LOGINFICTIONARY TALES: A collection of short stories. Welcome to fictionary tales all written by me which include topics such as KARMA, Love, Revenge, Trauma, Tragedy, Happy endings, Sad endings, Mystery, Adventure and so much more!!
View More"Kamu yakin mau titipin Dinda di keluargamu, pah?"
"Mau bagaimana lagi, itu pilihan yang terbaik untuk masa depan Dinda supaya dia bisa tetap sekolah!" Aku dengan jelas mendengar percakapan mereka (mama dan papa) di ruang keluarga membuat piala yang ada di tanganku tiba-tiba terlepas begitu saja. Sore itu, aku baru tiba di rumah setelah merayakan perpisahan sekolah bersama teman-temanku. Lulus dengan nilai terbaik tentu sebuah kebanggaan. Apalagi, selama ini prestasiku di SMP selalu stabil. Menjadi kebanggaan guru-guru gak semua orang bisa mendapatkannya. Itu adalah usahaku untuk membuat kedua orang tuaku bangga. Tadi, aku sudah berjanji pada teman-temanku, untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang sama, tapi ternyata tuhan sudah mempersiapkan hal lain yang belum pernah terfikirkan olehku sebelumnya. Ternyata kebahagiaan itu, hanya sebatas angan-angan dan yang ku capai selama ini sia-sia saja. "Dinda!" Sontak Mama terkejut melihat keberadaanku. Aku menatap mama dengan sedih, "Mah, Dinda gak mau tinggal di sana, Dinda udah janji sama teman-teman dinda buat sekolah bareng lagi" ucapku putus asa. Mama ikut sedih mendengar ucapanku, "bagaimana pah? Mama juga gak siap pisah sama Dinda" Mama menoleh ke Papa. "Mau bagaimana lagi Din" Papa menatapku dengan raut wajah yang gak kalah sedih "sekarang Papa sudah gak ada pekerjaan, belum mampu biayain kamu lanjut sekolah. Kakekmu sudah mau bantu agar kamu tetap sekolah, jadi kamu disana dulu ya untuk sementara, sampai Papa dapat pekerjaan lagi!" "Tapi Dinda gak mau disana, Pah! Dinda mau tetap sama Mama & Papa aja" Kataku mulai merengek. "Papa janji sama Dinda, ini gak akan lama. Papa akan segera jemput Dinda lagi, kita sama-sama lagi!" Kata papa membujukku. "Tadi Dinda juga janji sama Leni dan Yulia, tapi Dinda gak bisa nepatin janji itu. Gimana kalau Papa juga gak bisa nepatin?" Aku terisak. Mama memelukku "Mama yang akan jemput dinda lebih cepat. Dinda percaya kan sama janji Mama?" Tanya Mama, ia mengusap air mataku. Aku mengangguk dan semakin terisak dipelukan Mama. Aku benar-benar gak ingin pisah dengan Mama. Aku gak siap jauh dari Mama dan aku juga gak siap untuk tinggal dirumah kakek nenek dari papaku. Bertemu dengan kakek dan nenek bisa dihitung jari olehku. Itu yang membuat aku gak akrab dengan mereka dan juga keluarga dari papa. Mereka nyaris asing dengan kepribadianku yang terlalu introvert. Aku gak tau harus bagaimana cara menyesuaikan diri dengan keluarga itu, yang bahkan belum pernah memelukku dengan hangat. "Sekarang Dinda istirahat dulu ya, biar badannya enakan nanti buat siapin barang-barang yang mau dibawa ke rumah nenek" Mama melepas pelukannya dan kembali menghapus sisa-sisa air mata yang masih ada dipipiku. "Mah, Dinda bolehkan ketemu temen-temen Dinda sekali lagi, buat yang terakhir?" Tanyaku membuat mama semakin sedih. "Boleh sayang" mama mengelus rambutku dengan penuh kasih. *** Keesokannya, aku mengemasi barang-barangku. Mulai dari pakaian sampai buku-buku pengetahuan dan buku novel kesukaanku. Baru kemarin rasanya, buku-buku ini aku kumpulkan dari sisa uang saku yang mama beri untukku. Ternyata, sekarang buku-buku itu sudah memenuhi rak sampai aku bingung bagaimana cara mengemasnya. Aku memang lebih senang berdiam dikamar dengan membaca buku, menulis diary, dan juga mendengarkan musik daripada nongkrong di mall atau cafe-cafe seperti yang anak-anak lain lakukan. Bagiku menulis dapat menghilangkan penat dan unek-unek yang gak