LOGINTiba-tiba terlintas di pikiran Pak Syamsul untuk menjodohkan aku dengan Intan putri semata wayangnya, dengan begitu tentu saja pikir Pak Syamsul aku akan pulang ke desa dan terhindar dari kebiasaan buruk ku di kota, ditambah lagi Pak Syamsul berfikir aku sosok pria yang suka bekerja keras, meskipun tidak bekerja di perusahaan besar ia bisa saja meminta ku mengelola semua perkebunan kelapa sawit miliknya yang ratusan hektar luasnya.“Aku punya solusi dari permasalahan yang terjadi pada Ryan itu, Mas. Bagaimana kalau kita jodohkan saja Ryan dengan Intan?” tanya Pak Syamsul, kembali Ayah terlihat kaget oleh ucapan berupa pertanyaan dari sahabatnya itu.“Apa? Kamu ingin menjodohkan Ryan dengan Intan? Kamu bercanda ya, Syam?!” ujar Ayah tak percaya akan yang ucapkan sahabatnya itu.“Aku nggak lagi bercanda, tapi aku serius mengusulkan itu Mas. Di segi usia mereka udah layak bekerluarga, dan dengan begitu di samping Ryan akan meninggalkan kota itu dan tinggal di desa ini, hubungan kekeluarg
Sementara aku karena terlalu banyak wanita-wanita yang selama ini bukan hanya sekedar dekat tapi telah terlalu jauh dalam berhubungan, hingga aku juga sulit membedakan dan mencari wanita mana yang terbaik dan cocok untuk dijadikan pendamping hidup ku kelak, sementara sosok wanita yang pernah hadir di hati ku seperti Dola dan Rini keduanya sudah tak mungkin lagi untuk aku jadikan istri.Jika Dola kini telah bahagia bersama Bram, sementara Rini juga kabar terakhir yang aku ketahui telah menemui seorang pria yang bakal menikahinya tak lama lagi. Hal itu pula lah yang membuat ku semakin jauh untuk memikirkan soal pendamping hidup kelak, yang ada sekarang aku terus saja menjalani hari-hari dalam pergaulan bebas yang tak tentu ujungnya.****Sore minggu itu entah kenapa Om Ramlan dan keluarga yang saat itu tengah menikmati menu-menu special sebuah restoran mewah di Kota P, memergoki ku dengan Clara yang juga ada di dalam restoran mewah itu. Tentu saja Om Ramlan curiga melihat sikap kami yan
Apa yang disarankan Ayahnya memang Intan lakukan, setelah mandi ia rebahkan diri di kamarnya, meskipun tidak dengan memejamkan mata namun dengan rebahan beberapa menit tubuhnya akan terasa fres kembali. Intan ke luar dari kamarnya saat terdengar azan magrib yang dikumandangkan dari sebuah masjid tak jauh dari rumah keduanya itu, Intan pun mengikuti kedua orang tuanya itu melangkah ke masjid guna melaksanakan sholat magrib berjama’ah.Hal itu selalu rutin ia lakukan setiap kali ia berada di rumah kedua orang tuanya itu, bahkan sepulang dari masjid melaksakan sholat magrib sebelum makan malam Intan menyempatkan diri dulu untuk mengaji beberapa buah ayat Al-qur’an. Mengaji juga hal yang sudah menjadi kebiasaan gadis cantik berlesung pipi itu, baik sewaktu ia di desa maupun pada saat kuliah dan tinggal bersama Bibinya di Ibu Kota.Sepulang dari masjid Pak Syamsul beserta keluarga makan malam bersama, hal itu tentu saja terasa berbeda suasananya dibandingkan malam-malam yang lalu, karena b
Karena hari sudah semakin sore, kami pun sama-sama ingin pulang ke kediaman kami masing-masing, terlihat kami saling bersalaman saat tiba di depan mall menuju tempat parkir kendaraan, Rido yang saat itu diajak salaman oleh ku nampak murungkan wajahnya, seolah-olah bocah laki-laki itu tidak ingin berpisah dan masih ingin bermain-main dengan ku.Untuk menenangkan hatinya, aku pun sempat kembali menggendongnya dengan bujukan suatu saat akan menemuinya lagi, akhirnya Rido dapat dibawa Dola dengan wajah yang kembali ceria ke tempat Guru cantik itu memarkirkan mobilnya. Kami pun berpisah di halaman mall itu, Dola kembali ke rumahnya sementara aku diantar Eva kembali ke kos-kosan.Hanya Bi Lastri yang tahu jika nama putra Dola itu di ambil dari nama ku dan Nyonya nya itu sendiri, hanya saja Dola tak mungkin juga menulis nama putranya dengan Rydo yang berarti Ryan dan Dola, meskipun huruf Y diganti dengan I namun makna nama Rido itu jelas-jelas Dola tunjukan pada ku dan dirinya sendiri, hal i
