LOGINSinopsis "PESONA LELAKI PLUS-PLUS” Macho, mahasiswa yang kerja paruh waktu di kafe, hidup pas-pasan. Gajinya kecil, bikin dia diremehkan teman dan dijauhi cewek. Suatu malam pulang kerja, dia ketemu Bianca, wanita misterius berpakaian glamor yang terlihat kesepian. Karena kasihan sekaligus lapar, Macho menerima tawarannya: menemani Bianca di hotel dengan bayaran. Dari situ hidupnya berubah. Awalnya polos dan gugup, Macho lama-lama sadar "menemani" yang dimaksud Bianca bukan sekadar ngobrol. Alih-alih menolak, dia justru masuk ke dunia baru. Bianca lalu merekrut Macho jadi "lelaki plus-plus" untuk melayani teman-temannya yang kesepian dan kaya. Dengan wajah tampan hasil makeover di salon, Macho jadi primadona. Uang mengalir, dia pindah ke apartemen mewah, dan bahkan merekrut teman-teman cowok lain. Di sisi lain, Macho tetap pacaran dengan Citra, gadis kampus yang tulus dan gak tahu apa-apa soal pekerjaan gelapnya. Dia jaga Citra sebaik mungkin. Tapi dunia ini penuh resiko: ada istri orang, ada guru, bahkan ada mafia yang mengincar. Macho harus pakai kecerdikan biar tetap aman, sambil mencari tahu asal-usulnya yang misterius. Dari anak miskin, jadi pria yang diperhitungkan... dengan harga yang harus dia bayar.
View MoreJam 05.20 mereka keluar dari kontrakan Depok. Gerbang besi di geser pelan. Bunyinya ngiiik. Franz duduk di balik setir. Ia memutar kunci. Mesin Avanza brebet dua kali. "Gimana," tanya Macho."Bismillah," jawab Franz.Mobil keluar. Jalanan masih sepi. Hanya ada tukang sayur dorong gerobak.Macho memegang kertas di pangkuan. Jalan Sunggal Nomor 30. Ia lipat, buka, lipat lagi."Deg-degan," kata Macho."Normal," kata Franz. "Saya juga."Jam 05.40 masuk Tol Jagorawi. Kosong. Enak. Franz nyalakan radio. Suara azan subuh dari masjid pinggir tol.Jam 06.15 masuk JORR. Langsung rem. Di depan, lampu merah semua. Spanduk digital tulisannya: KECELAKAAN KM 18. LAJUR KANAN DITUTUP."Mundur apa maju," tanya Franz."Maju," kata Macho. "Kalau mundur kita muter jauh."Mobil merayap. 20 km/jam. Bau knalpot masuk. Macho buka kaca sedikit. Di sebelah ada motor. Bapak-bapak bonceng anak. Anaknya tidur, kepalanya goyang-goyang."Kasian," kata Macho."Iya," jawab Franz.Jam 06.45. Baru sampai Cikunir
Arman baru masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup. Mesin dinyalakan."Pak Arman," Rani berlari kecil.Tapi mobil sudah melaju. Belok di pertigaan. Hilang.Rani berhenti di tengah jalan. Napasnya memburu. "Sialan."Di tempat lain. Di Depok. Rumah kontrakan petak ukuran tiga kali empat meter.Di dalam truk Franz bersandar ke jok. "Enam bulan itu lama ya Cho.""Lama," jawab Macho. "Tapi ternyata satu bukti bisa menghapus semua kepercayaan."Truk berhenti di depan rumah kontrakan. Bukan rumah petak. Rumah kontrakan 2 kamar di Depok. Catnya masih bagus. Ada carport kecil.Mereka tidak turun dari truk. Macho buka HP. Transfer ke rekening tukang truk. "Makasih Pak."Franz buka pintu. "Angkut sendiri atau panggil orang?""Panggil orang," kata Macho. "Kita bayar."Sepuluh menit kemudian dua orang kuli datang. Membawa kasur, lemari kecil, kipas angin, dan 2 kardus pakaian. Semua barang masih bagus. Tidak ada yang dibuang.Mereka bukan orang susah. Rekening masih ada. Mobil Avanza hitam mereka par
Hujan turun sejak subuh. Bukan hujan yang membersihkan jalanan. Hujan yang membuat tanah menjadi lumpur dan membuat orang malas keluar rumah.Macho membuka rolling door bengkel pukul tujuh pagi. Suara besinya berderit panjang. Sudah enam bulan sejak mereka mengambil alih lagi bengkel ini dari orang yang mereka upahkan dulu.Enam bulan lalu bengkel ini hampir mereka tutup. Bukan karena sepi. Justru karena laris. Awal buka dulu memang ada demo kecil. Warga tahu masa lalu mereka. Tahu bahwa Macho dan Franz pernah jadi gigolo. Beberapa ibu sempat protes ke Pak RT. Tapi Macho dan Franz datang ke kantor polisi. Mereka membawa surat keterangan. Surat dari kepolisian yang menyatakan bahwa mereka tidak terlibat tindak kriminal. Bahkan kepolisian menjadikan mereka mitra dalam program pembinaan mantan pekerja. Surat itu ditempel di dinding bengkel. Perlahan warga percaya. Pelanggan datang. Langganan servis motor mulai banyak. Pak RT bahkan pernah mampir untuk ganti oli. Sampai Tante Lisa mun
Setelah ketegangan mereda. Aku menarik nafas panjang. Rencana spontan telah dibuat tentang keberangkatan ke Macau. Sampai aku lupa mengenalkan Chintya kepada semuanya. Saat melihat Chintya, Ine langsung mengerti. Dia tidak bertanya. Dia langsung memeluk. "Kamu Chintya ya?" Chintya mengangguk di pelukan. "Ibu." Kirana dan Gerhana berdiri di belakang. Kirana bertanya, "Ini adik kita?" "Iya," kataku. "Adik kalian." Gerhana maju. "Chintya. Suka gambar ya? Aku juga." Malam. Di meja makan. Enam orang. Aku. Ine. Kirana. Gerhana. Devan. Chintya. Sunyi beberapa saat. Lalu Chintya berkata. "Bapak. Aku boleh tidur sama Kak Kirana?" "Boleh, Nak." Setelah semua tidur. Aku dan Ine di teras. "Bagaimana?" tanya Ine. "Elsa sudah menikah. Dengan pedagang beras. Namanya Leo. Dia benci aku. Dan dia benci Chintya karena Chintya mirip aku." Ine diam. "Kasihan anak itu." "Iya. Makanya aku bawa." "Keputusan benar, Man." Ine menyandarkan kepala. "Sekarang kita lengkap. Lima
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews