Share

Bab 9. Bu Dola

Author: Andy Lorenza
last update publish date: 2026-01-14 22:08:19

“Oh, nggak usah Bu. Terima kasih, aku baru saja selesai makan,” tolakku yang ikut duduk bersama Ibu kos itu di beranda rumah tempat Sugeng berjualan sate.

“Nggak perlu sungkan, nanti Ibu yang bayarin.” ujar Bu Eva sembari tersenyum.

“Nggak sungkan kok, Bu. Serius, aku baru saja selesai makan. Mengetahui Ibu datang menagih sewa kos dan duduk di sini, aku pun menghampiri Ibu di sini untuk membayar sewa kosku bulan ini.” tuturku sembari menyerahkan uang Rp. 20.000,-  kepada Bu Eva.

“Terima kasih, Ryan. Oh ya, bagaimana kabar orang tuamu di desa? Apakah mereka dalam baik-baik saja?”” tanya Bu Eva.

“Mereka baik-baik saja, Bu.” jawabku yang menutupi jika bulan ini orang tuaku lagi kesusahan dan hanya bisa mengirim uang untuk bayar SPP, sementara kekurangan uang sewa kos aku tambah dari hasil bekerja menjadi kuli di pasar sentral.

“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Bu Eva lagi sambil makan pesanan sate yang dibuatkan Sugeng.

“Lancar-lancar saja, Bu.” jawabku lagi.

“Bagus, bagi kamu yang jauh-jauh melanjutkan sekolah ke kota harus selalu rajin dan jangan pernah bolos. Jika memang nanti ada kendala seperti kiriman orang tuamu yang datang terlambat, jangan sungkan untuk bicara sama Ibu. Biar nanti seperti SPP atau keperluan lainnya, Ibu yang menutupinya dulu. Apalagi dengan sewa kos, bisa kamu tunda asal kamu tetap pergi ke sekolah setiap harinya. Kamu tahukan tempat kediaman Ibu?” tutur Bu Eva.

“Terima kasih, Bu. Ya, aku tahu di mana Ibu tinggal.” ucapku.

“Nah, jika ada apa-apa kamu jangan sungkan untuk datang ke rumah.” ujar Bu Eva mengelus-elus pundakku, aku menanggapinya dengan menganggukan kepala.

Aku benar-benar merasa nyaman tinggal di kos-kosan, di samping Mas Sugeng sekeluarga sangat baik sebagai tetangga, Bu Eva pemilik kos-kosanku itupun tak kalah ramah dan baiknya.

Setelah dapat membayar kos-kosan, aku merasa sangat tenang. Hari-hariku lalui dengan penuh semangat baik di sekolah maupun di kos, sejak aku bekerja di usaha es Ko Aheng aku merasa tidak ada lagi masalah yang menjadi beban pikiranku, akupun benar-benar bisa fokus dengan sekolahku.

****

Sebagai siswa yang berasal dari desa, aku boleh dikatakan sangat polos dan cenderung pendiam, aku bahkan tak mengerti akan pacaran yang biasa dilakukan orang-orang seusiaku di kota itu, tujuanku melanjutkan sekolah ke kota memang benar-benar untuk menuntut ilmu sebagaimana yang telah di amanatkan kedua orang tuaku di desa.

Meskipun tak jarang dari para siswi wanita yang ada di sekolah berusaha mendekatiku, karena aku mungkin memiliki wajah tampan serta postur tubuh yang ideal sebagai seorang pria. Bagiku pengalaman cinta monyet sewaktu masih di SMP dulu, sudah cukup membuatku mengerti akan arti pacaran ataupun dekat dengan lawan jenis.

Meskipun itu hanya tersalurkan melalui selembar surat yang saling berbalas-balasan, karena pada masa itu belum ada handphone, apalagi secanggih android yang bisa berkomunikasi dengan berbagai fitur dan aplikasi di dalamnya seperti masa sekarang ini.

Memasuki catur wulan kedua, sikapku masih sama seperti awal aku masuk di sekolah itu, meskipun duduk di kelas berdampingan dengan wanita namun tak pernah terlintas di pikiranku untuk bermain perasaan, bagiku baik wanita yang duduk di sebelah atau pun duduk berjarak di dalam kelas, semua aku anggap sebagai teman biasa saja.

Sampai suatu ketika aku mengenal Desy, seorang siswi di sekolah itu namun kami beda jurusan. Desy mengambil jurusan akuntansi yang tentu letak kelasnya cukup berjarak dari kelas yang aku tempati, sementara aku mengambil jurusan manajemen bisnis.

Aku dan Desy semakin hari semakin dekat, boleh dikatakan antara kami telah terjalin benih-benih asmara, namun yang mengherankan meskipun kami pacaran, tak pernah sekali pun aku dan Desy bertemu dan jalan saat di luar sekolah atau pun hari libur.

Hubungan kami sebatas bertemu di sekolah saja, itu pun pada saat jam istirahat atau pun saat pulang sekolah menuju jalan raya, di mana di sana terdapat angkot yang akan mengantarkan kami ke kediaman masing-masing.

Pada saat jam istirahat datang pun aku gunakan untuk pergi ke perpustakaan sekolah, di sanalah aku dan Desy saling bertemu, ngobrol dan besenda-gurau.

****

Siang itu cuaca mendung, awan pekat terlihat di langit telah merembeskan gerimis-gerimis kecil mengembuni daun pepohonan di depan sekolah tempat aku menuntut ilmu. Mata pelajaran di kelasku saat itu bisnis dan hukum perdata dagang dan itu merupakan mata pelajaran terakhir sebelum para siswa di kelas itu pulang.

Siang itu Lani teman se mejaku tidak masuk sekolah, dikarenakan ijin untuk menjenguk salah seorang saudaranya di rumah sakit yang mengalami kecelakaan. Saat semua siswa di kelas itu tengah fokus mencatat tulisan yang diminta Guru bidang studi bisnis dan hukum perdata dagang itu untuk menyalin dengan menyuruh salah seorang siswa mencatatkannya di papan tulis, tiba-tiba Bu Dola Guru Bidang Studi itu duduk di sebelahku, tentu saja hal itu membuat aku kaget dan sungkan.

“Kamu salah seorang siswa yang berprestasi di SMK ini, kalau boleh Ibu tahu apa keseharianmu di rumah selalu rajin membaca?” tanya Bu Dola mengawali obrolan.

“Nggak Bu, aku hanya membaca buku jika jam istirahat saja di perpustakaan sekolah,” jawabku lalu meneruskan catatan.

“Di sini kamu tinggal dengan orang tuamu?” tanya Bu Dola lagi.

“Aku tinggal sendiri, Bu. Ngekos cukup jauh dari gedung sekolah ini, namun sekali naik angkot saja kok.” jawabku.

“Oh begitu, jadi orang tuamu nggak berada di kota ini. Apa kegiatanmu setelah pulang dari sekolah? Apa kamu bekerja?” rentetan pertanyaan dilontar Bu Dola kepadaku.

“Aku sih pengennya bekerja, Bu. Itung-itung membantu orang tuaku dalam membiayai sekolah ku di kota ini, tapi setelah aku cari-cari belum ada lowongan yang memperkerjakan orang setengah hari yang dapat aku lakukan setelah pulang dari sekolah.” Jawabku yang menyembunyikan jika saat ini aku telah bekerja di tempat usaha es Ko Aheng di luar jam sekolah. Bu Dola menatapku dengan seulas senyuman yang aku sendiri tak mengerti apa maksudnya.

“Apa kamu sudah pacar, Ryan?” tanya Bu Dola lagi, membuat aku kembali kaget dan  sungkan untuk menjawab.

“Kenapa kamu diam saja? Nggak apa-apa kok jika memang kamu udah punya pacar, lagian wajar saja se usiamu sekarang ini sudah mengenal akan lawan jenisnya.” sambung Bu Dola diiringi senyumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 224. Kebahagiaan Yang Sempurna

    Malam itu meskipun rasa lelah di perjalanan dan kondisi badan ku tak begitu fit, aku tak mau melewatkan malam pertama pertemuan kembali dengan istri tercinta ku itu, dengan penuh perhatian dan kasih sayang, aku memberikan sentuhan-sentuhan hangat yang tentunya membuat Intan serasa melayang.Jika dulu baik aku maupun Intan selalu dingin dalam hal berhubungan di ranjang, malam itu sangat berbeda sekali seolah-olah kami tengah menikmati malam pertama seperti layaknya para pengantin baru lainnya. Sentuhan dan gerakan semakin lama semakin intens kami lakukan, Intan pun tak mau melewatkan momen yang penuh sensasi dan membahagiakan itu, ia pun tak mau kalah dalam merespon setiap sentuhan dan gerakan penuh gairah dari ku.Meskipun beberapa kali Intan tiba di titik puncak yang membuat tubuhnya lemas, namun ia tetap berusaha untuk bertahan saat aku kembali memberi sentuhan dan gerakan di tubuhnya, hingga akhirnya kedua tubuh kami mengejang lalu terkulas lemas bermandikan keringat.****Mentari

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 223. Cinta Dan Ketulusan

    “Kania, Papa masih capek! Nanti lagi minta gendongnya, ya?!” bujuk Intan.“Benar Pa, Papa masih capek?” tanya polos Kania.“Hemmm... Rasa capek Papa hilang setelah bertemu dengan putri Papa yang cantik ini,” jawab ku mencubit hidung si kecil, dan Kania pun tertawa manja.“Sebaiknya Kak Ryan mandi dulu, agar lelah berkurang.” ujar Intan.“Sebentar ya sayang? Papa mandi dulu, nih bau badan Papa apek!” tutur ku pada putri ku.“Ya Pa.” ucap Kania sembari melepaskan diri dari pangkuan ku.Menjelang aku berganti pakaian setelah mandi di kamar mandi yang ada di kamar, Bi Srini telah menyediakan segelas kopi hangat berserta panganan kecil di meja ruangan tengah, kopi itu sendiri baru saja ia beli dari warung sebelah, karena memang di rumah itu hanya aku lah yang suka minum kopi sebelum aku pergi ke Kota S.Kalau tadi hanya Kania yang duduk rapat sambil minta aku pangku, sekarang Intan ikut-ikutan duduk merapat di sebelah ku. Melihat reaksi seperti itu aku pun tersenyum lalu memberikan kecupan

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 222. Pertemuan Yang Mengharukan

    Sepuluh menit kemudian aku pun keluar dari dalam masjid menuju mobil travel, dan sekitar 15 menit kemudian mobil travel yang aku tumpangi pun tiba di depan rumah Intan. Dengan jantung yang berdebar-debar kencang aku turun dari mobil travel lalu melangkah memasuki halaman rumah itu, rasa rindu dan cemas karena kuatir kedatangan ku tak diterima lagi oleh istri ku.Hari baru gelap karena waktu magrib baru saja berlalu, pintu rumah kediaman Intan saat itu masih terbuka karena Intan biasa membuka praktek di rumahnya hingga jam 9 malam. Aku yang telah sampai di teras rumah, perlahan-lahan meletakan koper pakaian dan boneka micky mouse yang tadi aku pangku seturun dari mobil travel, jantung ku semakin berdebar-debar saat aku melangkah ke arah pintu rumah itu.Baru saja aku mau mengucapkan salam, Kania yang beberapa detik ke luar dari kamarnya melihat aku berdiri di depan pintu, spontan saja bocah perempuan cantik yang menggemaskan itu berteriak memanggil sambil berlari ke arah ku.“Papa.....

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 221. Tangisan Pun Pecah

    Dengan mengemudikan mobil yang biasa aku pakai, Grace mengantar ku ke bandara. Grace sebelumnya telah berjanji bahwa dia takan meminta Cak Mul pergi dari depan show room, seperti hal yang telah aku pesankan kepadanya. Bagi Grace, Cak Mul sosok yang sangat baik dan takan mungkin juga ia tega mengusir lesehan Cak Mul dari tempat itu.Tak berselang lama menunggu di bandara, panggilan keberangkatan pesawat yang akan aku tumpangi pun terdengar, Grace tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan dan air matanya, berbagai macam hal berkecamuk dalam hatinya. Tak mau berpisah dengan aku pria yang ia cintai, tetapi juga tak ingin mencegah ku kembali ke keluarga ku karena Grace menyadari hubungan kami tak mendapat restu dari kedua orang tuanya, dan ia pun merasa bersalah telah memisahkan aku dari istri dan putri ku.“Aku nggak tahu harus bilang apa, Ryan. Hatiku benar-benar galau, di suatu sisi aku tak ingin kamu pergi, di sisi lain akupun sadar telah memisahkanmu dengan anak dan istrimu.” ujar Grace

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 220. Perpisahan Pun Terjadi

    “Mari, saya antarkan menuju ruangan pimpinan! Tadi Ibu memerintahkan saya jika bertemu dengan bapak supaya diantar menemu beliau,” ujar security.“Baik Pak, mari!” aku pun mengikuti security itu ke lantai paling atas dari bank yang memiliki 4 lantai itu dengan lift.“Nah, ini ruangan pimpinannya. Silahkan Bapak pencet belnya, sementara saya akan kembali ke bawah.”“Terima kasih ya, Pak.” ucap ku.“Iya sama-sama, Pak.” ucap security itu pula lalu ia turun ke lantai dasar.Aku memencet bel, lalu tak berselang lama pintu ruangan pimpinan itupun dibuka dan terlihatlah sosok wanita cantik bermata sipit tersenyum saat mengetahui tamu yang memencet bel itu adalah aku“Ayo masuk Ryan!” ajaknya.“Makasih Grace.” Ucap ku.“Udah bersikap santai aja, di ruangan ini kan hanya kita berdua.” ujar Grace yang melihat sikap ku seperti para tamu pada umumnya yaitu sungkan dan sopan.Grace pun mengajak ku duduk di kursi yang memang disediakan bagi tamu-tamu penting di ruangan pimpinan itu, aku pun duduk

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 219. Aku Terpukul Dan Sadar

    “Maaf ya Mas Mul, malam ini aku ngerepotin aja.”“Nggak apa-apa. Udah sepatutnya juga aku nemani Mas Ryan jika ada permasalahan yang datang, itu gunanya teman saling berbagi terlebih saat kita jauh dari keluarga dan saudara.” ujar Cak Mul selalu menenangkan aku.“Makasih Mas. Aku jadi ingat Mas Sugeng, sikapnya dan rasa persaudaraannya mirip sekali dengan Mas Mul. Saat itu aku masih sekolah di Kota P, setiap kali kami ada permasalahan selalu saling berbagi untuk menyelesaikannya. Di perantauan kita memang musti mencari teman sekaligus dapat dijadikan saudara, apalagi tinggal di daerah kota besar seperti Kota S ini.” tutur ku sambil menikmati kopi hangat yang disuguhkan Cak Mul.“Iya Mas, aku juga demikian. Dulu aku juga seorang perantau semasa masih lajang, bahkan sampai ke negeri tetangga. Kita memang harus selalu baik pada orang-orang di sekeliling kita, jika kita ingin hidup berdampingan tanpa adanya perselisihan dan saling berbagi.” ujar Cak Mul juga menikmati kopi hangat yang ada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status