MasukMikhayla Bintari lagi apes tingkat dewa. Kuliah harus jalan, biaya RS sang ibu menunggu di bayar, dan tabungan? Kosong. Solusi darurat: gaet pria kaya. Cepat. Legal.. Harga dirinya ia taruh nomor dua, asal ibunya bisa bertahan hidup satu hari lagi. Di tengah kekacauan itu, datang Om Kama. Duda tampan, mapan, satu anak, keliatan gampang dibujuk jadi “sponsor”. Kecantikan Mikha membuatnya kepincut. Tawaran Kama jelas: jadi simpanan, hidupmu aman! Mikha jelas, setuju! Di tengah drama cari duit, muncul Vio. Musuh bebuyutan Mikha sejak SMA. Penyebabnya sepele: Mikha iri Vio kaya beneran. Vio iri Mikha cantik sok kaya. Dendam abadi yang dipicu lipstik dan tas KW super. Sampai ia tahu satu hal: ada rahasia besar di balik Kama. Siapa sangka, Paizani Kama… ada hubungan rahasia dengan Vio. Dan rahasia itu lebih absurd dari alasan mereka berdua musuhan gara-gara lipstick. Siapa sebenarnya Kama? Dan hubungan apa yang selama ini disembunyikan darinya dan Vio? Satu hal pasti: hidup Mikha nggak pernah se-ribet ini gara-gara uang, cinta, dan… lipstik.
Lihat lebih banyak“Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.
Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.
“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.
“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, matanya memedar ke semua arah. Berharap tidak ada yang kenal atau mengenali mereka berdua.
“Lagi ini musim kuliah. Ngapain juga mereka kelayapan sampai ke Bali, kalau kita mah ketahuan ada arah dan tujuan,” kikik rasa merasa geli dengan maksud kedatangan mereka.
“Bagus deh, gue malas ngedrama aja.”
“Lagi lo kaya baru pertama ke tempat beginian.” Rara menggandeng tangan Mikha untuk masuk ke dalam.
Mika menggeleng lirih, “Gue baru pertama kali ke Bali. Udah dimasukin ke tempat beginian, syok gue tuh.”
“Tenang, lo kan yang mau cari mangsa jauh-jauh sampai keluar kota, Mik. Nah ini udah aman nih, jauh dari ibukota,” tawa Rara tanpa beban.
Keduanya masuk ke dalam, mengenakan dress pantai yang terbuka. Tentu mendapat perhatian para lelaki yang mayoritas orang bule mancanegara.
“Njir, ganteng-ganteng banget Mik. Nggak nyesel kan kita kesini,” kikik Rara seraya menggerakkan badan. Sengaja, untuk mengunda pria tampan yang mau mendekat.“Iya ganteng. Ingat Ra, jangan pesan sembarangan. Kalau mahal, lo bayar pakai uang lo sendiri.”
“Iya gue paham. Makanya ini daritadi gue lagi lihat-lihat kali ada mangsa tokcer yang mau beliin kita minum.” Keduanya ke Bali dengan membawa uang yang tidak banyak, maklum ada sesuatu yang sedang mereka incar.“Gue ke toilet bentar ya.” Mika pamit sebentar.
“Mau gue pesenin apa?” “Yang biasa saja, hati-hati lo!” pesan Mika, karena tahu dunia malam seperti apa. Penuh akan jebak menjebak.Setelah Rara menganggukkan kepala, Mika pergi ke toilet.
Mikha melangkah cepat menyusuri keramaian beach club di Bali yang dipenuhi tawa riang dan musik berdentum dari panggung terbuka. Lampu warna-warni berkelap-kelip, memantul di gelas-gelas berisi koktail berwarna cerah. Di sekelilingnya, pasangan-pasangan muda asyik berciuman mesra, tangan saling meraba penuh gairah di bawah cahaya remang senja. Mikha hanya bisa menggeleng pelan, bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang tak sampai ke mata.
“Hiiih, merinding ini gue sebadan-badan,” gumam Mikha kembali melanjutkan jalannya.
Dia tahu, di balik gemerlap dan kemewahan ini, ada kisah gelap yang harus ia ungkap. Meski di Jakarta juga banyak yang seperti itu di klub malam, namun berbeda dengan Bali yang lebih vul gar.
Tujuannya ke Bali bukan untuk bersenang-senang seperti mereka, melainkan untuk menemukan sandera yang bisa jadi tiket keluar dari jeratan utang dan biaya hidup yang semakin menyesakkan dada.
Di Jakarta terlalu berisiko—terlalu banyak wajah yang dikenalnya, terlalu banyak rahasia yang bisa terbongkar. Bersama Rara, sahabat sekaligus partner dalam perjuangan ini, mereka sengaja memilih Bali sebagai medan operasi, jauh dari hiruk pikuk yang biasa mereka hadapi.
Mikha menatap sekeliling dengan mata tajam, menyerap setiap detail yang mungkin membawa petunjuk. Langkahnya tetap mantap meski hatinya berdebar, tahu betul bahwa di balik kesenangan itu tersimpan bahaya yang mengintai. Toilet sudah dekat, tapi pikirannya masih jauh melayang pada misi yang harus segera ia selesaikan.
Di balik gemerlap pesta ini, ia dan Rara adalah pejuang yang berani mengorbankan segalanya demi harapan baru yang belum pasti.
“Lama banget loe,” ujar Rara ketika bestienya sudah kembali.
“Ngantri gila.”
Keduanya duduk di bangku bar, gelas di meja dengan tatapan mereka melayang kemana-mana. Diikuti gerakan tubuh yang luwes sambil duduk, hei mereka ini juga anak gaul. Tapi baru gaul di Bali saja.
Rara dan Mikha berdiri di pinggir pantai yang ramai, mata mereka melirik-lirik pria-pria yang berlalu-lalang. Beberapa pria, baik bule maupun lokal, dengan senyum ramah mencoba mendekati mereka, menyapa dengan kata-kata manis.
“No, thank’s.” Rara mengibaskan tangan, tanda menolak.
Mikha tersenyum sinis, setelah kepergian pria itu. “Gila ya, susah banget cari duit sampai kaya gini.”
“Jangan ngeluh. Demi apa coba kita begini, ya demi hidup. Hidup ini keras shayyyy.. jadi butuh yang beton-beton buat bertahan hidup.”
“Beton nggak tuh,” timpal Mikha dan keduanya tertawa bersama.Mikha dan Rara masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta. Hebatnya, mereka kuliah biaya sendiri karena keluarga. Ah sudahlah tidak usah diharapkan. Mikha asli Bandung, sedangkan Rara dari Sumedang.
*
*Tiga pria bule menghampiri Mikha dan Rara yang masih setia duduk di tempat semula.
“Hai ladies, sendirian?” tanya salah satu dari mereka dengan Bahasa inggris.
Rara dan Mikha yang fasih Bahasa asing meski setengah saja, membalas. Rara ramah, sedangkan Mikha nampak setengah hati. Maklum dari tampang saja sudah terlihat mereka bule yang hanya mau gratisan saja.
“Hai juga..” Rara menyapa.
“Berdua saja, bagaimana kalau kami temani. Sayang sekali gadis secantik kalian tidak ada bodyguard,” canda salah satu dari mereka.
Rara tertawa, Mikha sibuk dengan ponsel. Menolak terang-terangan.
“Boleh saja.. itu bisa dimulai dengan kalian memesankan minuman untuk kamu. Bagaimana?” pinta Rara.
Ketiga pria bule dengan tampang ganteng itu tertawa. Salah satu mendekat, berbicara di telinga Rara. “Bagaimana kalau kita split bill?”
Oh sebuah penawaran yang ogah sekali Rara terima.Namun Rara menolak dengan tawa manisnya, “Oh honey.. sepertinya kalian bukan tercipta untuk kamu,” ujar Rara, tanda dia menolak.
Pria bule itu masih mencoba mendekat, satu tanga Rara menahan dada bidang itu. “Sorry, kami sedang menunggu seseorang!” penegasan dari Rara jika dia tidak mau mereka mendekat.
Ketiga pria bule itu mendesah, sadar diri jika mereka ditolak. Dengan tertib mereka pergi, kembali ke tempat semula.
“Hufthh.. Sial, malah dapatnya bule kere,” cebik Rara menegak satu gelas lagi.
“Minimal duda nggak apa deh, yang penting kaya. Capek otak gue, Ra.” Mikha menenggak satu minuman berwarna cokelat pekat dari gelas kecilnya.
“Lo kata lo doang. Apa kabarnya gue, Ra.”
“Kan lo cuma butuh buat bayar semesteran sama apartemen. Gue, huft.. biaya rumah sakit nyokap gila-gilaan mahalnya.”Ada nada lirih dalam ucapan Mikha. Rara berusaha membuat suasanya mencair. “Yah jangan adu nasib dong, Ra. Nasib kita kan sama-sama jelek dalam urusan finansial,” kelakarnya.
“Benar juga ya. Yang ada malah tambah pusing, bukan tambah melek.”
“Nah itu paham.”
"Terus gimana, kita mau berapa lama di sini?" tanya Mikha, pasalnya jika berlama dengan tidak dapat mangsa, yang ada uang mereka habis hanya untuk membeli minuman.
"Coba deh tunggu sampai jam 11 ya. Kalau masih anyep, kita pindah." "Ah gila, berasa wanita malamnya banget sih. Sampai pindah tempat, Ra." "Ya elo maunya gimana? Mau kita balik ke hotel dengan siap-sia. Ingat ya, Ra. Kita ke Bali aja, udah mengerahkan tabungan kita. Masa nihil sih," seru Rara semangat.Mikha menjatuhkan bahunya, "Benar juga sih."
"Nah itu lo paham Mbak Mikha yang bahenol."
Mikha tertawa, “Begini nasib pekerja seni ya nekkk..”
“Seni apaan?” “Seni menjual tubuh.” Hahaha..Keduanya tertawa, lebih mudah menertawakan nasib ketimbang meratapi nasib memang. **
Malam itu, di dalam apartemen mewah dengan pemandangan gemerlap kota, Mikha berdiri kaku di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara jarum jam yang seolah mengejek keraguannya. Di sudut matanya, tumpukan tagihan rumah sakit ibunya dan biaya terbayang dengan sangat jelas. Mikha butuh uang—bukan dalam hitungan minggu, melainkan besok pagi.Dan Kama, pria matang dengan setelan jas mahal dan wangi kayu cendana yang tenang, adalah satu-satunya pelariannya.Sebagai sugar baby, Mikha tahu betul konsekuensi dari perjanjian tak tertulis ini. Kama telah mentransfer sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah finansialnya sore tadi. Jadi, ketika Kama melangkah mendekat setelah melepas jasnya, Mikha memejamkan mata. Ia sudah bersiap menyerahkan kepemilikan tubuhnya sebagai bentuk pambayaran yang pantas."Mikha," panggil Kama, suaranya dalam dan pelan, memecah hening.Mikha memaksakan senyum, jarinya yang gemetar mulai meraih kancing kemejanya
Setengah jam kemudian, motor berhenti di depan rumah sakit. Mikha segera turun. Begitu memasuki lobi, aroma khas antiseptik langsung menyambutnya. Tempat yang kini terasa seperti rumah keduanya. Langkahnya otomatis menuju lift, lalu ke lantai tujuh.Ruang perawatan penyakit dalam. Di depan kamar nomor 712, Mikha berhenti sejenak.Menghapus sisa emosi di wajahnya, menarik senyum. Lalu membuka pintu."Mama..."Seorang wanita paruh baya yang terbaring di ranjang langsung menoleh.Wajahnya pucat.Tubuhnya kurus.Namun senyumnya selalu hangat."Mikha."Seketika hati Mikha mencair. Semua kemarahan yang dibawanya dari kampus perlahan menghilang. Mikha menghampiri ranjang dan mencium tangan ibunya."Gimana hari ini?" tanya Mikha berusaha ceria seperti biasanya."Mama baik, nak.""Itu jawaban setiap hari."Ibunya tertawa kecil. "Karena memang Mama lebih baik."Mikha menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan sang ibu.Hangat.Rapuh.Dan menjadi alasan terbesar Mik
Mikhayla Bintari berlari menuruni tangga gedung fakultas begitu dosen menutup kelas sore itu. Tas ranselnya bergoyang di punggung, sementara jemarinya sibuk mengecek waktu di ponsel.Setengah jam lagi jam besuk ibunya di rumah sakit berakhir.Dan malam ini, sebelum pukul tujuh, ia juga harus sudah berada di apartemen Kama.Pria yang menjadi sugar daddy-nya itu sudah mengirim pesan sejak siang."Dinner di apartemen. Jangan telat."Singkat. Dingin. Khas Kama.Tidak mau telat, ini ATM berjalan Mikha. Nanti merajuk, dia yang repot.Mikha mengembuskan napas panjang. Hidupnya terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Kuliah, rumah sakit, lalu apartemen Kama. Begitu terus setiap hari.“Begini banget sih hidup sugar baby,” gumam Mikha sedikit mengeluh.Saat berjalan cepat melintasi koridor kampus yang mulai sepi, tiba-tiba seorang mahasiswa laki-laki menubrak punggungnya cukup keras.Bruk!"Aduh!"Mikha hampir kehilangan keseimbangan ketika seorang mahasiswa laki-laki buru-buru mundur."Ma
Keheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya."Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya."Hah?""Menginap."Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta seorang wanita menginap.Mikha langsung memasang ekspresi pebisnis."Om." Suara manjanya mulai terdengar manis di telinga Kama."Hm.""Itu layanan premium."Kama menatapnya, tatapan datar. Tatapan yang biasanya membuat bawahan perusahaan berkeringat. Sayangnya Mikha kebal, yang penting rekeningnya gemuk."Premium?""Iya."Kama tertawa sinis, "Kau sedang menjual paket?""Tentu."Mikha berdiri lalu menghitung dengan jari. "Temenin makan, satu paket. Temenin ngobrol, paket regular-""Kalau mengina
Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata me
Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberap
Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini mauny
Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menj
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.