Tak disangka saat Eva dan aku ke luar dari salah satu ruangan di dalam mall, kami berpapasan dengan Dola yang tengah membimbing bocah laki-laki berusaha 3 tahun, tentu saja momen itu membuat kami kaget sekaligus gembira karena sudah lama sekali kami tak pernah bertemu satu dengan yang lainnya.Eva dan aku mengajak Dola serta Bi Lastri yang saat itu menemaninya ke sebuah ruangan tempat minum-minum dan bersantai di dalam mall itu, dan di sanalah kami terlibat obrolan.“Dola, ini putramu?” tanya Eva mengawali obrolan.“Iya Eva, namanya Rido.” jawab Eva.“Wah, tampan sekali! Udah berapa usia Rido sekarang?” tanya Eva lagi.“Udah masuk 3 tahun.” jawab Dola.Aku yang duduk di sebelah kiri Dola ulurkan tangan pada Rido, bocah laki-laki itu terlihat senang saat aku mengoyang-goyang kaki bocah itu dengan tangan ku. Bahkan kedua tangan bocah itu sempat ia rentangkan agar aku menggendongnya, melihat hal itu tentu saja aku langsung merespon sambil meminta ijin pada Dola untuk menggendong Rido. Do
Sekitar lebih kurang 15 menit kemudian sampai lah kami di tempat parkiran sebuah kantor perusahaan yang terbesar di Kota P itu, Eva dan aku pun segera menuju dan masuk ke dalam kantor setelah dipersilahkan oleh security di sana, bahkan salah seorang security di kantor itu mengantar kami hingga depan pintu ruangan pimpinan perusahaan.Pintu ruangan Direktur perusahaan itu pun diketuk oleh Eva, seorang wanita tak kalah cantik dan tak jauh beda usianya dengan Eva membukakan pintu.“Jeng Eva..! Ryan...! Mari silahkan masuk!” seru wanita cantik itu yang tidak lain adalah Clara begitu gembiranya menyambut kami.“Makasih jeng.” ucap Eva lalu ia dan aku pun masuk ke dalam ruangan direktur perusahaan itu.Sebelum kami duduk Clara terlihat menelpon seseorang, sekitar 5 menitan duduk di ruangan itu seseorang yang tadi ditelpon Clara pun datang ke sana sambil membawa beberapa gelas minuman segar, setelah minuman-minuman itu diletakan di meja di hadapan kami, pelayan kantor itu pun segera meningga
“Aku udah nggak tinggal di sana lagi, Aldo.” jawab Cindy.“Kok bisa begitu? Kamu pindah ke mana?” Cindy tak segera menjawab ia mencoba menarik napas yang seketika terasa berat, ia tak tahu harus memulai dari mana, tiba-tiba saja ia dilanda keraguan.“Loh, kok kamu diam saja Cindy? Kamu nggak mau ya
“Lele goreng Ibu benar-benar lezat! Sudah lama aku nggak pernah menikmati makanan selezat yang Ibu masak ini,” puji ku, membuat Ibu tersanjung.“Memangnya di kota nggak pernah kamu temui ikan lele yang dimasak seperti yang Ibumu masak, Ryan?” tanya Ayah.“Ada sih lele goreng, tapi lele nya bukan le
“Berangkat jam berapa tadi, Nak?” tanya Ibu yang tak dapat menyembunyikan rasa kangen pada ku putra sulungnya.“Dari terminal bus jam 8 pagi, Bu.” jawab ku yang telah duduk di ruang depan bersama kedua orang tua dan adik-adik ku.“Oh ya Bu, Ayah! Aku berhasil meraih rangking 1 di kelas dan naik ke
“Hemmm... Aku nggak pernah ingin berkata yang nggak sejalan dengan hatiku, Tante. Apa yang aku lihat dan nilai, akan aku katakan apa adanya.” Dola menatap lekat ke wajah ku seolah-olah mencari kebenaran atas semua yang aku ucapkan, Dola kemudian tersenyum dan merasa yakin kalau aku benar-benar berk







