ログインAva had her back at Drex, and for the past month, her life had turned from bad to worse. at that moment when she had fallen deeply in love with the ruthless assassin who contributed to making her life miserable, the world began to look beautiful again, she thought things would turn out for the best, only for her to find out that Drex was not protecting her because he loved her. "I hate you with every fiber in me," Ava screamed in tears. Even when she utters those words, her heart still beats for him, She wished he had killed her that night, she wished he had never met him. She wished she had never fallen for him, how can she love someone who wouldn't miss the slightest opportunity to end her life? "if I disappear out of your life, will that make you happy?" Drex asked. "You are a total jerk!" She yell. With rage, Ava stormed toward him and slapped him across his face, she made to slap him again but Drex held her tightly and draw her into his embrace. Her anger dissipated immediately, she melt away in his embrace. She love his smell, his cologne which she was now familiar with give her nothing but comfort. "I love this side of you, so feisty!" he said. ******** Don Drex Mason is well-known to the outer world as a dropped-dead handsome bachelor and a businessman but in the underworld, he was the most feared ruthless mafia assassin. Ava Anderson, a small-time introverted nosy newspaper journalist, the two personalities crossed paths on an unfortunate rainy night, she was his target and a threat to his client, she's to be eliminated at all costs. but their fate was already sealed by lightning which made them share one soul.
もっと見る"Dia harus segera berangkat ke Kawanan Northridge. Beta Xavier akan tiba sebentar lagi. Kita tak bisa membuatnya menunggu."
Bisikan tajam Lycril terdengar samar dari luar dapur. Freya membeku. Tangannya masih terendam air sabun yang dingin. Pergi? Kawanan Northridge? Beta Xavier? Jantungnya berdebar kencang. Seharusnya ia tak mendengar percakapan seperti ini, tapi ia tak kuasa berhenti mendengarkan. Perlahan, ia meletakkan piring yang sedang dicucinya, mengelap tangan yang basah ke celemeknya, lalu berjingkat mendekati pintu. "Semoga saja mereka menepati janji mereka," geram Richard. Suara ayahnya penuh keserakahan. "Kesepakatan ini akan melunasi semua utang kita dan akhirnya mengisi kantongku dengan uang." Napas Freya tersendat. Janji? Utang? Uang? Perutnya terasa mual. Ia mendekat lagi, menempelkan telinga ke celah pintu kayu yang sedikit terbuka. Lycril mendesah pelan. "Kau yakin dia akan menerima tawaran ini? Gadis itu bahkan tak memiliki serigala." "Justru itu," Richard menyeringai. "Dia bosan dengan omega-omega biasa. Yang langka akan menarik perhatiannya. Lagipula, bukankah kau sendiri yang bilang dia hanya beban?" Beban. Kata itu menusuk lebih dalam dari pisau. "Menguping pembicaraan dua orang dewasa?" Geraman rendah di belakangnya membuatnya terkejut. Freya berbalik dan mendapati Enzo, putra Lycril, menatapnya dengan penuh kebencian. Bau alkohol samar tercium dari napasnya. "Ada apa, Kakak?" suara Amanda menyela dengan nada mengejek saat ia bergabung. Bibirnya menyungging sinis. "Apa omega tanpa serigala ini berulah lagi?" "A-aku tidak menguping." Freya tergagap, mundur selangkah. "Aku hanya lewat—" "Levat?" Enzo mencengkeram lengannya, kukunya mencakar kulit. "Dapur ada di ujung, dasar bodoh." "Amanda, tolong—" "Apa yang terjadi di sini?" Suara Lycril menusuk seperti cambuk. Ia baru keluar dari ruang tamu, matanya langsung menyipit begitu melihat Freya terjepit. "Kakak menangkapnya sedang menguping," lapor Amanda cepat. Darah Freya seolah mengalir menjauh dari wajahnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tahu persis apa yang akan terjadi setelah tuduhan itu. Hukuman. Selalu hukuman. "Aku tidak bermaksud—" Plak!!! Tamparan Lycril memotong kalimatnya. Rasa sakit meledak di pipi kirinya, kepalanya terpelanting. Sebelum ia sempat menahan diri, tamparan kedua mendarat di pipi kanan... Plak!!! "Dasar anak tak tahu aturan!" Lycril meludah tepat di samping wajahnya. "Berani-beraninya kau menguping kami? Dan kau pikir aku akan percaya kebohonganmu daripada anak-anakku sendiri?" Air mata Freya tumpah deras, panas dan asin di bibirnya yang pecah. "Maafkan aku, Lycril. Tolong, aku tidak bermaksud..." Tawa Enzo dan Amanda menyambut permohonannya. Tawa kejam yang membuat luka di dadanya semakin dalam. "Richard yang akan menentukan hukumannya." Lycril berbalik dengan tatapan yang tajam. "Kalian jaga dia!" --- Freya meringkuk di lantai, menyiapkan diri menghadapi badai. Lututnya berdarah, bercampur dengan pecahan piring. Rasa sakit itu nyata, tapi tak seberapa dibanding ketakutan yang mencengkeram dadanya. Enzo dan Amanda duduk di kursi dekat pintu, sesekali berbisik dan tertawa, sesekali meliriknya dengan tatapan puas. "Menurutmu, berapa cambuk yang akan diberikan Ayah?" bisik Amanda. "Sepuluh? Dua puluh?" Enzo mengangkat bahu. "Atau mungkin dia akan menjualnya lebih cepat. Lebih baik dapat uang daripada repot-repot menghukumnya!" "Kau benar. Lagipula, tak ada yang mau membeli omega dengan tubuh penuh luka." Mereka tertawa lagi. Freya memejamkan mata. Ia ingin menutup telinga, tapi tangannya terlalu gemetar untuk diangkat. Ia hanya bisa membiarkan air mata mengalir, berharap bumi menelannya hidup-hidup. Pikirannya melayang pada ibunya—wanita yang hanya ia kenal dari potret usang yang ia sembunyikan di bawah kasur. Ibunya tersenyum dalam potret itu, tangannya di atas perut yang membesar. Freya... Nama yang berarti kebahagiaan. Ironis. Karena sejak ibunya meninggal saat melahirkannya, tak ada kebahagiaan dalam hidupnya. Ayahnya tak pernah memaafkannya karena ia bisa bertahan hidup. Baginya, Freya bukan anak perempuan, melainkan kutukan. Pembunuh satu-satunya istri yang berarti. Dan Lycril—selingkuhan Richard—dengan mudah mengambil alih tempat ibunya, membawa serta Enzo dan Amanda. Langkah kaki berat terdengar. Richard masuk. Cambuk panjang tergantung santai di tangannya, ujungnya menjuntai hampir menyentuh lantai. Tampak Lycril berdiri di belakangnya dengan senyum puas. Richard berhenti di depannya. Ia hanya berdiri, memandang Freya dari atas dengan tatapan dingin yang tak berbeda dengan saat ia memandang setumpuk sampah. "Kau tahu," Richard memulai, suaranya lambat dan tenang, "aku sudah sangat lelah dengan ulahmu. Berapa kali kau kuperingatkan untuk tetap di tempatmu? Berapa kali kukatakan bahwa kau tak punya hak atas apa pun di rumah ini?" "A-aku minta maaf, Ayah—" "Jangan panggil aku ayah!" Potongannya tajam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun. Freya membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya isak tangis yang tertahan. Richard menghela napas panjang. Ia mengangkat cambuknya, dan Freya menutup mata, bersiap—tapi pukulan itu tak kunjung datang. "Namun," Richard melanjutkan, "kali ini kita lewatkan. Aku punya rencana lain untukmu. Rencana yang lebih menguntungkan daripada sekadar menghukummu di sini." Freya membuka mata. Rencana? Ia melihat Lycril di belakang Richard mengerutkan dahi, sama terkejutnya. Richard berjongkok, kini wajahnya sejajar dengan Freya. Jarak sedekat itu membuat Freya bisa melihat kehitaman di matanya—bukan hitam normal, tapi hitam pekat seperti lubang tanpa dasar. "Beta Xavier datang untuk satu hal," bisik Richard. "Dia suka barang langka. Dan kau, gadis tanpa serigala yang hidup di tengah kawanan serigala, kau adalah barang langka itu." Perut Freya berputar. Barang. Lagi-lagi barang. "Apa maksudmu?" bisiknya, meski ia sudah tahu jawabannya. Richard tersenyum. Senyum yang tak pernah ia berikan pada Freya sebelumnya—bukan senyum sebagai ayah, tapi senyum pedagang yang baru saja mendapat untung besar. "Kau akan pergi bersamanya malam ini juga." Dunia seolah berhenti. Freya menggeleng cepat. Seolah membaca pikirannya, Richard menambahkan, "Kau tak punya pilihan. Seharusnya kau bersyukur, bisa sedikit berguna untuk keluarga ini," pria itu berdiri, melipat cambuknya. "Lycril, beri dia pakaian yang layak. Setidaknya buat dia terlihat sedikit berharga." Lycril mengangguk, meski wajahnya menunjukkan ketidakpuasan. "Baiklah." --- Setelah Richard pergi, Lycril segera menarik Freya berdiri. "Kau dengar dia. Cepat ganti baju. Beta Xavier bisa datang kapan saja." Freya limbung, saat Lycril dengan kasar menyeretnya ke sudut dapur, melemparkan segumpal kain ke pangkuannya. Gaun sederhana berwarna abu-abu, sedikit lebih bersih dari kain compang-camping yang biasa ia kenakan. "Ganti, cepat!" Dengan tangan gemetar, Freya melepas celemeknya yang robek. Gaun itu longgar di tubuhnya yang kurus, tapi setidaknya menutupi bekas luka di lengannya. Ia merapikan rambutnya dengan jari sebisanya, meski tetap kusut. Lycril menyapunya sekilas. "Cukup. Sekarang kau tunggu di sini. Jangan bergerak dari dapur. Aku akan memanggilmu saat Beta Xavier tiba." "Tapi—" "Tapi apa?" Lycril melotot. "Kau mau mempermalukan kami di depannya? Duduk diam dan bersyukur kau masih diizinkan hidup." Ia pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Freya sendirian di dapur yang sunyi. Freya duduk di bangku kayu dekat tungku, lututnya ditarik ke dada, dagu bertumpu di lutut. Matanya kosong menatap api yang meredup di perapian. Pikirannya kacau. Beta Xavier. Northridge. Kesepakatan...? Siapa Beta Xavier? Alpha macam apa ia? Apakah ia kejam seperti Richard? Atau lebih buruk? Akankah ia memperlakukan Freya seperti budak, seperti barang, seperti sampah? Freya menggigit bibirnya yang pecah hingga terasa logam darah. Jangan bermimpi. Dunia tak pernah baik padanya. Mengapa sekarang harus berbeda? Dan Freya melihatnya, pria itu.. Beta Xavier! Duduk di kursi tamu, kaki disilangkan dengan santai, satu tangan memegang gelas anggur. Cahaya lampu minyak jatuh di wajahnya, mengukir bayangan di tulang pipinya yang tajam. Rambut hitamnya sedikit berantakan, tapi justru itu yang membuatnya terlihat berbahaya. Richard berdiri di sampingnya, tersenyum lebar. Beta Xavier langsung menoleh. Matanya langsung terpaku pada Freya, lalu tanpa di duga pria itu tersenyum. Detik itu juga dunia berhenti berputar. Dan Freya tahu jika hidupnya sebentar lagi akan berubah. ---Drex POVI can't believe I am doing this! She said it as a mere suggestion; a passing thought.At first, I discarded the idea, that I do not need to play in power politics to bring Albertrosso down but later, it struck me.In this game, the best way to make an opponent deploy all their secret weapon is when they feel threatened.So, I decided to heed Ava's advice. There's so much more to her than meets the eye.Sometimes, I end meetings in a hurry just to be around her. She has not realized it yet, but most of her statements hold one or two brilliant ideas. Maybe because she feels less panic than she initially felt. I have also noticed that my countenance and moods have been a lot more stable than usual; with fewer mood swings, and more focus.It all depends on how her state of mind.As I head back home from the office, her thoughts preoccupied my mind.Suddenly my phone rang- Tyler"Yes?""Hey boss, there is a special message for you..." Said Tyler over the phone."Who is it from?"
"Get my new coat" ordered Sarafina. She's been thinking ever since she saw the news.After much thought, she decided that it is time to pay Albertrosso a visit to his quarters.Sarafina and Albertrosso meet only on schedule. The mafia lord has set a strict rule that his wife is not allowed in his chambers unless when invited or it is an emergency.Earlier that day, she sent a message to him that she will be paying him a visit by noon.Sarafina put on a long armless gown, which hugs her skin to the knees where it parted with a slit and a flare.Red is the color for a meeting like this. She aims to capture Albertrosso with her alluring look. Though she is well into her fifties, she looked stunning in the dress.On getting to the large entrance, the guard opened the door for her and greeted her, bowing his head slightly, "Good day ma'am"Sarafina with her chin held up high merely grunted a "Hm" reply without turning to look his way.Just as she appeared, she was taken aback by Albertross
Chapter #Ava's POVA ray of light shone on my face, waking me up from my peaceful sleep.I squinted my eyes as I tried to open them. Something about this morning feels different. It feels...cozy!I threw my eyes open at last and almost jumped out of bed.My messy head and hair lay firmly on a muscular arm stretching far to the other side cornering around my back!My thighs lay high and curved on top of strong abs which is someone's stomach. Drexel's stomach!I froze in bed.I tried to move my leg but he stirred. I stiffened.Then he was motionless again.Slowly, I began to pull my leg, stopping when he stir, until it was completely off his.I rolled away and sat up ready to jump down from the bed."Hey, messy kitten" A drowsy voice called.Damn, he sounds so so..I don't know!I stopped in my track. "You are up so early huh? Ready to get those resources flowing now?" He askedI squeezed my eyes shut. Unbelievable!How can that be the first thing he is talking About?"Good morning, sl
The old lady asked the driver to halt the car. She stepped out of the car and pulled her glasses. The street hasn't changed much but there are more buildings now.As she walked slowly, memories flooded her. The air still smelled the same."Georgina Street" a signboard read. The building which housed her and her ex-lover for over five years still stood there looking the same.Tears swell in her eyes. She mounted the stairs up to apartment '7832' Yes. She remembers the number to date.As she approached the door her heart raced.Two quick knocks and the door gave way. The face which she will never forget till the end of time came into view-RodriguezAt the sight of her, the pleasant look on his face instantly turned sour."Who are you?" He asked bitterly, making a distorted face. Anita's heart sank at once.How dare Anita show her face again after all these years- twenty whole years for that matter? thought Rodriguez.Anita felt betrayed. There was no way Rodriguez would ever forget
"Speak, you imbecile!", Sarafina yelled at the battered guard at the brink of death. She has been torturing him for over an hour now, but the seemingly loyal guard has refused to spill even a word. According to him, he is dead anyway, whether he speaks or not.Sarafina grew furious and impatient. She
Ava's POVThe maid brought in a tray of sumptuous meals for dinner. It's been days now and I haven't seen Drex in the room.I have not even been allowed to go outside the room. According to Mrs. Donovan, the young master has instructed them not to let anyone in and never allow her to step outside the
Sitting in the well furnished large and spacious lounge is the regina of Malgavio clan- Sarafina de Cruzeiro"Such a lovely day to visit you, mother" Xavier enthused taking off the dark shaded glasses he had on and placing it in his breast pocket."My child!" Sarafina called back in the same tone, cac
"Fetch me Xavier. I mean now!" Albertrosso yelled into the phone in his hand and hung up in rage.He has entrusted his son with a task for the first time and is hoping he will see this as an opportunity to prove himself as worthy of wielding the sit of leadership of the Malgavio clan after him.Xavier
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.