LOGINSelamat Membaca ❤ Sehat Selalu 😘 Jangan lupa ulasan, jejak komentar, dan votenya 🙏 terimakasih 😗
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai kamar, menyoroti ranjang besar yang masih berantakan sisa malam penuh gairah. Kiara terbangun lebih dulu, hanya mengenakan jubah satin tipis. Di sampingnya, Victor masih terlelap, wajah dinginnya terlihat begitu damai saat tidur.Namun tawa kecil dari lorong memecah keheningan. “Mamaaa…” suara cadel memanggil.Pintu kamar berderit terbuka, menampakkan Kenneth yang menyeret boneka beruangnya, dan Felix yang berlari kecil sambil cekikikan. Keduanya, kembar berusia satu tahun, tampak seperti malaikat kecil yang baru saja turun dari surga.“Sayang-sayang mama sudah bangun, ya?” Kiara segera bangkit, meraih keduanya ke dalam pelukan. Ia menciumi pipi chubby Kenneth dan Felix bergantian, membuat mereka tertawa riuh.Victor bergumam pelan, membuka mata. “Tuhan… aku bahkan belum sempat minum kopi, tapi sudah punya tiga malaikat di kamarku.”Kiara terkekeh. “Malaikat? Lebih mirip duo nakal.”Felix langsung merangkak ke atas ranjang, menindih perut ayahny
Mobil hitam itu melaju menembus jalanan malam, kaca-kaca masih berembun dari panas yang mereka ciptakan sendiri. Kiara bersandar di dada Victor, napasnya masih belum sepenuhnya kembali normal.Namun, Victor tak banyak bicara. Tangannya tetap di setir, wajahnya dingin tapi matanya menyimpan bara yang tak kunjung padam.“Kenapa kau diam?” tanya Kiara lembut, ujung jarinya menggambar garis tipis di pergelangan tangan suaminya.Victor melirik sekilas, lalu menaruh tangannya di paha Kiara—erat, penuh kepemilikan. “Aku masih berusaha waras. Kau membuatku kehilangan kendali, Kiara.”Senyum kecil tersungging di bibir wanita itu. “Bukankah kau menyukainya?”Victor mengerem pelan saat lampu merah menyala. Ia menoleh penuh, wajahnya begitu dekat hingga Kiara bisa merasakan hembusan napasnya. “Aku menyukainya... tapi aku juga benci. Karena aku tahu semua pria di pesta tadi menginginkanmu. Dan aku—aku tidak pernah tahu bisa merasa seposesif ini.”Kiara mengangkat dagunya sedikit, menantang. “Bukan
Langit malam menjingga saat Victor dan Kiara melangkah keluar dari mobil mewah hitam mereka, disambut kilau lampu taman dan alunan musik jazz yang lembut dari dalam mansion bergaya kolonial milik rekan bisnis Victor. Suara tawa halus dan denting gelas sampanye mengisi udara, membawa aroma elegan dari pesta eksklusif itu.Victor tampil dalam setelan jas armani berwarna abu-abu gelap yang membentuk tubuh tegapnya dengan sempurna. Dasi hitamnya rapi, dan sikapnya seperti biasa—tenang, dingin, penuh kuasa. Namun malam ini, tak satu pun mata tertuju padanya.Semua mata memandang wanita di sisinya.Kiara mengenakan gaun hitam panjang berpotongan rendah di dada, dengan belahan tinggi di paha yang menyibak langkahnya. Kain satin yang membungkus tubuhnya memeluk setiap lekuk dengan anggun, seolah diciptakan khusus untuknya. Rambut panjangnya disanggul sebagian, membiarkan beberapa helaian jatuh liar membingkai wajah cantiknya. Bibir merahnya melengkung dalam senyum memikat, dan matanya berkila
Keesokan paginya, cahaya lembut itu memantul di dinding berlapis aksen emas, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan udara segar pagi. Aroma kopi yang baru diseduh dari mesin espresso di sudut ruangan bercampur dengan wangi samar parfum Kiara yang selalu memikat.Victor baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah, tetesan air sesekali jatuh dari ujung-ujungnya saat ia menggosok kepalanya dengan handuk kecil. Ia hanya mengenakan celana panjang linen hitam yang tergantung rendah di pinggulnya, memperlihatkan garis otot perut yang terpahat sempurna. Dengan langkah santai, ia keluar dari kamar mandi, berniat mengambil kemeja dari lemari. Namun, langkahnya terhenti seketika. Ia meneguk salivanya, matanya terkunci pada pemandangan di depannya.Kiara berdiri di dekat cermin besar bergaya art deco, tubuhnya dibalut g-string merah yang begitu menggoda, dengan tali tipis yang nyaris tak terlihat melingkari pinggul rampingnya. Sehelai bra renda senada membingkai lekuk tubuhnya
Malam hari menyapa penthouse mewah keluarga Anderson dengan langit New York yang berkelip lembut dari balik jendela kaca besar. Kota itu tampak hidup, namun di dalam, kehidupan yang jauh lebih hangat sedang berlangsung—bersama dua bocah laki-laki berusia satu tahun yang menjadi pusat semesta pasangan kuat ini.Di ruang keluarga yang didesain dengan nuansa hangat dan elegan, karpet lembut membentang di atas lantai marmer. Mainan edukatif premium berserakan rapi, dan aroma lembut lavender menyebar dari diffuser di sudut ruangan.“Ken... jangan ganggu Felix, Sayang,” ucap Kiara sambil tersenyum lembut, membetulkan posisi duduk Kenneth yang tengah berusaha merebut boneka singa dari saudara kembarnya.Felix meringis kecil, matanya bulat menatap sang ibu, lalu tiba-tiba menghambur ke arah Victor dengan tangan terentang. “Pa...pa...”Victor yang tengah melepas dasi dan jasnya segera berjongkok, menyambut bocah kecil itu ke dalam pelukannya. “Felix-ku! Sudah belajar manggil Papa, ya?” bisikny
Cahaya pagi menelusup masuk melalui jendela kaca setinggi langit-langit, menyinari interior elegan ruang rapat utama Anderson Corporation yang berada di jantung kota New York. Lampu gantung kristal berkilau lembut di atas meja konferensi panjang berlapis kayu walnut Italia, dikelilingi pria dan wanita dalam setelan rapi dan penuh kharisma. Victor Anderson duduk di kepala meja, tegap dan tak tergoyahkan dalam balutan jas bespoke berwarna charcoal, kemeja putih bergaris tipis dan dasi sutra biru navy. Wajahnya tak menunjukkan emosi, namun jemarinya yang mengetuk permukaan meja menunjukkan ada yang tak sabar bergolak dalam dirinya. Di layar besar, grafik pertumbuhan pasar ditampilkan dengan presisi. Presentasi tengah berlangsung, namun Victor hanya sesekali meliriknya. “As expected,” ucapnya datar namun menohok, setelah kepala divisi pemasaran selesai memaparkan. “Namun ekspektasi saya bukan hal yang biasa. Saya menginginkan progres, bukan stabilitas semu.” Ruangan hening. Bebera
Keesokan harinya, Kiara menggeliat, wanita itu membuka kedua matanya secara perlahan. Bibirnya melengkungkan senyum saat melihat Victor masih terlelap. Wanita itu menempelkan pipi kanannya pada dada bidang Victor, sesekali ia mengecup dada bidang itu. Yang mana membuat Victor terusik, pria itu memb
Victor menghela nafasnya perlahan, ia menatap Joshua, dan Edwin secara bergantian. Lantas menatap Sarah. "Kau sendiri bagaimana, Sarah?" Victor sendiri merasa jika Sarah merasa tidak nyaman. Sarah mendongak, ia menatap Victor, dan menjawab dengan gugup, "S-saya sendiri merasa jika tidak harus di po
Beberapa bulan kemudian, Pagi itu, udara terasa segar memasuki dapur dimana Kiara sedang asyik menyiapkan sarapan. Rambutnya yang tergerai indah, dan wajahnya yang memancarkan kebahagiaan karena sebentar lagi akan menjadi ibu. Tiba-tiba, Victor datang dari belakang dan memeluknya dengan lembut. La
Seorang dokter mengarahkan Sarah dan Joshua ke dekat ranjang. "Silahkan berbaring, Nona." Joshua membantu Sarah berbaring di atas ranjang, tak lama kemudian dokter menyingkap kemeja Sarah, dan mengoleskan gel di atas perutnya. Lantas menggerakkan alat di atasnya. "Sepertinya belum ada kantung rahi







