LOGIN
Wajahnya cantik. Bukan cantik yang berlebihan. Penampilannya sederhana. Rambutnya sering dibiarkan tergerai atau kadang diikat seadanya.
Wajahnya tenang, dingin, dan jarang senyum bila tidak perlu. Ia terbiasa mengenakan kaos, celana jeans, dan hoodie yang hampir menjadi seragam hidupnya. Ia bukanlah tipe gadis yang hidupnya dikelilingi oleh hal-hal seperti pesta, nongkrong, atau kumpul-kumpul nggak penting yang biasanya dilakukan anak SMA seusianya. Ia lebih suka duduk sendirian, dengerin lagu, dan melakukan hal-hal yang ia suka sendirian. Namanya Nayara. Dan hari itu, setelah bel pulang sekolah berbunyi, ketua kelas mereka berdiri dari kursi dan maju ke depan kelas untuk menyampaikan sebuah pengumuman. "Besok malam ada undangan acara ulang tahun dari salah satu siswa kelas sebelah. Semua orang diundang." Kelas mendadak jadi ramai dengan suara orang-orang yang membicarakan siswa yang dimaksud. "Arkan ya?" "Arkana Dewangga?" "Yang ortunya tajir itu?" "Iya, cowok populer itu, loh." Nama siswa itu seketika menjadi topik obrolan seisi kelas. Cowok populer, tampan, dan kaya. Siapa yang tidak tertarik padanya? Sementara, Nayara hanya bersandar malas di kursi. Alias, tidak terlihat tertarik sama sekali. ~~ Besok malamnya, Ponsel Nayara kerap berdering. Ia sampai menghela napas berkali-kali sambil bersandar di ranjang kosannya. Ia melihat banyaknya notifikasi di ponselnya yang datang dari group chat. "Kalian harus pada ikut, ya." "Jangan ada yang sok misterius." "Minimal setor muka aja." Nayara menghela napas pasrah. Baiklah, ia akan ikut asal tidak berhadapan dengan hal yang ribet. Termasuk pada pakaian yang ia kenakan. Malam itu semua murid datang dengan gaun mewah, setelan jas, makeup sempurna, dan banyak hal-hal mencolok lainnya, ala pesta ulang tahun yang megah. Dan di antara semuanya, Nayara datang dengan hanya mengenakan outfit andalannya. Yaitu kaos tipis dan hoodie big size. Untungnya, tidak ada satupun yang memandangnya aneh karena memang mereka sudah terbiasa dengan penampilannya yang seadanya. Rumah itu memang besar dan megah. Lampu gemerlap, musik berdentum di mana-mana, dan orang-orang sibuk lalu lalang. Masalahnya, Nayara tidak menemukan satupun teman sekelasnya bahkan setelah hampir lima belas menit mengitari ruangan pesta di gedung tersebut. Akhirnya setelah capek muter-muter, ia berhenti di aula yang menyediakan berbagai macam camilan. Tangannya reflek meraih satu cookies mungil yang terlihat enak. Ia mengambil satu gigitan. Dan sesuai tampilannya, cookies itu juga memiliki aroma dan rasa yang lezat. "Enak juga." Gumamnya. "Lu tau nggak berapa harga cookies yang lu makan itu?" Suara seorang cowok datang dari samping. Suaranya tengil, pede, dan sombong kebangetan. Nayara menoleh ke arah sumber suara. Cowok itu terlihat tampan, tinggi, dan memiliki aura seseorang yang terbiasa diidolakan. "Seratus lima puluh ribu untuk satu cookiesnya." Tanpa diminta, cowok itu menjawab sendiri pertanyaan yang diajukannya. Nayara berhenti mengunyah karena kaget. Tapi ekspresinya kembali datar saat ia menaruh cookies yang sudah setengah digigitnya itu kembali ke tempatnya. Nayara menatap cowok itu tanpa gentar. "Lebih baik gue jadi pembantu, daripada harus makan kue dari orang sombong kayak lu." Ucapnya dingin. Suasana hening seketika. Setelah beberapa detik, muncul bisik-bisik dari orang-orang yang berdiri di belakang cowok itu. Dan di situlah Nayara baru sadar bahwa cowok yang sedang berhadapan dengannya adalah si tuan rumah. Lebih tepatnya, orang yang berulang tahun. Cowok pemilik pesta yang bernama Arkana tersebut hanya diam menatap Nayara. Terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Sementara Nayara menarik napas panjang, sebelum membalikkan tubuh dan pergi dari sana dengan cepat. Ia tidak ingin kehadirannya menjadi pusat perhatian semua orang dan membuat suasana ramai. Ia sempat berpapasan dengan salah satu teman sekelasnya yang hanya ia sapa secara singkat tanpa menghentikan langkah. Nayara berhasil keluar dari rumah dan suasana mewah itu. Ia segera memesan gocar untuk kembali ke kosannya. Yang penting, ia sudah datang meski hanya setor muka seperti yang salah satu teman sekelasnya katakan di group.Setelah lama berdiam diri dalam posisi itu, Arkana perlahan membantu Nayara bangkit. Keisha langsung sigap membantu begitu melihat mereka bergerak dan beranjak dari tanah."Ayo bantu gue naikin dia ke motor." Pinta Keisha pada Arkana karena Nayara masih mencengkram erat jaket Arkana dengan tangan yang masih gemetar. Arkana bergerak cepat. Tangannya sigap menopang Nayara dari samping, sementara Keisha membantu dari sisi lain. Dengan hati-hati, mereka membantu Nayara naik dan duduk di atas motor. Sepanjang perjalanan kembali ke villa, Nayara tetap tak melepaskan tangan. Tangannya menggenggam erat jaket Arkana dari belakang, kepala sesekali menempel di punggungnya tanpa sengaja. Arkana merasa dadanya kembali berdesir. Bukan hanya karena tubuh Nayara, tapi karena rasa tanggung jawab dan kepedulian yang dalam. Ia tak bicara banyak. Hanya mengendarai motor dengan tenang menuju villa dan membiarkan Nayara menenangkan diri lewat cengkraman erat di jaketnya. Sesampainya di villa, Keisha den
Besoknya, Nayara memilih mengurung diri seharian di kamar. Pagi lewat begitu saja. Siang terasa panjang. Ia hanya berbaring menghadap dinding, memutar-mutar pikiran yang tak kunjung menemukan jawaban. Hoodie hitam yang ia pakai semalaman itu tergantung di kursi, terlihat seolah punya tempat sendiri. Lagi-lagi, pikiran Nayara yang biasanya santai kembali dipenuhi dengan Arkana. Dan hanya Arkana. "Apa yang harus gue bilang ke Arkana? Mulai dari mana? Gimana cara gue balikin hoodie nya? Lalu, gimana cara gue menghadapi orang-orang tentang apa yang terjadi semalam?" Ia tidak ingin mencari cara untuk membuka obrolan karena setiap kemungkinan percakapan berakhir sama. Canggung. Dan Nayara benci perasaan itu. Jadi, lebih baik ia memilih menghindar daripada mendapatkan perasaan yang dibencinya. Sampai langit berubah gelap. Keisha yang sedari tadi sibuk keluar masuk kamar akhirnya angkat suara. "Gue mau keluar buat beli jajan. Lu mau ikut nggak?" Awalnya Nayara menggeleng lemah. Tapi
Dua menit terasa panjang. Nayara terlihat mati-matian melawan sesuatu di dalam dirinya sendiri sampai tubuhnya terlihat gemetar sekilas. Nama itu hampir keluar. Tapi tertahan berkali-kali.Arkana yang sedari tadi ikut menatap akhirnya berdiri. Pergerakannya membuat semua mata refleks beralih ke arahnya, memecah keheningan. "Udah." Ucapnya datar. "Udah malem, nih. Kita tidur aja, yuk." Ajaknya dengan suara tegas dan jelas sedang menahan emosi yang berkecamuk. Belum ada satupun yang bergerak. Semua masih sibuk melamun dan tak tahu harus bereaksi bagaimana. Arkana menatap satu persatu orang di ruang tengah itu."Lu semua mau nyiksa dia sampai kapan? Lihat dia. Dia udah gemetaran. Mending kita stop di sini." Suaranya tak terdengar marah, namun jelas protektif.Hipnoterapis yang sempat ikut melamun akhirnya langsung menghentikan sesi. Menghitung mundur dengan pasti, dan membawa Nayara kembali ke kondisi sadar.Nayara terlepas dari hipnotis dengan napas terengah. Dadanya naik turun cepat
Malam kelima di villa itu awalnya terasa hangat seperti malam-malam sebelumnya. Ruang tamu dipenuhi orang-orang yang duduk santai di lantai dan sofa. Lampu temaram membuat suasana malam terasa jelas. Beberapa lilin aroma terapi dan suara tawa yang saling bersahutan membuat malam terasa berwarna. Cerita horor saling bersahutan. Ada yang serius, ada yang benar-benar membuat merinding, dan ada yang sengaja dilebih-lebihkan. Begitu pula dengan responnya. Ada yang sok berani, dan ada yang teriak lebih dulu sebelum cerita selesai demi meramaikan suasana. Setelah sesi cerita horor selesai, dilanjutkan dengan game lucu dengan hukuman yang absurd. Sampai akhirnya, salah satu cowok nyeletuk sambil nyengir ke teman cowok yang duduk di sebelahnya. "Eh, lu katanya bisa hipnotis orang, ya? Keren banget, bro." Pujinya penuh harap, agar cowok itu mau menunjukkan bakatnya. Cowok itu mengangkat alis sebelah. "Sedikit. Gue cuma bisa hipnoterapi ringan kok. Kenapa emang?" Sahutnya santai. "
Hari-hari Nayara dan Arkana sejak malam ulang tahun Aurel tetap sama. Tidak ada yang berubah. Tidak membaik maupun memburuk. Bagaikan dua garis sejajar selalu jalan berdampingan namun tak pernah bertemu atau saling bersentuhan. Sampai akhirnya, beberapa minggu kemudian, angkatan mereka mengadakan liburan bersama. Sistemnya adalah satu angkatan, berbeda kelas, dan mereka akan menginap di satu villa besar selama satu minggu penuh. Tentu saja Keisha membujuk Nayara secara paksa untuk ikut serta dalam liburan yang terasa wajib itu. "Mau jadi apa villa itu kalau rame karena semua orang ikut?" Protes Nayara pada Keisha yang kekeuh mengajaknya. "Nggak banyak yang ikut kok. Kan orang-orang juga banyak yang sibuk sama liburannya sendiri kali. Jadi palingan cuma dua puluh sampe tiga puluh orang doang yang ikut." Jelas Keisha. "Ayolah. Gengnya Arkana aja ikut." Sebut Keisha. Nayara menoleh. "Arkana?" Keisha terdiam sejenak sebelum menggeleng. "Kayaknya nggak deh. Makanya lu harus ikut."
Di dalam mobil Raka, suasana terasa tenang. Tidak ada yang mengganggu sama sekali. Nayara duduk tenang meski sedikit kikuk, dan Raka yang mengemudi dengan kalem. Beberapa menit hening. Hening yang canggung, sampai akhirnya, Raka membuka suara lebih dulu. "Nayara, tadi piano itu... lu belajar dari mana, sih? Gila, itu indah banget." Nadanya terdengar ringan meski ada sekilas nada penasaran dalam nadanya. Ia melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan. Nayara menatap keluar sejenak. Senyum kecil muncul di bibirnya, walau matanya tidak ikut tersenyum. Ia menghela napas pendek. "Dari mama gue. Mama gue pianis." Ungkapnya tanpa menutup-nutupi. Raka mengangkat alis takjub. "Oh ya? Nayara membalas dengan anggukan pelan. "Dari kecil... SD sampai SMP, gue sering main piano bareng mama gue.""Oh, berarti lu emang suka musik dari dulu?" Tanya Raka murni penasaran. Naya menghela napas pendek sebelum menggeleng. "Nggak." Sahutnya singkat. Jawaban itu membuat Raka reflek menaikkan alis,







