로그인Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri. Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie. Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn. Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
더 보기Ririn hanya bisa terdiam menatap rumah yang sebentar lagi harus dia tinggalkan, rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan. Di sana ada tawa mamah dan papahnya, suara panggilan makan malam, obrolan kecil yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini begitu dirindukan.
Ririn menunduk sebentar, menahan sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya, lalu berbalik cepat sebelum air matanya jatuh, dia melangkah perlahan lalu masuk ke dalam sebuah mobil. Di kursi depan, Anggie sahabatnya sudah menunggu sambil memperhatikan Ririn penuh kecemasan. “Udah siap?” tanya Anggie pelan. Ririn hanya mengangguk kecil, memaksakan senyum tipis yang terlihat lebih mirip usaha untuk tetap kuat. “Tenang, gue selalu ada buat lu,” ujar Anggie lembut sambil menyalakan mesin mobil, kalimat sederhana itu membuat dada Ririn terasa hangat. “Makasih ya, Gie,” suara Ririn lirih dia menunduk, jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan. “Cuma lu yang masih ada, pas keadaan gue lagi kayak gini.” Anggie melirik sekilas lalu tersenyum kecil. “Jangan ngomong gitu, lu juga sering ada buat gue,” Sahut Anggie santai, mencoba mencairkan suasana. “Sekarang fokus aja, pelan-pelan lu tata lagi hidup lu.” Ririn tersenyum hambar mendengar ucapan Anggie. "Maaf ya, gue jadi ngerepotin, sampai harus numpang tinggal di apartemen lu.” Nada suara Ririn mulai bergetar.Anggie langsung menggeleng. "Eh, jangan mikir gitu.” Anggie tersenyum kecil. “Lagian gue seneng lu tinggal sama gue, jadi ada temen ngobrol.” Ririn tersenyum kecil meski matanya masih sembab, rumah itu perlahan menjauh dan Ririn benar-benar merasa sendirian. Dulu dia tidak pernah memikirkan uang, apa pun yang dibutuhkan selalu ada. Hidup terasa aman karena mamah dan papah selalu menjadi tempat pulang namun sekarang, bahkan untuk bertahan hidup esok hari saja, Ririn tidak tau. Sesampainya di apartemen, Ririn turun sambil menyeret koper lamanya yang tampak usang, Anggie buru-buru mengambil salah satu dari sisinya. “Udah, sini gue bantu.” Kata Anggie sambil menyambar koper itu, Ririn hanya tersenyum melihat tingkah Anggie kemudian mereka berjalan menuju lift. “Apartemen gue kecil,” kata Anggie lagi sambil tersenyum canggung. “Semoga lu betah ya.” Ririn langsung menggeleng. “Ya ampun, Gie.” Ririn menatap sahabatnya penuh rasa terima kasih. “Lu udah mau nampung gue aja, gue bersyukur banget.” Lift tertutup perlahan. Dan malam itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya, Anggie membiarkan Ririn langsung masuk kekamarnya untuk beristirahat. sudah hampir 1 jam Ririn berbaring di ranjang kamar itu sambil menatap langit-langit, matanya lelah tubuhnya lelah tapi dia tak bisa tidur. Pikirannya menolak diam, wajah mamah dan papah muncul silih berganti di kepalanya. "Mah… Pah… Aku harus gimana sekarang?" "Kenapa ninggalin aku secepat ini?" Ucap Ririn lirih dadanya terasa sesak, tanpa sadar air mata mengalir membasahi pelipis. Tok… tok… tok… Ririn buru-buru mengusap wajahnya. “Rin, gue boleh masuk?” suara Anggie terdengar dari balik pintu. “Iya, masuk aja.” Sahut Ririn berusaha menormalkan nada suaranya. Pintu terbuka pelan, Anggie masuk sambil membawa dua gelas minuman hangat, lalu duduk di tepi ranjang. “Belum tidur?” tanyanya hati-hati. Ririn menggeleng kecil. “Belum Gie,” Anggie diam sebentar, seperti sedang menimbang sesuatu. “Oh iya, Rin…” katanya kemudian. “Kemarin lu bilang mau cari kerja, kan?” Ririn mengangkat wajah. “Iya, tapi gue bahkan nggak tahu harus mulai dari mana.” Sahut Ririn terdengar lemas. “Gue baru inget, kakak gue kerja di perusahaan desain, terakhir gue denger mereka lagi cari asisten.” Ungkap Anggie nada suaranya terdengar bersemanagat. Ririn langsung menatap Anggie penuh harap. “Serius?” Anggie mengangguk. “Iya, perusahaannya fokus di desain grafis sama branding." Anggie mencoba menjelaskan. "Katanya ada posisi kosong karena patner kakak Dewi resign mendadak, gue langsung kepikiran lu.” Kata Anggie lagi membuat mata Ririn berbinar, Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat sekarang. “Tapi…” Ririn menggigit bibir bawahnya pelan. “Gue udah lama nggak kerja, Gie.” Anggie spontan menepuk pelan tangan sahabatnya. “Eh, jangan ngerendahin diri sendiri.” Nada suaranya tegas, tapi hangat. “Portofolio lu bagus, lu cuma lagi jatuh, bukan nggak mampu.” Kalimat itu membuat Ririn terdiam. “Besok gue kenalin langsung sama kak Dewi, ya?” Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang terasa berbeda, sebuah harapan. “Makasih, Gie…” suara Ririn mengecil, matanya berkaca-kaca. "Gue nggak nyangka masih ada orang yang peduli sama gue.” Anggie berdiri lalu mengacak pelan rambutnya, “Udah, sekarang tidur, besok kita bikin CV sama siapin portofolio lu.”Ririn tersenyum kecil. “Iya.” Setelah Anggie keluar, Ririn kembali merebahkan tubuhnya. Mungkin hidupnya memang sedang berantaka, tapi malam itu, setidaknya ada sedikit cahaya kecil yang membuatnya ingin mencoba bertahan.Sepulang dari kantor, Ririn duduk sendiri di trotoar sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba terdengar suara yang familiar di telinganya. "Eh Rin," Seru Iqbal. Ririn menatap ke depan sedikit terkejut melihat Iqbal, dia menghentikan sepeda motornya persis di hadapan Ririn. “Ngapain, Rin?” tanya Iqbal, sambil tersenyum menatap Ririn. “Oh ini, lagi pesan ojek online,” jawab Ririn Kikiuk. Iqbal memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Ririn. “Mau pulang? Ayo, aku antar.” kata Iqbal. Ririn menahan napas sejenak, sedikit ragu tapi dalam hatinya dia sangat senang dengan tawaran Iqbal itu. “Eh, tapi, aku mau ambil laundry bosku dulu,” katanya pelan, Iqbal sedikit mengerutkan keningnya. “Hah, punya Mas Baskara?” tanya Iqbal, heran sekaligus terkejut. Ririn hanya mengangguk pelan, wajahnya merah dia merasa malu karena harus mengerjakan pekerjaan seperti itu, Iqbal tersenyum hangat, men
Setelah keributan dengan Anna, Rosie, dan Rika, beberapa hari yang lalu, suasana kantor terasa semakin tegang. "Rin, kamu tidak melakukan itu dengan sengaja kan?" Tanya Baskara matanya menatap Ririn penuh intimidasi. "Saya, tidak mungkin berani pak," Jawab Ririn gelagapan sambil meremas ujung roknya. "Oya, selama tiga bulan ini kamu berhasil mengecoh mereka," Baskara terdiam sejenak matanya menatap lurus ke arah Ririn. "Tapi, kenapa hari itu, mereka datang bersamaan," lanjut Baskara masih menatap Ririn penuh curiga. "Maaf pak saya memang salah, tapi saya tidak bermaksud seperti itu," Ririn mencoba meyakinkan walaupun sepertinya Baskara tidak percaya dengan ucapanya. "Kamu seneng ya," Celetuk Baskara membuat Ririn gelagapan. "Tidak pak, saya prihatin dengan bapak," jawab Ririn cepat. Baskara rersenyum jahil sekarang menatap Ririn. "Kamu naksir ya sama saya," celetuk Baskara tiba-tiba membuat Mata Ririn membelalak ke arahnya. "Hah, Saya pak," Ririn menujuk dirinya s
Dalam beberapa hari ini Ririn tetap terlihat sebagai asisten yang patuh, tetap Ririn yang selalu berkata "iya pak," "siap pak, laksankan." Sementara di dalam benaknya, sebuah skenario sedang Ririn susun. Dan sore itu, Ririn akhirnya memainkan rencananya. "Sebetar lagi," Ucap Ririn sambil melirik jam tangannya. Jam menunjukkan hampir pukul lima ketika pintu ruang kerja Baskara tertutup rapat. "Mas, Kamu nakal," Suara Manja Anna terdengar dari dalam, disusul tawa kecil Baskara. "Kamu memang paling pinter bikin aku seneng," Suara rendah Baskara kemudian terdengar. Ririn duduk di meja resepsionis berjaga seperti biasa, wajahnya terlihat tenang. Tangannya sibuk merapikan berkas padahal pikirannya tajam menghitung detik. "Tak, tak, Tak," Langkah sepatu hak terdengar mendekat kearah Ririn, Ririn tersenyum licik. “Mbak Ririn,” kata Rosie dengan senyum tipis. “Mas Baskara ada di dalam?” Tanya Rosie sedikit basa basi. Ririn tersenyum menyambutnya seperti biasa, di titik ini,
Suatu sore, saat Ririn sedang menyusun ulang jadwal minggu depan, Baskara tiba-tiba bersandar di tepi mejanya. “Ririn,” Seru Baskara membuat Ririn menoleh ke arahnya, "Iya, pak ada yang bisa saya bantu," Sahut Ririn merendahkan nada suaranya. “Eh Rin, menurut kamu cara buat putus sama mereka gimana ya, ?” Celetuk Baskara tiba-tiba, nada suaranya terdengar santai, terlalu santai untuk membahas perasaan tiga orang perempuan.Seketika hati Ririn mencelos mendengar ucapan Baskara. “Putus, Pak?” Tanya Ririn memastikan. “Iya,” jawab Baskara ringan. “Putus dengan mereka semua,” lanjut Baskara datar. Ekspresi wajah Ririn jelas terkejut, dia pun teringat ucapan Dewi, "Pak Baskara hanya bisa tahan tiga bulan dengan para gadis itu." Suara itu terngiang di benaknya sekarang. “Anna, Rosie, sama Rika,” lanjut Baskara seolah sedang membicarakan tiga ekor binatang peliharaan. “Kayaknya udah cukup.” Ririn menelan ludah lalu menunduk, wajahnya memerah bukan tersipu tapi muak dengan topik






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.