MasukCaught in a web of betrayal, Nicole’s life shatters in a single evening when her mother-in-law, Veronica, sets her up in an elaborate scheme. Blindsided, Nicole faces her husband Taylor’s cold rage as he casts her out of his life and home, accusing her of infidelity and theft. As she tries to defend herself, her best friend, Sarah, adds another blow by denying their loyalty. “Please, Taylor, you have to believe me!” Nicole pleads, her voice breaking, but his icy response is a dagger to her heart. “I don’t hate you, Nicole,” he sneers. “I despise you.” When Nicole reveals she’s pregnant, she hopes for compassion, but it only fuels Veronica’s determination to rid the family of her. After signing the divorce papers, a dejected Nicole wanders alone, where a brutal attack leaves her bleeding, helpless, and desperate to protect her unborn child. Six years later, Nicole returns from the ashes to inflict seven times the pains upon those who humiliated her and left her to die. “I’ll make them pay so dearly that they’d regret ever been born!” She declares. This is a story of romance and revenge you don’t want to miss!
Lihat lebih banyak“Menikahlah dengannya Nadina, bapak dan ibu sudah mengetahui bagaimana pemuda itu juga dengan keluarganya. Ia pemuda yang baik yang bisa menuntunmu menjadi lebih baik lagi,” tutur pria berusia 60 tahunan yang telah tampak lemah di atas brankar rumah sakit.
“Nadina tidak mau menikahinya! Nadina tidak mengenal siapa pemuda itu! Bahkan lingkungannya sangat monoton! Nadina pasti akan menjadi seorang wanita dapur di sana! Selalu mengenakan hijab seharian! Nadina tidak akan menyetujui pernikahan ini!” tolak seorang gadis berusia 23 tahun yang tak lama ini menyandang gelar sarjana bahasa asing—Nadina Hafisa Rahmi.
Seorang wanita tua yang tak jauh berbeda usianya dengan si bapak tampak merangkul Nadina sambil lirih mengucapkan istigfar.
“Hijab itu kewajiban, Nadina! Kamu tidak boleh menolak seperti ini. Lagi pula kamu sudah belajar mengenakan hijab selama kuliah satu tahun terakhir ini bukan? Kamu sudah mulai terbiasa. Nadhif juga pemuda yang baik. Ibu dan bapak yakin dia bisa membimbingmu, Nak!” bujuk sang ibu.
Harun—ayah Nadina, meraih tangan putri semata wayangnya itu sementara Nadina masih saja menekuk mukanya dan memalingkan wajah cantiknya dari sang ayah.
“Nadina mencintai pemuda lain! Siapa suruh bapak dan ibu menjodohkan Nadina tanpa sepengetahuan Nadina? Sekarang, kalau Nadina menolak, apa itu kesalahan Nadina?!” bentak Nadina.
“Bapak tidak tahu sampai kapan usia bapak ini, Nak! Bapak tidak mau putri bapak yang istimewa ini salah memilih pasangan hidup.” Harun kembali mengelus tangan putrinya meskipun di tangan keriputnya masih tertancap jarum infus.
“Nadina mencintai pemuda lain, Bapak! Nadina tidak akan bisa mencintai pemuda pilihan bapak! Nadina bahkan tidak pernah melihat bagaimana wajahnya! Bagaimana jika dia hanya terlihat baik tetapi aslinya sebaliknya?!” sergah Nadina.
“Jaga bicaramu, Nadina!” pekik sang ayah namun suara kencangnya itu tak serta merta membuat keadaan tenang. Pria itu malah tampak terbatuk kencang hingga darah keluar dari mulut keriputnya.
“Bapak!”
“Ya Allah, Bapak! Nadina panggil dokter cepat!!” pekik Khoiri—ibu Nadina.
Nadina segera berlari pergi keluar ruangan. Gadis yang telah beranjak usia matang itu berlari dengan kencang ke arah salah satu meja penjaga. Air matanya mengalir deras tatkala kembali mengingat ayahnya yang terbatuk hingga mengeluarkan darah yang menurutnya tak sedikit itu.
“Bapak tidak boleh kenapa-napa, maafkan Nadina, Pak!” rintih Nadina di dalam hatinya.
Nadina terduduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan Harun yang saat itu sedang dalam pemeriksaan dokter.
“Ibu tahu ini berat untukmu, Sayang. Ibu tahu kamu memiliki pernikahan impianmu sendiri. Tapi bagaimana jika Nadhif benar jodohmu? Bukankah lebih baik membuat pernikahan impian bersama dengan orang yang kita tahu baik buruknya, Sayang?” bisik Khoiri sembari mengelus pundak Nadina yang masih melamun ke arah pintu rumah sakit itu.
“Kita tidak pernah tahu sampai kapan umur orang-orang yang kita sayang. Bapakmu tidak meminta hal yang buruk darimu, Sayang. Bapak sudah memastikan pemuda itu benar baik untukmu. Bagaimana jika ini permintaan terakhir bapak? Tidakkah kamu ingin membalas dengan bakti?” lanjut Khoiri.
Nadina menoleh ke arah sang ibu. Matanya masih sedikit berbinar akan tangisannya yang belum benar-benar mengering.
“Tapi Nadina mencintai pemuda lain, Bu! Nadina sudah lama memimpikannya. Bagaimana bisa tiba-tiba Nadina menikah dengan pemuda lain?” tolak Nadina.
“Pemuda mana yang kamu cintai, Nak? Apa kamu yakin dia baik untukmu? Mengapa tak segera memintanya meminangmu? Hubungan apa yang kalian miliki hingga kamu terus menolak?” Nadina terdiam.
Semua yang dikatakan Khoiri benar adanya, ia tak memiliki hubungan apapun dengan pemuda pujaan hatinya itu. Bahkan ia tak tahu apakah pemuda itu mengenalnya. Bagaimana mungkin ia meminta pemuda itu datang ke rumah dan meminangnya?
“Temui saja pemuda pilihan bapakmu dulu, Nak! Ibu yakin dia yang terbaik untukmu.”
Hari itu, saat keadaan Harun masih drop hingga belum bisa sadarkan diri, ruangannya sedikit ramai akan kehadiran seorang pemuda bersama kedua orang tuanya.
Muhammad Nadhif, putra tunggal salah satu kiai pemilik pondok besar di kota tersebut. Pemuda dengan pandangan teduh itu terus menundukkan pandangannya semenjak masuk ke ruang rawat inap Harun dan setelah sedetik bertemu pandang dengan mata Nadina.
“Pemuda macam apa yang bapak pilihkan untukku ini? Dia bahkan tidak berani menatap wajah calon istrinya sendiri. Memang aku seperti hantu?!” sergah Nadina dalam hatinya.
“Bagaimana kondisi Bapak Harun, Ibu Khoiri? Apakah beliau baru saja mengalami penurunan?” tanya Ali—ayah Nadhif.
“Iya, Pak. Baru saja kondisinya menurun. Kami hanya bisa meminta pertolongan dari Allah agar memberinya kesehatan seperti sedia kala selain mengusahakan pengobatan untuknya.” Khoiri menoleh ke arah sang suami sambil sebentar mengelus punggung tangan pria paruh baya itu.
“Maaf jika saya dan keluarga saya lancang mengatakan hal ini. Tapi Bapak Harun telah berpesan kepada saya untuk memastikan pernikahan putra putri kita. Beliau sangat menginginkan mendengar kalimat akad atas putrinya Nadina,” papar Ali langsung membuat Nadina menatap tajam dan sedikit mengerutkan dahi.
“Kami akan segera memberi kabarnya, Pak, Bu! Maaf jika kami terlalu lama menggantung keputusan ini,” ujar Khoiri.
Tiba-tiba tangan Harun bergerak bersamaan dengan suara serak yang sedikit terdengar dari ujung tenggorokan pria paruh baya itu.
“Tidak perlu menunggu lagi, Bu! Bapak rasa sekarang waktu yang tepat. Bapak mau melihat dan mendengar sendiri anak kita berpindah tangan pada pemuda yang baik dan bertanggung jawab,” lirih Harun.
Baru saja mulut Harun mengatup, batuknya kembali memecah ruangan. Napasnya bahkan beberapa kali tersengal seolah malaikat maut sedang bermain-main dengannya.
“Bapak, jangan seperti ini, Pak!” rengek Nadina terus merintih sembari mengelus tangan keriput sang ayah.
“Sekarang ya, Nak!” lirih Harun. Nadina tak mampu berucap. Di hadapannya sang ayah tampak memohon dengan wajah tuanya yang telah pucat. Gadis itu tak bisa berbuat banyak, ia hanya menunduk sebagai jawaban kepasrahannya.
“Saya berjanji akan mencintai kamu dan menjadikan kamu sebaik-baiknya wanita yang ada dihati saya, Nadina!” lirih Nadhif sambil masih menundukkan kepalanya.
Beberapa perawat dipanggil sebagai saksi dan sore itu juga akad diucap.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau Muhammad Nadhif bin Ali Basir dengan putri kandung saya, Nadina Hafisa Rahmi binti Harun Suteno dengan mas kawin uang senilai dua ratus ribu rupiah dibayar tunai!” pekik Harun menjabat tangan Nadhif mantap.
“Saya terima nikah dan kawinnya Nadina Hafisa Rahmi binti Harun Suteno dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!”
“Sah!!” pekikan para saksi dan keluarga di sana sontak langsung membuat Nadina meneteskan air matanya deras. Habis mimpinya menikahi sang pujaan hati. Entah takdir apa yang dibuat sesemesta untuknya hingga dalam sehari ia melepas masa lajangnya itu.
“Alhamdulillah,” lirih Harun sebelum akhirnya tak sadarkan diri kembali.
“BAPAK!”
The ENDNicole sat behind her desk, staring out the large glass window of her office, lost in thought. The morning had been a blur of meetings and paperwork, but her mind was elsewhere. The past weeks had been stormy: their victory against the Fury family, reclaiming what she lost, and finally getting justice from the wrongs done to her. Yet deep down, she knew there were still loose strings to tie.A soft knock at her door pulled her out of her musings. It was Emilia peeking inside. "Ma'am, you have a visitor.""Who is it?" Nicole asked, assuming some other business partner or yet another journalist looking for an interview.Emilia hesitated. "It's Taylor Fury."Nicole's breath hitched. Taylor? Here? Of all people?"Let him in," she said, though her voice did not reflect the sudden turmoil that had risen in her chest.The door swung open, and Taylor walked in, his usual arrogance replaced with something unfamiliar -- humility.He looked different, almost worn down, as if the weight
The evening air was crisp and filled with the comforting hum of city life as Nicole stepped out of the car, her heels clicking lightly against the pavement. The weight of the past weeks still weighed upon her shoulders, but tonight she was determined to try to escape it, if only for a few hours. She adjusted the coat draped over her shoulders and nodded at the bodyguards on either side."You're dismissed for the night," she said. "I'll be fine here."Collins hesitated. "Boss, are you sure? We can wait outside."Nicole gave him a small smile. "Go home. You both deserve the rest. Come back in the morning."Carter exchanged a glance with Collins before giving a reluctant nod. "Alright, but call if anything happens...""Thank you, Carter," Nicole said, cutting him off. "Nothing will happen. See you both in the morning."With that, she turned and made her way toward the entrance of Leo's home.Warmth enveloped her as she stepped inside to the delicious smell of roasted chicken and spices
The courtroom was packed, the air thick with anticipation. Journalists lined the back row, their pens ready to capture the final moments of a trial that had gripped the city. Mumbles went throughout the audience in hushed tones as everyone threw theories on what the verdict was. Some actually felt Veronica Fury would get to walk free while others believed that for once, the woman would pay her due time in prison. Nicole sat at the plaintiff's table with an unreadable expression on her face. In her elegant, yet simple, black suit, she was a vision of confidence, but deep inside her, there was a tempest going on.She had fought for this day, spent years gathering the strength to bring Veronica to justice, and now it all came down to this -- the final decision. Her lawyer, an astute woman, rose from her seat and made her way to the center of the courtroom. She squared her shoulders, adjusted her glasses, and took a deep breath before she began her final statement."Your Honor, ladi
The Fury mansion was shrouded in an eerie silence as Taylor and Sarah sat in the dimly lit living room, their eyes fixed on the television screen. It had drained them for these past few weeks, the feeling in the room, that of defeat, hung in the air heavy. Veronica sat back in one corner, her expression unreadable, with a firm clasp on the leather chair's armrest. The evening news was on, first with politics, current events of interest around the world, when the voice of the news anchor changed.To their most shocking scene,was the declaration of the sale of Taylons Enterprises to its new owner. The company, which suffered serious financial setbacks, has been acquired by no other person than Nicole Okeke, Chief Executive Officer and President of Okeke Group.On the screen was a clear shot of Nicole, standing right in front of the headquarters of the company; the newly installed Okeke Group logo was emblazoned above the entrance. Her poised figure and calm demeanor seemed to say a
Two days ago....Taylor’s jaw tightened as he surveyed the dimly lit conference room. The air was thick with tension, and the faces around the table were a blend of skepticism and cautious optimism. These were the few board members he trusted—the ones who hadn’t betrayed him, who had shown him no
Nicole stood on the balcony overlooking the sprawling garden below, the early morning air cool against her skin. The birds chirped faintly, but their melody did nothing to soothe the storm raging within her. She had decided on a course of action, and however hard the situation was, she knew just
The conference room was eerily quiet, a far cry from the bustling and vibrant discussions that once filled its walls. Now, only a handful of board members remained, their presence a painful reminder of Taylons Enterprises' slow and humiliating decline. Taylor sat at the head of the long table, hi
Taylor burst through the front door of his home, his footsteps echoing through the foyer with an urgency that hadn't been present in months. The familiar weight of despair that had been his constant companion had lifted, replaced by something that felt dangerously like hope."Sarah! Sarah, where a












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak