LOGINHanya karena sebuah terong Arga terjebak dalam gairah mematikan kakak iparnya. Awalnya, Arga mengira kakak iparnya membawa pria selingkuhan ke dalam rumah, Arga nekat mendobrak pintu kamar. Saat pintu terbuka, tak ada siapa pun di ruangan itu selain Wulan, kakak iparnya, yang tengah bermain solo dengan posisi yang tak lazim. "Karena kamu udah lihat, kenapa nggak pakai punyamu aja?!" Hubungan antara Arga dan Wulan semakin rumit, setelah kakak Arga sekaligus suami Wulan kembali dari perantauan.
View MoreDi balik pintu apartemen, Arga mengepalkan tangan.
"Dibandingin sama kamu, Arga gak ada apa-apanya. Bahkan, gak pantas dibandingin sama ujung kuku kamu. Kalau dia tahu cuman dianggap seekor anjing, dia pasti bakalan nangis darah!"
Tak tahan, pemuda miskin yang hanya tamatan sekolah menengah akhir itu pun menendang pintu apartemen gadis pujaannya dengan gerakan yang kasar dan cepat. Brak! Bunyi bantingan pintu terdengar keras, membuat sepasang sejoli laknat yang duduk mesra di atas sofa terperanjat kaget. Spontan, gadis cantik berhati busuk yang duduk di pangkuan si pemuda bergerak turun sambil merapikan dress-nya yang sedikit terbuka. Sepasang mata gadis itu membola penuh, kaget melihat keberadaan Arga yang tiba-tiba datang ke apartemennya. Karena biasanya, Arga selalu menghubunginya lebih dulu jika akan datang dan mengajak kencan. Namun kali ini, pemuda miskin itu datang tanpa memberi kabar ataupun sekedar mengirimkan pesan. "A-a-arga, kok kamu datang gak ngasih tahu aku dulu?" tanya si gadis tergagap. Arga yang ditanya, tersenyum getir sambil angguk-angguk kepala. Matanya yang memerah, menatap tajam pada sang kekasih yang berdiri di samping pacar gelapnya. "Kenapa, kaget lihat aku ada di sini? Kalau aku gak datang diem-diem, mana mungkin bisa mergokin kamu yang lagi asik pacaran sama Bimo," kata Arga dengan suara tertahan. Sedangkan tangan pemuda miskin itu menunjuk pada selingkuhan pacarnya yang terlihat tegang di pinggiran sofa. Ditunjuk oleh Arga, pemuda bernama Bimo yang tak lain adalah temannya sendiri itu pun justru menyunggingkan sudut bibirnya, menunjukkan senyuman remeh pada Arga yang memang berasal dari kalangan bawah. Ya, pemuda yang memiliki nama lengkap Argantara itu adalah seorang pemuda miskin yatim piatu yang tinggal di kawasan kumuh pinggiran kota bersama kakak iparnya. Sedangkan kesehariannya bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Sore itu, Arga yang pulang bekerja, sengaja mendatangi apartemen kekasihnya lantaran ingin memberikan kejutan ulang tahun. Nyatanya, saat tiba di sana, justru dirinya yang diberi kejutan tak terduga. Gadis cantik berhati busuk yang sudah setahun menjadi kekasihnya itu ternyata berselingkuh dengan temannya sendiri. Bahkan dengan tega memanfaatkan dan menganggapnya sebagai seekor anjing pesuruh. "Aku gak nyangka, kalau kamu sejahat ini, Wi. Ternyata selama ini kamu cuma manfaatin aku. Di luaran sana aku mati-matian kerja banting tulang dari pagi sampe sore buat menuhin keinginan kamu, tapi ternyata kamu malah selingkuh dan balas kesetiaanku kayak gini!" Gadis bernama Dewi itu meneguk ludah dengan bersusah payah. Tak menyangka jika Arga yang selama ini selalu bersikap lembut, bisa marah seperti itu. "Hei, Ga! Seharusnya kamu sadar diri, kalau kamu gak pantas jadi pacar Dewi. Kerja cuman jadi pelayan kafe dengan gaji pas-pasan, apa yang bisa diarepin dari cowok kere macam kamu?!" Bimo yang berdiri di pinggiran sofa, berbicara dengan nada mengejek pada Arga yang menatap marah padanya dan Dewi. Darah di tubuh Arga seolah mendidih. Rasanya ingin sekali ia membogem keras mulut busuk Bimo yang seperti habis minum air comberan hingga giginya copot dan ompong. Namun, otaknya masih cukup waras untuk tidak melakukan kekerasan yang dapat menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri. "Asal kamu tahu ya, aku dan Dewi saling suka. Dan— kami udah berhubungan lama, tepatnya seminggu setelah dia nerima kamu jadi pacarnya!" lanjut Bimo sembari membalas tatapan Arga dengan tatapan remeh. Semakin mendidih darah Arga, emosi di dalam dirinya serasa ingin meledak dan semakin sulit dibendung. Dewi yang semula tegang dan merasa takut, kini ikut tersenyum. Merasa senang dan puas karena Bimo membela serta menjelaskan hubungan mereka pada Arga. "Kamu denger sendiri 'kan, Ar. Aku dan Bimo saling cinta! Lagipula, selama ini aku gak pernah beneran suka sama kamu. Nerima kamu dulu cuman karena kasihan, dan kebetulan aku lagi butuh jongos yang bisa nurutin maunya aku!" Degh! Hati Arga saat ini begitu sakit, dadanya terasa sesak seperti dilempari dengan bongkahan batu yang besar. Dua orang yang ia percayai, teganya menusuk dari belakang. Menghancurkan kepercayaannya hingga ke dasar. Tak dapat lagi menahan gejolak amarah di dalam dirinya. Pemuda miskin itu mendekati Bimo, lalu melayangkan pukulan keras ke wajahnya beberapa kali. Buk, buk! "Bangsat, kalian semua biadab. Bajingan!" maki Arga dengan suara tertahan. Melihat Arga mengamuk, Dewi menarik tubuhnya dengan kasar, menjauhkannya dari Bimo yang terduduk di sofa. "Arga, cukup! Jangan gak tahu diri kamu!" Gadis cantik berhati busuk dan murahan itu melotot tak suka pada Arga yang bersikap kasar pada Bimo. "Cuih! Dasar cewek murahan, bikin jijik... kalau aku tahu kamu cewek gak beres, gak bakalan sudi aku pacaran sama kamu! Pick me!" Muak, Arga pun melangkah keluar dari apartemen Dewi, meninggalkan dua sejoli laknat itu dalam keadaan hati yang berantakan. Dengan langkah tergesa, pemuda miskin itu menuju lift dan turun ke lantai dasar gedung apartemen tersebut. Ia menuju posisi motor bututnya terparkir, lalu memacunya menembus jalanan kota di sore menjelang malam hari tersebut. Di sepanjang perjalanan pulang ke kediamannya yang berada di komplek kumuh pinggiran kota, Arga tak henti-hentinya mengumpati Dewi dan Bimo. "Bikin jijik, yang satunya brengsek dan yang satunya lagi cewek murahan. Kudoain mati g*ncet!" Umpatan-umpatan bersuara lembut dan berbahasa halus itu keluar dan lolos begitu saja dari mulutnya. Berbahasa lembut dan halus, apa tidak salah? Dadanya masih saja bergemuruh sejak tadi. Rasanya begitu sulit mengendalikan gejolak emosi yang ada di dalam dirinya saat ini. Setelah memacu motor bututnya yang memakan waktu hampir setengah jam, Arga pun tiba di kawasan komplek kumuh. Dengan sedikit kasar, pemuda miskin itu menstandarkan motornya di teras sebuah rumah yang catnya sudah pudar. Selanjutnya, Arga memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Lalu, memasuki rumah berlantai semen yang retak dan bolong-bolong tersebut. Dengan gontai, ia pun melangkah menuju dapur. Pemuda itu meraih teko air di atas meja dan menegak isinya beberapa tegakan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering kerontang lantaran tak hentinya mengumpat dan memaki sejak tadi. Namun, suara aneh yang berasal dari kamar kakak iparnya, membuat Arga seketika tersedak air yang baru saja membasahi tenggorokannya. Bahkan, matanya spontan melotot tajam. "Emmmpphh, ahh... enaknya!""Buset dah, sebenernya mereka mau ngapain sih? Kalau kayak gini terus, aku bisa khilaf beneran!"Melihat sikap Mira dan Amelia, batin Arga menjerit panik. Otak pemuda itu kini dipenuhi dengan pikiran-pikiran kotor tentang Mira dan Amelia yang duduk mengapitnya. Napasnya pun terasa sedikit lebih berat, berusaha mati-matian mengendalikan pikirannya sendiri.Kedua wanita