Mag-log inAcha dan Elvano masih menatap kaku boneka yang baru saja keluar dari mesin di sebelah mereka.Sementara pasangan muda-mudi itu sudah berlalu menuruni eskalator. Acha masih sempat melongo, nyaris tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.Itu serius? Cuma karena dicium pipi … langsung dapat?Ia melirik mesin capit di depannya dengan tatapan curiga. Dari tadi ia sudah berjuang cukup keras untuk mendapatkan boneka itu, sementara pengunjung di sebelah mereka barusan bisa mendapatkan dengan begitu mudahnya.“Ini mesin pilih kasih,” gumamnya pelan.Elvano meliriknya sekilas. “Mesin tidak punya perasaan,” timpalnya.“Tapi, tadi jelas beda perlakuannya ke kita dan mereka, Pak.”Elvano tidak menanggapi.Acha menghela napas kesal sambil mengerucutkan bibirnya. “Ya sudah. Kita pulang saja, Pak.”Ia hendak menjauh dari mesin itu. Namun, tiba-tiba Elvano berkata singkat. “Tunggu.”Acha sontak menoleh. Saat itu Elvano sudah memasukkan koin lagi.Ia menggerakkan tuas mesin dengan wajah dat
Acha sedikit tersentak mendengar ucapan pria itu.Maksudnya apa tiba-tiba mau memasangkan cincin di jari manisnya?Aneh sekali. Ia bahkan tidak mengenal pria itu.Acha lalu menunjuk dirinya sendiri, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Sa-saya?” “Iya, Mbak.” Pria itu mengangguk cepat. “Ukuran jari Mbak kayaknya mirip dengan kekasih saya.”Acha langsung membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Oh. Cincin buat sang kekasih ternyata.Baru saja beberapa detik lalu, Acha salah paham. Ia bahkan sempat mengira pria ini memiliki kelainan ketika dia tiba-tiba menariknya dan hendak memasangkan cincin di jari manisnya begitu saja.Ah, usaha pria ini sungguh luar biasa sekali. Andai saja ia juga punya kekasih yang seperti itu.“Jadi, apakah boleh bantu coba cincin ini sebentar, Mbak?” lanjut pria itu dengan tatapan seten
Tiara. Astaga, berani sekali melakukan hal seperti itu di tempat seperti ini. Sebagai publik figur, Tiara seharusnya lebih berhati-hati. Bagaimana kalau ada media yang kebetulan melihatnya barusan? Sudah pasti berita seperti itu akan langsung jadi isu panas. Tepat setelah mobil itu akhirnya melaju keluar dari area basement, Acha perlahan menoleh. Saat itulah ia menyadari tatapan dingin Elvano tertuju ke arah yang sama. Yang berarti, dia juga melihat istrinya mesra dengan pria lain? Namun, mengapa ia begitu tenang. Padahal, siapa pun yang melihat Tiara dan pria tadi pasti bisa menyimpulkan kalau mereka sedang dekat, lebih dari sekadar rekan kerja. “Pa-Pak Elvano,” panggilnya pelan. “Bapak baik-baik saja?” Acha berpikir, diamnya Elvano mungkin karena sedang berusaha mencerna kenyataan itu. Bisa saja dadanya sedang sangat sesak, meski sekarang reaksinya tak banyak. Pria itu menoleh. Alisnya sedikit terangkat. “Pertanyaanmu seperti saya baru saja kena masalah.” Loh? Bukankah y
Sejak menerima telepon dari Raka semalam, Acha lagi-lagi hampir tidak bisa benar-benar merasa tenang.Di tengah situasi seperti ini, kenapa ia justru harus pergi berdua dengan Elvano? Ia terus saja memikirkan kemungkinan paling buruk. Bagaimana kalau orang-orang Tiara ada di acara itu, dan melihatnya datang bersama Elvano? Mungkin saja sengaja mengikutinya juga.Bukankah itu hanya akan memberi bahan baru untuk memojokkannya?Acha bahkan sempat berpikir mencari alasan untuk menolak saja.Sakit perut mendadak. Pusing. Atau, apa saja yang masuk akal bisa dijadikan alasan.Namun, pada akhirnya, Minggu siang itu ia tetap bersedia mendampingi Elvano. Kini ia sudah duduk beraama Elvano di kursi penumpang mobil yang melaju tenang menuju lokasi acara grand opening.Lagipula, siapa dirinya?Ia sekretaris Elvano. Bekerja langsung di bawah pria itu. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, tentu ia memang harus s
Deretan angka yang begitu asing dalam pandangannya itu muncul di layar. Ia sempat ragu sejenak, namun pada akhirnya tetap membuka. [+6281xx: Hai, calon mantu. Ini saya Wiwi, Ibu yang kamu tolong tadi.][+6281xx: Putra saya lagi ada di rumah. Kalau berkenan, kamu boleh kok, ke sini. Kenalan langsung dengannya.]Acha menatap layar ponselnya beberapa detik. Kedua alisnya perlahan bertaut.Tanpa sadar, sudut bibirnya menyungging tipis, sebelum ia bergumam pelan. “Astaga … ada-ada saja.”“Siapa, Acha?” Celine langsung menegakkan tubuh dari karpet, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.Acha menghela napas pendek, lalu mengangkat ponselnya sedikit seolah menunjukkan bukti. “Itu, Bu Wiwi yang tadi kuceritain. Ngajak ke rumah katanya anaknya lagi di rumah.”Tawa Celine kembali tersembur, sampai ia harus menepuk karpet di depannya.“Serius?!” Celine hampir terbahak. “Ini beneran ibu-ibu random di jalan tapi progre
Seperginya wanita itu, Acha melirik jam tangannya sekilas sebelum meraih ponsel dari dalam tas. Kakinya sudah melangkah masuk ke supermarket yang tak jauh dari restoran tadi. Lampu putih terang langsung menyambutnya begitu pintu kaca otomatis terbuka.Acha berhenti sebentar di dekat rak keranjang, lalu menunduk mengetik cepat.[Guys, nongki di apartemen aku aja boleh, nggak? Aku kayaknya agak telat.]Tak butuh waktu lama, balasan Dina datang tanpa banyak bertanya.[Dina: Yaudah, boleh, deh.]Acha tersenyum kecil melihat balasan itu. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas sebelum mengambil troli dan mulai berjalan menyusuri lorong-lorong rak.Sebenarnya ia hanya berniat membeli beberapa bahan dapur sederhana. Telur, sayur, atau lauk yang instan-instan, mungkin juga camilan. Hanya saja, entah kenapa, kepalanya masih penuh dengan kejadian beberapa menit yang lalu.Ia sampai harus berhenti sebentar di depan r







