LOGINSejak menerima telepon dari Raka semalam, Acha lagi-lagi hampir tidak bisa benar-benar merasa tenang.
Di tengah situasi seperti ini, kenapa ia justru harus pergi berdua dengan Elvano?Ia terus saja memikirkan kemungkinan paling buruk. Bagaimana kalau orang-orang Tiara ada di acara itu, dan melihatnya datang bersama Elvano?Mungkin saja sengaja mengikutinya juga.Bukankah itu hanya akan memberi bahan baru untuk memojokkannya?Acha bahkan sempat beElvano mengulurkan tangan ke arah Acha, meski wanita itu hanya menatap tangan tersebut dengan tatapan heran.Setelah beberapa saat terdiam, seolah mempertimbangkan ajakan Elvano, Acha akhirnya menerima uluran tangan itu.Jemari Elvano langsung menggenggam tangan Acha dengan erat, meski tidak memaksa. Seakan pria itu sengaja memberinya kesempatan untuk menarik tangan kapan saja jika berubah pikiran.Mereka akhirnya berjalan keluar dari penthouse bersama.Begitu pintu utama gedung terbuka di lantai bawah, Acha langsung melihat seseorang yang sudah berdiri di parkiran depan.“Dina?”Tampaknya, sahabatnya itu sudah datang untuk menjemputnya.Dina yang sejak tadi memainkan ponsel di dekat mobil seketika mengangkat kepala begitu melihat mereka. Matanya sempat berpindah dari Acha ke Elvano yang masih menggenggam tangan wanita itu.Acha spontan melirik tangan mereka.Elvano tampaknya juga menyadarinya, tetapi alih-alih melepaskan, pria itu justru tetap menggenggam tangan Acha.Berbeda dengan
“Saya juga bukan sengaja pulang bareng dia,” ungkap Elvano. Nada suaranya tetap tenang. “Hanya kebetulan.”Mata Acha sontak menyipit tajam.Kebetulan lagi?Sialnya, pernyataan Elvano itu malah membuat dadanya jadi tak nyaman rasanya.“Dua hari sebelum saya ke Surabaya, Omanya meninggal,” lanjut Elvano. “Dimakamkan di sana karena kota kelahiran omanya memang di sana. Kebetulan, saat saya hendak kembali ke Jakarta, Nadine juga akan pulang.”Acha yang semula hendak kembali memalingkan wajah akhirnya terdiam.Ia menatap Elvano penuh, seolah masih butuh penjelasan lebih banyak lagi.“Kami berada dalam penerbangan yang sama.”“Saya memang ada urusan bisnis di Surabaya,” lanjut Elvano. “Nadine juga harus ke sana untuk pemakaman omanya, tapi kita nggak ketemu, selain ketika di akan pulang.”Acha masih menatapnya penuh selidik.“Sampai ikut ke kantor juga itu kebetulan?”“Taksinya terkena macet karena ada kecelakaan beruntun waktu itu. Jadi saya tawarkan tumpangan.”Acha tertawa hambar sambil
Keduanya kini duduk berhadapan di dekat jendela penthouse.Acha menyilangkan tangan di depan dada. Salah satu kakinya bertumpu di atas kaki yang lain, sementara pandangannya sengaja diarahkan ke luar jendela. Ia tidak ingin terus menatap Elvano.Entah kenapa, melihat pria itu justru membuat dadanya semakin sesak.Ia sudah mengatakan akan mendengarkan. Jadi sekarang, ia hanya perlu mendengar.Di sofa tak jauh darinya, Elvano duduk dengan kedua tangan saling menggamit di atas paha. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Pria itu tampak seperti sedang menyusun kalimat yang paling tepat untuk menjelaskan semuanya.Sampai akhirnya suara Elvano memecah keheningan di antara mereka.“Pertama, soal saya menjemput Nadine di bandara.”Acha menoleh sejenak, kemudian kembali menatap suasana malam di balik jendela.“Saya nggak akan mengelak.” Elvano menarik napas pelan. “Setelah mengantarmu pulang dari gala dinner malam itu, saya memang pergi untuk menjemput Nadine.”Acha menatapnya beberapa detik. Ia
Acha masih menatap Elvano dengan tatapan tak percaya.Beberapa detik lalu pria itu tiba-tiba menciumnya tanpa izin, dan sekarang dengan santainya mengatakan bahwa dirinya tidak diizinkan pergi.Sebenarnya apa yang diinginkan pria ini darinya?“Nggak mengizinkan?” ulang Acha. Suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar.Elvano masih menatapnya lekat. “Iya.”Acha terdiam beberapa detik, seolah sedang memastikan bahwa dia tidak salah dengar, sebelum sebuah tawa pendek lolos dari bibirnya.Bukan karena lucu, tetapi ia sudah terlalu lelah untuk tahu harus merespons seperti apa.“El, kamu ini sudah gila, ya?”Rahang Elvano mengeras. Dia belum menjawab ketika Acha kembali bicara.“Kamu nggak seharusnya melakukan ini!” Acha menunjuk bibirnya sendiri. Matanya mulai memerah. “Kamu mencium saya tanpa izin, lalu sekarang kamu malah bilang saya nggak boleh pergi?”“Acha, dengarkan saya.”“Saya sudah terlalu sering mendengarkanmu, El!”Acha mendorong dada Elvano hingga mundur satu langkah.Tangannya
Tak menyerah, Acha kembali memasukkan PIN yang sama.Tit.Sayang, lampu indikator kembali berubah merah.Bagaimana mungkin?Acha menatap pintu di hadapannya dengan kening berkerut. Ia bahkan sudah yakin memasukkan angka yang benar. PIN itu sudah begitu lama ia hafal di luar kepala. Jari-jarinya seolah bisa mengetiknya tanpa perlu berpikir.Lalu, kenapa aksesnya malah ditolak? Apa mungkin Elvano mengganti PIN-nya?Kalau memang begitu, bagaimana ia bisa mengambil pakaian yang masih tersisa di dalam?Atau jangan-jangan pria itu memang sengaja tidak mengizinkannya kembali ke penthouse ini?Aih, menyebalkan.Acha mengembuskan napas frustrasi. Ia akhirnya mengambil ponsel dari dalam tas dan mencari nama Elvano.Kalau Elvano memang tidak ingin dirinya datang lagi ke penthouse ini, tidak masalah. Toh, Acha juga tidak berniat tinggal di sini lagi.Tapi setidaknya, ia harus mengambil pakaian-pakaiannya di dalam.Acha baru saja menekan tombol panggil ketika sebuah nada dering terdengar dari bela
Jemari Acha yang sejak tadi menggenggam tali tas langsung mengencang.Ia menatap Raka lebih serius, lalu menelan ludahnya dalam-dalam.“Me-menunggu saya?”“Iya.” Raka mengangguk pelan. “Saya sudah ajak pulang, tapi beliau tetap mau menunggu. Katanya, kalau kamu nantinya datang setelah beliau pergi, berarti beliau mengulang kesalahan yang sama.”Acha terdiam.Dadanya terasa sedikit sesak mendengar penuturan asisten pribadi Elvano itu.Jadi, semalam Elvano benar-benar datang ke restoran itu? Dan pria itu sampai menunggunya?Untuk beberapa detik, Acha bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Ia sempat berpikir, kalaupun Elvano datang ke restoran itu, pria tersebut tidak akan benar-benar menunggunya selama itu.Tetapi ternyata dugaannya salah.Acha menunduk, memandangi tangannya sendiri. Sampai saat ini, jujur saja ia tidak mengerti mengapa Elvano sampai segitunya menunggunya.Bukankah pria itu sudah punya orang lain di hatinya?“Saya boleh tanya sesuatu, nggak, Cha?” tanya Raka tiba-tiba.A
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi
Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p
“Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men







