LOGIN"Kesucian dan hidupku seutuhnya sudah jadi milik Om Arga. Mulai detik ini, Om harus tanggung jawab!" Arga Mahendra, pria berusia 39 tahun, hidup tenang sebagai penjaga Kos Melati. Namun, malam itu ia terpaksa melakukan 'penyatuan tubuh' demi menyelamatkan salah satu mahasiswi kosnya dari jebakan racun mematikan. Siapa sangka, insiden panas tersebut justru membuka segel pusaka Cincin Naga Tidur di jarinya. Tubuh tua Arga mendadak kembali muda, berotot kekar, dan memancarkan energi yang luar biasa. Akibatnya, enam gadis cantik penghuni kos—mulai dari mahasiswi manja, janda elegan, hingga bankir galak—kini saling sikut dan berlomba menggodanya setiap hari.
View MoreArga Mahendra hanyalah pria paruh baya berusia tiga puluh sembilan tahun yang bekerja sebagai penjaga Kos Melati. Pekerjaannya sangat sederhana, gajinya pas-pasan, dan hidupnya berjalan lurus-lurus saja tanpa banyak drama.
Bangunan dua lantai yang dia urus ini lumayan besar karena memiliki sepuluh kamar, dengan enam kamar di antaranya terisi penuh oleh para gadis berlatar belakang unik. Ada mahasiswi manja, karyawan bank yang galak, guru TK, sampai janda pemilik butik yang super dewasa. "Udah jam segini, mending aku beres-beres lalu kunci gerbang depan deh. Biar anak-anak kos pada aman dan nggak ada cowok iseng yang nyelonong masuk," gumam Arga pada dirinya sendiri sambil membuang sisa sampah ke tong plastik. Sebagai satu-satunya pria di tempat ini, Arga selalu berusaha menjaga sikap dan wibawanya di depan penghuni lain. Dia tidak pernah bertingkah macam-macam atau mencuri pandang, apalagi sampai menggoda para gadis tersebut. Namun, rutinitas damai bapak kos itu mendadak ambyar malam ini. Sewaktu asyik menyapu halaman dan bersiap mengunci gerbang, pergerakan Arga mendadak terhenti total. Telinganya menangkap decitan ban dari arah jalan raya. Lalu, dia melihat Nadine turun dari sebuah taksi kuning dengan napas yang memburu sangat kencang. Mahasiswi kebidanan itu berjalan sempoyongan melewati pagar besi. Langkah kakinya terseret-seret, membuat Arga refleks melempar sapu lidinya ke tanah berumput. "Eh, Din! Kamu kenapa jalan miring-miring begitu? Habis salah makan atau gimana di luar sana?" tegur Arga sambil berjalan cepat menghampiri gadis itu. Nadine langsung menubruk lengan Arga. Mahasiswi kebidanan itu merengek meminta tolong gara-gara kunci kamarnya macet total sejak kemarin sore. "Tolongin aku, Om Arga. Kuncinya keras banget, kamarku nggak bisa dibuka dari tadi! Kepalaku pusing banget rasanya," keluh Nadine dengan suara parau yang terdengar sangat memelas. Arga mengerutkan dahi keheranan. Suhu badan Nadine yang menempel di lengannya terasa sangat panas, jauh di atas batas normal orang sakit demam. Cincin akik warisan kakek di jari Arga tiba-tiba berdenyut hangat mendeteksi adanya bahaya. Benda usang yang selama ini cuma jadi pajangan jari itu seakan memberi peringatan keras. "Ya udah, sini Om bantuin puter kuncinya. Kamu duduk aja dulu di kursi teras, jangan gelendotan begini nanti malah jatuh berdua," ucap Arga seraya menuntun gadis itu menuju kamar nomor tiga di ujung lorong lantai bawah. Apesnya, rentetan kejadian selanjutnya benar-benar di luar nalar. Baru saja pintu kayu itu berhasil terbuka celahnya, Nadine langsung menarik kerah baju Arga dengan tenaga luar biasa. Gadis itu mendorong tubuh Arga masuk ke dalam kamar yang masih gelap gulita. Nadine lantas memutar grendel pintu, menguncinya rapat-rapat dari dalam. "Loh, Din! Kok malah dikunci dari dalam sih? Katanya tadi cuma minta benerin pintu doang biar bisa masuk!" seru Arga mulai panik melihat kelakuan beringas penghuni kosnya itu. Nadine sama sekali tidak memedulikan protes sang bapak kos. Akal sehat mahasiswi manja itu rupanya sudah raib akibat jebakan racun kultivasi yang bereaksi ganas di aliran darahnya. Tatapan mata gadis itu tampak kosong, napasnya tersengal parah, dan tubuhnya terus menggeliat gelisah. Dia langsung menabrakkan badannya ke dada Arga secara brutal. 'Buset dah! Ini anak kesurupan setan dari mana tiba-tiba nyerang begini?!' batin Arga menjerit kaget. Arga mencoba menolak serta menahan kedua pergelangan tangan sang penghuni kos yang mulai meraba-raba dadanya. "Sadar, Din! Kamu ini anak baik-baik, jangan bikin Om jantungan begini deh! Tolong lepasin tangannya sekarang, Om mau keluar ke depan cari angin!" Bukannya mendengarkan teguran itu, Nadine malah semakin agresif melawan. Sayangnya, suhu tubuh gadis itu justru semakin memanas bak direbus hidup-hidup dari dalam perut. Gadis tersebut terus meracau tidak karuan sambil melepas pakaiannya sendiri secara paksa di depan wajah Arga. Kancing kemeja tipisnya sampai terlepas jatuh ke lantai keramik. "Panas, Om! Tolongin aku, rasanya badanku kayak, ahh, emmpphh! Aku butuh Om meluk aku, hah, hah, kalau nggak… mmph!" erang Nadine memelas sambil menangis sesenggukan memeluk leher Arga. Mata Arga otomatis melotot lebar. Dia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lemari pakaian, tapi tangannya tetap berusaha menahan pergerakan liar Nadine yang terus mendesak maju. "Astaga, jangan dilepas bajumu, Din! Nanti masuk angin lho. Om ambilkan air es dulu ya di dapur biar suhumu turun agak mendingan!" bujuk Arga dengan intonasi gemetar menahan gugup. Nadine menggeleng kuat tak mau mendengar penolakan. Dia kembali menerjang maju, mengunci pergerakan Arga sampai punggung pria itu menabrak pinggiran kasur hingga keduanya jatuh berguling ke atas ranjang sempit tersebut. Cincin Naga Tidur di jari Arga mendadak menyala terang benderang. Cincin Naga Tidur adalah cincin yang dimiliki Arga semenjak dia kecil. Orang tuanya dulu meninggal karena kebakaran rumah. Karena hal itu, di detik-detil ajalnya, ayah Arga mengatakan kalau Arga harus menyimpan warisan terakhir ayah dan ibunya, yaitu sebuah kotak kuno di bawah lemari. Tak kuat menatap ayah dan ibunya yang sudah terbakar hebat, Arga ingin berteriak, tapi ayahnya, dengan terbata-bata, mengatakan, “ja-jan… jangan, pa-panggil, … i-i-itu, kotak, simpan…” Pada akhirnya, Arga berteriak sangat keras ketika ayahnya sudah tak menghembuskan nafas. Kejadian itu membuat Arga trauma berat. Pun ketika warga serempak menolong, Arga hanya termenung sambil merangkul kotak berselimutkan kain putih semacam sarung. Sampai dewasa pun, Arga tak pernah membuka kotak itu, sampai akhirnya dia bertemu seorang pengemis di bawah jembatan, yang menanyakan perihal warisan kotak dari orang tuanya. Pada waktu itu, Arga berumur 29 tahun, dan dia baru sadar dia menyimpan warisan ayah dan ibunya. Sang pengemis hanya memberitahu kalau di dalam kotak itu, ada sebuah jimat yang diwariskan