공유

Bab 110

작가: Kharamiza
last update 게시일: 2026-03-10 23:10:40

Seperginya wanita itu, Acha melirik jam tangannya sekilas sebelum meraih ponsel dari dalam tas. Kakinya sudah melangkah masuk ke supermarket yang tak jauh dari restoran tadi.

Lampu putih terang langsung menyambutnya begitu pintu kaca otomatis terbuka.

Acha berhenti sebentar di dekat rak keranjang, lalu menunduk mengetik cepat.

[Guys, nongki di apartemen aku aja boleh, nggak? Aku kayaknya agak telat.]

Tak butuh waktu lama, balasan Dina datang tanpa banyak b
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Kharamiza
bantu beri rate/ulasan membangun di halaman depan buku juga ya~ serta gem/gift jangan lupaaaaaaa
goodnovel comment avatar
Kharamiza
belum ada konflik lagi ya, agak santuy-santuy dulu hehe~
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 243

    “Saya juga bukan sengaja pulang bareng dia,” ungkap Elvano. Nada suaranya tetap tenang. “Hanya kebetulan.”Mata Acha sontak menyipit tajam.Kebetulan lagi?Sialnya, pernyataan Elvano itu malah membuat dadanya jadi tak nyaman rasanya.“Dua hari sebelum saya ke Surabaya, Omanya meninggal,” lanjut Elvano. “Dimakamkan di sana karena kota kelahiran omanya memang di sana. Kebetulan, saat saya hendak kembali ke Jakarta, Nadine juga akan pulang.”Acha yang semula hendak kembali memalingkan wajah akhirnya terdiam.Ia menatap Elvano penuh, seolah masih butuh penjelasan lebih banyak lagi.“Kami berada dalam penerbangan yang sama.”“Saya memang ada urusan bisnis di Surabaya,” lanjut Elvano. “Nadine juga harus ke sana untuk pemakaman omanya, tapi kita nggak ketemu, selain ketika di akan pulang.”Acha masih menatapnya penuh selidik.“Sampai ikut ke kantor juga itu kebetulan?”“Taksinya terkena macet karena ada kecelakaan beruntun waktu itu. Jadi saya tawarkan tumpangan.”Acha tertawa hambar sambil

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 242

    Keduanya kini duduk berhadapan di dekat jendela penthouse.Acha menyilangkan tangan di depan dada. Salah satu kakinya bertumpu di atas kaki yang lain, sementara pandangannya sengaja diarahkan ke luar jendela. Ia tidak ingin terus menatap Elvano.Entah kenapa, melihat pria itu justru membuat dadanya semakin sesak.Ia sudah mengatakan akan mendengarkan. Jadi sekarang, ia hanya perlu mendengar.Di sofa tak jauh darinya, Elvano duduk dengan kedua tangan saling menggamit di atas paha. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Pria itu tampak seperti sedang menyusun kalimat yang paling tepat untuk menjelaskan semuanya.Sampai akhirnya suara Elvano memecah keheningan di antara mereka.“Pertama, soal saya menjemput Nadine di bandara.”Acha menoleh sejenak, kemudian kembali menatap suasana malam di balik jendela.“Saya nggak akan mengelak.” Elvano menarik napas pelan. “Setelah mengantarmu pulang dari gala dinner malam itu, saya memang pergi untuk menjemput Nadine.”Acha menatapnya beberapa detik. Ia

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 241

    Acha masih menatap Elvano dengan tatapan tak percaya.Beberapa detik lalu pria itu tiba-tiba menciumnya tanpa izin, dan sekarang dengan santainya mengatakan bahwa dirinya tidak diizinkan pergi.Sebenarnya apa yang diinginkan pria ini darinya?“Nggak mengizinkan?” ulang Acha. Suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar.Elvano masih menatapnya lekat. “Iya.”Acha terdiam beberapa detik, seolah sedang memastikan bahwa dia tidak salah dengar, sebelum sebuah tawa pendek lolos dari bibirnya.Bukan karena lucu, tetapi ia sudah terlalu lelah untuk tahu harus merespons seperti apa.“El, kamu ini sudah gila, ya?”Rahang Elvano mengeras. Dia belum menjawab ketika Acha kembali bicara.“Kamu nggak seharusnya melakukan ini!” Acha menunjuk bibirnya sendiri. Matanya mulai memerah. “Kamu mencium saya tanpa izin, lalu sekarang kamu malah bilang saya nggak boleh pergi?”“Acha, dengarkan saya.”“Saya sudah terlalu sering mendengarkanmu, El!”Acha mendorong dada Elvano hingga mundur satu langkah.Tangannya

