LOGINPukul tiga sore ini Gadis sudah berhasil memarkirkan mobilnya di depan pagar rumahnya. Rumah yang tampak sepi tak berpenghuni ini benar-benar membangkitkan kenangannya tentang kejadian Pradipta yang hampir membunuhnya beberapa waktu lalu. Angela yang duduk di samping Gadis dan melihat gelagat clien-nya ini hanya bisa memegang pundak Gadis pelan.
"Bu Gadis?"
Gadis menatap penampilannya di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Ia perhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rasanya ia puas dengan pakaian yang ia pilih bernuansa merah kali ini. Setidaknya ia harus terlihat 'cetar' kala menghadiri sidang perceraiannya. Jika perlu Pradipta harus sadar jika dirinya telah membuang batu berlian hanya untuk memungut batu kali. Demi terlihat sempurna, Gadis bahkan melengkapi penampilannya dengan set perhiasan berlian milik sang Mama. Ini juga permintaan sang Mama hingga Mamanya memintanya menenteng tas hermes. Meskipun ini bukan style-nya yang selalu menenteng barang-barang branded, tetapi demi mengintimidasi Pradipta, Gadis rela melakukannya.Saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Gadis segera turun ke bawah. Saat sampai di ruang makan, Mama dan Papanya sudah menunggunya di sana untuk
"Cukup atlet anggar sama reporter aja yang enggak bisa bersatu, lo sama Gavriel harus bersatu." Komentar Alena saat Gadis selesai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Gavriel."Ck... Lo tahu 'kan, Len kalo status gue masih abu-abu saat ini."Alena memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia lalu mengulurkan handphone miliknya. Ia biarkan Gadis melihat hasil rekaman video yang ia ambil. Gadis hanya bisa diam dengan mulut sedikit terbuka."Lo lihat sendiri 'kan kalo laki lo aja bisa begini. Ngapain lo harus tolak-tolak Gavriel sedemikian kuat? Asal lo tahu aja ya, Dis banyak lho cewek-cewek di kantor yang masih single itu berharap Gavriel ngelirik mereka. Tapi buat karyawan lama kaya gue ini pasti tahu, bahwa satu-satunya perempuan yang sering d
"Gimana, Dis?" Tanya Gavriel kala melihat Gadis tampak menggigit ujung kuku jarinya setelah menelepon Alena."Alena belum balik. Kamu kasih tugas apaan sih di kantor?""Kenapa mesti tanya kalo kamu sendiri tahu apa yang dia kerjakan.""Iya-iya, aku paham, tapi kalo dia setiap hari lembur begini, kapan dia bakalan dapat jodoh?""Memangnya penting punya pasangan kalo cewek itu sudah mandiri secara finansial?""Tergantung individunya.""Kalo kamu?""Aku?"Gavriel menganggukkan kepalanya. Ia bisa mel
Alena menatap rumah dengan pagar tinggi berwarna hitam yang ada di seberang jalan. Ia mendapatkan alamat rumah ini dari Banyu. Entah darimana Banyu tahu tentang alamat rumah Rachel. Yang bisa Alena lihat adalah rumah itu cukup ramai karena ada beberapa mobil box yang keluar masuk dari rumah itu."Si Dipta pakai pelet apaan, ya? Dibuang sama Gadis masih bisa dapat Rachel yang punya usaha besar begini," Kata Alena pelan dibalik kemudi mobilnya.Sebagai seorang amatiran, Alena masih bingung tentang apa yang harus ia lakukan di tempat ini. Namun saat sebuah mobil sedan keluar dari halaman rumah, Alena memilih mengikutinya. Entah kenapa Alena yakin jika ini adalah mobil milik Rachel. Dengan menjaga jarak aman, Alena mengikuti mobil berwarna merah ini hingga akhirnya memasuki sebuah mall. Saat pengemudi itu keluar dari mobil untuk
Gadis membuka kedua matanya kala merasakan sebuah bibir yang sejak satu menitan yang lalu menempel kuat di bibirnya hingga mereka bermain lidah bersama akhirnya terlepas. Pemandangan wajah Gavriel yang berjarak kurang dari sejengkal di depannya membuat Gadis berkedip. Nyatakah ini? Ia berbagi saliva bahkan bermain lidah bersama mantan musuh bebuyutannya sendiri. Goblognya ia justru menikmati semua itu, bahkan membalas ciuman Gavriel dengan tidak kalah antusiasnya.Bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini, Gadis memilih langsung berdiri. Bukannya bertanya tentang alasan Gavriel melakukan itu, Gadis justru langsung berjalan ke arah dapur begitu saja. Ia baru berhenti berjalan kala sudah berada di depan tempat cuci piring. Saat melihat ada beberapa piring dan gelas yang kotor, Gadis langsung mencucinya. Setidaknya ini jauh lebih baik daripada ia harus menghadapi Gavriel
Gadis memasuki rumah Pak RT yang ternyata sudah cukup penuh dengan para ibu-ibu yang sedang duduk lesehan di teras rumah. Mereka tampak sedang memperhatikan Gadis dengan tatapan ingin tahunya."Permisi, Bu RT," Ucap Suminah sambil mulai mengajak Gadis untuk duduk. Ia baru melepaskan cekalannya pada tangan Gadis saat mereka sudah duduk di karpet."Ya, Sum. Ini siapa?""Katanya Mbaknya ini temannya pak Gavriel. Tapi saya enggak percaya, Bu RT masa teman bawa koper waktu datang kaya mau pindahan aja."Sialan...Harga diri Gadis sebagai seorang wanita terasa ternodai dengan kata-kata Suminah ini. Dirinya selama ini selalu berusaha menjaga kehormatannya dengan baik. Jangankan untuk tinggal serumah tanpa ika
Dengan telinga yang rasanya sudah pekak karena ocehan Banyu, akhirnya hari ini Gadis memilih menuruti keinginan kakaknya itu untuk pulang ke Solo. Padahal Gadis ingin menyelesaikan semua ini terlebih dahulu baru pulang ke Solo. Sayangnya Banyu tidak
Dengan kaos oblong yang sudah memiliki banyak ventilasi kecil dan celana rumahan selutut, malam ini Gavriel sampai di kamar jenazah salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Saat sampai di sana tampak Wilson dan Aditya yang sedang menemani Elang dudu
Gavriel yang melihat Alena diam saja hanya bisa menghela napas panjang. Sejak tadi temannya itu tampak sedang berpikir keras. Entah apa yang Alena pikirkan, tapi Gavriel mengira jika itu karena ia kecewa dengan penerbangan kelas ekonomi yang dirinya
Gavriel menoleh untuk melihat jam di sudut dinding kamar perawatan Gadis. Kala melihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan Gadis juga tak kunjung menutup matanya, membuat Gavriel merasa sedikit khawatir.







