تسجيل الدخولLewat beberapa menit dari jam 5 sore aku tiba di desa di rumah orang tua ku, seperti biasa kedatangan ku tentu disambut dengan penuh kegembiraan oleh Ayah dan Ibu, dan tentu pula akan memberikan suasana yang beda di rumah itu.Aku pun diminta beristirahat dulu, karena perjalanan dengan bus yang kadang lebih dari 7 jam itu tentu melelahkan, namun sebelum gelap aku telah merasakan tubuh ku segar terlebih selepas mandi dan berganti pakaian. Aku duduk di ruang depan bersama kedua orang tua ku, sementara adik-adik ku saat itu tengah mengerjakan tugas dari sekolahnya masing-masing.Karena cuaca di desa itu gerimis sejak sore tadi, udara terasa dingin ketika malam menghampiri, aku minta dibuatkan kopi hangat oleh Ibu begitu pula dengan Ayah. Aku meneguk kopi hangat itu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong celana, Ayah dan Ibu kaget karena ternyata aku mengeluarkan sebungkus rokok, mengambilnya sebatang lalu menyulutnya.“Ryan..! Kamu merokok sekarang?” seru Ibu.“Iya Bu. Bolehkan, Aya
Senin pagi kampus perguruan tinggi negeri ternama Kota P ramai dikunjungi calon-calon mahasiswa baru, baik calon mahasiswa yang berasal dari sekolah-sekolah yang mendapat undangan maupun calon mahasiswa yang lulus tes ujian masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu mereka melakukan daftar ulang yang diadakan panitia kampus, dengan ketentuan harus membayar sejumlah uang untuk semester dan biaya almamater.Setiap calon mahasiswa tentu berbeda-beda jumlah besaran uang yang akan dibayar terutama calon mahasiswa undangan dengan calon mahasiswa yang berhasil lulus ujian masuk. Termasuk juga dengan aku yang saat itu menjadi salah satu calon mahasiswa undangan dari SMEA Negeri Kota P, besaran uang yang harus ia bayar Rp. 500.000,- dengan rincian Rp. 450.000,- uang semester dan Rp. 50.000,- uang untuk almamater.Sekembalinya dari kampus aku yang berencana ingin pulang ke desa dan akan kembali ke kota itu 2 hari menjelang kegiatan perkuliahan dilaksanakan, hanya singgah sebentar di bangunan tempa
“Ryan pindah kos? Aku nggak ada dikasih tahunya, Mas. Mas Sugeng tahu nggak tempat kosnya yang baru?” tanya Dola yang tak kalah kagetnya mengetahui aku diam-diam telah pindah dari kos-kosan itu.“Tempatnya sih aku nggak tahu persis, Bu. Ryan hanya bilang cari kos-kosan yang dekat dengan kampus,” jawab Sugeng.Dola hanya diam sepertinya tengah memikirkan ke mana aku pindah kos, jika kampus yang dikatakan Sugeng, di Kota P itu banyak sekali terdapat kampus perguruan tinggi negeri maupun swasta, Dola tiba-tiba ingat perguruan tinggi negeri yang memberikan undangan pada siswa-siswanya yang berprestasi saat ujian akhir di sekolahnya, dengan buru-buru Dola menghabiskan sate pesanannya itu.“Nih Mas uangnya! Aku pamit dulu ya, kali aja aku bisa temuin nanti tempat kos Ryan itu.” tutur Dola berdiri dari duduknya sembari membayar sate pesanannya pada Sugeng.“Loh, kok buru-buru sih Bu?” tanya Sugeng.“Takut nanti kemalaman mencari kos Ryan yang baru itu, soalnya dia kan nggak nyebutin tempat y
Hal itu jelas tak mudah dilakukan, mengingat aku telah terlanjur menaruh hati pada mantan Guru ku itu, dengan cara menghindar seperti yang aku lakukan saat ini bisa jadi akan menimbulkan resiko dibenci oleh wanita yang pertama kali mampu menimbulkan rasa sayang di hati ku itu.“Semua pakaianmu udah kamu masukan ke dalam lemari, Ryan?” tanya Eva.“Udah Tante.”“Nah, sekarang yuk ikut aku! Akan aku perkenalkan kamu dengan para penghuni kos-kosan di sebelah!” ajak Eva, aku mengangguk lalu mengikuti Eva melangkah menemui para penyewa kos-kosannya.Sebagian besar penghuni kos-kosan itu memang belum kembali ke sana, karena masih berada di daerah atau desa mereka masing-masing. Karena memang hampir 75% dihuni oleh mahasiswi yang baru akan tiba 2 minggu ke depan saat kegiatan kuliah dimulai, sementara yang ada di sana para wanita muda yang bekerja di kantor instansi pemerintah dan swasta.Eva memperkenalkan aku kepada mereka sebagai keponakannya sendiri, dan aku ditugaskan untuk mengawasi dan
