Home / Romansa / GAIRAH MASA LAJANG / Bab 8. Ibu Kos Cantik

Share

Bab 8. Ibu Kos Cantik

Author: Andy Lorenza
last update Huling Na-update: 2026-01-14 22:07:29

Ada keistimewaan jika masuk bekerja di hari minggu, Ko Aheng memberi upah lebih dari hari-hari biasanya, jika hari biasa para pekerjanya diupah sebesar Rp. 8.000,- namun khusus bagi siapa saja yang masuk di hari minggu akan diupah Rp. 10.000,-.

Dulunya Ko Aheng ingin menutup usahanya itu setiap hari minggu tiba, karena ia berfikir tidak akan ada para pekerjanya mau masuk bekerja, sebab hari minggu itulah saatnya untuk berlibur bersama keluarga oleh kebanyakan orang yang berada di kota itu, namun sejak para pekerjanya memutuskan untuk tetap masuk bekerja meskipun hari minggu, makanya Ko Aheng tetap membuka usahanya dengan memberi upah lebih pada para pekerja khusus hari minggu itu saja.

Aku sendiri belum mengetahui akan hal itu, karena memang aku baru masuk bekerja jum’at siang, Ko Aheng pun tidak menjelaskan padaku akan bonus jika masuk kerja di hari minggu itu, Ko Aheng juga tidak melarang bagi pekerjanya yang tidak bisa masuk bekerja saat hari minggu tiba, namun para pekerja di sana telah sepakat untuk bergiliran mengambil libur di hari minggu, agar usaha milik Ko Aheng tetap buka setiap harinya.

Wajar juga Ko Aheng memberi upah lebih pada para pekerjanya setiap hari minggu, karena di samping sebagai uang kerajinan untuk para pekerja yang tetap masuk, di hari minggu itu pula pasar sentral Kota P dua kali lipat lebih ramai dan pesanan pecahan es balok dari para pedagang daging dan ikan lebih banyak dari hari biasanya.

Pekerja di hari minggu itu memang tidak sebanyak hari-hari biasa, karena sebagian mengambil waktu libur sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh para pekerja di usaha milik Ko Aheng itu, meskipun permintaan lebih banyak dari hari-hari biasanya, Ko Aheng tidak pula serta merta memaksa mereka bekerja dengan memenuhi semua permintaan pedagang daging dan ikan itu.

Para pekerja tetap melakukan tugasnya secara normal, sesuai dengan jumlah mereka yang bekerja hari minggu itu. Sementara untuk memenuhi permintaan yang dua kali lipat seperti biasanya, Ko Aheng melakukan cara dengan mengurangi harga per bungkus pecahan es itu yang semula Rp. 1.000,- menjadi Rp. 800,- dengan syarat para pedagang daging dan ikan itu sendiri yang menyuruh pekerjanya untuk menjemput pecahan es yang sudah dibungkus kantong plastik ke ruko Ko Aheng.

Karena memang mereka sangat butuh, maka setiap hari minggu mereka pun bersedia menjemput bungkusan es itu di luar pesanan wajar yang dibawa oleh pekerja Ko Aheng, dengan harga lebih Rp. 800,- lebih murah dari yang diantarkan para pekerja yaitu Rp. 1.000,- / bungkusnya.

Saat istirahat siang tiba, aku pun makan siang dengan perbekalan yang aku bawa dari kos tadi pagi, cukup lelah memang karena belum terbiasa bekerja seharian penuh, karena semangat yang saat itu muncul akibat hendak membayar sewa kos yang biasanya ditagih pemilik kos setiap tanggal yang telah ditentukan tepatnya besok sore.

“Ryan!” panggil Ko Aheng, aku yang saat itu baru saja dari kamar mandi membersihkan tubuhku, segera menghadap dan duduk berhadapan dengan Ko Aheng, karena saat itu jam kerja telah usai.

“Ya Ko, ada apa?” tanyaku.

“Nih, upahmu untuk hari ini.” ujar Ko Aheng memberi uang kepadaku sebesar Rp. 10.000,- aku lalu merogoh saku celana mengambil 2 lembar uang seribuan, kemudian aku serahkan pada Ko Aheng dengan maksud mengembalikan Rp. 2.000,- karena aku tak tahu hari minggu itu upahnya sebesar Rp. 10.000,- bukan Rp. 8.000,-.

“Loh, kok dikembalikan Rp. 2.000,- lagi?” tanya Ko Aheng heran.

“Bukannya Ko Aheng bilang jika bekerja setengah hari akan diupah Rp. 4.000,- dan jika seharian penuh tentu akan diupah sebesar Rp. 8.000,-.” ujarku.

“Oh iya, aku yang lupa memberi tahumu akan upah khusus hari minggu. Setiap hari minggu para pekerja yang masuk, akan aku upah lebih dari biasanya yaitu sebesar Rp. 10.000- jadi kamu nggak perlu memberi kembalian uang itu,” tutur Ko Aheng.

“Oh begitu, Ko. Wah, beruntung sekali aku masuk hari ini. Terima kasih Ko, aku mohon pamit untuk pulang dulu.” Ucapku gembira.

“Ya, hati-hati di jalan!” ujar Ko Aheng sembari tersenyum, ia semakin senang melihat aku walaupun baru bekerja dan yang paling muda di kalangan para pekerjanya, namun aku begitu cekatan dan rajin.

Seperti biasanya dari tempat usaha Ko Aheng itu aku pulang ke kos dengan menaiki angkot yang berlalu-lalang di depan pasar sentral Kota P itu, rasa letih yang tadi aku rasakan seakan sirna saat ingat uang yang dikumpulkan dari hasil kerjaku dalam 3 hari belakangan ini telah cukup untuk membayar sewa kos bulan ini.

****

Senin sore tak lama setelah aku pulang dari sekolah, Ibu Eva pemilik kos-kosan pun datang menagih sewa kos di deretan rumah petak yang ia bangun itu, seperti halnya seluruh penghuni kos-kosan itu membayar sewa kos yang ditagih aku pun membayarnya pada Bu Eva. Aku yang dalam minggu itu mendapat giliran sekolah siang, pekerjaanku di usaha es milik Ko Aheng aku lakukan dari pagi hingga jam 12 siang.

Tempat kediaman Bu Eva sendiri cukup jauh dari kos-kosan yang ia miliki, dilihat dari penampilan serta raut wajahnya, agaknya wanita pemiliki kos-kosan itu tidak jauh beda usianya dengan Bu Dola salah seorang Guru wanita di sekolahku. Meskipun sudah memiliki dua orang anak, yang masing-masing duduk di kelas 5 SD dan yang bungsu di Taman Kanak-kanak, namun penampilannya tak kalah dengan gadis-gadis remaja pada masa itu, mungkin karena Bu Eva tergolong orang yang serba berkecukupan hingga memiliki biaya yang cukup untuk perawatan tubuhnya.

Wanita pemilik kos itu lebih suka duduk di beranda petakan rumah yang dihuni Sugeng, karena memang keluarga itu dinilai Bu Eva lebih ramah dan ker di banding penghuni kos-kosannya yang lain. Di beranda rumah Sugeng itu terdapat tempat duduk meskipun hanya terbuat dari papan yang dibuat memanjang, serta meja yang sama panjangnya dengan kursi.

Kebetulan malam itu Sugeng tak membawa dagangan satenya dengan gerobak mengelilingi komplek perumahan di sekitar kos-kosan milik Bu Eva, sesekali waktu memang ia hanya berdagang sate di depan kos yang ia sewa, hingga para pelanggannya yang telah mengetahui malam-malam tertentu Sugeng tak berjualan keliling, datang sendiri ke tempat itu.

“Sugeng!” panggil Bu Eva.

“Ya Bu Eva,” sahut Sugeng

“Tolong buatkan dua piring sate, yang satunya buat Ryan.” ujar Bu Eva.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 76. Hati Dola Berbunga-bunga

    Dola pun mau-maunya menghampiri ku di selokan itu, padahal hal itu tak pernah ia lakukan. Jangan kan melihat dan mendekati selokan, melihat pembuangan air dari dapur pun Dola tak pernah, terkecuali tak sengaja saat ia berada di perkarangan belakang rumahnya dulu, saat saluran pembuangan air itu masih terbuka tidak seperti sekarang telah dibuatkan saluran pembuangan air melalui sambungan paralon oleh ku menuju selokan.Bahkan Dola seakan betah berlama-lama di sana, menemani ku bekerja sambil sesekali mengajak aku ngobrol.“Senin depan kamu udah masuk sekolah kembali, jangan sampai kehujanan lagi ya? Nanti kamu sakit!” Dola menasehati.“Aku sih sering kehujanan Tante, tapi nggak seperti malam itu saat aku membantu Mbak Ningsih,” ujar ku.“Ya, tapi kamu juga jangan gegabah! Jika bisa dihindari, hindarilah jangan sampai kehujanan! Begitu pula jika menolong seseorang, kamu juga harus memikirkan kondisi tubuhmu! Sakit itu benar-benar nggak ngenakin, buktinya apapun itu akan pahit untuk dite

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 75. Tak Sadar Dibohongi

    Pakaian mereka bertebaran ke seluruh penjuru ruang kamar itu, seprei dan bantal yang tadinya rapi menjadi awut-awutan, bak pengembara yang kehausan tak menemukan air selama di perjalanan, begitu bertemu ia akan melepaskan rasa dahaga itu hingga puas. Sore pun telah berubah menjadi malam, sepasang tubuh yang tadinya terkulai lemas hingga tertidur pulas pun bangun.“Sepertinya udah saatnya aku pulang, Aldo. Aku nggak bisa lebih lama lagi di sini, aku harus tiba di rumah kembali sebelum Mas Deni pulang.” Ujar Cindy sambil mengenakan pakaiannya kembali.“Ya, aku akan mengantarmu pulang.” ulas Aldo yang juga mengenakan pakaiannya.“Untuk saat ini nggak usah, Aldo. Aku kuatir nanti menimbulkan kecurigaan tetangga di sekitaran rumah Mas Deni, aku pulang dengan taksi saja.” tolak Cindy.“Oh ya udah kalau begitu, kapan sekiranya kita akan bertemu lagi Cindy?” tanya Aldo, yang sepertinya belum puas akan pertemuan mereka itu.“Hemmm... Kamu harus sabar, sayang. Untuk sementara ini biar aku saja

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 74. Liciknya Cindy

    Bagi ku hal itu memang menjenuhkan, karena aku telah terbiasa untuk bergerak dan melakukan apa saja yang bisa dikerjakan, namun aku menyadari semua yang dilakukan Dola itu adalah untuk kebaikan diri ku juga, hingga aku menuruti saja semua yang diperintahkan Dola itu.*****Aldo telah berusaha untuk melupakan Cindy dalam hidupnya, namun hal itu benar-benar sulit ia lakukan, buktinya sudah 3 bulan lebih sejak pertemuan mereka yang terakhir kalinya di sebuah restoran, Cindy selalu saja mengganggu pikirannya. Semakin ia berusaha melupakan justru semakin kacau pikirannya, Aldo ternyata belum bisa mengiklaskan Cindy pada pria yang saat ini telah menjadi suaminya.Sementara bagi Cindy sendiri, perasaannya tak serta merta hilang pada Aldo, boleh dikatakan Aldo justru mendapat tempat lebih di hati Cindy, karena selama ini memang hubungan mereka jalin berdasarkan cinta, bukan seperti pada Deni yang tujuan utamanya hanya untuk menguasai materi mantan suami Dola itu.Saat bercinta pun Cindy meras

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 73. Hadirnya Rasa Cinta

    “Ya bisa jadi begitu, Bi. Oh ya Bi, nanti masakan yang seger-seger ya? Seperti sup misalnya, agar Ryan lebih berselera untuk makan!” pinta Dola.“Baik Nyonya, setelah melipat pakaian ini aku akan ke pasar membeli bahan-bahan yang akan dibuat sup,” ujar Bi Lastri.“Uang untuk belanja dapur masih ada, Bi?”“Masih banyak Nyonya, cukup kok hingga akhir bulan ini.” jawab Bi Lastri.Seharian penuh aku benar-benar dirawat oleh Dola, mulai dari makan hingga melap seluruh tubuh ku dengan air hangat. Begitu malam datang Dola masih menjaga ku, Dola memang ikut berbaring di samping ku namun sengaja ia tidak memejamkan mata, nampak sekali perhatiannya yang besar pada ku.Terkadang Dola senyum-senyum sendiri sambil menatap wajah ku yang telah tertidur dengan pulasnya, bahkan sesekali ia mengecup mesra kening ku yang berbaring di sampingnya itu.“Andai saja kamu bukan muridku, mungkin suatu saat nanti aku bersedia untuk kamu jadikan istri. Saat ini saja aku merasa begitu nyaman, dan kamu seolah-olah

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 72. Jatuh Pingsan

    “Semalam aku kehujanan Tante, aku membantu tetangga kosku yang akan melahirkan dengan membawanya ke rumah sakit. Suaminya belum pulang dari berdagang sate keliling, semalam kan hujan lebat Tante kan tahu untuk menuju jalan raya dari kosku itu harus terlebih dahulu melewati gang. Karena aku fokusnya menggandeng Mbak Ningsih agar kuat berjalan sampai jalan raya, makanya aku basah kutub kehujanan,” tutur ku.“Lalu dia nya nggak kenapa-kenapa dengan janin yang ia kandung?” tanya Dola kaget atas tindakan nekad yang aku lakukan tadi malam itu.“Nggak apa-apa, Tante. Mbak Ningsih melahirkan dengan selamat begitu tiba di rumah sakit.” jawab ku.“Syukurlah kalau begitu.” Dola menghela nafas lega.“Ryan...!” tiba-tiba Dola berteriak saat tubuh ku yang tadi bersandar di dinding terjatuh dengan posisi tertelungkup di lantai, sepertinya aku pingsan akibat suhu panas tubuh ku terlalu tinggi.Dola dan Bi Lastri segera membalikan tubuh ku, lalu dengan cepat Bi Lastri mengambil bantal di kamar agar ak

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 71. Menolong Tanpa Pambrih

    Tak perlu bagi ku untuk menjelaskan kalau diri aku bukan suami dari wanita yang baru saja melahirkan itu, yang terpenting saat itu Mbak Ningsih melahirkan dengan selamat, tanpa ada pertanyaan panjang jika nanti aku mengatakan kalau aku bukan suaminya pada dokter yang berdiri di hadapan ku itu.“Terima kasih dokter,” ucap ku.“Ya, silahkan masuk saja! Aku mau ke ruangan sebelah, Istri anda sekarang ditangani bidan.” tutur dokter itu, lalu ia berlalu menuju ruangan sebelah yang ia maksudkan.Aku dan Arya pun masuk ke dalam ruangan persalinan, di sana aku melihat Mbak Ningsih, seorang perawat dan seorang bidan yang tengah mengendong bayi.“Mbak Ningsih selamat ya! Sekarang aku akan kembali ke kos dulu, siapa tahu Mas Sugeng udah pulang sembari membawa semua keperluan serta pakaian yang akan dibutuhkan nanti! Titip Arya ya, Bu Bidan?” ucap ku, Ningsih dan Bidan itu pun anggukan kepala.Aku pun bergegas ke luar ruangan itu menuju halaman rumah sakit di mana taksi yang diminta untuk menung

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status