Teilen

4. Sah!

last update Zuletzt aktualisiert: 11.03.2026 10:43:25

Sejak kejadian setengah jam yang lalu, entah kenapa Gadis menjadi segalau ini. Apakah keputusannya untuk menikah dengan Pradipta adalah hal yang benar dan pantas untuk ia jalani? Namun jika ia mundur, maka dirinya telah membuat malu keluarga. Terlebih Papanya memiliki sakit jantung. Di dalam tubuhnya sudah dipasangi ring sebanyak tiga. Tidak, sepahit apapun nanti, memilih Pradipta adalah keputusan yang sudah ia ambil. Lagipula andai saja apa yang ia dengar dibawah adalah sebuah kebenaran, maka setidaknya Pradipta sudah berusaha untuk mengakhiri hubungannya dengan perempuan itu.

Tok...

Tok...

Tok....

Sebuah ketukan di pintu kamar membuat Gadis kembali menapaki realitasnya. Cepat-cepat ia menyingkirkan pikiran-pikiran tidak penting yang baru saja lewat di benaknya.

"Come in."

Beberapa detik kemudian sosok Banyu Bimantara yang tidak lain adalah kakak Gadis masuk ke dalam. Gadis berusaha menampilkan senyum bahagia meskipun di dalam hatinya sedang merasakan kegalauan yang teramat berat.

"Eh, Mas... Kok sendiri aja?"

Banyu tersenyum seakan ia tidak mengetahui apa yang setengah jam lalu terjadi di dekat kolam renang. Meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang menjadi pembicaraan hingga Gadis menangis dan berlari menuju ke arah lift, namun ia sudah melihat bagaimana interaksi calon adik iparnya dengan seorang wanita cantik dengan tubuh sintalnya. Perempuan itu berbeda sekali dengan Gadis. Bahkan meskipun ia belum menikah, tapi Banyu bisa melihat jika perempuan itu adalah orang spesial bagi Pradipta.

"Sejak kapan aku punya gandengan?" Tanya Banyu balik sambil mulai duduk di pinggiran ranjang.

Gadis menilih berdiri dan mendekat ke arah kakaknya. Ia duduk di samping kakak laki-lakinya yang tahun ini berusia 34 tahun namun belum kunjung juga menemukan pendamping hidup.

"Apa yang mas Banyu tunggu? Pekerjaan sudah mapan, umur juga sudah tidak muda lagi. Kayanya enggak mungkin sengaja nunggu aku langkahin biar dapat pelangkah 'kan?"

Banyu tertawa kecil dan ia gelengkan kepalanya. Usianya dan Gadis terpaut empat tahun, di mana sejak dulu sudah ia prediksi bahwa dirinya pasti akan dilangkahi oleh adik perempuannya ini.

"Lebih baik menunggu orang yang tepat daripada buru-buru tapi kita salah memilih pasangan."

Gadis langsung terdiam. Mungkinkah kakaknya ini sedang menyindir dirinya?

Melihat Gadis yang diam saja, Banyu memeluk pundak Gadis dengan tangan kanannya.

"Dis, apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu ini?"

Gadis mengangkat pandangannya untuk menatap kedua mata Banyu. Seakan paham dengan arti tatapan sang adik, Banyu melanjutkan kata-katanya.

"Maksud aku gini, menikah itu berarti kamu akan membagi seluruh hidup kamu bersama pasangan kamu. Itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan bila kamu aja yang berjuang sendirian sedangkan dia enggak. Sekali salah memilih pasangan, penderitaannya akan lebih berat daripada orang yang memilih untuk tidak menikah."

"Kenapa Mas ngomong kaya begini?"

"Kamu itu sama Dipta kenalnya cuma setahun sudah langsung menikah. Padahal untuk menikah itu, kamu harus mengenal dia luar dalam. Kamu harus tahu gimana sifat asli dia. Seperti saat dia marah, stress dan apakah dia setia bersama kamu untuk melalui sedih dan bahagia kamu? Enggak cuma itu aja, masih banyak hal yang harus kalian bicarakan bersama sebelum mengambil keputusan untuk bersama sampai akhir hayat."