turun-temurun. Adapun salah satu cara membangkitkannya adalah Arga harus melawan nafsu. Ya, tak salah. Tujuan Arga menjadi Bapak Kos hanya untuk membangkitkan kekuatan cincin itu. Tiap hari dia melihat gadis seksi, entah yang hanya mengenakan handuk, tanktop, pakaian mini, bahkan yang baru bangun tidur dan tidak memakai kacamata sehingga ada tonjolan kecil, Arga sudah melewati itu semua. Namun, setelah kekuatan cincin itu bangkit, dia kembali bertemu sang pengemis dan mengatakan satu hal yang paling tabu yang pernah Arga dengar. Yaitu, kekuatan cincin hanya bisa berfungsi apabila Arga melakukan hubungan dengan wanita lain. Semakin sering dia berhubungan, maka kekuatannya akan semakin meningkat. Sama dengan kasus Nadine yang tiba-tiba menguncinya di dalam, lalu membuka bajunya sendiri. Arga sadar betul, Nadine sedang dibius obat yang membuatnya terangsang seperti ini. 'Gila aja! Kalau aku biarin, anak orang bisa mati konyol malam ini. Terus kalau aku tolong, urusannya pasti bakal panjang dan bikin pusing besok pagi!' batin Arga bimbang setengah mati. Nadine kembali mengerang kesakitan hebat. Darah segar perlahan menetes dari hidung mancung gadis itu, menandakan racunnya sudah mencapai tahap paling kritis dan siap merusak seluruh organ vital. Arga mengusap wajahnya dengan sangat kasar menggunakan sebelah tangan. Pria itu menyingkirkan semua keraguannya, bersiap mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya demi menyelamatkan nyawa orang. "Maafin Om ya, Din. Om janji bakal tanggung jawab penuh kalau besok kamu marah besar. Ini murni demi nyelamatin nyawamu!" bisik Arga sangat tegas. Arga akhirnya terpaksa menyatukan tubuh mereka malam itu demi membuang racun mematikan dari aliran darah Nadine."Brakkkk!" Cermin gaib di tengah kamar mendadak meledak menjadi debu hitam begitu Arga mengepalkan tangannya ke udara. "Sialan! Gak usah sok nakut-nakutin pakai cermin buram, Tua Bangkai!" gertak Arga dingin. "Om Arga! Itu tadi suara apaan sih?! Seram banget!" pekik Nadine panik sambil makin kencang memeluk lengan Arga. "Biasa, cacing tanah purba kurang perhatian," cetus Arga santai. Arga berbalik, merangkul Alya, Vania, Nadine, Siska, dan Amara sekaligus di sekeliling ranjang. "Kalian tenang aja. Cincin Naga Tidur ini udah terikat abadi sama jiwa kalian," tutur Arga lembut. Cincin kuno warisan orang tuanya itu bergetar halus, memancarkan gelombang hangat keemasan yang menyelimuti tubuh kelima wanita tersebut. Mekanisme pusaka itu memang bekerja secara logis dan unik. Melalui keintiman fisik, sentuhan tulus, dan ikatan batin yang rutin Arga
"Gue nggak bakal kasih celah sedikit pun buat mereka!" gertak Arga sambil meremas ponsel di tangannya sampai hancur berkeping-keping."Mas Arga, kamu beneran mau menutup total akses ke Kos Melati?" tanya Alya cemas sambil mengelus perutnya yang semakin membesar."Iya, Alya. Ini satu-satunya cara supaya kalian semua tetap aman," jawab Arga tegas.Arga merangkul pinggang Alya dan memegang tangan Amara lembut.Dia mulai mengaktifkan energi Cincin Naga Tidur yang melingkar di jarinya.Pusaka warisan orang tua Arga itu memancarkan cahaya merah keemasan yang sangat hangat.Mekanisme cincin kuno tersebut selalu bereaksi dahsyat terhadap ikatan batin dan sentuhan fisik dengan para wanita yang mencintainya.Semakin intim dan tulus perasaan cinta di antara mereka, semakin kokoh benteng perlindungan yang bisa diciptakan Arga."Nadine, Siska, Vania... pegang pundak gue sekarang!" perintah Arga."Siap, Om Arga tercinta!" seru Nadine bersemangat sambil langsun
"Brakkkk!" Dentuman dahsyat mengguncang angkasa Jakarta saat tombak petir merah bertabrakan langsung dengan perisai emas Arga. Gelombang kejutnya menjalar hebat ke bawah, meruntuhkan kaca-kaca gedung pencakar langit di kawasan bisnis hingga hancur berhamburan. 'Sialan, orang tua ini benar-benar mau meratakan seluruh kota!' batin Arga meringis menahan hantaman energi yang kelewat gila. Tangan Arga terasa kebas, gelombang petir hitam menyengat hingga ke dalam pembuluh darahnya. "Hahaha! Rasakan itu, Bocah Mentah!" gelak Dewa Langit tertawa puas di balik kepulan asap. "Kau tak akan sanggup menahan kekuatanku lebih lama lagi!" seru Dewa Langit bertambah jemawa. "Deggg...!" Di saat kritis itu, Cincin Naga Tidur di jari Arga kembali membara panas. Sentuhan fisik, kepasrahan, dan rasa cinta mendalam dari Alya, Vania, Nadine, Siska, dan Amara yang tersimpan dalam cincin kuno itu mendadak terserap sepen
"Deggg...!" Jantung Arga berdegup kencang saat melesat menembus ketebalan awan hitam yang pekat. Aura membunuh dari Dewa Langit mengejar tepat di belakang punggungnya, terasa menusuk kulit seperti ribuan jarum es. 'Sialan, orang tua ini kecepatannya gak ngotot banget!' batin Arga panik sambil melirik ke bawah. Dari ketinggian ribuan kaki, terlihat gedung-gedung pencakar langit Jakarta bergetar akibat guncangan energi yang terpancar dari pesawat jet mewah musuh. "Brakkkk!" Kilatan petir hitam raksasa menyambar tepat di samping Arga, membelah awan pekat menjadi dua bagian. "Mau lari sampai mana kau, Bocah Mentah?!" teriak Dewa Langit menggema di antara gemuruh badai. Dewa Langit terbang melayang tanpa alat bantu, memegang sebilah pedang bermata dua yang diselimuti kobaran api kehitaman. Di belakangnya, belasan pengawal berseragam tempur serba hitam ikut melayang dengan papan energi canggih.
'Gila, wangi mi rebus pakai rawit begini emang paling juara! Perutku udah demo minta jatah karbohidrat dari sore tadi gara-gara ngeluarin banyak tenaga,' batin Arga tersenyum puas menatap air rebusannya.Sambil menunggu kuah mendidih sempurna, pria paruh baya itu memasukkan sebutir telur ayam segar
"Om Arga! Matanya ditaruh di mana sih waktu beres-beres tadi pagi? Lihat itu genangan air sabun dibiarkan menggenang sembarangan di jalanan!" omel Siska dengan nada tinggi melengking.Arga refleks membalikkan badannya sambil memegang erat gagang sapu lidi. Bapak kos itu menghela napas sangat panjan
Amara tersenyum sangat manis, membiarkan raut wajah Nadine mendadak berubah masam melihat kedatangannya di tengah halaman.Sebenarnya, Amara bukan tandingan Nadine yang masih gadis dan sangat cantik.Meski begitu, pesona Amara sebagai janda cantik berusia tiga puluh dua tahun itu, tetap menggoda.D
Nadine yang berbaring di bawah kungkungannya justru mulai menggeliat tidak karuan. Mahasiswi cantik itu membuka bibirnya perlahan, bersiap mengeluarkan desahan panjang akibat sisa-sisa efek racun yang masih mendidihkan aliran darahnya.Melihat gelagat super berbahaya itu, Arga buru-buru membekap mu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews