LOGINSejak kejadian setengah jam yang lalu, entah kenapa Gadis menjadi segalau ini. Apakah keputusannya untuk menikah dengan Pradipta adalah hal yang benar dan pantas untuk ia jalani? Namun jika ia mundur, maka dirinya telah membuat malu keluarga. Terlebih Papanya memiliki sakit jantung. Di dalam tubuhnya sudah dipasangi ring sebanyak tiga. Tidak, sepahit apapun nanti, memilih Pradipta adalah keputusan yang sudah ia ambil. Lagipula andai saja apa yang ia dengar dibawah adalah sebuah kebenaran, maka setidaknya Pradipta sudah berusaha untuk mengakhiri hubungannya dengan perempuan itu.
Tok...
Tok...
Tok....
Sebuah ketukan di pintu kamar membuat Gadis kembali menapaki realitasnya. Cepat-cepat ia menyingkirkan pikiran-pikiran tidak penting yang baru saja lewat di benaknya.
"Come in."
Beberapa detik kemudian sosok Banyu Bimantara yang tidak lain adalah kakak Gadis masuk ke dalam. Gadis berusaha menampilkan senyum bahagia meskipun di dalam hatinya sedang merasakan kegalauan yang teramat berat.
"Eh, Mas... Kok sendiri aja?"
Banyu tersenyum seakan ia tidak mengetahui apa yang setengah jam lalu terjadi di dekat kolam renang. Meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang menjadi pembicaraan hingga Gadis menangis dan berlari menuju ke arah lift, namun ia sudah melihat bagaimana interaksi calon adik iparnya dengan seorang wanita cantik dengan tubuh sintalnya. Perempuan itu berbeda sekali dengan Gadis. Bahkan meskipun ia belum menikah, tapi Banyu bisa melihat jika perempuan itu adalah orang spesial bagi Pradipta.
"Sejak kapan aku punya gandengan?" Tanya Banyu balik sambil mulai duduk di pinggiran ranjang.
Gadis menilih berdiri dan mendekat ke arah kakaknya. Ia duduk di samping kakak laki-lakinya yang tahun ini berusia 34 tahun namun belum kunjung juga menemukan pendamping hidup.
"Apa yang mas Banyu tunggu? Pekerjaan sudah mapan, umur juga sudah tidak muda lagi. Kayanya enggak mungkin sengaja nunggu aku langkahin biar dapat pelangkah 'kan?"
Banyu tertawa kecil dan ia gelengkan kepalanya. Usianya dan Gadis terpaut empat tahun, di mana sejak dulu sudah ia prediksi bahwa dirinya pasti akan dilangkahi oleh adik perempuannya ini.
"Lebih baik menunggu orang yang tepat daripada buru-buru tapi kita salah memilih pasangan."
Gadis langsung terdiam. Mungkinkah kakaknya ini sedang menyindir dirinya?
Melihat Gadis yang diam saja, Banyu memeluk pundak Gadis dengan tangan kanannya.
"Dis, apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu ini?"
Gadis mengangkat pandangannya untuk menatap kedua mata Banyu. Seakan paham dengan arti tatapan sang adik, Banyu melanjutkan kata-katanya.
"Maksud aku gini, menikah itu berarti kamu akan membagi seluruh hidup kamu bersama pasangan kamu. Itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan bila kamu aja yang berjuang sendirian sedangkan dia enggak. Sekali salah memilih pasangan, penderitaannya akan lebih berat daripada orang yang memilih untuk tidak menikah."
"Kenapa Mas ngomong kaya begini?"
"Kamu itu sama Dipta kenalnya cuma setahun sudah langsung menikah. Padahal untuk menikah itu, kamu harus mengenal dia luar dalam. Kamu harus tahu gimana sifat asli dia. Seperti saat dia marah, stress dan apakah dia setia bersama kamu untuk melalui sedih dan bahagia kamu? Enggak cuma itu aja, masih banyak hal yang harus kalian bicarakan bersama sebelum mengambil keputusan untuk bersama sampai akhir hayat."
"Hmm... Apakah itu penting sekarang, Mas?"
Banyu menganggukkan kepalanya, sedangkan melihat apa yang sang kakak lakukan, Gadis justru menggelengkan kepalanya.
"Percuma, Mas. Sebentar lagi aku akan diajak turun ke bawah. Sejujurnya aku tak banyak berharap akan seperti apa rumah tanggaku kelak sejak setengah jam yang lalu. Aku akan mencoba menjalani semua ini dengan baik. Semoga saja Tuhan memberikan kebahagiaan pada runah tanggaku nanti."
Banyu mencoba menerima alasan Gadis. Lagipula perempuan seperti Gadis pasti akan mementingkan nama baik keluarga daripada kebahagiaan dirinya sendiri. Kini Banyu memilih segera pamit kepada Gadis karena ia akan turun ke bawah untuk mendampingi kedua orangtuanya. Sepeninggal sang kakak, siapa sangka jika air mata Gadis justru jebol lagi yang membuat MUA yang tadi merias wajahnya heran sendiri. Baru sekali ini ia bertemu dengan calon pengantin yang awalnya terlihat bahagia dengan rencana pernikahannya, tiba-tiba terlihat sedih di detik-detik menjelang ijab qobulnya.
***
Siang ini Gavriel duduk di samping Rachel. Sejak tadi ia sudah berusaha meminta Rachel agar tidak menangis. Ia tidak mau membuat orang-orang yang hadir di dalam ballroom hotel ini curiga. Karena Alena yang tidak sengaja bertemu dengannya tadi sudah langsung memberikan tatapan ingin tahunya tentang apa yang terjadi pada Rachel.
"Hel, jangan nangis lagi," Kata Gavriel pelan di dekat telinga Rachel.
Rachel menggelengkan kepalanya yang membuat Gavriel mengembuskan napas panjang.
"Jangan sampai orang-orang curiga!"
"Keluarganya Dipta sudah tahu semua tentang gue."
"Iya, keluarga Dipta, tapi keluarga dan koleganya Gadis enggak ada yang tahu tentang lo."
"Harusnya gue yang ada di sana, bukan Gadis."
Gavriel memutar kedua bola matanya dengan malas. Rasanya andai bisa dirinya ingin meninggalkan Rachel di tempat ini saja. Sayangnya di sudut terdalam hatinya, ia penasaran dengan keputusan apa yang akan Gadis ambil setelah kejadian di dekat kolam renang tadi. Akankah Gadis tetap menikahi Pradipta meskipun ia sudah mendengar semuanya? Jika iya, maka benar kata Antonio yang memberikan gelar 'Stupid Girl' pada sosok Gadis Sekarwangi.
Suara MC yang mengatakan bahwa pengantin wanita akan segera memasuki ballroom hotel menbuat Gavriel menolehkan kepalanya ke arah belakang. Siapa sangka ia justru melihat sosok Gadis yang mulai memasuki ballroom bersama Alena dan seorang perempuan yang sedikit mirip dengan Gadis namun dalam versi yang lebih muda. Kemungkinan perempuan ini masih memiliki hubungan keluarga dekat dengan Gadis meskipun bukan adik kandung.
Kedua mata Gavriel terus mengikuti gerakan Gadis hingga akhirnya Gadis duduk di samping Pradipta. Di hadapan Pradipta ada laki-laki yang Gavriel tahu adalah Ayah Gadis. Ya, ia sering melihat fotonya di bingkai foto kecil yang ada di meja kerja Gadis.
Beberapa saat lantunan ayat suci dikumandangkan hingga akhirnya kini prosesi ijab qobul di laksanakan.
"Ananda Pradipta Andarto bin Samsudin Andarto, saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya dengan maskawin seratus lim puluh gram logam mulia dan uang tunai seribu seratus tujuh belas dollar dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Gadis Sekarwangi binti Sudibyo Bimantara dengan maskawin tersebut diatas dibayar tunai."
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah. Al-fatihah."
Sambil membaca lantunan surat al-fatihah secara lirih, air mata Gadis kembali keluar dari sudut matanya. Ya, kini dia sudah resmi menjadi nyonya Pradipta Andarto. Seumur hidupnya harus ia abdikan untuk suaminya. Apapun yang menjadi keputusan suaminya kelak harus ia patuhi dan ikuti meskipun secara tidak langsung itu sudah membunuh jiwa feminisnya yang selama ini melekat kuat di dalam dirinya.
***
Pukul dua belas malam Gadis sudah sampai di stasiun Balapan untuk menunggu kereta Turangga yang akan membawanya menuju ke Surabaya. Jam keberangkatan masih satu jam lagi. Sengaja Gadis mengambil kereta malam agar pagi hari pukul empat dirinya telah sampai di Stasiun Gubeng. Tentu saja pilihan Gadis kali ini adalah menginap di hotel yang ada di sekitaran stasiun Gubeng saja. Toh pagi hari ia juga harus menjemput Gavriel dan teman-temannya di Bandara. Ada rasa syukur di dalam diri Gadis karena selama tinggal di Surabaya, ia juga memiliki teman meskipun tidak banyak dan terlalu dekat.Sambil menunggu kereta datang, Gadis mencoba membuka gadget miliknya untuk mengecek data-data yang sudah diemail Papanya untuk dirinya. Meskipun ia akan melakukan travelling bulan depan, orangtuanya tetap memintanya ikut membantu pekerjaan mereka. Karena dirinya juga membutuhkan penghasilan, Ga
Elang menatap kostum serta atribut yang akan digunakan Gavriel besok pagi ini dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Setelah dua hari mencari, akhirnya ia menemukan persewaan costum ini di salah satu tempat persewaan yang ada di daerah Jakarta Utara. Tentu saja tanpa bantuan Aditya dan Wilson, ia tak akan menemukannya."Lo beneran laknat jadi manusia, Lang. Tega-teganya lo lakuin hal ini ke teman lo sendiri."Elang yang sudah pernah merasakan punishment gila di hidupnya tidak terima dikatakan seperti itu oleh Wilson."Lo enak banget ngomong begitu karena lo yang paling beruntung belum pernah kalah dalam taruhan kita selama ini. Coba lo jadi gue, beneran bukan lagi cuma tukar nasib tapi kaya ngerasain neraka dunia yang sebenarnya."
Satu jam sebelumnya...Setelah jam makan siang berakhir, Gavriel kembali sibuk dengan pekerjaannya namun suara handphone khusus urusan pribadinya yang terus menerus membunyikan notifikasi pesan membuatnya mau tidak mau harus segera membacanya. Ia takut ada sesuatu yang penting. Helaan napas panjang adalah hal yang Gavriel lakukan kala melihat ternyata Group Lapak Dosa miliknya sedang sangat ramai. Ketiga temannya benar-benar membuatnya frustasi karena mereka memutuskan untuk berisik di jam-jam rawan 'tensi tinggi' seperti ini.Gavriel mulai membacanya dan ketika sebuah gambar celana dalam wanita warna ungu berbahan renda terpampang nyata di sana, matanya langsung membelalak lebar. Gavriel tak pernah menyimpan celana dalam wanita di rumahnya meskipun itu milik kakaknya (Ella), lalu celana dalam ini milik siapa? Apa iy
Elang bangun siang hari ini karena sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar Gavriel benar-benar menyiksa kedua matanya. Saat ia membuka mata, jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Ia hanya bisa berdiri lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi yang ada di kamar ini. Dengan tubuh yang terasa masih belum segar, ia segera mencari handuk baru serta sikat gigi baru. Ia mandi di bawah guyuran air shower yang sukses membuat badannya terasa lebih segar kembali. Ia sedikit heran kenapa tidak ada yang membangunkannya? Gavriel benar-benar keterlaluan karena pergi ke kantor tanpa berpamitan kepadanya lebih dulu. Pasti pria satu itu sudah selesai menikmati makan siangnya saat ini di kantor.Selesai mandi dan membalutkan handuk di pinggangnya, Elang keluar dari kamar mandi dan segera mencari celana dalam baru milik Gavriel yang belum pernah dipakai. Begitu mendapatkannya, ia seg
Gadis menatap langit-langit kamarnya yang ada di rumah orangtuanya. Sambil menatap langit-langit kamar, kepala Gadis sibuk memikirkan bagaimana cara untuk meminta ijin kepada orangtuanya agar tidak turut serta untuk menghadiri acara rapat pertunangan Angi dengan Joe. Rencana rapat ini juga sekaligus sebagai acara perkenalan Joe dengan keluarga Bimantara karena Gadis yakin jika Joe pasti sudah mengenal keluarga besar Angi dari pihak Mamanya lebih dulu.Tok...Tok....Tok...Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Gadis kembali bangun dari posisi rebahannya dan segera berjalan ke arah pintu kamarnya. Saat ia membukanya, tampak sosok Mamanya yang sedang berdiri di depan pintu sambil tersenyum
Gavriel menghela napas panjang kala ia baru saja selesai melakukan absen di kantor pagi ini. ia bersyukur karena dirinya tidak terlambat datang ke kantor meskipun tadi pagi pukul empat pagi, dirinya baru memejamkan mata. Saat berjalan ke arah ruangannya, Alena memanggilnya. Mau tidak mau Gavriel menyambangi Alena yang tengah menikmati secangkir kopi pagi ini di meja kerjanya."Gimana semalam? Sukses enggak?""Lancar berkat bantuan lo. Cuma gue heran aja lo dapat cake kaya gitu dari mana? Enggak mungkin itu cake beli dadakan, pasti lo pesan.""Gue sudah pesan dari seminggu sebelumnya. By the way, gimana, Gadis sudah kasih jawaban belum?"Kala mendapatkan pertanyaan seperti ini, Gavriel kemb
Wilson, Aditya dan Elang menatap Gavriel yang sedang sibuk berjalan mondar mandir di depan mereka bertiga. Sejak dua jam yang lalu, Wilson sudah memanggil mereka bertiga untuk datang ke ruang kerjanya yang ada di club ini. Andai saja Wilson
Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam.
Gadis : Gue sekarang jadi tahanan.Alena : ketangkap kasus apa lo? ada di Polsek mana?Gadis : kasus dibodohi dan dimanipulasi oleh keluarga Dipta. Bukan polsek tapi rumah orangtua gue.Alena : lo belum jadi pergi ke tempat Dipta buat cek langsung?Gadis : maunya hari ini tapi gue sudah terlanjur j
Gadis menatap pasangan muda yang sedang berfoto bersama kedua anaknya. Dari apa yang terlihat oleh matanya, pasangan itu seusia dirinya dan Dipta. Melihat mereka bahagia dengan keluarga kecilnya entah kenapa ada perasaan iri dalam dirinya. Kenapa ia dan Dipta tidak bisa seperti itu? Terlebih sejak







