Share

Bab 39 - Kacau

Penulis: Kharamiza
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-28 07:44:02

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Acha.

Sesaat, ruangan seolah kehilangan suara.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mendadak canggung. Tanpa tawa, bahkan tak ada celetukan, seakan semua orang sedang menahan napas.

Tatapan teman-teman kampus mereka bertahan di wajah Acha, seolah masih mencerna satu kalimat yang baru saja terucap dengan begitu ringan, namun menghantam telak.

Rafael sendiri membeku di kursinya.

Wajahnya mengeras, senyumnya pun menjadi kaku. Dadanya panas, semen
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Kharamiza
kakk hahahah~ next diusahakan 2-3 ya kak
goodnovel comment avatar
Dinlea
thoorr plis donk sehari jangan hanya 1. nambah donk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 67 - perasaan tidak nyaman yang nyaman

    Sialan.Kenapa dirinya bisa sebegitu cerobohnya? Lihat sekarang, ia malah terjatuh dengan posisi yang sangat intim, tepat di pangkuan orang yang tak kalah berbahaya. Kulit kepalanya menegang, seolah ada alarm yang mendadak berbunyi di dalam dirinya.Wajah Acha merah padam. Panasnya menjalar sampai ke telinga. Jantungnya masih berdebar keras ketika ia bangkit dengan gerakan terlalu cepat, hampir saja kehilangan keseimbangan lagi.Jemari saling mencengkeram di depan tubuh, dingin dan gemetar, malunya bukan main dengan kejadian barusan. Rasanya, ia ingin lenyap saja, ditelan bumi pertiwi.“Ma-maaf, Pak,” ucapnya dengan suara nyaris tercekat. Jari-jarinya saling meremas tanpa sadar.“Saya … saya kira Bapak tidak duduk,” lanjutnya gugup.Astaga. Harusnya tadi ia memastikan dulu kursi sedang kosong atau tidak sebelum duduk.Sekarang, Elvano mungkin saja melihatnya bak wanita murahan yang sengaja menggoda atasannya sendiri.Ah, menyebalkan. Lagipula, kenapa bisa-bisa ia tidak tahu diri seka

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 66 - mendarat di pangkuan

    “Kamu bertemu Tiara?” ulang Elvano. Pelan, namun penuh penekanan.Tatapan pria itu tertuju penuh pada Acha, seakan butuh jawaban jujur. Menyadari perubahan pada raut yang biasanya nyaris tanpa ekspresi itu membuat dada Acha menegang, jelas tidak nyaman.“I-iya, Pak,” jawabnya hati-hati, berusaha terdengar biasa saja. “Kami makan malam sebentar.”“Tiara mengatakan sesuatu?” Elvano tak meninggikan suara, tetapi sorot matanya tampak menyelidik.Acha buru-buru menggeleng. Ia tahu, Tiara sempat bercerita tentang rumah tangga mereka, namun mengatakannya pada Elvano sekarang hanya akan memperkeruh suasana. Ah, Acha merasa dirinya seperti berada di posisi yang serba salah.“Kami hanya makan malam biasa,” katanya, memilih kembali menatap layar laptop.Elvano tidak langsung menanggapi. Jemarinya mengetuk ringan permukaan meja, sekali, dua kali, hingga Acha merasa gelisah. Seolah yang sedang dipikirkan pria itu sekarang bukan lagi hanya angka-angka pada laporan.Detik demi detik hening itu tera

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 65 - terjebak dua situasi

    Acha menatap layar ponselnya beberapa detik, sebelum melirik Tiara yang memperhatikannya dalam diam. Sebenarnya, Acha tidak ingin menjawab panggilan itu. Bukan sekarang, dan tentu bukan di hadapan Tiara. Situasinya terlalu riskan. Namun, Elvano bukan tipe orang yang menelepon tanpa alasan. Kalau pria itu menelepon, hampir selalu ada sesuatu yang dianggap penting. Acha menghela napas pelan, lantas menatap Tiara lagi. “Bu Tiara … maaf,” katanya hati-hati. “Saya angkat telepon dulu.” Tiara mengangguk. Senyumnya tetap ramah dan super tenang. “Silakan.” Acha segera berdiri. Ia melangkah menjauh dari meja, menyusuri restoran dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Masuk ke toilet, baru setelah pintu tertutup, ia menjawab panggilan itu. “Selamat malam, Pak Elvano.” “Acha …,” suara datar Elvano terdengar dari seberang. “Kamu bisa kembali ke kantor sekarang?” Acha terhenyak. Kembali ke kantor? Ia bahkan belum sampai di apartemen, malah diminta berbalik arah. “Ada apa y

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 64 - Rasa Bersalah Acha

    Pertanyaan itu membuat Acha terdiam beberapa saat. Ia tidak langsung menjawab, hanya menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya saling bertaut di atas meja sambil menjaga eskpresi tetap tenang.Beberapa detik berlalu sebelum ia mengangkat kepala. Pandangannya kembali pada Tiara, kali ini lebih mantap, meski dadanya masih terasa mengencang.“Maksud Ibu?” tanyanya akhirnya.Tiara tersenyum getir.“Saya bukan menuduhnya apa-apa,” katanya pelan. “Saya cuma … merasa ada bagian hidupnya yang tidak lagi bisa saya jangkau.”Ia menarik napas pendek. “Maksud saya, Elvano seperti sudah terlalu jauh dari saya.”Tiara berhenti sejenak, solah menimbang apakah perlu melanjutkan atau tidak.“Maaf …,” lanjutnya, suaranya lebih pelan kali ini. “Kadang saya merasa dia menyembunyikan sesuatu. Saya bahkan sempat berpikir … mungkin dia memiliki wanita lain.”Acha sedikit tersentak mendengarnya. Ia tak menyangka Tiara kan berpikir seja

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 63 - Bertemu Tiara

    Acha masih membaca ulang pesan itu, sebelum akhirnya mengetik balasan. [Makan siang buat saya, Pak?] Ia menatap layar beberapa detik, memastikan tidak salah baca, apalagi sampai salah paham. Jarang sekali Elvano mengirimkan sesuatu yang sifatnya personal tanpa alasan yang jelas, meski ini masih bisa dikategorikan sebagai urusan kantor. [Ya, buat kamu dan Esther.] Acha mengembuskan napas pelan. Oh, untuk Esther juga. Berarti ini bukan apa-apa. Setidaknya, ia bisa meyakinkan dirinya sendiri begitu. Elvano mungkin hanya sedang ingin berbagi, atau sekadar menjalankan bentuk perhatian standar sebagai atasan. Tidak ada yang istimewa yang perlu dilebih-lebihkan. Beberapa menit kemudian, telepon kantor di mejanya berdering. Acha mengangkat gagangnya. “Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?” “Siang, Bu. Dari resepsionis. Ada paket untuk Ibu.” Jantung Acha sempat berdetak lebih cepat sebelum akhirnya ia menahan diri untuk tetap terdengar biasa. “Oh, iya. Tolong minta OB antar ke si

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 62 - Perhatian?

    Acha terdiam menatap layar ponselnya, nyaris seperti tidak menyangka istri atasannya mengajaknya bertemu. ‘Bu Tiara mau ketemu aku?’ ‘Ada kepentingan apa, ya?’ Pertanyaan itu tertahan lebih lama dari yang ia kira di dadanya. Sebetulnya, ia bukan tidak pernah berurusan dengan Tiara sebelumnya, tetapi ia merasa tidak ada urgensi apa pun dengan Tiara. Belum sempat Acha menyusun kemungkinan apa pun atau sekadar mempertimbangkan, pesan dari Tiara kembali masuk. Kali ini, kalimatnya tampak jelas butuh kepastian. [Acha, bisa atau tidak? Hanya sebentar. Atau, kapan kamu ada waktu? Biar saya menyesuaikan.] Acha menaruh ponselnya di meja, menatapnya sebentar seakan benda itu bisa memberikan jawaban. Detik berikutnya, ia meraih tablet dan membuka jadwal. Hari ini relatif bersih. Tidak ada agenda luar, pun tak ada rapat yang harus diikutinya, bahkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status