berpakaian seksi kekurangan bahan itu benar-benar menguji iman Arga. Terlebih lagi, mereka sama-sama memiliki payudara yang besarnya brutal. Bahkan, masing-masing payudara itu menyembul dari balik pembungkusnya, seolah mau melompat ke wajah Arga.Gluk!Arga yang melirik kiri dan kanan meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan kasar. Lalu mengalihkan pandangan, berusaha berusaha menyingkirkan pikiran kotor yang memenuhi otaknya. Darahnya berdesir hebat kala payudara Mira menempel dan menekan lengannya. Rasanya kenyal, tak kalah dari payudara milik Wulan yang sudah biasa ia nikmati.Ya, walaupun Mira tak secantik Wulan,
"[Sorry, Ga. Aku beneran lupa kalau nyuruh kamu datang siang ini. Ke apartemen aja, ya. Aku kirim alamatnya!]" Membaca pesan yang dikirimkan Mira, Arga menghela napas panjang. Ada rasa kesal di hatinya lantaran merasa dipermainkan oleh bos tempatnya bekerja itu. Selanjutnya, Arga pun kembali memesan taksi online dan meminta diantarkan ke alamat gedung apartemen elit yang dikirimkan Mira melalui pesan. "Mbak Mira gimana, sih? Kok bisa beneran lupa sama janjinya sendiri!" kata Arga yang masih menunggu taksi di depan klub. Pemuda itu mengusap wajahnya menggunakan telapak tangannya secara kasar. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah bos pemilik klub tempatnya bekerja itu. Beberapa saat menunggu, taksi yang dipesan Arga pun tiba. Gegas, pemuda itu meminta diantarkan menuju apartemen milik Mira yang jaraknya tidak begitu jauh dari klub tersebut. Tak membutuhkan waktu lama, Arga pun tiba di depan gedung apartemen elit yang berdiri kokoh dan menjulang tinggi tersebut. Ia
"Aduh, dompet saya jatuh, Bu-ibu!"Arga yang berdiri di depan etalase warung dengan sengaja menjatuhkan dompetnya yang berisi lembaran uang seratus ribu dan pecahan lima puluh ribuan.Pemuda itu sengaja berbuat iseng untuk membalas kejulidan ibu-ibu komplek yang menghinanya sebagai pria pengangguran.Suara dompet yang jatuh ke lantai yanh diiringi suara Arga, seketika membuat perhatian para ibu-ibu tertuju padanya. Bahkan mereka ikut mencondongkan tubuh, penasaran dengan apa yang akan dilakukan Arga.Melihat banyaknya lembaran uang yang ada di dalam dompet Arga, mata para ibu-ibu itu seketika membelalak lebar tanpa berkedip.Pikir mereka, dari mana pria pengangguran seperti Arga bisa memiliki banyak uang seperti itu? Sedangkan di komplek tersebut, rata-rata penghuninya bekerja sebagai buruh pasar atau kuli bangunan dengan gaji harian yang pas-pasan."Keluar, kan, isinya. Gimana sih? Tanganku kedinginan habis mandi, jadi agak kaku pegang dompet!" kata Arga sembari memungut uang dan dom
"Gimana keadaan bocah itu sekarang? Dia baik-baik aja, kan? Cepet kasih alamatnya ke aku sekarang, aku mau jengukin dia!"Kalimat yang meluncur dari mulut Amelia membuat Mira menghela napas panjang. Kepanikan yang ditunjukkan temannya saat ini membuat siapa saja pasti merasakan jika ia tertarik pada Arga."Tenang! Arga baik-baik aja, dan aku udah minta dia buat datang ke sini nanti agak siangan!" kata Mira, menimpali perkataan bernada cemas Amelia.Mendengar perkataan Mira, Amelia pun mengangguk-anggukkan kepala. Hatinya merasa sedikit tenang setelah tahu jika Arga baik-baik saja. "Kamu kenapa sih segitunya sama Arga? Jangan bilang kalau kamu beneran suka sama bocah itu?" tanya Mira. Ia menatap Amelia dengan tatapan memicing yang menyelidik.Amelia menggelengkan kepalanya. Menyangkal pertanyaan Mira yang lebih layak disebut sebagai kalimat interogasi tersebut."Suka sama bocah itu? Hegh... aku peduli sama dia karena aku butuh tempat buat melampiaskan semua yang aku rasain saat ini. D






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore