LOGINSinopsis "PESONA LELAKI PLUS-PLUS” Macho, mahasiswa yang kerja paruh waktu di kafe, hidup pas-pasan. Gajinya kecil, bikin dia diremehkan teman dan dijauhi cewek. Suatu malam pulang kerja, dia ketemu Bianca, wanita misterius berpakaian glamor yang terlihat kesepian. Karena kasihan sekaligus lapar, Macho menerima tawarannya: menemani Bianca di hotel dengan bayaran. Dari situ hidupnya berubah. Awalnya polos dan gugup, Macho lama-lama sadar "menemani" yang dimaksud Bianca bukan sekadar ngobrol. Alih-alih menolak, dia justru masuk ke dunia baru. Bianca lalu merekrut Macho jadi "lelaki plus-plus" untuk melayani teman-temannya yang kesepian dan kaya. Dengan wajah tampan hasil makeover di salon, Macho jadi primadona. Uang mengalir, dia pindah ke apartemen mewah, dan bahkan merekrut teman-teman cowok lain. Di sisi lain, Macho tetap pacaran dengan Citra, gadis kampus yang tulus dan gak tahu apa-apa soal pekerjaan gelapnya. Dia jaga Citra sebaik mungkin. Tapi dunia ini penuh resiko: ada istri orang, ada guru, bahkan ada mafia yang mengincar. Macho harus pakai kecerdikan biar tetap aman, sambil mencari tahu asal-usulnya yang misterius. Dari anak miskin, jadi pria yang diperhitungkan... dengan harga yang harus dia bayar.
View MoreJam 11 malam. Aku masih ngelap meja nomor 7 di Kafe Senja. Udah 3 kali muter di tempat yang sama. Pikiran entah kemana.
"Macho, tip malam ini 32 ribu," kata Mbak Dita sambil menaruh receh di tanganku. Aku angguk. 32 ribu. 8 jam kerja. Cukup buat beli bensin 2 liter. Di pojokan, ada 4 ibu-ibu kantor masih nongkrong. Salah satunya bisik-bisik sambil ngelirik aku. "Itu loh kasirnya. Anak kuliahan kali ya. Kasihan." "UMR juga kali. Pantas bajunya gitu-gitu aja." Aku senyum. Pura-pura bodo amat. Buang sampah ke belakang. Di toilet aku ngitung lagi. Gaji 1,3. Kost 600. Bensin 300. Sisa 400 buat 30 hari. 400 bagi 30. 13 ribu sehari. Monologku: Dua bulan lalu ayah ibu tabrakan. Sekarang aku sendirian. Ngekos. Kuliah semester 1. Semua biaya numpuk. TV sama kulkas udah kejual. Tinggal kasur sama kipas. Harus kuat. Gak mau jadi beban siapa-siapa. Keluar kafe aku jalan kaki. Motor mogok 3 hari. Dompet tipis. Aku berjalan dengan gontai walau pikiranku berkecamuk kayak nyamuk banyak berdengung di kepalaku. Trotoar sepi. Cuma ada Pak Udin jualan cilok mau tutup. Terus aku lihat dia. Tante-tante. Dress merah darah. Belahan dada dalam. Heels tinggi. Rambut klimis. Duduk di kursi plastik sambil main HP dan ngerokok. Aku tertegun sejenak. Wanita, tengah malam dan gayanya yang seperti bukan wanita yang “benar.” Cantiknya kelewatan. Auranya mahal. Bukan level aku. Dan aneh rasanya, jam segini masih berkeliaran. Apa nggak ada anak atau suami?, pikirku sambil tetap menengoknya. Dia lihat aku. Mata kita ketemu. Deg. Cepat-cepat aku menundukkan kepala takut dengan pikiranku sendiri yang berburuk sangka padanya. Pesan cilok aja. "Pak, 10 ribu." Pak Udin racik. Wangi bawang gorengnya bikin perut keroncongan. 3 hari ini aku makan nasi kecap. "Sepuluh ribu ya Mas," kata Pak Udin. Tanganku masuk kantong. Ada 20 ribu. Uang terakhir. Tiba-tiba lidahku kelu. "Eh... jadi gak jadi Pak. Maaf." "Apaan Mas! Udah aku racik ini!" Orang di seberang pada nengok. Aku melirik di sekitarku. Malu. Pengen nyungsep rasanya. Wajahku memerah. Dan dia datang, tepat disebelahku. "Nih Pak, saya bayarin," tiba-tiba ada suara dari samping. Tante itu. Udah berdiri di sebelahku. Ngeluarin 20 ribu dari dompet kecilnya. "Kembalian gak usah." Pak Udin diem. Ambil uangnya. Tante itu nengok ke aku. "Kenapa? Lagi bokek?" Aku melirik ke wajahnya. Bahkan sangat cantik dilihat dari dekat. Aroma parfum mahal nan lembut menyapa penciumanku. Aku geleng cepat. "Enggak Tante. Lagi diet." Dia ketawa kecil. "Diet cilok? Baru denger aku." Tanpa permisi, dia ambil 1 tusuk cilok dari bungkusan di tanganku. Nyicip. "Enak juga." Aku hanya terpelongo dengan aksinya. Seakan tak percaya apa yang barusan terjadi. Hening. Terus dia ngomong pelan. "Kamu temenin Tante yuk." Aku kaget. Aku memandangnya Lekat-lekat. Tengah malam, wanita cantik yang mengajak untuk menemani nya, aneh. Lalu aku cuma ngomong karena terkejut, "Hah? Temenin kemana Tante?" "Aku kesepian. Bayarnya ya cilok tadi. Gimana?.” Antara terkejut dan penasaran. Entah apa maksud tante ini sebenarnya. Tapi…baiklah, aku coba meladeni kemauan Tante ini. "Tapi ngobrolnya dimana Tante? Warung kopi?" Dia tersenyum dengan kepolosanku. Tante itu melirik dari atas sampai bawah. Seakan-akan berkata bahwa begitu polosnya aku berkata demikian. "Warung kopi sudah tutup, Sayang. Ke hotel aja. Lebih tenang. Gak ada yang ganggu." “Ke hotel??, berdua??... Ah.. Nggak mau… makasih Tan, aku pulang.” Aku melangkah cepat ingin meninggalkannya. Tapi dia kemudian memanggilku. “Tunggu!!.” Aku berhenti sejenak. Langkah kaki menyusul setengah berlari dengan kakinya yang jenjang. Hembusan angin yang menerpa gaunnya, menyibakkan betisnya yang halus dan mulus. Dan aku, melihat itu semua. Apalagi saat berlarian, gaun model “V” rendah membuat gundukan di balik blouse nya ikut berguncang. Aku menelan ludah. “Dengar, Aku ngajak kamu nemani karena Aku butuh teman ngobrol. Aku lagi kesepian. Dan biar relax aku pengen kita ngobrol di hotel. Clear?.” Aku menatap kembali wajahnya. Wajah kesepian. Di Balik bola mata nya tersimpan duka dan masalah. Dia kayaknya jujur dan tak ada salahnya aku menemani nya. Begitulah batin dan pikiranku saling membenarkan ucapan si tante itu. “Tante nggak macem-macem kan.?” “Suer la kewer-kewer. Aku nggak macem-macem sama kamu, cukup satu macam aja.” Sejenak aku ragu. Tapi rasa penasaran membuatku ikut melangkah ke seberang jalan, menuju Civic merah yang terparkir, tempat dimana pandangan mata kami beradu tadi. “Yuk, masuk.” Aku manut kayak kerbau cucuk hidung. Aroma parfum mobil yang menyegarkan, membuat aku mencicipi sejenak kesegaran di dalamnya. “Depan aja, biar enak ngobrolnya.” Aku kembali menutup pintu belakang dan beralih disampingnya. Tentunya aku gugup, apalagi gaun lengan terbuka dan aroma tubuhnya yang menggoda membuat aku kikuk. Untuk menormalkan suasana, kuberanikan diri bertanya. “Tante dari mana dan mau kemana?.” Dia menoleh sesaat, lalu kembali fokus melihat depan. “Aku lagi sumpek nih. Bosen nggak ada kesibukan. Suami juga lagi dinas. Makanya cari suasana agar nggak sumpek.” "Sibuk banget ya suami Tante?" tanyaku iseng. Dia nengok. Tatapannya kosong. "Sibuk. Katanya keluar kota terus. Rapat. Bisnis." "Terus Tante di rumah sendirian?" "Iya." Dia ketawa getir. "Rumah gede. Dingin. Sepi." Aku diem. Mulai ngerti. Ini bukan soal ngobrol. Sampai Hotel Bintang lima. Dia memarkirkan mobil di parkiran hotel. Lalu bersama keluar menuju meja resepsionis. Mas resepsionis melirik dari atas sampai bawah. "203. 