“Ya Mas Ryan, Nyonya baru saja pulang mengantar anaknya ke sekolah. Silahkan masuk, Mas!” ujar pembantu rumah Eva yang memang telah mengetahui nama ku dari Nyonya rumahnya sembari membuka pintu pagar.“Makasih Bi,” ucap ku, aku pun menuju beranda rumah dengan membawa koper tempat pakaian ku.“Nyonya, ada Mas Ryan di luar!” seru Pembantu Eva.“Ya Bi, sebentar! Aku ganti pakaian dulu! Bi Ani buatkan saja minum untuk Ryan!” saut Eva dari dalam kamarnya.“Baik Nyonya,” pembantu yang bernama Ani itu pun segera ke ruang belakang membuatkan minum untuk ku yang menunggu di ruang tamu.Beberapa menit berselang Eva pun ke luar dari kamarnya lalu menghampiri ku di ruang tamu, sementara di sana Bi Ani telah menyuguhkan 2 gelas teh hangat di atas meja.“Gimana kiita berangkat sekarang, Ryan?” tanya Eva.“Ntar lagi ya, Tante? Nih, Bi Ani udah repot-repot buatkan minum.” jawab ku sembari tersenyum.“Oh iya ya, sampai lupa jika tadi aku menyuruhnya untuk membuatkan minum. Yuk, diminum dulu teh nya!”
Om Ramlan memaksa hingga ia masukan sendiri ke dalam saku baju kemeja yang aku kenakan, sementara aku cepat-cepat meraba saku baju dan mengeluarkan kembali uang itu.“Kalau memang uang ini harus aku terima, segini saja Om nanti kalau butuh aku akan bilang sama Om lagi.” tutur ku mengembalikan uang sebesar Rp. 300.000,- lagi.“Kamu ini ya paling susah kalau dikasih uang, selalu saja ada alasanmu. Ya udah, jika kamu butuh biaya mendadak nanti jangan sungkan-sungkan untuk bicara! Kalau nggak ketemu Om di rumah kamu bisa minta sama Tantemu!” ujar Om Ramlan.“Iya Ryan nanti jika Om mu nggak ada di rumah, Tante yang akan ngasih.” tambah Tante Dewi.“Makasih Om, Tante.” ucap ku.“Sebenarnya kedatangan ku ke sini bukan untuk membicarakan soal biaya kuliah, melainkan rencananya besok pagi aku akan pindah kos yang lokasinya dekat dari kampus.” sambung ku.“Oh begitu? Ya itu bagus, kamu akan mudah ke kampus tanpa harus naik angkot ataupun bus kota lagi. Berapa sewa kos di sana perbulanya biar Om
“Baru juga hidung belum dicubit yang lainnya!” seru Aldo diiringi tawa kecil mereka.“Aku kira kamu nggak ada di rumah hari ini seperti biasanya,” sambung Aldo.“Ya nggaklah, aku kan udah janji sama kamu kalau malam minggu ini akan penuhi ajakanmu, meskipun sayangnya malam minggu ini hujan lebat.”
Sepulang dari sekolah kembali aku dibawa Dola ke rumahnya, rencana ku saat itu akan melanjutkan pekerjaan yang kemarin siang terbengkalai membuat saluran pembuangan air.“Ryan, sebelum melanjutkan pekerjaanmu yang kemarin ada baiknya kita makan siang dulu!” ujar Dola.“Ya Tante,” ulas ku yang baru
Aku sempat tersenyum getir, saat aku menyantap hidangan lezat di meja bersama Om Ramlan dan sekeluarga, karena aku ingat dulu Tante Dewi pernah memperlakukan ku begitu rendah dan hina saat tinggal di rumah megah itu, dengan hanya menyediakan nasi perasan kerak serta secuil sambal sewaktu pulang dar
“Saking sibuknya aku kerja akhir-akhir ini, hingga membuatku harus tetap kerja di hari minggu. Kadang sampai jam 9 malam baru pulang, ya mau gimana lagi memang begitu kerja di perusahaan real estate,” tutur Cindy lagi-lagi ia berdusta.“Oke, aku akan coba untuk ngertiin kamu. Tapi please, malam min