MasukApa yang menjadi alasan ku tak ingin diantar Jenny memang benar, aku tidak langsung pulang ke kediaman ku melainkan menuju suatu tempat, hanya saja bukan rumah teman yang aku katakan tadi pada Jenny, melainkan rumah Tante Dewi dan di hari minggu itu tentu saja Om Ramlan juga berada di sana.Kedatangan ku pagi itu tentu saja membuat Om Ramlan dan Tante Dewi kaget, karena memang tak biasanya aku berkunjung ke sana pagi-pagi begitu, biasanya jika aku ingin berkunjung selepas tengah hari dan sore harinya.“Wah, tumben pagi-pagi sekali kamu datang ke sini, Ryan!” seru Om Ramlan menyambut ku di teras, saat ia melihat dari dalam rumah aku berjalan memasuki halaman.“Iya Om, karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada Om.” ujar ku saat telah tiba di teras itu.“Ayo, kita masuk!” ajak Om Ramlan.“Kayaknya seru di teras ini aja, Om. Di sini udara pagi terasa sangat segar,” ujar ku.“Oh ya udah kalau begitu, kita duduk di sini aja.” Om Ramlan urungkan niatnya untuk mengajak ku masuk ke
“Tante juga sangat cantik, Aku senang sekali dapat berkenalan dan menemani Tante malam ini.” ujar ku balas tersenyum seraya lebih mendekatkan tubuh ke istri muda Om ku itu, hal itu tentu saja membuat Jenny semakin senang.Karena aku hanya suka minum bir di antara minum-minuman yang ada di meja itu, Jenny jadi ikut-ikutan dan tentu saja tak membuat ia mabuk berat seperti yang sering ia lakukan bersama Rocky malam-malam sebelumnya. Sekitar jam 11 malam Jenny pun mengajak ku ke luar dari night club itu, awalnya Jenny menawarkan agar aku yang mengemudi mobil namun aku bilang belum bisa, akhirnya Jenny sendiri yang mengemudikan mobilnya membawa ku ke sebuah hotel mewah.Diajak ke hotel bukan hal yang baru lagi bagi ku, dan aku pun sudah bisa menebak apa tujuan Jenny membawa ku ke sana, dengan pengalaman yang aku dapati aku tak merasa canggung saat tiba di kamar hotel dan Jenny langsung mengajak ku bercinta. Karena tujuan ku untuk membongkar perilaku buruk yang dilakukan istri muda Om ku it
“Ya Tante, nanti sekali waktu aku dan Tante Eva pasti akan mampir ke sana.” ujar ku.“Baiklah Ryan, karena hari udah semakin sore aku pamit pulang dulu ya? Kapan-kapan aku akan berkunjung lagi ke sini, aampai salamku pada Eva!” ucap Dola.“Ya Tante, nanti aku sampaikan.” ujar ku mengiringi Dola berdiri dan berjalan akan ke luar dari ruangan cafe itu.Setibanya di depan meja kasir yang memang berada di depan pintu ke luar cafe itu, Dola hentikan langkahnya, Dola bertanya pada Lusy berapa biaya makanan yang tadi dipesan Eva di mejanya itu, Lusy tak mau menjawab dan bilang tak usah dibayar, namun Dola ngotot dan takan berkunjung ke cafe itu lagi jika tak disebutkan dan menerima uang untuk membayar pesanan di mejanya itu.Karena Dola ngotot dan bilang begitu, Lusy akhirnya menyebutkan berapa jumlah yang harus dibayar, setelah membayarnya Dola baru melangkah ke luar dari ruangan cafe menuju mobilnya, aku pun mengantar mantan Guru ku itu hingga ke mobil.“Aku pamit ya Ryan? Janji ya kapan-k
“Tante Eva memanggilku?” tanya ku setelah aku tiba di meja tempat Eva dan Dola ngobrol.“Iya Ryan, nih ada Dola juga di sini. Duduklah!” jawab Eva.“Apa kabar Tante?” sapa ku pada Dola diiringi seulas senyum.“Baik Ryan, kamu sendiri?” ucap Dola balik bertanya.“Baik juga.” ujar ku agak kaku.“Nah, kalian ngobrol aja dulu di sini ya? Aku mau lanjutin memeriksa laporan bulanan dari Lusy.” tutur Eva yang sengaja ingin memberi waktu untuk kami berdua agar lebih leluasa ngobrolnya.“Ya Tante.” ulas ku, Eva pun segera berlalu dari meja itu kembali ke ruangannya, sementara sepeninggalnya Eva kami lanjutkan obrolan.“Tante Dola udah lama tiba di sini?” tanya ku.“Sekitar setengah jam yang lalu. Oh ya, bagaimana dengan kuliahmu?” Dola balik bertanya.“Lancar-lancar aja, Tante.”“Aku minta maaf ya, karena beberapa waktu lalu pernah kasar padamu.” ucap Dola dengan raut wajah yang memang menampakan penyesalan.“Udahlah Tante, nggak perlu diingat lagi kejadian itu. Aku sendiri udah melupakan dan
