Beranda / Romansa / Fragmen di Bawah Hujan / Bab 60 — Ketika Sunyi Belajar Menyebut Nama

Share

Bab 60 — Ketika Sunyi Belajar Menyebut Nama

Penulis: Ey senja
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-23 00:59:41

Pagi datang tanpa suara.

Tidak ada burung, tidak ada angin yang tergesa, bahkan cahaya pun tampak ragu untuk masuk sepenuhnya ke ruangan tempat Aira terbangun. Jendela terbuka setengah, dan tirai tipis bergoyang pelan—seolah sedang menghafal bentuk udara.

Aira duduk perlahan di tepi ranjang.

Tubuhnya terasa utuh, tapi pikirannya seperti baru kembali dari tempat yang jauh. Ada sisa-sisa mimpi yang belum sepenuhnya lepas dari kulitnya, melekat di pergelangan tangan, di tengkuk, di b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 119 — Angka yang Tidak Lagi Jinak

    Pagi datang seperti biasa.Langit masih berwarna pucat ketika Aira tiba di kantor. Lorong-lorong belum ramai, hanya beberapa lampu yang sudah menyala di ruang kerja yang lebih awal terisi.Ia menyukai jam-jam seperti ini.Ketika dunia belum sepenuhnya terbangun, dan segala sesuatu terasa lebih sederhana.Aira menaruh tasnya di kursi, menyalakan komputer, lalu membuka laporan terakhir yang semalam ia simpan.Angka-angka itu kembali memenuhi layar.Tabel panjang. Grafik kecil di sudut dokumen. Simulasi yang berlapis-lapis.Ia menarik napas panjang.Beberapa hari terakhir ia hampir tidak memikirkan apa pun selain proyek ini.Setiap perhitungan diperiksa kembali.Setiap asumsi diuji ulang.Seolah-olah jika ia cukup teliti, cukup sabar, semua keraguan yang mulai muncul bisa dipatahkan.Namun ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan.Semakin lama ia menatap angka-angka itu, semakin terasa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya stabil.Satu

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 118 — Jarak yang Tidak Pernah Mudah

    Hari itu berjalan lebih panjang dari biasanya.Aira menghabiskan hampir seluruh pagi dengan rapat kecil dan revisi laporan yang tidak kunjung selesai. Setiap angka diperiksa kembali, setiap asumsi diuji ulang.Ia bekerja dengan fokus yang hampir berlebihan.Seolah-olah jika ia cukup teliti, cukup keras, cukup disiplin… semua yang mulai retak di sekelilingnya bisa kembali lurus.Namun pikiran manusia tidak selalu patuh pada logika kerja.Setiap kali ia berhenti sejenak, bayangan percakapannya dengan Damar kemarin kembali muncul.Kamu berubah.Kalimat itu sederhana.Tapi sejak kemarin, kata-kata itu seperti gema kecil yang terus kembali.Menjelang sore, kantor mulai lebih tenang.Beberapa orang sudah pulang, beberapa masih menyelesaikan pekerjaan terakhir mereka.Aira sedang menutup dokumen ketika pintu ruangannya diketuk.Ia sudah tahu siapa sebelum mengangkat kepala.Arkan berdiri di sana.“Boleh masuk?”Aira menganggu

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 117 — Percakapan yang Tidak Bisa Dihindari

    Pagi itu kantor terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan karena orang-orang tidak datang. Meja-meja tetap terisi, layar komputer tetap menyala, dan percakapan kerja tetap berjalan.Namun ada sesuatu dalam ritmenya yang terasa sedikit tertahan.Seolah semua orang bekerja dengan kesadaran bahwa proyek yang mereka tangani tidak lagi berjalan semulus sebelumnya.Aira sudah duduk di ruang kerjanya sejak setengah jam lalu.Di hadapannya terbuka laporan terbaru yang semalam ia koreksi.Angka-angka itu sudah lebih rapi sekarang.Namun masalah yang tersembunyi di baliknya tidak benar-benar hilang.Ia baru saja menutup laptop ketika ponselnya bergetar.Sebuah pesan singkat muncul.Damar:Kalau kamu ada waktu, mampir ke ruanganku sebentar.Aira menatap pesan itu beberapa detik.Tidak ada tanda panik dalam kalimat itu.Tidak ada kata “penting” atau “segera”.Namun justru kesederhanaannya membuat dadanya sedikit mengencang.Ia berdir

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 116 — Potongan yang Mulai Terhubung

    Raka bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain.Selama dua tahun bekerja di tim itu, ia dikenal sebagai analis yang rapi, tenang, dan jarang terlibat dalam percakapan di luar pekerjaan. Ia datang tepat waktu, menyelesaikan tugasnya, lalu pulang tanpa banyak drama.Namun sejak malam ketika ia melihat Aira dan Arkan berbicara di ruang kerja itu, ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.Bukan karena ia yakin ada sesuatu yang salah.Justru karena ia tidak yakin.Dan ketidakpastian sering membuat pikiran manusia bekerja lebih keras dari seharusnya.Pagi itu Raka duduk di mejanya sambil memeriksa pembaruan data proyek.Ia mencoba fokus pada angka-angka.Namun tanpa sadar, matanya sesekali melirik ke arah ruang kerja Aira yang dindingnya sebagian terbuat dari kaca.Aira sedang berbicara dengan seseorang di telepon.Wajahnya tenang seperti biasa.Jika Raka tidak melihat malam itu, mungkin ia tidak akan memperhatikan apa pu

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 116 — Potongan yang Mulai Terhubung

    Raka bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain.Selama dua tahun bekerja di tim itu, ia dikenal sebagai analis yang rapi, tenang, dan jarang terlibat dalam percakapan di luar pekerjaan. Ia datang tepat waktu, menyelesaikan tugasnya, lalu pulang tanpa banyak drama.Namun sejak malam ketika ia melihat Aira dan Arkan berbicara di ruang kerja itu, ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.Bukan karena ia yakin ada sesuatu yang salah.Justru karena ia tidak yakin.Dan ketidakpastian sering membuat pikiran manusia bekerja lebih keras dari seharusnya.Pagi itu Raka duduk di mejanya sambil memeriksa pembaruan data proyek.Ia mencoba fokus pada angka-angka.Namun tanpa sadar, matanya sesekali melirik ke arah ruang kerja Aira yang dindingnya sebagian terbuat dari kaca.Aira sedang berbicara dengan seseorang di telepon.Wajahnya tenang seperti biasa.Jika Raka tidak melihat malam itu, mungkin ia tidak akan memperhatikan apa pu

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 115 — Mata yang Tidak Sengaja

    Malam itu kantor hampir kosong.Jam sudah melewati pukul delapan, dan sebagian besar lampu di lantai itu sudah dimatikan. Hanya beberapa ruang kerja yang masih menyala, tanda bahwa ada orang-orang yang belum selesai dengan pekerjaannya.Salah satunya adalah Aira.Ia duduk di depan laptopnya, menatap layar yang menampilkan revisi laporan anggaran. Angka-angka itu seperti menatap balik padanya, seolah meminta penjelasan yang bahkan ia sendiri belum siap berikan.Beberapa baris koreksi sudah ia buat.Namun masalahnya bukan sekadar angka.Masalahnya adalah keputusan yang melahirkan angka-angka itu.Ia mengusap pelipisnya pelan.Kelelahan mulai terasa lebih berat akhir-akhir ini. Bukan hanya karena pekerjaan yang menumpuk, tapi karena pikirannya tidak pernah benar-benar diam.Setiap keputusan kini terasa seperti membawa bayangan.Pintu ruangannya diketuk pelan.Arkan.Ia membawa dua cangkir kopi.“Aku pikir kamu masih di sini,” katanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status