bisa disampaikan pada orang lain, apalagi aku ini tipikal orang yang sulit percaya meskipun dengan teman sendiri. Tapi jangan salah, meskipun begini aku dapat menampung banyak curhatan teman-temanku, bahkan terkadang aku dapat memberi solusi pada mereka. "Dinda, sudah berkemas ya?" Tanya mama mendekatiku yang masih sibuk menurunkan buku-buku dari tempatnya. Aku menoleh "iya Mah!" Jawabku tenang. Sebenarnya sedih itu masih terasa, namun rasanya gak sesedih hari kemarin. Jauh dari orang tua adalah hal baru bagiku. Mungkin akan sangat sulit, tapi aku harus bisa. "Sini mama bantu!" Tawarnya sembari duduk dan menyusun buku-bukuku yang sudah berserakan untuk dimasukkan dalam box. "Makasih ma" "Eh ini ada foto kamu waktu masih kecil" Mama menemukan sebuah foto yang terselip diantara buku-bukuku. Aku hanya melirik sebentar, kemudian mengabaikan foto tersebut, tak tertarik. "Kamu ingat gak waktu acara ini Din?" Tanya mama sambil memperhatikan foto itu. "Nggak" jawabku datar. Usiaku saat itu masih sekitar 4 tahun, jelas aku gak ingat apa yang terjadi saat itu. Lagipula, meskipun aku ingat, aku gak ingin mengenangnya. Hal apapun tentang papa, aku sama sekali gak ingin mengingatnya. Apalagi setelah harapan bahagiaku dirusak oleh papa. Rasanya aku bahkan mulai membencinya. Mama tersenyum melihat reaksiku "Dulu tuh kamu kalau kemana-mana maunya digendong papa terus, gak mau sama yang lain. Sampe orang-orang bilang kamu cuma anaknya papa" "Dinda gak tau!" Jawabku masih datar. "Semakin besar, kamu malah gak mau digendong-gendong lagi sama papa, jadi mama bisa ajak kamu pergi-pergi tanpa papa. Mama seneng banget waktu itu" "Mungkin Dinda mulai sadar kali kalo papa jahat" jawabku sekenanya. "Eh Dinda ga boleh begitu, papa itu sayang banget sama kamu. Papa rela lho lakuin apa aja buat Dinda. Ya meski mungkin sekarang keadaannya sedikit sulit. Dinda harus mengerti ya" Aku menghela nafas. Untuk memahami suatu keadaan yang tiba-tiba berubah, nyatanya gak semudah itu. Sebaik apapun dan sebesar apapun jasa papa dihidupku, aku tetap masih gak bisa terima dengan yang terjadi kali ini. "Beresinnya lanjut nanti lagi ya Dinda, sekarang kita makan dulu aja!" Kata mama mengalihkan pembahasan. Mama pasti tahu kalau aku masih kesal dengan keadaan terutama pada papa. "Mama masak ayam goreng kesukaan kamu lho!" Sambungnya lagi, lalu mama mengajakku keluar meninggalkan kamarku yang masih berantakan. Tok... tok... tok... Suara pintu diketuk bersamaan dengan seruan seseorang dibalik pintu. "Dinda!" Panggilnya. "Siapa yang ketuk pintu, Din?" Tanya mama Mendengar dari suaranya, aku seperti gak asing dan akrab dengan suara itu. "Dinda bukain dulu mah" jawabku meminta ijin. "Mama tunggu di meja makan ya!" Kata mama, kemudian berlalu menuju ruang makan. Aku membuka pintu, dan benar saja... "Dindaaa!" Teriak Leni dan Yulia berbarengan setelah pintu terbuka, mereka langsung memelukku. "Akhirnya kalian datang juga!" Jawabku senang. "Loe beneran mau ninggalin kita?" Tanya Leni sambil melepas pelukannya. Aku mengangguk pelan, "Ah..teganya" Ucap Leni kecewa. "Emang gak bisa dibatalin aja din? Kan kita udah janji mau sekolah bareng lagi" bujuk Yulia padaku. Aku menggeleng sedih, "tapi aku janji kapan-kapan bakal nemuin kalian lagi!" "Ada siapa Dinda?" Teriak mama dari ruang makan. "Leni sama Yulia, mah!" Sahutku. "Oh kebetulan kalau begitu, sini aja mereka makan bareng!" "Iya mah!" Jawabku pada mama. Aku meraih tangan Leni dan Yulia, "Ayo!" Ajakku membawa mereka masuk dan makan bersama kami.Martina’s Betrayal. One day the doorbell rang, When Keith opened the door, he was shocked to see Henry standing outside. He immediately tried to slam the door but Henry pushed the door backwards. “I knew that you were a greedy person but I didn’t know that you could take anyone’s life for your own concern! I will not let you live until I see you in the prison” “I didn’t kill him! it was just an accident” Keith started hesitating. “Stop lying you greedy man! You’re a thief and a murderer! All you love is money!” Henry accused. Keith slammed the door and went back in. “You didn’t go to work today? Asked his little daughter Victoria. “No.” “Why and who was on the door?” Martina came and sat beside Keith. “Leave me alone” Grumbled Keith. “I need money! Bring me grocery if you want food.” Martina stood up and took Victoria along with her. Keith was so disturbed that he didn’t want to pay attention to his daughters and his wife. The gree
MR.PAULS DEATH “Papa” Victoria hugged Keith. “Yes darling. Looks like you were waiting for your snacks” Victoria giggled as she tried to reach out the paper bag in her father's hand “Where’s your mother and Olivia.” Inquired Keith. “I’ll tell you on one condition.” Bubbled the little girl. “What condition” “You’ll have to show me what you’ve bought for me” “Sure! It's all yours my love” Keith handed Victoria’s favorite biscuits in her hand and walked to his bedroom. He saw Martina sitting on the bed and she was playing with Olivia. Keith shaked the paper bag which grabbed the attention of Martina. “Oh honey! I didn’t realize that you have arrived. What have you bought for us?!” Martina exclaimed. She snatched the paper bag from Keith’s hand and opened it. He was expecting a hug from his wife but unfortunately got a strong push. Her expressions changed in a matter of seconds. “What happened Martina” Keith got worried and asked. “Move out of my way. I have work to do” “
"The snatching"“You’ve been serving them for years and yet! they pay you nothing.” Said Keith Jones’s wife who was very fond of money. “Is there anything you don’t have Martina? I always got you whatever you wanted. I arranged things by working all day and night.” “I’m not complaining----” “Mom, Olivia woke up and she won't stop crying. Please carry her." Interrupted Victoria who was Keith and Martina's 10-year-old baby girl. She handed her 2-year-old baby sister into her mother's hands. "I told you not to roam around her because that would wake her up. I have household chorus to do! Who will carry her for the next 2 hours?" “I will look after her. Go to your room and complete your homework Victoria.” Answered Keith. Victoria nodded her head and walked towards her room. Keith walked towards Martina and tied a shining plain gold chain around her neck. “Is my wife happy now?” “OH MY GOD” Martina exclaimed as she saw herself wearing
“THE REVENGE” “Come along with me kids and help me with the mansion tour” Our father smiled. “Sure.” I nodded in approval. My dad started off by showing our huge front door. A front door that could accommodate a family of giraffes. “That’s huge” Caroline chuckled. We moved to our living-dining-kitchen. The living-dining-kitchen area was one spacious area with unbelievable long range mountain views from every spot. Vaulted wood ceilings, beautiful walnut floors, comfortable and quality furnishings, and plenty of amenities make for total relaxation. “I'm sure you’ll love each and every corner of this house because the entire interior was designed by my wife” Said my father but Caroline ignored him and frowned with anger. We walked along with our father and Caroline throughout the mansion tour. The expression of greed on her face seemed pretty clear to all 3 of us. “She’s speechless just like any other person who visits our mansion for the first time.” Zac said in












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews