Share

Tamparan Keras

Author: Kim Soraya
last update publish date: 2026-07-24 22:52:19

Pagi itu sekolah ribut dan ramai seperti biasa. Semua orang masih sibuk membahas tentang pesta mewah semalam.

"Gila! Rumah Arkana gede banget, ya!"

"Udah ganteng, tajir lagi."

Sementara, Nayara hanya jalan santai mengenakan hoodie yang hampir menutupi setengah wajahnya.

Jika ditanya, Nayara sebenarnya bukan gadis introvert, bukan juga seseorang yang tidak bisa bergaul atau terlalu pendiam. Ia hanyalah seseorang yang tidak suka membahas sesuatu yang tidak penting.

Saat istirahat pertama, Nayara keluar dari kelas untuk menuju minimarket depan sekolah. Ia membeli minuman di sana dan berjalan kembali ke kelas.

Tapi saat bel berbunyi dan lorong-lorong mulai penuh...

'Bruk'

Ia tidak sengaja menabrak dada seseorang. Minuman di tangan Nayara jatuh ke tanah. Ia cepat-cepat memungut minuman itu dan mendongak. "Ma-"

Nayara menggantung ucapan maaf-nya saat melihat sosok yang ia tabrak.

Yup. Arkana.

Belum sempat Nayara pergi dari sana, tangannya ditahan oleh Arkana. Arkana memegang bahkan mencekal pergelangan tangannya.

Nayara refleks menatapnya tajam. "Lepasin!" Ia memberontak.

Arkana justru mengeratkan cengkeramannya. Tatapannya menusuk, dingin, dan mendominasi. "Lu keterima jadi maid gue." Ucapan dingin yang terdengar seperti sambaran petir.

"Hah? Apa sih?" Nayara mengernyit kebingungan. Murid-murid yang sempat berdesakan untuk masuk kelas seketika menghentikan langkah.

Nayara sadar dengan tatapan orang-orang di sekitarnya dan buru-buru melepaskan tangannya dari cengkeraman Arkana.

"Lu sinting ya?!"

Arkana malah tersenyum tipis dan mendekat untuk berbisik pelan. "Semalam bukannya lu sendiri yang bilang kalau lebih baik lu jadi pembantu? Lu lupa ya?"

Nayara mencoba mengingat dan reflek membulatkan mata. "Lu tau bukan itu maksud gue."

Arkana malah kembali tersenyum tipis. Bukan senyum ramah atau semacamnya. Melainkan senyum seseorang yang merasa menang taruhan. "Semalam lu sendiri yang bilang begitu. Udah lah terima aja. Hitung-hitung buat bayar kue yang lu makan semalam."

Nayara menatap tajam. "Gue cuma gigit sedikit. Nggak gue abisin." Ia membela diri dari ide tidak masuk akal milik Arkana.

"Sedikit pun, tetap harus bayar."

Orang-orang di sekitar yang menonton mereka hanya berdiri dalam hening. Seperti sedang menyaksikan tontonan seru.

Nayara menarik napas tenang. "Gue nggak mau." Tolaknya langsung.

Arkana menunduk sedikit agar sejajar dengan tatapan Nayara. "Masalahnya, gue udah putusin." Balasnya dengan kedua tangan di dalam saku ala cowok sok cool.

Nayara tidak teriak maupun mengamuk. Karena ia merasa kalau melakukan itu, ia kalah dan Arakan menang karena berhasil membuatnya marah.

Meskipun Nayara tidak terpancing emosi, sorot matanya berubah. "Kalaupun gue jadi pembantu, gue nggak akan jadi pembantu dari orang yang sombong kayak lu."

Arkana menegakkan tubuh. "Gue nggak minta lu kerja sama gue. Anggap aja ini hukuman." Jelasnya tengil.

"Hukuman dari siapa?" Sahut Nayara cepat.

"Dari gue." Jawab Arkana tak kalah cepat.

Waktu untuk masuk kelas sudah hampir tiba. "Nanti sepulang sekolah, lu ikut gue. Lu mau atau nggak, itu urusan belakangan." Arkana membuat keputusan.

Nayara membalikkan tubuh dengan cepat tanpa menoleh lagi. Ekspresinya tetap datar meski dadanya terasa bergemuruh.

~~

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Nayara keluar kelas dengan hoodie masih menutupi setengah wajah dan tas dikenakan di satu pundak.

Baru dua langkah berjalan keluar kelas, langkah Nayara terpaksa berhenti saat mendengar suara yang familiar di belakangnya.

"Na... ya... ra..."

Nayara reflek membalikkan tubuh dan kembali melihat pemilik wajah tengil itu lagi. Kali ini, cowok itu ditemani gengnya.

"Cih, benar-benar pengecut." Ucap Nayara dalam hati.

"Nayara? Itu nama lu ya? Jelek banget, sih. Nggak ada niat ganti nama?" Arkana mencoba bercanda meski tetap terlihat tengil dan sombong.

Nayara menatap semua cowok di depannya memiliki penampilan tengil dan bau arogansi. Ia membalikkan tubuh untuk pergi dari sana. Namun, Arkana lebih cepat menghadang.

"Berhenti."

Nayara mendengus namun tetap mencoba tenang. "Kenapa lagi? Gue capek. Mau pulang."

Teman Arkana yang rambutnya dicat abu-abu terlihat nyengir meremehkan. "Lah, maid itu nggak boleh pulang lebih dulu sebelum boss-nya dong." Ledeknya.

Nayara menatap dingin pada cowok tersebut. "Gue bukan maid siapa-siapa." Sahutnya sinis.

Arkana menggeleng tak terima. "Nggak bisa. Lu hutang sama gue, Nayara. Dan lu harus bayar."

"Hutang apaan? Kue setengah gigitan itu?" Nayara lebih tak terima.

Teman Arkana yang lain ikut nimbrung. "Setengah gigitan pun, emang lu bisa bayar?"

Nayara tertawa dingin. "Emang gue nggak niat mau bayar kok." Ia membalas ledekan demi ledekan yang dilontarkan oleh geng Arkana.

"Tenang aja. Lu bukan maid di rumah gue. Gue juga ogah biarin cewek kayak lu masuk ke rumah gue." Arkana yang sedari tadi menyaksikan, kembali buka suara dengan kalimat nyelekit.

"Lu cuma bakal melayani gue selama di lingkungan sekolah aja. That's it." Jelasnya.

Suasana hening sejenak. Nayara menyipitkan mata dalam diam. Udara di sekitar mereka mendadak terasa berat.

Salah satu teman Arkana yang paling tengil dan ceplas-ceplos tertawa keras. "Wuih, Arkana. Sayang banget nggak sih kalau cewek begini cuma didiemin doang? Serius lu nggak mau ajak ke rumah?" Nada suaranya terdengar kasar dan merendahkan.

Detik berikutnya, suara ludah terdengar mendarat di pipi cowok yang meledeknya itu. Semua orang membeku saat Nayara meludah ke pipi cowok itu.

"Mulut lu kotor. Jadi gue bersihin sekalian. Sayang banget malah kena pipi." Ujar Nayara dengan tatapan dingin nyaris tak bernyawa.

Tangan Arkana refleks mau menyentuh pundak Nayara. "Nayara–"

'Plak'

Satu tamparan dari Nayara mendarat telak di pipi Arkana. Membuat semua orang kembali membeku. Arkana sampai terdiam karena shock.

Setelahnya, Nayara membalikkan tubuh dan pergi tanpa drama sakit hati, menangis, atau sedih. Ia tetap melanjutkan langkah dengan tenang, meninggalkan Arkana dan gengnya yang masih mematung di tempatnya.

Arkana masih berdiri diam. Temannya yang tadi nyeletuk terlihat panik. "Eh, gue nggak maksud ke arah sana, Kan."

Arkana langsung menoleh tajam. "Lu kenapa sampe ngomong begitu, sih?" protesnya.

"Gue bercanda, Kan. Lu kan tau gue suka bercanda." Temannya membela diri.

