LOGIN"Mas, kamu enggak mau temani aku buka kado nikahan kita?" Tanya Gadis ketika Pradipta baru saja ke luar dari kamar mandi.
"Enggak deh, kamu aja. Aku capek, Dis."
Meskipun sedikit kecewa dengan jawaban sang suami, Gadis mencoba menutupinya dengan senyuman. Kini ia mulai membuka kado demi kado yang diberikan para tamu undangan untuk mereka. Gadis kini membuka sebuah kado berukuran tidak terlalu besar. Saat ia membukanya, keningnya langsung berkerut ketika melihat sebuah kotak dengan label brand asal Perancis. Dalam hati Gadis bertanya-tanya, siapakah yang rela memberikan kado barang dari brand ternama dunia? Ia yang berasal dari keluarga berada saja masih pikir-pikir ribuan kali jika memberikan kado barang mahal seperti ini untuk orang yang tidak terlalu dekat. Mata Gadis justru melebar kala melihat sebuah ikat pinggang dan sepucuk surat ada di sana.
Seharusnya kartu ucapan, kenapa orang ini justru memberikan surat? Pertanyaan ini terus bergelayut di dalam hati Gadis hingga akhirnya ia memutuskan untuk membaca surat itu.
Dear my Dipta...
Aku ingat kamu ingin membeli ikat pinggang ini waktu kita pergi ke Paris tahun lalu. Semoga kamu suka dengan ikat pinggangnya.
-Rachel-
"Rachel?" Gumam Gadis pelan.
Kini pikiran Gadis mulai melayang memikirkan perempuan yang suaminya ajak berbicara sebelum acara ijab qobul. Dengan rasa gemas yang tidak bisa ia bendung lagi, Gadis meremas-remas surat itu. Dalam hatinya ia terus menyumpah serapahi Rachel karena dengan sadarnya melakuan hal ini. Seharusnya bukankah Rachel mengucapakan selamat menempuh hidup baru dan semacemnya untuk dirinya dan Dipta? Bukan ucapan seperti ini yang dengan jelas terlihat bahwa ia tidak berniat ikut berbahagia atas pernikahannya dan Dipta. Lalu kenapa ia harus hadir?
Susah payah Gadis mengatur dirinya sendri hingga akhirnya ia memilih memasukkan kembali surat itu pada amplopnya dan memasukkan ikat pinggang itu ke dalam box. Tidak ingin suaminya tahu tentang kado ini, Gadis memilih untuk memasukkannya ke dalam tas plastik berisi sampah-sampah kertas kado. Lebih baik baginya membuat tindakan preventif seperti ini meksipun harga ikat pinggang itu puluhan juta rupiah.
Tak ingin terlalu lama memikirkan hal-hal yang membuatnya sakit hati, Gadis mencoba melanjutkan aktivitas membuka kadonya. Banyak sekali kado-kado berisi sprei, bedcover bahkan hingga voucher belanja dan liburan. Sepertinya pekerjaan Dipta membuatnya cukup memiliki kolega dan teman-teman dari berbagai latar belakang.
Kini Gadis meihat sebuah kado terakhir berukutan kecil. Ia bahkan hampir tidak menyadari jika masih ada kado ini yang belum ia buka. Segera Gadis menbukanya dan keningnya langsung berkerut kala melihat sebuah kunci rumah dengan gantungan minni mouse menggunakan gaun pengantin berwarna pink.
Ada sebuah surat di sana yang membuat Gadis heran.
"Awas aja kalo ini dari Rachel lagi. Gue labrak juga ini perempuan kalo kelakuannya enggak tahu diri," Ucap Gadis pelan sambil tangannya tetap terus membuka surat itu yang ternyata dari tulisan tangannya saja sudah sangat ia kenal sebagai tulisan tangan Gavriel. Tulisan tangan laki-laki yang paling rapi dan pernah ia lihat di hidupnya adalah milik Gavriel. Tulisan tangannya saja yang perempuan kalah rapi dan indah.
"Si Kunyuk? Ngapain dia kasih gue kunci rumah? Kagak sekalian kasih sertifikatnya?" Ucap Gadis pelan karena takut suaminya akan mendengar semua ini
Kini ia mulai membaca surat dari Gavriel yang membuatnya masih terheran-heran.
Happy Wedding, Dis...
Thanks karena lo enggak ngundang gue di hari bahagia lo. Sayangnya gue tetep aja bisa datang :DItu kunci tempat di mana gue selalu bisa minggat tanpa ketahuan orang-orang. Barangkali aja suatu saat lo butuh. Alamat tempatnya ada di surat satunya ya.
-Gavriel-
Napas Gadis langsung memburu setelah membaca surat dari Gavriel ini. Memang aneh betul laki-laki yang menjadi teman kantornya selama lima tahun ini. Sapaannya di surat benar-benar seperti mereka selalu akur saja. Beberapa saat Gadis memikirkan apakah ia akan menyimpan alamat dan kunci rumah ini atau justru membuangnya bersama dengan ikat pinggang mahal yang sudah ia masukkan ke dalam plastik sampah? Akhirnya Gadis memilih untuk menyimpannya. Siapa tahu saja ia bisa menemukan rahasia terdalam dari musuh bebuyutannya itu yang kadang kelakuannya sungguh tak tertebak sama sekali.
***
Seminggu menjadi istri Pradipta dan selama seminggu pula Gadis masih berstatus perawan. Ya, Dipta selalu saja memiliki cara untuk menghindar dari hubungan suami istri meskipun mereka sedang berbulan madu di Bali. Kelakuan Pradipta ini membuat Gadis merasa insecure dan over thingking. Gadis yakin jika suaminya normal karena ia bisa melihat milik suaminya bangun setiap pagi. Sayangnya setiap kali Gadis meminta haknya sebagai seorang istri, Pradipta selalu saja menghindar dan mencari topik obrolan lain.
Tidak, tidak bisa seperti ini terus-terusan. Ia harus memberikan sikap tegasnya. Mereka menikah bukan karena perjodohan, bukan juga karena paksaan. Dan dengan keyakinan bahwa suaminya akan jujur kepadanya, pagi ini setelah mereka sarapan bersama di villa milik orangtuanya, Gadis segera meminta waktu Pradipta selama sepuluh menit saja. Sepuluh menit begitu berarti karena jika mereka sedang bersama, Pradipta selalu saja fokus pada handphone atau pada ipad miliknya.
"Aku minta waktu kamu sepuluh menit saja, Mas."
"Aku ada meeting via zoom sebentar lagi. Memangnya ada apa?"
Sumpah...
Jika bukan karena rasa cintanya pada laki-laki satu ini, mana mau Gadis berusaha mengontrol dirinya sekuat ini agar tidak meledak."Mas, bisa enggak sih kamu lupakan pekerjaan kamu sehari aja. Kita ini lagi bulan madu. Seharusnya kita menikmati waktu berdua aja tanpa ada pengganggu. Ingat, Mas, orangtua kamu mau kita kasih cucu secepatnya!"
"Iya, nanti gampang."
"What?! Gampang? Apa yang gampang, Mas? Kamu aja selalu pura-pura bego' setiap kali aku minta hak aku sebagai seorang istri."
"Aku belum siap, Dis."
"Kenapa? Karena hati kamu masih buat Rachel?"
Satu detik...
Dua detik....
Tiga detik....
Pradipta diam dengan kedua mata yang membelalak lebar. Dari mana Gadis tahu tentang Rachel? Padahal ia sama sekali tidak pernah menceritakannya, jangankan bercerita, menyebut nama pacarnya selama enam tahun saja tidak pernah ia lakukan terlebih saat sedang bersama Gadis.
Gadis yang melihat ekspresi wajah Pradipta justru tersenyum. Tebakannya tepat dan ini sudah cukup membuat hati Gadis teriris-iris. Andai saja ia mengetahui semua ini jauh sebelum Pradipta melamarnya apalagi menikahinya, Gadis yakin bahwa ia akan memilih untuk lari tunggang langgang dari hidup Pradipta. Persetan, jika ia dikatakan perawan tua karena diusia 30 tahun belum menikah daripada harus merasakan hal seperti ini.
"Kamu cinta, Mas sama dia?"
Pradipta memilih diam. Karena ia tahu satu kata saja salah menjawab, maka semua bisa hancur berantakan. Ia sendiri tidak mau jika rumah tangga yang baru saja ia tapaki bersama Gadis harus hancur lebur saat ini. Bagaimanapun juga ia sudah berusaha mencintai Gadis seperti ia mencintai Rachel. Meskipun sampai saat ini masih belum bisa sama kadarnya. Berkali-kali Pradipta selalu menyalahkan dirinya sendiri karena ia salah dalam membagi hatinya dulu hingga semua kemampuan mencintai dan rasa cintanya habis ia berikan untuk Rachel.
Rachel perempuan pertama di hidupnya yang sudah memberikan semangat kepadanya untuk terus menempuh jalan yang berbeda dari kebanyakan keluarganya yang lain. Rachel juga orang yang membuatnya berani bermimpi. Berat melepas Rachel di hidupnya, namun keinginan orangtuanya tidak bisa ia kesampingkan. Jika dulu orangtuanya melepasnya memilih karier yang kini ia jalani, maka keinginan mereka yang ingin dirinya menikah dengan perempuan seiman tidak bisa ia abaikan.
"Pantas kamu enggak bisa nyentuh aku, Mas. Ternyata kamu memamg enggak cinta sama aku!"
Satu-satunya hal yang bisa menghentikan amarah Gadis adalah menutup bibirnya. Untuk itu Pradipta memilih segera berdiri dari kursi yang ia duduki. Gadis yang melihat itu segera bertanya kepada Pradipta, jangan sampai suaminya ini pergi lagi sebelum pembicaraan mereka tuntas.
"Kamu mau ke mana, Mas?"
Pradipta tetap tidak menjawab hingga akhirnya kakinya berhenti melangkah kala ia ada di dekat Gadis. Ia menarik tangan Gadis untuk berdiri. Gadis masih diam dan hanya mengikuti apa yang Pradipta minta padanya lewat gerakan tangan. Siapa sangka jika pada akhirnya Pradipta mau mencium bibirnya. Ya, sebuah hal yang selama ini Gadis tunggu dari suaminya sejak mereka resmi berpacaran hingga menikah kini sudah ia dapatkan. Satu lagi hal yang ia inginkan yaitu nafkah batin yang sudah ia rindukan selama tiga puluh tahun ia hidup di dunia. Ia ingin merasakan surga dunia yang belum pernah ia cicipi dengan siapapun selama ini, bersama suaminya. Kali ini Gadis tidak akan peduli jika suaminya akan ketinggalan meeting via zoom-nya. Pagi ini adalah miliknya dan Pradipta. Ia tidak akan membiarkan orang lain mengganggunya dengan alasan apapun.
***
Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam."Kamu kenapa sih, Dip?""Aneh aja, Hel. Enggak biasanya Gadis kirimin aku kaya beginian.""Dia lagi kangen kali. Kamu mudik aja.""Dia lagi di Solo. Makanya aku minta kamu ke sini.""Kamu mau bicarakan apa?" Tanya Rachel sambil mulai duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.Mau bagaimanapun, sejak Pradipta menikah dengan Gadis, rumah ini adalah salah satu nerak
Gadis menatap tas ransel Fjallraven Kanken yang dulu sering ia pakai untuk kuliah. Berbeda dengan dulu ketika tas ini berisi laptop, alat tulis dan berbagai macam tugas kuliahnya, kini tas ini berisi baju dan perlengkapan pribadinya. Kali ini misinya harus berhasil meskipun ia harus sedikit berbohong pada kedua orangtuanya.Tok... Tok... Tok.... "Masuk," Ucap Gadis sambil segera menutup resleting tas berwarna merah marron itu.Gadis tersenyum kala melihat Banyu berdiri di ambang pintu kamarnya."Mas, masuk. Jangan disitu aja."Mendengar perkataan Gadis, Banyu segera melangkahkan kakinya untuk mendekati adik semata wayangnya ini. Baru saat sampai di dekat Gadis, Banyu memilih untuk duduk di pinggiran ranjang berukuran king. Ia tatap adiknya yang tampak bahagia. Berbeda dengan dua hari yang lalu kala mereka berdebat hebat, hari ini seakan Gadis sudah melupakan semua kejadian itu."Kamu serius mau ke Jogja sendiri?""Iya, Mas.""Biar Mas antar aja atau pak Manto. Lebih enak naik mobil
Gadis : Gue sekarang jadi tahanan.Alena : ketangkap kasus apa lo? ada di Polsek mana?Gadis : kasus dibodohi dan dimanipulasi oleh keluarga Dipta. Bukan polsek tapi rumah orangtua gue.Alena : lo belum jadi pergi ke tempat Dipta buat cek langsung?Gadis : maunya hari ini tapi gue sudah terlanjur jadi tahanan. Lo punya cara enggak buat gue kabur dari rumah?Alena : berani bayar berapa lo kalo gue kasih ide?Gadis : gue bayar pakai kakak gue aja gimana? Eneg gue lama-lama di rumah bareng Mas Banyu.Alena : gue mau sama kakak lo tapi belum tentu dia mau sama gue yang bentukannya begini.Gadis : alhamdulillah, sadar juga lo sama kapasitas diri.Alena : bangke lo, Dis!Gadis : buruan lo kasih ide.Alena : gue pikirin dulu. Nanti gue kasih kabar habis makan siang. Okay?Gadis : okay.Setelah membaca pesan dari Gadis, Alena memilih segera menutup handphone miliknya. Ia segera berdiri dari kursi kerjanya sambil membawa handphone serta dompetnya."Gil, gue lunch bareng lo, ya?" Ucap Alena kal
Gadis tersenyum kala melihat rumah kedua orangtuanya yang bergaya Jawa modern. Halaman depan rumahnya yang luas dan terdapat air mancur serta taman ini membuatnya benar-benar merasa nyaman di sini. Rumah yang sudah ia huni sejak lahir, tempat ia tumbuh dan dewasa, benar-benar menyimpan banyak kenangan di hidupnya yang tak mungkin ia lupakan sampai akhir hayatnya.Ketika sampai di depan pintu, Gadis segera membunyikan bel. Tidak lama menunggu, akhirnya seorang asisten rumah tangga muda yang baru kali ini Gadis temui muncul di sana.Begitu mempersilahkan Gadis masuk, Sari segera mendorong koper cabin size Gadis. Baru sekali ini Sari bertemu dengan Gadis. Nama yang beberapa hari ini sering terdengar di rumah ini."Assalamu'alaikum, Mama," Ucap Gadis sambil berjalan cepat untuk menuju ke Mamanya yang sedang membaca majalah."Waalaikum salam," Ucap Aryanti sambil memeluk Gadis."Papa mana, Ma?" Tanya Gadis setelah mengurai pelukannya pada sangat Mama."Belum pulang.""Jam segini masih di k
Gadis menatap pasangan muda yang sedang berfoto bersama kedua anaknya. Dari apa yang terlihat oleh matanya, pasangan itu seusia dirinya dan Dipta. Melihat mereka bahagia dengan keluarga kecilnya entah kenapa ada perasaan iri dalam dirinya. Kenapa ia dan Dipta tidak bisa seperti itu? Terlebih sejak 5 bulan yang lalu saat ia dan Dipta datang ke dokter kandungan dan dokter kandungan mengatakan jika sel telurnya terlalu kecil untuk dibuahi. Ini membuatnya belum kunjung hamil hingga saat ini. Vitamin dan promil sudah ia lalui 5 bulan ini meksipun ia jarang datang bersama Pradipta ke dokter kandungan."Enggak usah dilihat sampai begitu. Coba belajar bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang," kata Alena sambil mulai duduk di samping Gadis dan membuka botol minum air mineralnya."Gue yang bermasalah. Sel telur gue kecil-kecil, makanya enggak isi-isi."Alena menghela napas panjang. Entah kenapa ia justru merasa bersyukur karena Gadis belum hamil sampai saat ini. Alena tak bisa membayangka
Mengingat kali ini dirinya pergi bersama Gadis, Alena sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol. Tentu saja ini ia lakukan karena dirinya tidak mau membuat Gadis kerepotan. Mereka berdua bahkan hanya duduk sambil melihat orang-orang yang sedang menikmati suasana malam hari ini."Jangan diam aja, Dis. Kita ke sana, yuk. Joged biar enggak stress.""Lo aja. Gue tunggu di sini.""Dis, udah deh... lo enggak usah mikirin laki lo sampai segininya. Dia aja belum tentu mikirin lo yang sudah rela mengorbankan segalanya buat dia.""Andai di dunia ini beneran ada time travel, rasanya gue mau balik ke masa di mana gue mengenal Dipta."Alena jadi merasa bersalah karena ia adalah orang yang mengenalkan Gadis pada Pradipta. Seketika ia terdiam dan teringat kenangan hampir empat tahun yang lalu. Kala itu Alena baru saja selesai bertemu dengan salah satu nasabah prioritas yang ingin mengajukan kredit di bank untuk menambah modal pembangunan hotel miliknya yang ada di Lombok. Sebelum ia pulang, nas







