Share

Bab 2

Aleksa merasa demannya sudah turun dan kepalanya sudah tidak pusing lagi. Ia bergegas menyiapkan makan malam, karena waktu sudah hampir menjelang malam. Ibu dan anak itu sedang tidak dirumah , entah kemana yang pasti Aleksa ingin segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum mereka datang.

"Hah akhirnya beres juga"

katanya seraya membuang nafas lega.

Dari garasi rumah terdengar suara mobil, Aleksa mengintip dari jendela bahwa Tante Lina dan Yira sudah datang.

"Aleksa ambil barang belanjaan saya di bagasi dan taro di meja itu" Yira memerintah nya.

Aleksa yang tau itu, segera bergegas menuju kearah yang di maksud. Mengambil semua barang, lalu meletakkan nya di meja sesuai yang di perintahkan.

Setelah meletakan barang-barang itu, Aleksa bermaksud kembali ke dalam kamarnya namun langkahnya terhenti saat suara Bu Lina memerintah dirinya.

"Kami haus, ambilkan minum"

Tanpa suara Aleksa bergegas menuju dapur, setelahnya ia memberikan minuman yang di minta ibu dan anak itu.

"Jika tidak ada keperluan sebaiknya pergi dari sini sebelum saya menumpahkan minuman ini di wajahmu" ucap Lina.

Tatapan ibu dan anak itu memandanginya dengan sangat sinis.

Aleksa sudah biasa mendapat perlakukan seperti ini, jadi ia selalu mengabaikan semua ucapan itu walau kadang membuatnya sakit.

Aleksa berlalu menuju kamar meninggalkan mereka yang masih asik membahas soal perkuliaha Yira. Dari kamar Aleksa bisa mendengar bahwa Yira akan masuk ke perguruan tinggi dengan megambil jurusan kedokteran. Berbeda dengan diri nya yang harus mengubur impian itu dalam-dalam lantaran dirinya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dirinya merasa sedikit iri dengan kehidupan Yira saat ini.

"Bu, dulu Aleksa ingin sekali menjadi dokter supaya bisa menyembuhkan penyakit ibu, maafkan aleksa yang tidak bisa mencapai impian itu"

Aleksa merasa sesak di dadanya setelah mengingat wajah kedua orang tuanya yang begtu menyayangi nya. Kini iya harus menerima semua penderitaan yang menimpanya.

Aleksa berkeinginan untuk bekerja saja sehabis mendengar kelulusan nya nanti, ia berniat izin ke Tante Lina supaya dia bisa bekerja dan Tante Lina tidak perlu repot-repot lagi menghidupi dirinya.

Ia juga tidak ingin berlama-lama di rumah itu yang terasa neraka bagi nya.

Setelah makan malam Aleksa membersihkan diri dan bersiap untuk tidur karena besok ia akan ke sekolah untuk mengambil surat kelulusannya.

*****

Pagi hari pun tiba, setelah mengerjakan pekerjaan rumah Aleksa pun berangkat ke sekolah dengan menggunakan angkot.

Aleksa mengambil amplop sendiri, berbeda dengan teman-teman lain yang di dampingi orang tua nya. Penampakan ini membuat Aleksa sangat sedih lantaran dirinya sudah tidak memiliki orang tua.

"Lulusan terbaik tahun ini di raih oleh Aleksa Puriatmaja, silakan bisa maju kedepan dengan wali nya"

Pembawa acara mempersilahkan nya untuk maju.

Aleksa melangkah ke depan seorang diri, melihat Aleksa yang maju tanpa pendamping seorang guru pun mempertanyakannya.

"Aleksa di mana wali kamu" ? tanya salah Sorang guru

"Maaf Bu Aleksa sendirian tidak ada wali"

Aleksa tertunduk menahan kesedihannya, sebagian dari mereka yang melihatnya merasa sangat simpati karna sangat menyedihkan melihat seorang siswi di hari bahagianya datang seorang diri sedangkan siswa dan siswi lain di dampingi orang tua mereka.

Beberapa guru memang sudah tahu bahwa Aleksa anak yatim piatu, namun mereka sempat mengira bahwa Aleksa bisa saja meminta Tante Lina untuk mendampinginya.

Aleksa teringat bahwa semalam memang meminta Tante Lina untuk datang menjadi wali nya di acara kelulusan itu. namun, Tante Lina menolak dengan alasan tidak Sudi menjadi wali gadis yang membawa sial di keluarganya. Aleksa tidak mau memaksa, sehingga memutuskan untuk datang sendirian.

******

Di tempat lain Candra melajukan mobil nya menuju ke arah perusahaan Primary Adicipta. Perusahaan ini bergerak di bidang Property dan Periklanan. Itulah kenapa pemilik perusahaan ini sangat kaya dan menjadi orang terpandang di negaranya saat ini. Selain memiliki rekan bisnis dalam negeri perusahaan ini juga memiliki rekan bisnis hingga manca negara.

tit tit tit

sssrtttt

Seorang wanita tiba-tiba muncul, yang membuat Candra mengerem secara mendadak untuk menghindari kecelakaan.

"Wanita sialan"

Umpat Candra yang keluar dari mobil sambil membanting pintu mobilnya. Candra berjalan kearah wanita itu dengan raut wajah yang nampak kesal, walau bagaimana pun Candra tetap harus memastikan bahwa wanita yang hampir di tabrak nya baik-baik saja.

Wanita itu lagi-lagi adalah Aleksa.

Kebetulan sehabis mengikuti acara kelulusan Aleksa bergegas ke arah kota dengan maksud ingin mencari pekerjaan. Namun sebelum mendapatkan nya kejadian sial lagi-lagi menimpa dirinya.

"Apa kau ingin mati" ?

Candra menarik kerah baju Aleksa yang membuat Aleksa sedikit tersentak. Ia sangat ketakutan apalagi melihat raut wajah Candra yang berubah merah akibat menahan emosi yang seperti sudah di ubun-ubun.

"Ma maafkan saya tuan"

Jawab aleksa dengan suara yang gemetar.

Aleksa ingin menundukan kepalanya karena ia tidak sanggup memandang wajah pria yang tepat berada di hadapannya saat ini, namun sebelum itu terjadi buru-buru tangan Candra mencekram pipinya yang sontak membuat tatapan keduanya bertemu.

"Apa seperti ini sikapmu ketika orang mengajakmu berbicara"

Candra sambil mengamati wajah wanita itu, menunggu jawaban dari Aleksa.

"Saya sudah sangat hati-hati saat menyebrang, namun tuan terlalu mengebut"

Aleksa memberanikan berbicara untuk membela dirinya bahwa ia tidak sepenuhnya bersalah.

Aleksa tahu pria ini pasti akan sangat marah setelah mendengar ucapannya tadi.

Benar saja suara Candra kembali terdengar, kali ini ia benar-benar murka karena wanita ini berani membantahnya.

"Apa kau mengatakan ini salahku"?

Kali ini Candra mencekram pipi Aleksa lebih kuat lagi hingga urat-urat di tangannya muncul.

"Lepaskan saya tuan, sakit"

Aleksa yang merasa cengkraman itu semakin kuat. Ia menepuk-nepuk tangan Candra yang tanpa pria itu sadari tindakan nya itu menyakiti Aleksa.

Sesekali Candra mengamati wajah itu, Candra merasa pernah melihatnya tapi entah dimana. Rasanya wajah ini tidak asing bagi nya.

"Tuan tolong lepaskan sakit"

Kata Aleksa lagi dengan suara yang sudah hampir tidak bisa didengar.

Candra melepaskan cengkraman nya dan mendorong Aleksa hingga tubuh wanita itu tersungkur di aspal lalu berlalu meninggal Aleksa seorang diri.

"Uhuk uhuk"

Aleksa mencoba ngatur nafasnya yang hampir habis dan memasok oksigen sebanyak-banyaknya supaya iya bisa bernafas dengan normal. Ia memegangi area pipinya yang memerah akibat cengkraman tadi, hingga

tak lama ia di kagetkan kembali dengan suara klakson mobil Candra.

Tit tit tit

Suara klakson itu seperti mengisyaratkan agar ia minggir. Aleksa menyadari itu lantas segera berdiri dan meminggirkan tubuhnya untuk memberi jalan pada pemilik mobil.

Sesampainya di kantor Candra berjalan menuju ruangan dengan raut wajah yang nampak kesal, sepertinya kejadian yang di alaminya tadi membuat mood nya menjadi kacau. Siapa pun yang melihatnya akan tahu bahwa saat ini sosok yang memiliki wajah tampan bak pangeran itu sedang marah.

Farhan asistennya yg melihat nya ikut bertanya-tanya barangkali ada masalah pekerjaan di kantor yang membuat bos nya itu nampak sangat kesal.

"Bukankah semua pekerjaan kantor sudah beres, tapi kenapa raut wajahnya muram seperti ini"?

Farhan bertanya pada dirinya sendiri, namun iya pun tidak dapat menemukan jawabannya.

Farhan yang sedikit ragu berjalan mengikuti Candra dari belakang.

Farhan memberanikan diri untuk bertanya.

"Tuab apakah ada masalah"

"Dasar wanita sialan"

Umpat Candra sambil merebahkan badannya di kursi kebenarannya.

"Wanita sialan? tapi siapa wanitanya?" Farhan bertanya lagi dalam hati.

Candra mengalihkan pandangan ke arah Farhan yang masih mematung.

"Keluar dari sini, jika tidak ada kepentingan"

Farhan nampak bingung menghadapi situasi ini karena ia pun tidak tahu akar masalahnya. Namun ia yang paham setelah mendengar perintah itu segera berlalu dari pada harus jadi amukan bos nya.

"Baik saya pamit tuan, jika membutuhkan sesuatu tuan bisa hubungi saya"

Sepeninggalan asistenyna, Candra mulai mengecek beberapa kontrak kerjasama dan membacanya satu persatu hingga tidak terasa hari sudah menjelang sore dimana seluruh pegawai bersiap akan pulang. Candra membereskan berkas yang ada di atas mejanya dan berlalu menuju ke luar ruangan. Didepan kantor sudah ada sopir pribadi yang sedari tadi menunggu untuk mengantarnya pulang. Karena muak dengan kejadian hari ini Candra pun meminta supaya sopirnya mengantar nya ke arah Villa karena ia lebih suka menghabis kan waktu sendiri di Villa itu.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status