LOGINDayat, Seorang Teknisi handal spesialis dalam memperbaiki elektronik ataupun kelistrikan. Menjalani kesehariannya sebagai seorang Tukang Servis panggilan dalam lingkungan sebuah komplek Elit yang rata-rata di huni oleh para Wanita dewasa kesepian. Demi bertahan hidup dan melunasi sisa hutang keluarganya, dayat harus berjuang mengambil resiko dan mencari peluang bahkan dalam lubang sesempit apapun. Godaan silih berganti, para wanita berkuasa yang haus akan sentuhan pria, membuat dayat sering kali membuat pilihan dan bertahan demi tujuannya.
View More"Tiba di depan rumah Mira, Mas ayo mampir dulu..." ucap Mira sambil menarik tangan Dayat dengan cukup kuat, seolah tidak sabar ingin membawa pria itu masuk melewati pintu pagar rumahnya. Dayat yang tangan kanannya masih memegang setang motor menahan tarikan tersebut sesaat, memposisikan standar dua kendaraannya agar berdiri tegak dengan kokoh di atas lantai semen. "Iya iya bentar aku parkir motor dulu Mir," ucap Dayat menenangkan kegelisahan gadis di depannya yang nampak sangat terburu-buru itu. Mira melepas cekalannya pada tangan Dayat, berbalik dengan cepat lalu melangkah setengah berlari menuju teras depan rumah. Jemarinya yang lentur merogoh isi tas kecil miliknya, mengambil sebatang kunci logam, lalu memasukkannya ke dalam lubang selot pintu kayu rumahnya dengan gerakan yang sangat cepat. Cklek. Mira melangkah lebih dulu dan membuka kunci serta pintu rumahnya, membiarkan lampu ruang tamu yang masih padam terlihat remang-remang dari arah luar halaman. Setelah memastikan motor
"Oh itu, tadi aku mau nyuruh Mas Dayat WA kamu.. aku mau pulang soalnya," ucap Mira dengan nada suara yang agak cepat, berusaha mencari alasan agar tidak ketahuan. Gita mengangguk pelan sambil menurunkan tas kecilnya dari pundak, meski matanya masih memperhatikan gerak-gerik temannya itu. "Ohh gitu... kamu mau pulang sekarang?" tanya Gita yang merasa agak aneh dengan gelagat Mira yang tampak buru-buru. Tak lama, pintu kamar terbuka sepenuhnya dan Dayat melangkah keluar dengan wajah yang diusahakan sepadat mungkin untuk menutupi kepanikannya. Dia langsung mendapati Gita dan Mira sedang berdiri berhadapan di ruang tengah. "Lho kamu udah pulang Git?" tanya Dayat sambil berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Gita menoleh ke arah Dayat, mengembuskan napas panjang karena merasa lelah setelah menempuh perjalanan sore yang lumayan macet. "Iya Mas, cuma sebentar aja kok.. soalnya kebetulan pamanku disana juga mau pergi katanya," ucap Gita menjelaskan situasi yang membuatnya harus pulang
"Ya, namanya juga memang kerjaanku sehari-hari sebagai tukang servis, Mir. Jadi ya harus pintar servis segala macam barang lah," ucap Dayat dengan nada bicara yang diusahakan tetap tenang dan santai, meskipun ia bisa merasakan deru napasnya sendiri mulai agak tidak teratur. Di dalam benaknya, Dayat mulai menebak-nebak dengan rasa cemas yang tertahan. "Gita udah ngomong apa aja ya ke ini anak?" gumam batin Dayat dalam hati. "Hmmm..." Mira hanya bergumam pelan. Jemarinya yang lentur kembali meremas pelan otot bahu tegap Dayat dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Dayat tampak diam dan sama sekali tidak memberikan gerakan untuk menghindar atau menjauhkan tubuhnya dari sentuhan tersebut. Hal itu membuat Mira merasa berada di atas angin. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang penuh kemenangan di sudut bibirnya. "Bukan servis barang atau sanyo itu maksudku, Mas Dayat. Tapi servis yang lain," ucap Mira dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat manja tepat di samping
"Yaaa... mau gimana lagi, Mir," ucap Dayat sambil mengulas senyum tipis, mencoba mencairkan kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka setelah mobil Niken melaju pergi. Dayat kemudian meneguk sisa kopinya yang sudah mendingin, lalu menatap Mira yang masih duduk santai di sofa rotan. "Oh iya, kamu mau langsung pulang sekarang apa masih mau di sini dulu sebentar?" tanya Dayat dengan nada bicara yang ramah dan sopan. Mira langsung memundurkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada sambil mengerucutkan bibirnya ke depan. "Ihh, Mas Dayat ini kok ketahuan banget sih mau mengusir aku ya? Belum juga semenit Gita jalan, udah langsung ditanya begitu," ucap Mira dengan wajah cemberut yang dibuat-bikin. Dayat tertawa kaku, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa salah bicara. "Yaa enggak begitu, Mir. Maksudku, aku cuma tanya aja. Kalau kamu masih mau di sini dulu ya nggak apa-apa. Mau nunggu sampai Gita pulang nanti juga nggak apa-apa kok, santai aja." Raut wajah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews