เข้าสู่ระบบChael tak pernah menyangka, sebuah tragedi mengubah hidupnya. Dulu, ia dihina dan dikucilnya, kini disanjung dan dihormati. Berkat dukungan 4 kakaknya yang cantik, pintar, dan berkuasa, hidupnya benar-benar sempurna. Chael adalah pewaris keluarga Vander, anak ke-5 yang begitu dicintai 4 kakaknya. Claire, Celine, Caroline dan Claudia, keempatnya bersumpah menjaga adik lelaki mereka dengan sepenuh hati. Suatu hari saat ia memilih menjelma menjadi pria biasa di kampus, ada seseorang yang mengaku sebagai dirinya, pewaris keluarga Vander. Chael hanya tersenyum dan menyusun strategi membuat pria tak tahu diri itu hingga merasa ingin mati.
ดูเพิ่มเติม“Kak Martin, tolong pinjami aku 10 juta! Aku mohon! Ini demi Ibu kita, Kak.”
Clael bersujud, memohon kebaikan hati kakak angkatnya, Martin WIlder. Sudah satu tahun, Martin mengabaikannya. Semenjak kakak angkatnya menikah dengan Maya Ellis, putri Kepala Desa Munggala.
Dulu saat masih kecil, Chael mengalah demi Martin. Sadar, dia hanya anak angkat di keluarga Wilder. Chael, memilih ikut bekerja membantu Bu Lily—ibu angkatnya. Sepulang sekolah, Chael akan pergi ke ladang, lalu upahnya digunakan untuk kebutuhan keluarga dan membayar biaya les Martin.
Hingga akhirnya Martin bisa berkuliah di kota. Chael dan Bu Lily sangat bangga. Keduanya bahkan bersemangat mencari tambahan untuk biaya hidup dan kuliahnya Martin.
Akan tetapi, setelah Martin menjadi orang kota, dia melupakan Chael dan Bu Lily. Martin bahkan merasa malu mengakui keduanya sebagai keluarga. Bahkan keduanya saja baru tahu jika Martin pulang untuk menikahi Maya.
“Aku sukses di kota karena usahaku sendiri,” ucap Martin penuh percaya diri.
Orang-orang desa bahkan percaya dengan ucapannya. “Untung saja Martin nekat pergi ke kota. Jika tetap di desa … hidupnya pasti akan sengsara seperti ibu dan adik angkatnya.”
Bu Lily dan Chael bahkan tak diundang dalam acara pernikahan tersebut. Chael murka dan tak terima. Namun, Bu Lily yang sudah terlanjur kecewa, memilih diam. Wanita paruh baya itu lebih banyak diam dan murung.
Air mata Bu Lily jatuh. Namun, ia segera menghapus air matanya, lalu merogoh aku jaketnya. Bu Lily mengeluarkan buku tabungan dan menyerahkan pada Chael.
“Ini ada sisa uang yang sengaja kusisihkan untukmu! Pergilah ke kota dan ubah nasibmu, Chael!” ucapnya tulus. “Kamu bisa mencari keluarga aslimu. Jangan pedulikan aku yang sudah tua!”
“Nggak, Bu!” tolak Chael tegas. “Kamu ibuku dan akan selalu menjadi ibuku selamanya!”
“Jika suatu hari nanti aku ditakdirkan untuk bertemu dengan keluarga asliku, maka mereka harus menerimamu sebagai ibuku. Kamu yang sudah merawatku hingga dewasa.”
Senyum bujukan Chael langsung menenangkan hati Bu Lily. Chael makin menggenggam tangan Bu Lily erat. “Tenang saja, Bu. Walaupun Kak Martin nggak mau mengakuimu. Ada aku yang akan selalu ada untukmu,” ucapnya tulus.
Kepedulian anak angkatnya menjadi obat yang begitu berharga. Jika Martin tak mau mengakuinya dan malu karena hidupnya miskin, maka ada anak baik seperti Chael untuknya.
Sayangnya, usia Bu Lily yang semakin tua dan kesehatannya sedang tak baik-baik saja. Setelah terjatuh saat bekerja, kondisinya langsung parah. Bu Lily butuh penangan cepat, serta biaya yang tak sedikit.
Alasan itulah, Chael mendatangi Martin untuk memohon. Namun, yang didapat justru cacian dan hinaan. Chael hanya bisa menahan semuanya, masih terus memohon kebaikan hati kakaknya.
“Kak Martin, jangan lupa! Kamu bisa menjadi orang sukses karena dukungan, doa dan usaha Ibu! Ingatlah pengorbanannya dulu!” ucap Chael, berharap bisa mengetuk hati Martin.
Sayangnya justru murka Martin yang diterimanya. Tanpa ampun, Martin melayangkan tamparan da tinjuan. Berkali-kali dia menampar Chael hingga napasnya terengah-engah.
“Jaga bicaramu! Aku bisa sukses karena usahaku sendiri. Doa yang kuterima itu dari Maya, istriku!” ucap Martin dengan suara lantang. “Enyahlah kau dari hadapanku!”
Sebelum pergi, Martin kembali memberikan tamparan pada Chael. Tubuh Chael tersungkur jatuh dengan mulut penuh darah. Namun, ia segera bangkit dan menahan kakinya Marin.
“Aku nggak akan pergi sebelum Kak Martin membantu Ibu!” ucap Chael bersikeras. “Katakan saja, apa yang harus kulakukan agar Kak Martin mau membantu!”
“Sial!” balas Martin mengumpat.
Martin berusaha keras melepaskan kakinya dari cengkraman Chael, tapi terlalu kuat. Akhirnya, ia menendang kepala Chael dengan sepatu pantofelnya. Suara erangan kesakitan langsung menggema.
“Argh!”
Kepala Chael terasa seperti dibelah dua. Telinganya berdengung. Pandangannya mulai kabur, tapi ia tetap menjaga kesadaran diri.
“Pengawal!” teriak Martin keras. “Bawa pemuda miskin ini keluar! Jangan biarkan dia masuk ke rumahku! Bahkan berada dekat gerbang rumahku saja, dilarang!”
Para pengawalnya patuh dan langsung menyeret tubuh Chael. Tubuh Chael sudah tak berdaya, hingga dilempar keluar. Rasa sakit langsung menyerang.
Chael mencoba bangkit, menguatkan diri. Ia hampir putus asa. “Ke mana lagi aku harus mencari pinjaman uang untuk Bu Lily?”
Tangannya memegangi kepala dan dadanya. Tak sengaja ia menyentuh kalung giok di balik kemeja lusuhnya. Chael langsung melepaskan benda tersebut.
“Saat Bu Lily menemukanku waktu kecil dulu, kalung ini adalah identitasku satu-satunya. Karena itulah, dia memintaku agar menjaga kalung ini dengan baik ... jangan sampai hilang,” gumamnya mengingat pesan tersebut. “Sepertinya giok ini bisa kugadaikan dulu atau kujual saja.”
Tak ada pilihan lain. Bu Lily adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya. Akhirnya Chael pergi ke pasar dengan wajah penuh luka. Ia menawarkan giok tersebut pada beberapa pedagang perhiasan.
“Apa ini? Hanya batu murahan,” ucap salah satu pedagang saat melihat kalung tersebut.
Hampir semua orang di desa tahu kalau Chael dan ibunya adalah orang yang tak diakui oleh Martin. Mereka menjadi takut berurusan dengan Chael, sebab pengaruh Martin yang merupakan menantu kepala desa sangat berpengaruh di sana.
Chael kesal dan sakit hati. Namun, ia tak ingin menyerah. Akhirnya Chael memilih toko perhiasan di kecamatan.
Tak peduli seberapa jauh, ia harus bisa mendapatkan uang untuk Bu Lily. Saat melihat wajah Cael yang babak belur, penjual itu mengira Chael adalah pencuri. Tentu saja Chael langsung membela diri.
“Aku baru saja bertengkar dengan saudaraku, karena ibu kami jatuh saat bekerja. Kakakku mengira aku yang menyebab Ibu jatuh,” ucap Chael berbohong. “Kalau Anda nggak percaya. Ayo ikut aku menemui ibuku di rumah sakit!”
Penjual itu meragu. Namun sebagai penjual perhiasan, ia mengenali jenis giok tersebut. Ia tak ingin kehilangan benda berharga tersebut.
“Baiklah, aku percaya,” katanya terdengar ramah.
Dalam hati, penjual itu menebak jika Chael tak tahu giok itu sangat berharga. “Berapa harga yang kamu tawarkan?” tanyanya berbasa basi.
“10 juta bisa?” jawab Chael penuh harap.
Penjual itu menahan senyumnya. Ia yakin giok itu seharga ratusan juta, bahkan bisa mencapai miliar. Namun, ia tak boleh membocorkan informasi tersebut.
Pemuda ini hanyalah orang bodoh. Dia berkata dalam hati.
“Tunggu sebentar! Aku harus memeriksa giok ini. Jika kualitasnya bagus, aku bisa memberi harga seperti yang kamu mau.”
“Tentu saja, silahkan!”
Tanpa membuang waktu penjual itu memeriksa dengan alat khusus. Matanya langsung berbinar, saat melihat hasil yang ditampilkan. Penjual itu nyaris berjingkrak mengira akan untung besar.
Penjual itu tak tahu, jika di suatu tempat yang sangat jauh, sebuah mesin kecil berbunyi nyaring. Para pekerja di sana langsung sigap dan siaga, langsung memeriksa mesin tersebut.
“Lokasi Tuan Muda ditemukan. Giok Keluarga Vander terlihat.”
“Apa Adrian menyusahkanmu?” tanya Celine dengan tatapan was-was.Chael terdiam sejenak. Ia mendadak bingung. Mungkinkah kakaknya akan percaya dengan ceritanya?Akhirnya Chael menggeleng. Ia perlu bukti kuat. Melihat begitu cemasnya Celine dan ketiga kakaknya yang lain, Chael yakin mereka akan mendengarkannya. Namun, ia perlu bukti untuk memastikan agar yang terucap bukanlah omong kosong.“Nggak ada, Kak. Sejauh ini, semuanya baik-baik saja,” ucap Chael meyakinkan.“Syukurlah. Aku cemas dia membuat masalah,” sahut Celine disusul embusan napas berat. Wajah Celine terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Saat aku cerita padanya kalau adikku sudah kembali, Adrian sangat antusias banget. Bahkan ia ingin bertemu denganmu,” ujarnya terdengar lembut.“Kamu terlalu terbuka dengan pasanganmu, Kak. Padahal, Kak Claire sudah memperingatkan agar ini tetap jadi rahasia kita dulu,” celetuk Caroline melirik kakak keduanya. “Takutnya begini, dia membuat Chael merasa nggak nyaman.”“Aku nggak berpikir
“Heum ... masakan Bu Lily selalu enak,” puji Chael tulus, seraya menunjukkan dua ibu jarinya.Bu Lily langsung tersipu malu. Suasana di ruang makan semakin hangat. Wajah bahagia Chael tak bisa dibohongi. “Kamu benar, Chael. Aku belum pernah makan selahap ini,” sahut Claire tulus. “Bahkan masakan koki keluarga Vander pun, nggak bisa seenak ini,” lanjutnya memuji.“Oh, Claire. Kamu terlalu berlebihan!” sahut Bu Lily makin tersipu malu. Wanita berusia 60 tahun itu lantas tersenyum haru seraya memandangi anak-anak keluarga Vander, satu persatu. Tatapan hangat dan tulus mereka, membuatnya merasa tersentuh. Bu Lily benar-benar dihargai.“Aku hanya memastikan masak sepenuh hati, agar anak-anakku makan dengan lahap,” sambung Bu Lily mengungkapkan isi hatinya. “Terima kasih, Bu Lily. Kamu menyukainya,” sahut Celine tak ingin ketinggalan memuji.“Aku setuju dengan Kak Claire. Masakan Bu Lily lebih enak koki keluarga Vander,” seru Caroline cepat, lalu melirik Claudia. “Hei, kenapa kamu diam s
“Wow, adik kita memang luar biasa,” ucap Claudia memuji.Matanya melirik nakal, ketiga kakak perempuannya. Mereka tengah memandangi berbagai kotak hadiah, buket bunga, dan tumpukan amplop surat cinta. Senyum keempat perempuan itu tampak penuh kebanggaan.Chael terpaksa meminta Diana untuk membawa semua hadiah dari para penggemarnya ke rumah. Ia tak mungkin membuangnya begitu saja. Walaupun, tak tahu harus diapakan semua itu. “Sepertinya, aku harus menyusun tugas lain untuk kalian,” ucap Claire dengan tatapan nakalnya.“Katakan saja, Kak!” balas Celine tanpa ragu, tahu tujuan ucapan kakak pertamanya.Caroline pun mengangguk. “Jika itu untuk Chael kita. Akan kulakukan sepenuh hati,” katanya tanpa ragu.“Benar banget,” sahut Claudia tak mau kalah. “Bahkan jika aku harus berhenti dari dunia modeling ... demi Chael, aku rela!”Ketiganya tertawa. Tentu saja mereka tahu seberapa cintanya Claudia pada dunia modeling. Bu Lily yang berdiri tak jauh dari mereka hanya menggeleng penuh senyum. Su
Wajah Benny pucat seketika. Namun ia memiliki IQ tinggi, yang membuatnya bisa masuk ke kampus bergengsi itu melalui prestasi. Benny menggunakan kepintarannya untuk menutupi setiap kebohongan dengan seksama.“Menurutmu, apa yang kulakukan di sini?” tanya Benny memasang wajah kesal.“Ini adalah hari pertamaku kuliah. Sopirku baru saja memberi kabar, jika dia terlambat menjemput,” lanjut Benny lemas.Sebisa mungkin ia menunjukan ekspresi tak berdaya. Setiap rangkaian kebohongan itu sudah terpikir dengan baik. “Aku hanya mencoba berinisiatif berjalan kaki menggunakan aplikasi maps. Dan, ya ....’“Menurutmu, apa?” pungkas Benny menunjukkan ponselnya dengan gerakan lemas.&ldquo






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.