"Bercanda lu kebablasan." Arkana mengusap pipinya kasar. Bukan karena sakit fisiknya. Tapi karena harga dirinya terluka dan karena menghadapi kenyataan bahwa Nayara sama sekali tidak takut padanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Forced to be Yours (Maid)   Crazy Things

    Besoknya, hal yang tidak pernah Nayara duga terjadi. Nayara yang biasanya ke mana-mana selalu sendiri, kini justru dekat dengan Keisha. Keisha masih sering melamun hari itu. Kadang tatapannya kosong, namun senyum cerianya langsung muncul kembali beberapa detik kemudian. Seolah ia tak membiarkan dirinya larut terlalu lama dalam kesedihannya sendiri.Saat jam istirahat, mereka duduk di tangga belakang sekolah. Menghindari tempat yang terlalu ramai karena Keisha masih malu dengan kejadian kemarin. "Na, pokoknya lu harus bantuin gue dapetin cowok, ya." Celetuk Keisha sambil mengunyah roti. "Siapa aja pokoknya. Yang pasti bukan Ravin. Gue udah malu banget karena kejadian kemarin dan ogah kenal lagi sama dia." Lanjutnya dengan pipi mengembung dan manyun karena cemberut. Nayara melirik sekilas. "Hah?""Lu bantuin gue nyari cowok, ya. Pliss. Kan sekarang kita bestie dadakan." Pinta Keisha dengan senyum manis sambil bergelayut manja ala bestie sesungguhnya. Nayara menghela napas pelan. "Is

  • Forced to be Yours (Maid)   Keisha Menyatakan Cinta?

    Besoknya, ketika Nayara baru melangkahkan kaki keluar dari kelasnya, Keisha datang dari kelas sebelah dan langsung meraih tangannya. "Nayara!" Serunya. Nayara menoleh dan mengerutkan kening melihat Keisha yang berlari ke arahnya dengan grasak-grusuk dan napas terengah-engah. Raut wajahnya antara panik dan nekat."Gue akan ikutin saran lu." Ujar Keisha cepat. "Gue akan deketin Ravin duluan." Ucapnya dengan tekad penuh. Nayara terdiam lama dengan kerutan yang semakin dalam di keningnya sebelum menyahut ragu. "Oke...?" "Tapi lu harus temenin gue. Gue nggak berani sendiri. Lu kan udah kenal lama sama Ravin." Pinta Keisha buru-buru. Tanpa menunggu respon Nayara, ia langsung meraih tangan Nayara dan membawanya turun menuju ruang fotografi. Keisha menghentikan langkah di depan ruang fotografi dan mengatur napasnya. "Lu tunggu di sini aja, ya. Stay beberapa langkah di belakang gue." Pintanya. "Oke." Sahut Nayara yang entah kenapa langsung setuju dan tak bisa menolak. Keisha menarik nap

  • Forced to be Yours (Maid)   Rasa Lelah

    Nayara berpikir urusan kemarin sudah selesai. Ternyata masalah seakan tak ada habis untuknya. Karena besoknya, gosip liar yang entah berasal dari mana, memenuhi sekolah dengan gaduh. "Ravin kok ngikutin Nayara mulu, ya?""Jangan-jangan, dia suka sama Nayara dan mau rebut Nayara dari Arkana?""Wah, fix. Cinta segitiga sih ini." Gosip tak masuk akal itu menyebar cepat. Saking cepatnya, Nayara mendengarnya dari orang lain lebih dulu. Bukan dari pelaku gosipnya. Dan tentu saja bahkan hanya Nayara yang mendengarnya. Gosip itu juga sudah sampai ke telinga Arkana. Siang itu, Arkana buru-buru mengejar langkah Nayara di koridor belakang sekolah. "Akhir-akhir ini seru banget, ya." Ujarnya setelah berhasil menyamai langkah Nayara. Nayara menghentikan langkah dan menoleh malas. "Maksud lu apa?" Ia mengerutkan kening gusar. Hanya Arkana satu-satunya yang berhasil membuatnya memberikan respon lebih daripada sekadar bersikap datar. "Ck, lu sadar nggak, sekarang orang-orang ngomong apa tentang

  • Forced to be Yours (Maid)   Kesalahpahaman Total

    Semakin lama memendam rasa, Ravin merasa semakin tidak kuat menahan gejolak di hatinya itu sendirian. Hari ini, ia akhirnya benar-benar nekat Nayara sedang jalan seorang diri ke arah taman belakang sekolah, tempat favoritnya untuk menenggelamkan diri dari keramaian. Telinganya dengan jelas menangkap suara langkah seseorang mengikuti ritme langkahnya dari belakang. Pelan, dan hati-hati. Terlalu hati-hati untuk disebut kebetulan. "Nayara." Panggil Ravin pelan. Nayara menghentikan langkah. Ia sebenarnya sudah tahu kalau Ravin membuntutinya sedari tadi. Dan kali ini, ia membalikkan tubuh dengan wajah datar. Tak lagi pura-pura tak sadar. "Kenapa?" Ravin mendekat dua langkah. "Gue cuma mau ngobrol sebentar." Nayara menghela napas pelan. "Ngobrol apa lagi?" Ravin hendak membuka mulut. Tapi belum sempat ia berbicara, Nayara sudah keburu mengatakan sesuatu. Nada suaranya datar dan tenang seperti biasa. "Kenapa lu masih deketin gue? Lu belum confess ke Keisha? Kenapa? Ngga

  • Forced to be Yours (Maid)   Skenario Arkana

    Koridor terlihat ramai seperti pagi biasanya. Pagi ini pun sama. Nayara berjalan seorang diri di antara kerumunan orang-orang di koridor. "Oi." Suara itu membuat Nayara menghentikan langkah tapi tak langsung menatap sosok tersebut. "Beliin gue minum." Arkana berdiri di depannya dengan ekspresi tengil dan tangan dimasukkan ke saku celana. Ekspresi santai seolah tak sedang memberi perintah seenaknya. Beberapa orang yang tadi hanya sibuk dengan circle masing-masing langsung menoleh dan berbisik satu sama lain. "Bener kan mereka pacaran.""Ih lucu banget. Disuruh beli minum dong." "Gitu aja gue salting." Nayara menatap Arkana dingin. "Kenapa harus gue? Emang lu nggak bisa beli minum sendiri?" Ia tentu tak terima. Arkana mendekat sedikit. "Kalau lu nurut, gue akan bilang ke semua orang kalau kita nggak pacaran dan rumor itu nggak benar." Ia berbisik pelan. Nayara mengatupkan rahang. Ia benci posisi ini. Tapi akhirnya ia memilih tak menolak. "Minuman apa?"Arkana nyengir kecil. "N

  • Forced to be Yours (Maid)   Nayara & Ravin... Maybe?

    Nayara mulai sering melihat sosok yang sama hampir di manapun ia berada. Sosok itu bukan Arkana. Melainkan cowok lain yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Awalnya Nayara berpikir itu hanya kebetulan. Tapi setelah tiga hari berturut-turut, Nayara mulai merasa bahwa itu bukan hanya sebuah kebetulan. Masalahnya cowok itu hampir selalu ada di setiap sudut yang Nayara pijak. Di hari keempat, saat Nayara baru keluar kelas dengan ransel yang menggantung di satu pundak, ia kembali melihat Ravin tak jauh dari sana. Ekspresi Nayara tetap datar saat Ravin sengaja menyamakan langkah. Langkah mereka sejajar dengan hening yang tercipta sejenak. Sampai Ravin membuka suara. Untuk pertama kalinya. Untuk seorang gadis. "Lu... Nayara, kan?" Nayara melirik sekilas dengan kerutan di keningnya. "Iya." Sahutnya singkat. "Gue Ravin. Ketua ekstrakurikuler fotografi kalau lu belum tau." Ravin berusaha tidak terlihat kikuk. Hening. Tak ada sahutan lagi dari Nayara karena memang ia sendiri merasa t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status