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 240

    Tak menyerah, Acha kembali memasukkan PIN yang sama.Tit.Sayang, lampu indikator kembali berubah merah.Bagaimana mungkin?Acha menatap pintu di hadapannya dengan kening berkerut. Ia bahkan sudah yakin memasukkan angka yang benar. PIN itu sudah begitu lama ia hafal di luar kepala. Jari-jarinya seolah bisa mengetiknya tanpa perlu berpikir.Lalu, kenapa aksesnya malah ditolak? Apa mungkin Elvano mengganti PIN-nya?Kalau memang begitu, bagaimana ia bisa mengambil pakaian yang masih tersisa di dalam?Atau jangan-jangan pria itu memang sengaja tidak mengizinkannya kembali ke penthouse ini?Aih, menyebalkan.Acha mengembuskan napas frustrasi. Ia akhirnya mengambil ponsel dari dalam tas dan mencari nama Elvano.Kalau Elvano memang tidak ingin dirinya datang lagi ke penthouse ini, tidak masalah. Toh, Acha juga tidak berniat tinggal di sini lagi.Tapi setidaknya, ia harus mengambil pakaian-pakaiannya di dalam.Acha baru saja menekan tombol panggil ketika sebuah nada dering terdengar dari bela

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 239

    Jemari Acha yang sejak tadi menggenggam tali tas langsung mengencang.Ia menatap Raka lebih serius, lalu menelan ludahnya dalam-dalam.“Me-menunggu saya?”“Iya.” Raka mengangguk pelan. “Saya sudah ajak pulang, tapi beliau tetap mau menunggu. Katanya, kalau kamu nantinya datang setelah beliau pergi, berarti beliau mengulang kesalahan yang sama.”Acha terdiam.Dadanya terasa sedikit sesak mendengar penuturan asisten pribadi Elvano itu.Jadi, semalam Elvano benar-benar datang ke restoran itu? Dan pria itu sampai menunggunya?Untuk beberapa detik, Acha bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Ia sempat berpikir, kalaupun Elvano datang ke restoran itu, pria tersebut tidak akan benar-benar menunggunya selama itu.Tetapi ternyata dugaannya salah.Acha menunduk, memandangi tangannya sendiri. Sampai saat ini, jujur saja ia tidak mengerti mengapa Elvano sampai segitunya menunggunya.Bukankah pria itu sudah punya orang lain di hatinya?“Saya boleh tanya sesuatu, nggak, Cha?” tanya Raka tiba-tiba.A

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 238

    Acha baru keluar dari pintu utama apartemen Dina pagi itu sambil merapikan rambutnya. Sesekali, ia melirik jam di pergelangan tangannya.Ia masih punya cukup waktu untuk berangkat ke kantor, meski nyalinya sedikit menyusut. Ia belum tahu harus bagaimana bersikap saat bertemu Elvano nanti di kantor setelah semalam ia memilih tak datang ke restoran.Baru saja meraih ponsel untuk memesan taksi online, suara klakson terdengar dari arah jalan, menghentikan aktivitasnya. Acha refleks menoleh dengan satu alis terangkat. Sebuah mobil melaju ke arahnya.Keningnya berkerut tajam saat matanya langsung mengenali mobil tersebut. Itu mobil milik Elvano. Kenapa ada di sini? Di saat yang sama, dadanya tiba-tiba terasa sesak.Terlebih saat ia lagi-lagi mengingat semalam, ketika ia tidak datang ke restoran yang sudah dipersiapkan pria itu. Padahal Elvano sudah mengirimkan alamat dan memintanya datang pukul delapan malam.Acha menunduk sebentar.Sejujurnya, ia memang sengaja tidak datang.Bukan karena

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 4

    Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 3

    Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 2

    Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 1

    “Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status