LOGINHanya karena sebuah terong Arga terjebak dalam gairah mematikan kakak iparnya. Awalnya, Arga mengira kakak iparnya membawa pria selingkuhan ke dalam rumah, Arga nekat mendobrak pintu kamar. Saat pintu terbuka, tak ada siapa pun di ruangan itu selain Wulan, kakak iparnya, yang tengah bermain solo dengan posisi yang tak lazim. "Karena kamu udah lihat, sekarang aku mau main pakai terongmu!" Hubungan antara Arga dan Wulan semakin rumit, setelah kakak Arga sekaligus suami Wulan kembali dari perantauan.
View More"Haha... gak mungkin lah aku beneran suka sama dia. Bagiku, dia gak lebih dari seekor anjing pesuruh!"
Degh! Arga yang berdiri di dekat pintu, terkejut saat mendengar perkataan gadis pujaannya. Perkataan tersebut membuat harga dirinya sebagai seorang pria diinjak-injak hingga ke dasar. Dada pemuda 21 tahun itu seketika bergemuruh hebat. Emosinya memuncak ke ubun-ubun dan nyaris meluap. "Dibandingin sama kamu, Arga gak ada apa-apanya. Bahkan, gak pantas dibandingin sama ujung kuku kamu." "Kalau dia tahu cuman dianggap seekor anjing, dia pasti bakalan nangis darah!" Di balik pintu apartemen tersebut, Arga mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh dengan erat. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras membuat gigi-giginya beradu dan menimbulkan bunyi gemeretak. Tak tahan, pemuda miskin yang hanya tamatan sekolah menengah akhir itu pun menendang pintu apartemen gadis pujaannya dengan gerakan yang kasar dan cepat. Brak! Bunyi bantingan pintu terdengar keras, membuat sepasang sejoli laknat yang duduk mesra di atas sofa terperanjat kaget. Spontan, gadis cantik berhati busuk yang duduk di pangkuan si pemuda bergerak turun sambil merapikan dress-nya yang sedikit terbuka. Sepasang mata gadis itu membola penuh, kaget melihat keberadaan Arga yang tiba-tiba datang ke apartemennya. Karena biasanya, Arga selalu menghubunginya lebih dulu jika akan datang dan mengajak kencan. Namun kali ini, pemuda miskin itu datang tanpa memberi kabar ataupun sekedar mengirimkan pesan. "A-a-arga, kok kamu datang gak ngasih tahu aku dulu?" tanya si gadis tergagap. Arga yang ditanya, tersenyum getir sambil angguk-angguk kepala. Matanya yang memerah, menatap tajam pada sang kekasih yang berdiri di samping pacar gelapnya. "Kenapa, kaget lihat aku ada di sini? Kalau aku gak datang diem-diem, mana mungkin bisa mergokin kamu yang lagi asik pacaran sama Bimo," kata Arga dengan suara tertahan. Sedangkan tangan pemuda miskin itu menunjuk pada selingkuhan pacarnya yang terlihat tegang di pinggiran sofa. Ditunjuk oleh Arga, pemuda bernama Bimo yang tak lain adalah temannya sendiri itu pun justru menyunggingkan sudut bibirnya, menunjukkan senyuman remeh pada Arga yang memang berasal dari kalangan bawah. Ya, pemuda yang memiliki nama lengkap Argantara itu adalah seorang pemuda miskin yatim piatu yang tinggal di kawasan kumuh pinggiran kota bersama kakak iparnya. Sedangkan kesehariannya bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Sore itu, Arga yang pulang bekerja, sengaja mendatangi apartemen kekasihnya lantaran ingin memberikan kejutan ulang tahun. Nyatanya, saat tiba di sana, justru dirinya yang diberi kejutan tak terduga. Gadis cantik berhati busuk yang sudah setahun menjadi kekasihnya itu ternyata berselingkuh dengan temannya sendiri. Bahkan dengan tega memanfaatkan dan menganggapnya sebagai seekor anjing pesuruh. "Aku gak nyangka, kalau kamu sejahat ini, Wi. Ternyata selama ini kamu cuma manfaatin aku. Di luaran sana aku mati-matian kerja banting tulang dari pagi sampe sore buat menuhin keinginan kamu, tapi ternyata kamu malah selingkuh dan balas kesetiaanku kayak gini!" Gadis bernama Dewi itu meneguk ludah dengan bersusah payah. Tak menyangka jika Arga yang selama ini selalu bersikap lembut, bisa marah seperti itu. "Hei, Ga! Seharusnya kamu sadar diri, kalau kamu gak pantas jadi pacar Dewi. Kerja cuman jadi pelayan kafe dengan gaji pas-pasan, apa yang bisa diarepin dari cowok kere macam kamu?!" Bimo yang berdiri di pinggiran sofa, berbicara dengan nada mengejek pada Arga yang menatap marah padanya dan Dewi. Darah di tubuh Arga seolah mendidih. Rasanya ingin sekali ia membogem keras mulut busuk Bimo yang seperti habis minum air comberan hingga giginya copot dan ompong. Namun, otaknya masih cukup waras untuk tidak melakukan kekerasan yang dapat menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri. "Asal kamu tahu ya, aku dan Dewi saling suka. Dan— kami udah berhubungan lama, tepatnya seminggu setelah dia nerima kamu jadi pacarnya!" lanjut Bimo sembari membalas tatapan Arga dengan tatapan remeh. Semakin mendidih darah Arga, emosi di dalam dirinya serasa ingin meledak dan semakin sulit dibendung. Dewi yang semula tegang dan merasa takut, kini ikut tersenyum. Merasa senang dan puas karena Bimo membela serta menjelaskan hubungan mereka pada Arga. "Kamu denger sendiri 'kan, Ar. Aku dan Bimo saling cinta! Lagipula, selama ini aku gak pernah beneran suka sama kamu. Nerima kamu dulu cuman karena kasihan, dan kebetulan aku lagi butuh jongos yang bisa nurutin maunya aku!" Degh! Hati Arga saat ini begitu sakit, dadanya terasa sesak seperti dilempari dengan bongkahan batu yang besar. Dua orang yang ia percayai, teganya menusuk dari belakang. Menghancurkan kepercayaannya hingga ke dasar. Tak dapat lagi menahan gejolak amarah di dalam dirinya. Pemuda miskin itu mendekati Bimo, lalu melayangkan pukulan keras ke wajahnya beberapa kali. Buk, buk! "Bangsat, kalian semua biadab. Bajingan!" maki Arga dengan suara tertahan. Melihat Arga mengamuk, Dewi menarik tubuhnya dengan kasar, menjauhkannya dari Bimo yang terduduk di sofa. "Arga, cukup! Jangan gak tahu diri kamu!" Gadis cantik berhati busuk dan murahan itu melotot tak suka pada Arga yang bersikap kasar pada Bimo. "Cuih! Dasar cewek murahan, bikin jijik... kalau aku tahu kamu cewek gak beres, gak bakalan sudi aku pacaran sama kamu! Pick me!" Muak, Arga pun melangkah keluar dari apartemen Dewi, meninggalkan dua sejoli laknat itu dalam keadaan hati yang berantakan. Dengan langkah tergesa, pemuda miskin itu menuju lift dan turun ke lantai dasar gedung apartemen tersebut. Ia menuju posisi motor bututnya terparkir, lalu memacunya menembus jalanan kota di sore menjelang malam hari tersebut. Di sepanjang perjalanan pulang ke kediamannya yang berada di komplek kumuh pinggiran kota, Arga tak henti-hentinya mengumpati Dewi dan Bimo. "Bikin jijik, yang satunya brengsek dan yang satunya lagi cewek murahan. Kudoain mati g*ncet!" Umpatan-umpatan bersuara lembut dan berbahasa halus itu keluar dan lolos begitu saja dari mulutnya. Berbahasa lembut dan halus, apa tidak salah? Dadanya masih saja bergemuruh sejak tadi. Rasanya begitu sulit mengendalikan gejolak emosi yang ada di dalam dirinya saat ini. Setelah memacu motor bututnya yang memakan waktu hampir setengah jam, Arga pun tiba di kawasan komplek kumuh. Dengan sedikit kasar, pemuda miskin itu menstandarkan motornya di teras sebuah rumah yang catnya sudah pudar. Selanjutnya, Arga memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Lalu, memasuki rumah berlantai semen yang retak dan bolong-bolong tersebut. Dengan gontai, ia pun melangkah menuju dapur. Pemuda itu meraih teko air di atas meja dan menegak isinya beberapa tegakan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering kerontang lantaran tak hentinya mengumpat dan memaki sejak tadi. Namun, suara aneh yang berasal dari kamar kakak iparnya, membuat Arga seketika tersedak air yang baru saja membasahi tenggorokannya. Bahkan, matanya spontan melotot tajam. "Emmmpphh, ahh... enaknya!"Arga yang menggenggam jemari Wulan mengerutkan kening keheranan. Tak paham dengan maksud kakak iparnya yang mengatakan jika cincin kawinnya tertinggal di dalam."Maksudnya apa, Mbak? Ketinggalan di dalam mana?" tanya Arga sambil melepaskan genggaman tangannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Wajah Wulan memerah bak tomat matang yang hampir busuk. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah.Di hadapan Arga, wanita berwajah ayu itu menggigit bibir. Ia memejamkan matanya sesaat, sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri untuk memberitahu Arga jika cincin kawinnya tertinggal di dalam lubang sensitifnya saat bermain solo kemarin sore.Sebelum menjawab dan menjelaskan semuanya pada Arga, Wulan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan."Cincin kawinnya ketinggalan di dalam sini, Ga. Di lubang apemku," kata Wulan pelan sembari menyentuh area sensitifnya dari balik daster tipis penutupnya."Apa?!" pekik Arga dengan suara melengking.Mata pemuda tanggung itu seketika melotot leb
"Mulai hari ini kamu dipecat!" Kalimat singkat yang dilontarkan pria paruh baya bertubuh gempal dan agak pendek itu membuat dada Arga berdegup kencang. Benar dugaannya, hari ini dia akan kehilangan pekerjaannya karena terlambat. "Bos, to—" "Setiap hari selalu datang telat, kamu pikir kafe ini punya nenek moyangmu. Dasar gak tahu diri!" tukas bos kafe itu, memaki Arga yang berdiri di hadapannya. Selanjutnya, pria paruh baya itu merogoh saku celananya dan melemparkan sebuah amplop tipis berwarna cokelat ke hadapan Arga. Swos! Secepat kilat, Arga menyambar amplop tersebut agar tidak jatuh ke lantai. Jika jatuh ke lantai, otomatis ia harus memungutnya dan membuat harga dirinya sebagai pemuda miskin semakin jatuh dan rendah. "Itu gaji kamu bulan ini. Ingat, jangan pernah pijakan kaki kamu lagi di tempat ini! Muak saya lihat muka gembel kamu!" Degh! Dikatakan bermuka gembel oleh bosnya, hati Arga berdenyut nyeri. Meskipun miskin, ia bukan gembel peminta-minta. Bukan, pria jelek i
"Mbak, terong goreng ini bukan terong kemarin sore yang dipakai buat anu, kan?"Degh!Pertanyaan konyol yang keluar dari mulut bocor Arga spontan membuat sepasang mata Wulan mendelik lebar. Wajahnya kini memerah, lebih merah daripada wajah Arga sehabis tersedak dan terbatuk-batuk sebelumnya."Kamu, kamu—" tunjuk Wulan ke wajah Arga sambil menjeda kalimatnya.Wanita berwajah ayu itu merasa kesal bercampur malu. Bisa-bisanya Arga menanyakan hal seperti itu setelah apa yang terjadi."Aku seriusan, Mbak. Kemaren sore aku sempet lihat terong di pinggir kasur Mbak Wulan. Terongnya bukan terong ini, kan?" tanya Arga dengan tampang polosnya dan juga seenaknya.Serius bertanya atau hanya ingin membuat kakak iparnya merasa malu? Entahlah, hanya Arga sendiri dan Tuhan yang tahu!Yang jelas, Wulan benar-benar sangat malu saat ini. Bahkan, hampir menangis karena pertanyaan gila adik iparnya yang tidak kira-kira."Huaaa, Arga. Kamu sengaja bikin aku malu, ya?!" jerit Wulan dengan sepasang mata yang
Kejadian memalukan di pagi hari antara Wulan dan Arga membuat posisi keduanya semakin canggung.Arga yang keluar dari kamarnya dengan seragam kerja terlihat melangkah terburu-buru melewati ruang makan, tempat kakak iparnya sedang menyiapkan sarapan."Arga!"Waduh!Arga menepuk jidat. Sudah buru-buru agar tidak berpapasan dengan Wulan, tetapi kakak iparnya itu justru memanggilnya, membuatnya mau tak mau menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara.Pemuda itu menyengir kuda dan menatap kakak iparnya dengan wajah memerah seperti tomat matang yang hampir busuk."Hee....""Kamu masih demam, Ga. Gak usah kerja dulu. Istirahat aja di rumah," kata Wulan. Ia meletakkan piring berisi lauk di tangannya ke atas meja, lalu mendekati Arga yang mematung di tempatnya.Didekati oleh Wulan, Arga spontan melangkah mundur. Kejadian menegangkan kemarin dan pagi tadi membuatnya merasa sangat gugup setiap melihat wajah ayu nan cantik kakak iparnya yang ternyata sangat menggoda.Sebagai kaum batang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.