Dekapan Hangat Papa Rivalku

Dekapan Hangat Papa Rivalku

last updateLast Updated : 2026-05-12
By:  Miss NonceOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Mikhayla Bintari lagi apes tingkat dewa. Kuliah harus jalan, biaya RS sang ibu menunggu di bayar, dan tabungan? Kosong. Solusi darurat: gaet pria kaya. Cepat. Legal.. Harga dirinya ia taruh nomor dua, asal ibunya bisa bertahan hidup satu hari lagi. Di tengah kekacauan itu, datang Om Kama. Duda tampan, mapan, satu anak, keliatan gampang dibujuk jadi “sponsor”. Kecantikan Mikha membuatnya kepincut. Tawaran Kama jelas: jadi simpanan, hidupmu aman! Mikha jelas, setuju! Di tengah drama cari duit, muncul Vio. Musuh bebuyutan Mikha sejak SMA. Penyebabnya sepele: Mikha iri Vio kaya beneran. Vio iri Mikha cantik sok kaya. Dendam abadi yang dipicu lipstik dan tas KW super. Sampai ia tahu satu hal: ada rahasia besar di balik Kama. Siapa sangka, Paizani Kama… ada hubungan rahasia dengan Vio. Dan rahasia itu lebih absurd dari alasan mereka berdua musuhan gara-gara lipstick. Siapa sebenarnya Kama? Dan hubungan apa yang selama ini disembunyikan darinya dan Vio? Satu hal pasti: hidup Mikha nggak pernah se-ribet ini gara-gara uang, cinta, dan… lipstik.

View More

Chapter 1

1. Cari Mangsa = Cowok Tajir

“Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.

Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.

“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.

“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, matanya memedar ke semua arah. Berharap tidak ada yang kenal atau mengenali mereka berdua.

“Lagi ini musim kuliah. Ngapain juga mereka kelayapan sampai ke Bali, kalau kita mah ketahuan ada arah dan tujuan,” kikik rasa merasa geli dengan maksud kedatangan mereka.

“Bagus deh, gue malas ngedrama aja.”

“Lagi lo kaya baru pertama ke tempat beginian.” Rara menggandeng tangan Mikha untuk masuk ke dalam.

Mika menggeleng lirih, “Gue baru pertama kali ke Bali. Udah dimasukin ke tempat beginian, syok gue tuh.”

“Tenang, lo kan yang mau cari mangsa jauh-jauh sampai keluar kota, Mik. Nah ini udah aman nih, jauh dari ibukota,” tawa Rara tanpa beban.

Keduanya masuk ke dalam, mengenakan dress pantai yang terbuka. Tentu mendapat perhatian para lelaki yang mayoritas orang bule mancanegara.

“Njir, ganteng-ganteng banget Mik. Nggak nyesel kan kita kesini,” kikik Rara seraya menggerakkan badan. Sengaja, untuk mengunda pria tampan yang mau mendekat.

“Iya ganteng. Ingat Ra, jangan pesan sembarangan. Kalau mahal, lo bayar pakai uang lo sendiri.”

“Iya gue paham. Makanya ini daritadi gue lagi lihat-lihat kali ada mangsa tokcer yang mau beliin kita minum.”

Keduanya ke Bali dengan membawa uang yang tidak banyak, maklum ada sesuatu yang sedang mereka incar.

“Gue ke toilet bentar ya.” Mika pamit sebentar.

“Mau gue pesenin apa?”

“Yang biasa saja, hati-hati lo!” pesan Mika, karena tahu dunia malam seperti apa. Penuh akan jebak menjebak.

Setelah Rara menganggukkan kepala, Mika pergi ke toilet.

Mikha melangkah cepat menyusuri keramaian beach club di Bali yang dipenuhi tawa riang dan musik berdentum dari panggung terbuka. Lampu warna-warni berkelap-kelip, memantul di gelas-gelas berisi koktail berwarna cerah. Di sekelilingnya, pasangan-pasangan muda asyik berciuman mesra, tangan saling meraba penuh gairah di bawah cahaya remang senja. Mikha hanya bisa menggeleng pelan, bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang tak sampai ke mata.

“Hiiih, merinding ini gue sebadan-badan,” gumam Mikha kembali melanjutkan jalannya.

Dia tahu, di balik gemerlap dan kemewahan ini, ada kisah gelap yang harus ia ungkap. Meski di Jakarta juga banyak yang seperti itu di klub malam, namun berbeda dengan Bali yang lebih vul gar.

Tujuannya ke Bali bukan untuk bersenang-senang seperti mereka, melainkan untuk menemukan sandera yang bisa jadi tiket keluar dari jeratan utang dan biaya hidup yang semakin menyesakkan dada.

Di Jakarta terlalu berisiko—terlalu banyak wajah yang dikenalnya, terlalu banyak rahasia yang bisa terbongkar. Bersama Rara, sahabat sekaligus partner dalam perjuangan ini, mereka sengaja memilih Bali sebagai medan operasi, jauh dari hiruk pikuk yang biasa mereka hadapi.

Mikha menatap sekeliling dengan mata tajam, menyerap setiap detail yang mungkin membawa petunjuk. Langkahnya tetap mantap meski hatinya berdebar, tahu betul bahwa di balik kesenangan itu tersimpan bahaya yang mengintai. Toilet sudah dekat, tapi pikirannya masih jauh melayang pada misi yang harus segera ia selesaikan.

Di balik gemerlap pesta ini, ia dan Rara adalah pejuang yang berani mengorbankan segalanya demi harapan baru yang belum pasti.

“Lama banget loe,” ujar Rara ketika bestienya sudah kembali.

“Ngantri gila.”

Keduanya duduk di bangku bar, gelas di meja dengan tatapan mereka melayang kemana-mana. Diikuti gerakan tubuh yang luwes sambil duduk, hei mereka ini juga anak gaul. Tapi baru gaul di Bali saja.

Rara dan Mikha berdiri di pinggir pantai yang ramai, mata mereka melirik-lirik pria-pria yang berlalu-lalang. Beberapa pria, baik bule maupun lokal, dengan senyum ramah mencoba mendekati mereka, menyapa dengan kata-kata manis.

“No, thank’s.” Rara mengibaskan tangan, tanda menolak.

Mikha tersenyum sinis, setelah kepergian pria itu. “Gila ya, susah banget cari duit sampai kaya gini.”

“Jangan ngeluh. Demi apa coba kita begini, ya demi hidup. Hidup ini keras shayyyy.. jadi butuh yang beton-beton buat bertahan hidup.”

“Beton nggak tuh,” timpal Mikha dan keduanya tertawa bersama.

Mikha dan Rara masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta. Hebatnya, mereka kuliah biaya sendiri karena keluarga. Ah sudahlah tidak usah diharapkan. Mikha asli Bandung, sedangkan Rara dari Sumedang.

*

*

Tiga pria bule menghampiri Mikha dan Rara yang masih setia duduk di tempat semula.

“Hai ladies, sendirian?” tanya salah satu dari mereka dengan Bahasa inggris.

Rara dan Mikha yang fasih Bahasa asing meski setengah saja, membalas. Rara ramah, sedangkan Mikha nampak setengah hati. Maklum dari tampang saja sudah terlihat mereka bule yang hanya mau gratisan saja.

“Hai juga..” Rara menyapa.

“Berdua saja, bagaimana kalau kami temani. Sayang sekali gadis secantik kalian tidak ada bodyguard,” canda salah satu dari mereka.

Rara tertawa, Mikha sibuk dengan ponsel. Menolak terang-terangan.

“Boleh saja.. itu bisa dimulai dengan kalian memesankan minuman untuk kamu. Bagaimana?” pinta Rara.

Ketiga pria bule dengan tampang ganteng itu tertawa. Salah satu mendekat, berbicara di telinga Rara. “Bagaimana kalau kita split bill?”

Oh sebuah penawaran yang ogah sekali Rara terima.

Namun Rara menolak dengan tawa manisnya, “Oh honey.. sepertinya kalian bukan tercipta untuk kamu,” ujar Rara, tanda dia menolak.

Pria bule itu masih mencoba mendekat, satu tanga Rara menahan dada bidang itu. “Sorry, kami sedang menunggu seseorang!” penegasan dari Rara jika dia tidak mau mereka mendekat.

Ketiga pria bule itu mendesah, sadar diri jika mereka ditolak. Dengan tertib mereka pergi, kembali ke tempat semula.

“Hufthh.. Sial, malah dapatnya bule kere,” cebik Rara menegak satu gelas lagi.

“Minimal duda nggak apa deh, yang penting kaya. Capek otak gue, Ra.” Mikha menenggak satu minuman berwarna cokelat pekat dari gelas kecilnya.

“Lo kata lo doang. Apa kabarnya gue, Ra.”

“Kan lo cuma butuh buat bayar semesteran sama apartemen. Gue, huft.. biaya rumah sakit nyokap gila-gilaan mahalnya.”

Ada nada lirih dalam ucapan Mikha. Rara berusaha membuat suasanya mencair. “Yah jangan adu nasib dong, Ra. Nasib kita kan sama-sama jelek dalam urusan finansial,” kelakarnya.

“Benar juga ya. Yang ada malah tambah pusing, bukan tambah melek.”

“Nah itu paham.”

"Terus gimana, kita mau berapa lama di sini?" tanya Mikha, pasalnya jika berlama dengan tidak dapat mangsa, yang ada uang mereka habis hanya untuk membeli minuman.

"Coba deh tunggu sampai jam 11 ya. Kalau masih anyep, kita pindah."

"Ah gila, berasa wanita malamnya banget sih. Sampai pindah tempat, Ra."

"Ya elo maunya gimana? Mau kita balik ke hotel dengan siap-sia. Ingat ya, Ra. Kita ke Bali aja, udah mengerahkan tabungan kita. Masa nihil sih," seru Rara semangat.

Mikha menjatuhkan bahunya, "Benar juga sih."

"Nah itu lo paham Mbak Mikha yang bahenol."

Mikha tertawa, “Begini nasib pekerja seni ya nekkk..”

“Seni apaan?”

“Seni menjual tubuh.”

Hahaha..

Keduanya tertawa, lebih mudah menertawakan nasib ketimbang meratapi nasib memang. **

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status