MasukAda keistimewaan jika masuk bekerja di hari minggu, Ko Aheng memberi upah lebih dari hari-hari biasanya, jika hari biasa para pekerjanya diupah sebesar Rp. 8.000,- namun khusus bagi siapa saja yang masuk di hari minggu akan diupah Rp. 10.000,-.
Dulunya Ko Aheng ingin menutup usahanya itu setiap hari minggu tiba, karena ia berfikir tidak akan ada para pekerjanya mau masuk bekerja, sebab hari minggu itulah saatnya untuk berlibur bersama keluarga oleh kebanyakan orang yang berada di kota itu, namun sejak para pekerjanya memutuskan untuk tetap masuk bekerja meskipun hari minggu, makanya Ko Aheng tetap membuka usahanya dengan memberi upah lebih pada para pekerja khusus hari minggu itu saja.
Aku sendiri belum mengetahui akan hal itu, karena memang aku baru masuk bekerja jum’at siang, Ko Aheng pun tidak menjelaskan padaku akan bonus jika masuk kerja di hari minggu itu, Ko Aheng juga tidak melarang bagi pekerjanya yang tidak bisa masuk bekerja saat hari minggu tiba, namun para pekerja di sana telah sepakat untuk bergiliran mengambil libur di hari minggu, agar usaha milik Ko Aheng tetap buka setiap harinya.
Wajar juga Ko Aheng memberi upah lebih pada para pekerjanya setiap hari minggu, karena di samping sebagai uang kerajinan untuk para pekerja yang tetap masuk, di hari minggu itu pula pasar sentral Kota P dua kali lipat lebih ramai dan pesanan pecahan es balok dari para pedagang daging dan ikan lebih banyak dari hari biasanya.
Pekerja di hari minggu itu memang tidak sebanyak hari-hari biasa, karena sebagian mengambil waktu libur sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh para pekerja di usaha milik Ko Aheng itu, meskipun permintaan lebih banyak dari hari-hari biasanya, Ko Aheng tidak pula serta merta memaksa mereka bekerja dengan memenuhi semua permintaan pedagang daging dan ikan itu.
Para pekerja tetap melakukan tugasnya secara normal, sesuai dengan jumlah mereka yang bekerja hari minggu itu. Sementara untuk memenuhi permintaan yang dua kali lipat seperti biasanya, Ko Aheng melakukan cara dengan mengurangi harga per bungkus pecahan es itu yang semula Rp. 1.000,- menjadi Rp. 800,- dengan syarat para pedagang daging dan ikan itu sendiri yang menyuruh pekerjanya untuk menjemput pecahan es yang sudah dibungkus kantong plastik ke ruko Ko Aheng.
Karena memang mereka sangat butuh, maka setiap hari minggu mereka pun bersedia menjemput bungkusan es itu di luar pesanan wajar yang dibawa oleh pekerja Ko Aheng, dengan harga lebih Rp. 800,- lebih murah dari yang diantarkan para pekerja yaitu Rp. 1.000,- / bungkusnya.
Saat istirahat siang tiba, aku pun makan siang dengan perbekalan yang aku bawa dari kos tadi pagi, cukup lelah memang karena belum terbiasa bekerja seharian penuh, karena semangat yang saat itu muncul akibat hendak membayar sewa kos yang biasanya ditagih pemilik kos setiap tanggal yang telah ditentukan tepatnya besok sore.
“Ryan!” panggil Ko Aheng, aku yang saat itu baru saja dari kamar mandi membersihkan tubuhku, segera menghadap dan duduk berhadapan dengan Ko Aheng, karena saat itu jam kerja telah usai.
“Ya Ko, ada apa?” tanyaku.
“Nih, upahmu untuk hari ini.” ujar Ko Aheng memberi uang kepadaku sebesar Rp. 10.000,- aku lalu merogoh saku celana mengambil 2 lembar uang seribuan, kemudian aku serahkan pada Ko Aheng dengan maksud mengembalikan Rp. 2.000,- karena aku tak tahu hari minggu itu upahnya sebesar Rp. 10.000,- bukan Rp. 8.000,-.
“Loh, kok dikembalikan Rp. 2.000,- lagi?” tanya Ko Aheng heran.
“Bukannya Ko Aheng bilang jika bekerja setengah hari akan diupah Rp. 4.000,- dan jika seharian penuh tentu akan diupah sebesar Rp. 8.000,-.” ujarku.
“Oh iya, aku yang lupa memberi tahumu akan upah khusus hari minggu. Setiap hari minggu para pekerja yang masuk, akan aku upah lebih dari biasanya yaitu sebesar Rp. 10.000- jadi kamu nggak perlu memberi kembalian uang itu,” tutur Ko Aheng.
“Oh begitu, Ko. Wah, beruntung sekali aku masuk hari ini. Terima kasih Ko, aku mohon pamit untuk pulang dulu.” Ucapku gembira.
“Ya, hati-hati di jalan!” ujar Ko Aheng sembari tersenyum, ia semakin senang melihat aku walaupun baru bekerja dan yang paling muda di kalangan para pekerjanya, namun aku begitu cekatan dan rajin.
Seperti biasanya dari tempat usaha Ko Aheng itu aku pulang ke kos dengan menaiki angkot yang berlalu-lalang di depan pasar sentral Kota P itu, rasa letih yang tadi aku rasakan seakan sirna saat ingat uang yang dikumpulkan dari hasil kerjaku dalam 3 hari belakangan ini telah cukup untuk membayar sewa kos bulan ini.
****
Senin sore tak lama setelah aku pulang dari sekolah, Ibu Eva pemilik kos-kosan pun datang menagih sewa kos di deretan rumah petak yang ia bangun itu, seperti halnya seluruh penghuni kos-kosan itu membayar sewa kos yang ditagih aku pun membayarnya pada Bu Eva. Aku yang dalam minggu itu mendapat giliran sekolah siang, pekerjaanku di usaha es milik Ko Aheng aku lakukan dari pagi hingga jam 12 siang.
Tempat kediaman Bu Eva sendiri cukup jauh dari kos-kosan yang ia miliki, dilihat dari penampilan serta raut wajahnya, agaknya wanita pemiliki kos-kosan itu tidak jauh beda usianya dengan Bu Dola salah seorang Guru wanita di sekolahku. Meskipun sudah memiliki dua orang anak, yang masing-masing duduk di kelas 5 SD dan yang bungsu di Taman Kanak-kanak, namun penampilannya tak kalah dengan gadis-gadis remaja pada masa itu, mungkin karena Bu Eva tergolong orang yang serba berkecukupan hingga memiliki biaya yang cukup untuk perawatan tubuhnya.
Wanita pemilik kos itu lebih suka duduk di beranda petakan rumah yang dihuni Sugeng, karena memang keluarga itu dinilai Bu Eva lebih ramah dan ker di banding penghuni kos-kosannya yang lain. Di beranda rumah Sugeng itu terdapat tempat duduk meskipun hanya terbuat dari papan yang dibuat memanjang, serta meja yang sama panjangnya dengan kursi.
Kebetulan malam itu Sugeng tak membawa dagangan satenya dengan gerobak mengelilingi komplek perumahan di sekitar kos-kosan milik Bu Eva, sesekali waktu memang ia hanya berdagang sate di depan kos yang ia sewa, hingga para pelanggannya yang telah mengetahui malam-malam tertentu Sugeng tak berjualan keliling, datang sendiri ke tempat itu.
“Sugeng!” panggil Bu Eva.
“Ya Bu Eva,” sahut Sugeng
“Tolong buatkan dua piring sate, yang satunya buat Ryan.” ujar Bu Eva.
Sebuah ciuman hangat mendarat di bibirku, aku kaget tapi tak berani bertindak apa-apa selain diam dengan sejuta tanya dalam hati akan sikap wanita cantik di dekatku itu.Ciuman itu semakin intens hingga tubuh kami terbakar gelora panas yang bergejolak, sebuah sensasi baru yang tak pernah aku alami, bahkan membayangkannya pun aku tak pernah, debaran jantungku semakin kencang, badan terasa panas dingin, ada sesuatu hasrat yang menyeruak dari tubuhku.Bu Dola semakin liar, kali ini bukan hanya bibirnya saja yang ditempelkan akan tetapi lidahnya pun masuk menyeruak mencari lidahku. Ketika bertemu ia pun memainkannya, hingga tubuhku makin bergetar karena birahiku muncul.Di samping memainkan lidahnya, Bu Dola juga melumat rakus bibirku hingga aku agak sulit bernapas. Meskipun lidah dan air liur saling bertaut, akan tetapi kerongkongan kami terasa kering akibat gelora nafsu yang kian membara di sekujur tubuh.Bu Dola tiba-tiba hentikan ciumannya, ia melangkah ke arah pintu gudang lalu mengu
“Iya Bu, aku memang udah punya pacar. Namanya Desy, siswi jurusan akuntansi.” Jawabku ragu-ragu.“Wah, udah sering dong jalan bareng di luar?” tebak Bu Dola.“Aku sama Desy nggak pernah jalan, Bu. Kami hanya bertemu saat jam istirahat di perpustakaan sekolah saja,” jawabku dengan polosnya.“Pacaran seperti apa itu?!” Bu Dola tertawa kecil merasa lucu dengan yang baru saja aku katakan.“Pacaran itu ya mesti dibawa jalan dong, Ryan. Pergi ke tempat-tempat yang romantis kek, atau di ajak nonton di bioskop, kan asyik tuh?” sambung Bu Dola.“Aku belum berani, Bu. Meskipun Desy sering mengajakku untuk jalan, lagi pula aku pun merasa nggak punya uang lebih untuk itu. Kiriman orang tuaku benar-benar pas-pasan, hanya cukup untuk keperluan sehari-hari, bayar kos dan bayar bulanan sekolah.” tuturku apa adanya.“Oh, karena uang yang pas-pasan itu penyebabnya hingga kamu menolaknya untuk jalan?” ulas Bu Dola.“Nggak juga, Bu. Desy juga pernah aku kasih tahu akan alasan itu, Ia bahkan sanggup untuk
“Oh, nggak usah Bu. Terima kasih, aku baru saja selesai makan,” tolakku yang ikut duduk bersama Ibu kos itu di beranda rumah tempat Sugeng berjualan sate.“Nggak perlu sungkan, nanti Ibu yang bayarin.” ujar Bu Eva sembari tersenyum.“Nggak sungkan kok, Bu. Serius, aku baru saja selesai makan. Mengetahui Ibu datang menagih sewa kos dan duduk di sini, aku pun menghampiri Ibu di sini untuk membayar sewa kosku bulan ini.” tuturku sembari menyerahkan uang Rp. 20.000,- kepada Bu Eva.“Terima kasih, Ryan. Oh ya, bagaimana kabar orang tuamu di desa? Apakah mereka dalam baik-baik saja?”” tanya Bu Eva.“Mereka baik-baik saja, Bu.” jawabku yang menutupi jika bulan ini orang tuaku lagi kesusahan dan hanya bisa mengirim uang untuk bayar SPP, sementara kekurangan uang sewa kos aku tambah dari hasil bekerja menjadi kuli di pasar sentral.“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Bu Eva lagi sambil makan pesanan sate yang dibuatkan Sugeng.“Lancar-lancar saja, Bu.” jawabku lagi.“Bagus, bagi kamu yang jau
Ada keistimewaan jika masuk bekerja di hari minggu, Ko Aheng memberi upah lebih dari hari-hari biasanya, jika hari biasa para pekerjanya diupah sebesar Rp. 8.000,- namun khusus bagi siapa saja yang masuk di hari minggu akan diupah Rp. 10.000,-.Dulunya Ko Aheng ingin menutup usahanya itu setiap hari minggu tiba, karena ia berfikir tidak akan ada para pekerjanya mau masuk bekerja, sebab hari minggu itulah saatnya untuk berlibur bersama keluarga oleh kebanyakan orang yang berada di kota itu, namun sejak para pekerjanya memutuskan untuk tetap masuk bekerja meskipun hari minggu, makanya Ko Aheng tetap membuka usahanya dengan memberi upah lebih pada para pekerja khusus hari minggu itu saja.Aku sendiri belum mengetahui akan hal itu, karena memang aku baru masuk bekerja jum’at siang, Ko Aheng pun tidak menjelaskan padaku akan bonus jika masuk kerja di hari minggu itu, Ko Aheng juga tidak melarang bagi pekerjanya yang tidak bisa masuk bekerja saat hari minggu tiba, namun para pekerja di sana
“Ah... Aku rasa nggak perlu. Besok kan hari sabtu, lusa hari minggunya aku bisa bekerja seharian penuh. Hemmm.. Aku pasti akan mendapatkan uang untuk penambah bayar sewa kos bulan ini,” gumamku bersemangat, kerisauan yang kemarin hadir melanda pikiranku saat itu juga sirna dengan upah yang aku terima dari hasil pekerjaanku sebagai kuli.Hidup di kota memang butuh perjuangan terutama bagi diriku yang memang berasal dari keluarga yang kurang mampu.Aku menyingkap tudung nasi, di sana aku jumpai hanya tinggal sepotong ikan untuk sekali makan begitu pula dengan nasi yang ada di termos merupakan nasi terakhir karena saat itu beras pun sudah habis.Aku pun makan dengan lahapnya, karena seharian tadi perutku hanya diganjal dengan 4 buah gorengan serta sekitar 1 liter air mineral selama ia bekerja. Hanya duduk beberapa menit setelah makan, mataku pun terasa berat, saat itu jam baru menunjukan pukul 8, Aku tidur lebih awal dari biasanya jam 10 malam efek kekenyangan dan kelelahan.****Letak p
“Ya, Aku sanggup Pak.” tegasku lagi.“Hemmm... Aku hargai kegigihanmu, Nak. Jarang sekali aku jumpai orang se usiamu mau bekerja seperti ini, aku sebenarnya nggak tega karena kamu masih sekolah tapi mendengar ceritamu tadi aku akan terima kamu bekerja di sini.” tutur pria setengah baya itu diiringi senyum kagumnya.“Terima kasih, Pak. Tapi apakah bisa aku hanya bekerja setengah hari saja, karena aku musti sekolah dulu? Jika aku masuk pagi, siangnya sepulang sekolah aku langsung ke sini dan jika aku masuk siang, paginya aku ke sini dulu bekerja.” Ucapku gembira, namun aku terlebih dulu ingin memastikan apakah pria setengah baya pemilik usaha es itu mau menerimaku bekerja setengah hari.“Ya, kamu boleh bekerja setengah hari dan memang kamu harus sekolah dulu. Kalau sampai kamu nggak sekolah karena keasyikan kerja, kamu akan aku berhentikan!” tutur pria pemilik ruko dan usaha es itu.“Terima kasih, Pak. Terima kasih,” aku sangat senang mendengar penuturan bijak dari pria setengah baya it