"Hmm... Apakah itu penting sekarang, Mas?"

Banyu menganggukkan kepalanya, sedangkan melihat apa yang sang kakak lakukan, Gadis justru menggelengkan kepalanya.

"Percuma, Mas. Sebentar lagi aku akan diajak turun ke bawah. Sejujurnya aku tak banyak berharap akan seperti apa rumah tanggaku kelak sejak setengah jam yang lalu. Aku akan mencoba menjalani semua ini dengan baik. Semoga saja Tuhan memberikan kebahagiaan pada runah tanggaku nanti."

Banyu mencoba menerima alasan Gadis. Lagipula perempuan seperti Gadis pasti akan mementingkan nama baik keluarga daripada kebahagiaan dirinya sendiri. Kini Banyu memilih segera pamit kepada Gadis karena ia akan turun ke bawah untuk mendampingi kedua orangtuanya. Sepeninggal sang kakak, siapa sangka jika air mata Gadis justru jebol lagi yang membuat MUA yang tadi merias wajahnya heran sendiri. Baru sekali ini ia bertemu dengan calon pengantin yang awalnya terlihat bahagia dengan rencana pernikahannya, tiba-tiba terlihat sedih di detik-detik menjelang ijab qobulnya.

***

Siang ini Gavriel duduk di samping Rachel. Sejak tadi ia sudah berusaha meminta Rachel agar tidak menangis. Ia tidak mau membuat orang-orang yang hadir di dalam ballroom hotel ini curiga. Karena Alena yang tidak sengaja bertemu dengannya tadi sudah langsung memberikan tatapan ingin tahunya tentang apa yang terjadi pada Rachel.

"Hel, jangan nangis lagi," Kata Gavriel pelan di dekat telinga Rachel.

Rachel menggelengkan kepalanya yang membuat Gavriel mengembuskan napas panjang.

"Jangan sampai orang-orang curiga!"

"Keluarganya Dipta sudah tahu semua tentang gue."

"Iya, keluarga Dipta, tapi keluarga dan koleganya Gadis enggak ada yang tahu tentang lo."

"Harusnya gue yang ada di sana, bukan Gadis."

Gavriel memutar kedua bola matanya dengan malas. Rasanya andai bisa dirinya ingin meninggalkan Rachel di tempat ini saja. Sayangnya di sudut terdalam hatinya, ia penasaran dengan keputusan apa yang akan Gadis ambil setelah kejadian di dekat kolam renang tadi. Akankah Gadis tetap menikahi Pradipta meskipun ia sudah mendengar semuanya? Jika iya, maka benar kata Antonio yang memberikan gelar 'Stupid Girl' pada sosok Gadis Sekarwangi.

Suara MC yang mengatakan bahwa pengantin wanita akan segera memasuki ballroom hotel menbuat Gavriel menolehkan kepalanya ke arah belakang. Siapa sangka ia justru melihat sosok Gadis yang mulai memasuki ballroom bersama Alena dan seorang perempuan yang sedikit mirip dengan Gadis namun dalam versi yang lebih muda. Kemungkinan perempuan ini masih memiliki hubungan keluarga dekat dengan Gadis meskipun bukan adik kandung.

Kedua mata Gavriel terus mengikuti gerakan Gadis hingga akhirnya Gadis duduk di samping Pradipta. Di hadapan Pradipta ada laki-laki yang Gavriel tahu adalah Ayah Gadis. Ya, ia sering melihat fotonya di bingkai foto kecil yang ada di meja kerja Gadis.

Beberapa saat lantunan ayat suci dikumandangkan hingga akhirnya kini prosesi ijab qobul di laksanakan.

"Ananda Pradipta Andarto bin Samsudin Andarto, saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya dengan maskawin seratus lim puluh gram logam mulia dan uang tunai seribu seratus tujuh belas dollar dibayar tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya Gadis Sekarwangi binti Sudibyo Bimantara dengan maskawin tersebut diatas dibayar tunai."

"Sah?"

"Sah!"

"Alhamdulillah. Al-fatihah."

Sambil membaca lantunan surat al-fatihah secara lirih, air mata Gadis kembali keluar dari sudut matanya. Ya, kini dia sudah resmi menjadi nyonya Pradipta Andarto. Seumur hidupnya harus ia abdikan untuk suaminya. Apapun yang menjadi keputusan suaminya kelak harus ia patuhi dan ikuti meskipun secara tidak langsung itu sudah membunuh jiwa feminisnya yang selama ini melekat kuat di dalam dirinya.

***

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • From Bully to Love Me   14. Galau

    Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam."Kamu kenapa sih, Dip?""Aneh aja, Hel. Enggak biasanya Gadis kirimin aku kaya beginian.""Dia lagi kangen kali. Kamu mudik aja.""Dia lagi di Solo. Makanya aku minta kamu ke sini.""Kamu mau bicarakan apa?" Tanya Rachel sambil mulai duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.Mau bagaimanapun, sejak Pradipta menikah dengan Gadis, rumah ini adalah salah satu nerak

  • From Bully to Love Me   13. Kabur

    Gadis menatap tas ransel Fjallraven Kanken yang dulu sering ia pakai untuk kuliah. Berbeda dengan dulu ketika tas ini berisi laptop, alat tulis dan berbagai macam tugas kuliahnya, kini tas ini berisi baju dan perlengkapan pribadinya. Kali ini misinya harus berhasil meskipun ia harus sedikit berbohong pada kedua orangtuanya.Tok... Tok... Tok.... "Masuk," Ucap Gadis sambil segera menutup resleting tas berwarna merah marron itu.Gadis tersenyum kala melihat Banyu berdiri di ambang pintu kamarnya."Mas, masuk. Jangan disitu aja."Mendengar perkataan Gadis, Banyu segera melangkahkan kakinya untuk mendekati adik semata wayangnya ini. Baru saat sampai di dekat Gadis, Banyu memilih untuk duduk di pinggiran ranjang berukuran king. Ia tatap adiknya yang tampak bahagia. Berbeda dengan dua hari yang lalu kala mereka berdebat hebat, hari ini seakan Gadis sudah melupakan semua kejadian itu."Kamu serius mau ke Jogja sendiri?""Iya, Mas.""Biar Mas antar aja atau pak Manto. Lebih enak naik mobil

  • From Bully to Love Me   12. Lunch

    Gadis : Gue sekarang jadi tahanan.Alena : ketangkap kasus apa lo? ada di Polsek mana?Gadis : kasus dibodohi dan dimanipulasi oleh keluarga Dipta. Bukan polsek tapi rumah orangtua gue.Alena : lo belum jadi pergi ke tempat Dipta buat cek langsung?Gadis : maunya hari ini tapi gue sudah terlanjur jadi tahanan. Lo punya cara enggak buat gue kabur dari rumah?Alena : berani bayar berapa lo kalo gue kasih ide?Gadis : gue bayar pakai kakak gue aja gimana? Eneg gue lama-lama di rumah bareng Mas Banyu.Alena : gue mau sama kakak lo tapi belum tentu dia mau sama gue yang bentukannya begini.Gadis : alhamdulillah, sadar juga lo sama kapasitas diri.Alena : bangke lo, Dis!Gadis : buruan lo kasih ide.Alena : gue pikirin dulu. Nanti gue kasih kabar habis makan siang. Okay?Gadis : okay.Setelah membaca pesan dari Gadis, Alena memilih segera menutup handphone miliknya. Ia segera berdiri dari kursi kerjanya sambil membawa handphone serta dompetnya."Gil, gue lunch bareng lo, ya?" Ucap Alena kal

  • From Bully to Love Me   11. Aku vs keluargaku

    Gadis tersenyum kala melihat rumah kedua orangtuanya yang bergaya Jawa modern. Halaman depan rumahnya yang luas dan terdapat air mancur serta taman ini membuatnya benar-benar merasa nyaman di sini. Rumah yang sudah ia huni sejak lahir, tempat ia tumbuh dan dewasa, benar-benar menyimpan banyak kenangan di hidupnya yang tak mungkin ia lupakan sampai akhir hayatnya.Ketika sampai di depan pintu, Gadis segera membunyikan bel. Tidak lama menunggu, akhirnya seorang asisten rumah tangga muda yang baru kali ini Gadis temui muncul di sana.Begitu mempersilahkan Gadis masuk, Sari segera mendorong koper cabin size Gadis. Baru sekali ini Sari bertemu dengan Gadis. Nama yang beberapa hari ini sering terdengar di rumah ini."Assalamu'alaikum, Mama," Ucap Gadis sambil berjalan cepat untuk menuju ke Mamanya yang sedang membaca majalah."Waalaikum salam," Ucap Aryanti sambil memeluk Gadis."Papa mana, Ma?" Tanya Gadis setelah mengurai pelukannya pada sangat Mama."Belum pulang.""Jam segini masih di k

  • From Bully to Love Me   10. Tidak sempurna

    Gadis menatap pasangan muda yang sedang berfoto bersama kedua anaknya. Dari apa yang terlihat oleh matanya, pasangan itu seusia dirinya dan Dipta. Melihat mereka bahagia dengan keluarga kecilnya entah kenapa ada perasaan iri dalam dirinya. Kenapa ia dan Dipta tidak bisa seperti itu? Terlebih sejak 5 bulan yang lalu saat ia dan Dipta datang ke dokter kandungan dan dokter kandungan mengatakan jika sel telurnya terlalu kecil untuk dibuahi. Ini membuatnya belum kunjung hamil hingga saat ini. Vitamin dan promil sudah ia lalui 5 bulan ini meksipun ia jarang datang bersama Pradipta ke dokter kandungan."Enggak usah dilihat sampai begitu. Coba belajar bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang," kata Alena sambil mulai duduk di samping Gadis dan membuka botol minum air mineralnya."Gue yang bermasalah. Sel telur gue kecil-kecil, makanya enggak isi-isi."Alena menghela napas panjang. Entah kenapa ia justru merasa bersyukur karena Gadis belum hamil sampai saat ini. Alena tak bisa membayangka

  • From Bully to Love Me   9. Lapak Dosa

    Mengingat kali ini dirinya pergi bersama Gadis, Alena sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol. Tentu saja ini ia lakukan karena dirinya tidak mau membuat Gadis kerepotan. Mereka berdua bahkan hanya duduk sambil melihat orang-orang yang sedang menikmati suasana malam hari ini."Jangan diam aja, Dis. Kita ke sana, yuk. Joged biar enggak stress.""Lo aja. Gue tunggu di sini.""Dis, udah deh... lo enggak usah mikirin laki lo sampai segininya. Dia aja belum tentu mikirin lo yang sudah rela mengorbankan segalanya buat dia.""Andai di dunia ini beneran ada time travel, rasanya gue mau balik ke masa di mana gue mengenal Dipta."Alena jadi merasa bersalah karena ia adalah orang yang mengenalkan Gadis pada Pradipta. Seketika ia terdiam dan teringat kenangan hampir empat tahun yang lalu. Kala itu Alena baru saja selesai bertemu dengan salah satu nasabah prioritas yang ingin mengajukan kredit di bank untuk menambah modal pembangunan hotel miliknya yang ada di Lombok. Sebelum ia pulang, nas

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status