertunduk, perlahan terangkat. Sejenak, ia hanya menatap Elvano, memastikan pendengarannya tidak salah. ‘Ke luar kota? Dengannya?’ Padahal, Acha sudah bersiap menerima kemarahan. Setidaknya teguran dingin, atau mungkin tatapan kecewa yang akan membuatnya semakin merasa bersalah. Namun, yang keluar dari mulut Elvano justru di luar dugaan. “I-ikut Bapak … ke luar kota?” ulangnya pelan, nadanya sedikit goyah. “Ke Malang,” jawab Elvano singkat. “Saya akan meninjau pembangunan pabrik. Selama di sana, kamu yang pegang jadwal.” Kalimat tegas itu diucapkan tanpa penjelasan tambahan. Acha menelan ludah yang mendadak terasa keras di kerongkongannya. Dadanya penuh sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ia ingin membuka mulut, ingin bertanya sekadar memastikan mengapa harus dirinya bukan Raka? Kenapa justru dirinya, setelah kecerobohan yang belum sehari berlalu? Bahkan, ora

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 11 - Mengambil Hati?

    Setelah beberapa saat tak mendapat jawaban dari Elvano, Acha baru ingat Raka pergi bersamanya. Tangannya langsung beralih menekan kontak Raka di ponsel. Nada sambung terdengar beberapa kali, tetapi hasilnya sama saja. Acha mencoba lagi, tetapi tetap tak ada jawaban. Ponsel itu seperti sengaja menguji kesabarannya. Pada percobaan ketga, Raka akhirnya menjawab panggilannya. “Halo, ada apa, Acha?” suara Raka terdengar dari seberang. Acha hampir mengembuskan napas terlalu keras. “Maaf, Pak Raka … lagi bareng Pak Elvano?” “Iya. Ini, lagi di jalan.” “Pak Raka, tolong banget …,” ucap Acha cepat. “Bilang sama Pak Elvano kalau Pak Burhan ada di kantor.” Tak ada jawaban langsung, Acha menggenggam ponselnya lebih erat hingga jari-jarinya terasa dingin. Lalu, terdengar suara lain dari balik telepon. Datar dan tanpa basa-basi bertanya, “Ada apa?” Napas Acha tersangkut di tenggorokannya sendiri, ia memejamkan mata sesaat sebelum berbicara. “Pak, saya minta maaf. Di sini ada Pak

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 10

    Acha menggigit bibirnya, mulutnya kelu, tak tahu harus malu atau kesal. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan jemarinya sedikit gemetar saat pura-pura menulis catatan di tablet. ‘Kenapa Pak Elvano bisa nggak ngeh, sih? Jelas-jelas ada bekas lipstikku di sana.’ Elvano meneguk kopi itu hanya sekali, lalu melirik cangkirnya sekilas. Tatapannya yang datar sempat beralih pada Acha sejenak, seolah kepanikan wanita tak ada artinya. “Kamu meletakkannya terlalu dekat,” katanya pelan, hanya untuk mereka berdua. “Saya kira itu milik saya.” Acha menghela napas pasrah. Termasuk bukan salahnya, tetapi ia tetap merasa dirinya yang bersalah. Di mata Elvano, mungkin pasal wanita selalu benar tak pernah berlaku. Acha melirik sekeliling, memastikan tak ada satu pun yang menyadari kejadian barusan. Barulah Acha kembali menunduk, berusaha menenangkan dirinya. Namun, wajahnya tetap memerah. Rapat h

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 9

    Setelah kepergian Elvano, Acha tetap duduk di lantai kamar hotel beberapa saat, membiarkan dinginnya marmer menyusup ke kulitnya. Napasnya belum sepenuhnya stabil ketika akhirnya ia memaksa diri berdiri. Tas lengan di meja digenggam seadanya saat melangkah gontai keluar kamar hotel, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi. Memasuki lift, Acha sempat melirik ke dinding kaca lift. Bayangan wajahnya tampak pucat, bahkan ia sendiri merasa asing dengan tubuh yang berdiri di sana. Selama perjalanan menuju apartemen, Acha lebih banyak diam, berbicara hanya ketika menyebutkan alamat pada pengemudi taksi. Suasana hatinya terlalu buruk untuk sekadar berbasa-basi. Di tengah kekalutannya, keinginan untuk berhenti bekerja dan menjauh dari Elvano muncul begitu saja. Ia ingin kejadian malam itu tak terus menghantuinya dalam rasa malu dan penyesalan. Acha bersandar sebentar di balik pintu yang tertutup begitu tiba di apartemen. Baru saja ia menghela napas ketika ponselnya berdering, memecah l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status