1 bed," kata Tante Bianca. "Lho Bu, 1 bed?" "Iya. Dia keponakan saya." Dia langsung ngerangkul aku. Aku kaku kayak patung. Hanya tertegun dengan pengakuan tante tadi dan sikapnya yang santai merangkul aku. Aneh Kamar dingin. Sprei putih bersih. Bau pewangi. Tante Bianca langsung lepas heels. Duduk di ranjang. Aku duduk di kursi pojokan. "Kenalan dulu. Aku Bianca. Panggil Tante Bian aja." Aku salim. M. Choki Tante. Panggil Macho." "Nama bagus. Macho. Cocok sama badannya," katanya sambil ngelirik dari atas ke bawah. Aku nunduk. Salah tingkah. "Jadi Tante kesepian kenapa?" tanyaku memberanikan diri. Sesaat dia menoleh aku dan memandang erat-erat. Lalu tertawa kecil. Bukan tertawa lucu, lebih mirip tertawa atas penderitaannya. Aku bisa membedakan antara tertawa senang dan lucu atau tertawa menutupi getir dan gelisahnya perasaan si tante. Dia tiduran, menatap langit-langit. "Suami Tante sibuk. Seminggu pulang sekali. Katanya kerja. Tapi Tante tau... dia pasti ada perempuan lain." Suaranya datar. Tapi ada perih di situ. "Terus ngajak aku kesini..." "Kamu beda, Macho. Dari mata kamu kelihatan capek. Capek jadi orang susah, ya? Tante juga capek. Capek tidur sendirian di ranjang dingin." Aku diem. Karena bener. "Iya Tante. Capek. Capek ditolak karena gak punya apa-apa. Capek kerja 8 jam cuma dapat 32 ribu." Tante Bianca duduk di sebelahku. Wangi parfumnya nusuk. "Mau minum? Biar rileks." Aku mencium aroma alkohol dan minuman berkelas. Aku menolak. "Gak Tante. Aku gak bisa minum." HP dia bunyi. Nama: SUAMI. Dia liat. Terus reject. Buang HP ke meja. "Lihat? Gak pernah nanya udah makan. Taunya transfer doang," bisiknya. Terus dia deketin wajahnya. Jarak sejengkal. "Gimana kalau Tante bayar kamu 500 ribu? Temenin Tante semalaman. Ngobrol aja. Ngangenin." 500 ribu. Bisa buat bayar kos 1 bulan. Tanganku gemetar. "Gak Tante. Aku pulang aja." Aku berdiri ke arah pintu. "Macho," dia manggil. Aku berhenti. "Kalau kamu keluar sekarang, besok kamu tetap susah. Lusa juga. Tapi kalau kamu tetap di sini... Tante bisa bantu kamu. Beneran. Tante butuh ditemenin." Pintu udah kebuka dikit. Angin masuk. Dari belakang dia berbisik di kupingku. Nafasnya hangat. "Pilih, Macho. Jadi anak baik yang miskin... atau jadi anak pintar yang dibayar buat ngusir dingin di ranjang Tante?" Aku nengok. Jarak kami mepet banget. Mata dia merah. Bukan karena nangis. Karena nahan. "Tante... maksudnya apa?" tanyaku pelan. Dia senyum. Cantik. Tapi rapuh. "Kamu tau, Macho. Kamu cuma pura-pura gak tau aja." Aku tercekat. Antara tawaran yang menggiurkan dan kenyataan hidup yang menggetirkan. Aku yatim. Gak ada yang nolongin. Kalau nolak, besok makan apa. Kalau iya, aku jadi apa. Pelakor? Penghibur? Tuhan... ini ujian apa jebakan sih? HP Tante Bianca getar lagi di meja. Nama yang sama. SUAMI. Dia gak angkat. Matanya tetap ke aku. "Jadi gimana? Pintu... atau Tante?" Handle pintu dingin di tangan kananku. Di belakangku, Tante Bianca panas. Dan kesepian. ---PENUTUPHARI BAHAGIALangit Cianjur pagi itu tidak cerah. Mendung tipis. Tapi di papan tulis warung Ine, tulisan kapur kemarin masih ada:TUTUP. PENGANTIN BULAN MADU DI BENGKEL BARU.Warung memang tutup. Bukan karena malas. Karena penghuninya sedang pindahan.Macho dan Devi, Franz dan Kirana, pagi itu tidak bulan madu ke Bali. Mereka boncengan, dua motor bebek butut, membawa karung berisi baju, membawa rantang nasi liwet sisa semalam, dan membawa map coklat berisi empat sertifikat dari Arman, menuju Bekasi.Bekasi menyambut mereka bukan dengan karpet merah. Dengan debu, dengan klakson, dengan bau oli yang mereka rindukan.Ruko yang dimaksud Vania ada di pinggir jalan raya Narogong. Catnya pudar. Pintunya masih digembok. Di atasnya ada spanduk lama: DIKONTRAKKAN.Macho membuka gembok itu dengan kunci dari kado Vania. Kunci itu berderit.Di dalam, kosong. Lantai semen, dinding jamuran, bekas oli hitam di mana-mana. Inilah bengkel mereka yang dulu. Yang dulu mereka bangun dengan uang has
BAB 92HARI BAHAGIASaat nasi liwet dibuka, saat semua mau makan, datang lagi satu mobil.Kali ini bukan Alphard. Porsche putih penyok.Vania.Vania, keponakan Arman, yang dulu melempar uang 30 juta ke warung.Vania turun, memakai dress putih, bukan baju ketat. Ia tidak bawa uang. Ia bawa kado. Dua kado besar dibungkus kertas kado murah.Semua tegang lagi. Devi dan Kirana yang baru sah, langsung pegangan tangan.Vania berjalan pelan ke pelaminan."Macho, Franz, selamat ya," kata Vania, suaranya pelan, tidak ada sombongnya lagi.Macho menatap Vania. Dulu Vania melempar uang. Sekarang Vania bawa kado."Vania, kamu untuk apa ke sini?" tanya Macho, masih waspada.Vania menyodorkan kado."Ini, dari tabungan aku. Bukan 30 juta. Cuma 5 juta isinya. Tapi ini bukan untuk beli kalian. Ini untuk buka bengkel baru. Bengkel yang kemarin tutup karena aib, sekarang buka lagi. Namanya Bengkel Barokah. Aku sudah sewa ruko di Bekasi, dekat kontrakan lama kalian. Surat sewanya ada di dalam kado."Semua
BAB 91PERNIKAHANPagi akad, jam 06.00.Warung Ine disulap. Bukan disulap jadi gedung. Tetap warung bambu. Tapi Ine, Rani, Sarah, dan ibu-ibu pengajian memasang kain putih di atas bale. Menata tikar baru. Memasang janur kuning dari daun kelapa asli, bukan plastik.Dua pelaminan kecil dibuat dari bambu. Tulisannya: Macho & Devi dan Franz & Kirana. Double quartet. Dua pasang yang nasibnya sama.Macho memakai baju koko putih, bukan jas. Di sakunya, ia sengaja selipkan lap majun bekas bengkelnya yang sudah dicuci. Franz memakai batik coklat, sama seperti Macho, tapi ia pakai peci hitam yang agak miring karena gugup.Devi dan Kirana di dalam warung, dirias oleh Teh Siti. Bukan make up tebal. Hanya bedak, lipstik tipis, dan kerudung putih. Cantiknya bukan cantik panggung. Cantiknya nancep karena deg-degan.Jam 07.30, tamu datang. Bukan tamu pejabat. Tamu warung. Mang Ujang bawa cilok gratis. Pak RT bawa sound kecil. Anak-anak kecil duduk di pematang sawah, menunggu nasi liwet.Pak Rohman da
UJIAN DARI CALON MERTUAIbu Rohman menutup mulut.Devi melanjutkan, air matanya jatuh ke bambu."Pak, dari kecil Bapak ajari Devi, jangan lihat orang dari masa lalunya, lihat dari sekarangnya dia sholat atau tidak. Macho sekarang sholat, Pak. Di warung ini, dia yang bangun paling pagi, ambil wudhu pakai air dingin, sholat subuh di pojok warung itu. Devi lihat sendiri.""Devi, kamu dibutakan cinta," potong Pak Rohman."Bukan, Pak. Devi yang dulu dibutakan malu. Devi malu punya pacar montir. Tapi waktu bengkel Macho dilempar uang 30 juta sama Vania, waktu warga usir dia, dia tidak lari. Dia berdiri di depan warga dan bilang, iya saya gigolo. Itu jujur, Pak. Laki-laki mana di Cianjur yang berani jujur aibnya di depan umum?"Warung itu bergetar.Franz yang duduk di pojok, memeluk Kirana yang juga menangis. Karena Kirana tahu, setelah ini giliran dia dan Franz.Arman akhirnya bicara. Pelan."Pak Rohman, saya Arman. Saya bukan ustadz. Saya mantan pejabat PUPR yang dipecat tidak hormat. Saya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews