MasukBram yang setengah jam lalu pulang dari kantor hanya bisa memandangnya dari kejauhan, tak berani menghampiri apalagi bertanya pada Dola kenapa dia bermenung seorang diri di pinggiran kolam, Ia mengakui betapa sulitnya meluluhkan hati istrinya itu, namun Bram faham butuh ekstra kesabaran lagi dalam memperjuangkan cintanya.Yang mengherankan kenapa juga Bram begitu bersikukuhnya mempertahankan dan berjuang untuk mendapatkan hati Dola? Sementara di sekitarnya banyak wanita yang ingin menjadi pendampingnya, jika dilihat dari raut wajah Dola tak ada sedikitpun kemiripan dengan wajah mantan istrinya yang telah tiada itu.Lantas dari mana Bram begitu besarnya menaruh harapan jika kelak ia akan menemui kebahagiaan bersama Guru cantik itu? Entahlah yang pasti hatinya berkata sosok Dola wanita yang baik dan penyanyang, hanya saja sampai saat ini ia belum mampu untuk menundukan hatinya.Karena hari sudah semakin senja, Bi Lastri pun menghampiri Dola. Dia tak ingin melihat Nyonya itu terlalu menu
“Aku percaya kok, kamu nggak akan mudah tergoda dengan cewek-cewek dan pergaulan di kampus. Karena aku tahu prinsipmu juga kuat, untuk mengutamakan kuliah diatas segalanya.” ulas Eva.“Hanya saja aku belum terbiasa dengan waktu luang sepulang dari kuliah dihabiskan dengan duduk-duduk saja di rumah ini, Tante. Jika hanya mengawasi para penghuni kos-kosan, aku rasa hal itu waktu yang tepatnya dilakukan mulai jam 7 sampai jam 10 malam, saat aku harus menutup dan mengunci pintu pagar halaman.” ujar ku.“Hemmm... Aku faham apa yang kamu maksud, Kamu nggak betah dan terbiasakan dengan hanya duduk-duduk saja di sini sepulang dari kuliah kan?”“Iya Tante, kalau Tante ijinin aku boleh ya bantu-bantu di cafe Tante hingga jam setengah 7 malam? Nggak digaji juga nggak apa-apa, Tante. Asal aku ada kegiatan, nggak diam duduk-duduk di rumah ini saja.” pinta ku.“Memang susah ya, kalau udah terbiasa kerja keras. Sehari nggak ada kegiatan aja, membuat nggak betah dan bosan. Baik lah aku ijinin kamu ba
Hampir jam 3 sore aku telah berada kembali di kediaman ku, sebenarnya masih banyak waktu luang sepulangnya aku dari kuliah, namun Eva tak mengizinkan aku untuk bekerja di cafe miliknya itu, hal yang memang tak biasa bagi ku untuk berdiam diri saja di rumah tanpa ada kegiatan apa-apa, selian memasak untuk kebutuhan makan malam ku hingga makan sepulang dari kuliah.Habis memasak aku meneruskan dengan bersih-bersih kamar dan seluruh ruangan tempat ku itu, kemudian dengan segelas kopi hangat aku menuju teras rumah yang di sana terdapat beberapa buah kursi berjejer dan sebuah meja yang memanjang. Dari teras rumah yang aku tempati itu pandangan lepas menuju jalan raya di mana di sana dinominasi bus-bus kota yang trayeknya dari kawasan kampus hingga terminal melalui pasar sentral.Sambil menyeruput kopi dan menyalakan sebatang rokok, aku memutar pikiran apa yang harus aku lakukan dengan waktu yang begitu banyak luangnya itu, jika hanya dihabiskan untuk belajar dan membaca tentu saja akan men
“Hemmm... Nggak sih, itu tergantung diri masing-masing juga. Kami merasa heran saja mendengar semua yang kamu ucapkan tadi, karena umumnya sejak dari sekolah menegah atas, baik cowok maupun cewek pasti pernah memiliki kekasih.” ujar Fitria diiringi senyumnya, kedua rekannya Anggi dan Puspita ikut pula tersenyum sembari mengangguk.“Memamgnya udah berapa cowok yang pernah kalian pacari dari sekolah hingga kuliah sekarang di kampus ini?” kali ini aku yang bertanya pada mereka.“Kalau kami sih udah banyak dan sering, tapi ya gitu deh, nggak pernah bertahan lama 2 hingga 3 bulan putus dan ganti lagi, ya kan Anggi, Puspita?” jawab Fitria sembari meminta kejelasan dari kedua rekannya.“Iya Ryan, habisnya cara mereka pacaran membosankan dan suka selingkuh dengan cewek-cewek lainnya.” ujar Anggi menjelaskan alasannya dia dan kedua rekannya sering bergonta-ganti cowok, sementara aku hanya senyum-senyum saja geleng-geleng kepala.“Lalu dimana asyiknya pacaran seperti itu? Gonta-ganti cowok melu
Hari pertama dimulainya kegiatan kuliah suasananya hampir sama dengan pertama masuk sekolah, semuanya terkesan serba baru, mulai dari rekan-rekan sesama mahasiswa maupun dosen yang mengajar mata perkuliahan, yang membedakan di tempat kuliah tidak disarankan memakai seragam seperti halnya di sekolah, paling juga nanti yang membuat keseragaman mereka adalah almamater itu pun tidak selalu wajib dipergunakan setiap harinya.Hari pertama kuliah juga lebih fokus pada pengenalan satu dengan yang lainnya, terutama sesama rekan mahasiswa satu fakultas berikut dengan dosen-dosen yang mengajar mata perkuliahan, di situ memang dituntut kedewasaan dalam segala hal termasuk dalam mencerna mata perkuliahan yang diajarkan dosen.Nalar dan wawasan sangat dibutuhkan, karena aktif tidaknya seorang mahasiswa akan mendapat nilai lebih dari dosen, tugas-tugas yang diberikan tidak seperti di sekolah yang jika tidak mengerjakan akan mendapat sangsi berupa hukuman tidak boleh masuk kelas atau diberi tugas yan
“Iya, semua yang Tante katakan itu memang benar adanya. Hingga sekarang aku masih merasakan sakitnya harus menghindar demi kebahagiaan Tante Dola dengan Mas Bram. Aku akui benar-benar bodoh telah melibatkan perasaanku padanya, hingga aku merasa seperti hilang kepercayaan untuk menaruh hati kembali pada seorang wanita.” ulas ku sambil menahan kepedihan yang aku rasakan, karena perasaan ku telah terlanjur menyanyangi mantan Guru ku itu, dan harus diakhiri secara paksa demi kebahagiaan wanita yang aku sayangi itu.“Hemmmm... Sudahlah Ryan! Tak perlu kamu larutkan perasaanmu yang aku tahu memang pahit dan menyakitkan, namun usiamu masih sangat muda untuk memahami segala permasalahan itu. Seperti yang kamu katakan tujuan utamamu datang ke kota ini, hanya untuk melanjutkan pendidikanmu, jadi tetaplah fokus ke sana jangan dulu libatkan perasaan apalagi pada wanita yang usianya jauh lebih tua dari kamu, dan rumit urusannya untuk ke depannya!” tutur Eva.“Ya, apa yang dikatakan Tante memang be
“Hemmm... Aku nggak pernah ingin berkata yang nggak sejalan dengan hatiku, Tante. Apa yang aku lihat dan nilai, akan aku katakan apa adanya.” Dola menatap lekat ke wajah ku seolah-olah mencari kebenaran atas semua yang aku ucapkan, Dola kemudian tersenyum dan merasa yakin kalau aku benar-benar berk
Sepulang dari sekolah kembali aku dibawa Dola ke rumahnya, rencana ku saat itu akan melanjutkan pekerjaan yang kemarin siang terbengkalai membuat saluran pembuangan air.“Ryan, sebelum melanjutkan pekerjaanmu yang kemarin ada baiknya kita makan siang dulu!” ujar Dola.“Ya Tante,” ulas ku yang baru
Aku sempat tersenyum getir, saat aku menyantap hidangan lezat di meja bersama Om Ramlan dan sekeluarga, karena aku ingat dulu Tante Dewi pernah memperlakukan ku begitu rendah dan hina saat tinggal di rumah megah itu, dengan hanya menyediakan nasi perasan kerak serta secuil sambal sewaktu pulang dar
“Saking sibuknya aku kerja akhir-akhir ini, hingga membuatku harus tetap kerja di hari minggu. Kadang sampai jam 9 malam baru pulang, ya mau gimana lagi memang begitu kerja di perusahaan real estate,” tutur Cindy lagi-lagi ia berdusta.“Oke, aku akan coba untuk ngertiin kamu. Tapi please, malam min