Dari jam 11 siang aku yang telah pulang dari kuliah langsung menuju cafe tanpa menunggu jemputan dari Eva yang saat itu tengah sibuk pula mengurus anak-anaknya di sekolah, situasi cafe saat itu masih sepi hanya 4 hingga 6 orang saja yang datang berkunjung. Karena belum ada yang bisa dilakukan di sana, aku duduk-duduk saja ngobrol dengan Lusy di meja kasir sambil menunggu kedatangan Eva.“Udah lama kamu bekerja di cafe ini, Lusy?” tanya ku.“Udah masuk 3 tahunan Mas.” jawab Lusy.“Kamu nggak sekolah, lagi?”“Aku baru aja tamat SMA tahun kemarin, sebelumnya Bu Eva mengizinkan aku bekerja sepulang dari sekolah dari jam 1 siang hingga jam 8 malam.” jawab Lusy lagi.“Oh, jadi selama 3 tahunan kamu kerja sambil sekolah. Nggak lanjut kuliah?”“Belum Mas, aku sengaja nunda untuk nggak kuliah dulu. Kasihan orang tuaku di desa, mereka lagi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku kumpulin aja dulu gaji yang aku dapatkan dari hasil kerjaku di sini, nanti jika udah cukup baru aku akan
“Ya udah, aku nggak akan bahas soal Ryan lagi sama kamu. Aku janji, kamu jangan ngambek gitu dong!” bujuk Sony, Desy hanya diam dengan raut wajah yang memang menunjukan kekesalannya akan pertanyaan Sony mengenai aku.Kekesalan itu bukan tanpa alasan, karena selama ini Desy bersusah payah mencari dan melupakan perasaannya terhadap ku, kalau saja ia sempat bertemu dengan aku pria pertama yang hadir di hatinya itu, mungkin akan sulit bagi Sony mendapatkan tempat di hati Desy. Meskipun pada dasarnya wanita cantik berkaca mata itu menyadari sejak awal hubungan dia dan aku berjalan tanpa status apa-apa, hanya didasari rasa suka sama suka saja, tak terikat hubungan khusus seperti halnya pacaran.****Sore itu di Kota M cuaca sangat buruk, hujan lebat disertai petir serta angin kencang. Keadaan gelap padahal hari masih jam 5 sore, di sebuah rumah kontrakan elit sepasang ingsan yang bukan pasangan suami-istri tengah tengah bergumul di atas ranjang, mereka tidak lain adalah Cindy dan mantan kek
Siang itu aku pulang dari sekolah bersamaan dengan selesainya jam mengajar Bu Dola, hingga aku tak perlu naik angkot untuk menuju rumah Guru ku itu melakukan tugas ku bekerja di sana, seperti biasa sebelum memulai pekerjaan aku dan Dola makan siang bareng di meja makan.“Hari ini kira-kira apa yang
“Hemmm... Aku nggak pernah ingin berkata yang nggak sejalan dengan hatiku, Tante. Apa yang aku lihat dan nilai, akan aku katakan apa adanya.” Dola menatap lekat ke wajah ku seolah-olah mencari kebenaran atas semua yang aku ucapkan, Dola kemudian tersenyum dan merasa yakin kalau aku benar-benar berk
Sepulang dari sekolah kembali aku dibawa Dola ke rumahnya, rencana ku saat itu akan melanjutkan pekerjaan yang kemarin siang terbengkalai membuat saluran pembuangan air.“Ryan, sebelum melanjutkan pekerjaanmu yang kemarin ada baiknya kita makan siang dulu!” ujar Dola.“Ya Tante,” ulas ku yang baru
Siang itu kembali aku bareng dengan Dola dari sekolah menuju rumah megah milik Guru cantik itu, setelah makan siang bersama dan beristirahat sejenak, aku menuju perkarangan belakang rumah lokasi galian kolam ikan yang dikerjakan para pekerja dari toko bangunan langganan Dola, galian itu benar-benar







