เข้าสู่ระบบ“Iya Tante. Tapi aku kan baru saja masuk kuliah dan itu tentunya butuh waktu 3 sampai 4 tahun lagi, baru akan menjadi seorang sarjana.” ujar ku.“Nggak masalah, jika nanti kamu udah wisuda dan menjadi sarjana temui saja aku. Atau bilang sama Eva agar nanti kamu diantarnya ke kantorku,” tutur Clara yang membuat rekan-rekannya yang lain geleng-geleng kepala, karena begitu berharapnya dia pada ku untuk bergabung di perusahaannya, padahal baru juga kenal dan bertemu di cafe itu.Boleh dikatakan mereka itu adalah kumpulan wanita-wanita sosialita, yang bergelimang harta kekayaan, begitu pula cara hidup mereka yang memang terkesan serba mewah. Dengan harta kekayaan yang mereka miliki, masa itu mereka begitu bebasnya dapat berbuat sesukanya, keseharian mereka setelah bekerja di tempat usaha dan perusahaan mereka masing-masing, mereka akan menikmati hidup dengan bersenang-senang.Kehadiran ku menemani mereka duduk di cafe itu sesuatu yang menurut mereka menyenangkan, karena aku juga sosok yang
“Oh, ya nggak masalah sampai jam 10 malam juga banyak waktu untuk ngobrol kok. Di kos-kosan kami juga begitu peraturannya,” ujar Rini.“Ya udah kalau gitu, yuk kita bubar! Ntar lagi mata kuliah selanjutnya bakal dimulai,” ajak Fitria.“Oke sampai ketemu lagi, Ryan!” seru para cewek-cewek kampus yang duduk bersama ku di dalam perpustakaan itu.“Ya.” ucap ku lambaikan tangan pada mereka.Lewat dari jam 3 sore, Eva menjemput ku ke kos-kosan setelah beberapa menit aku pulang dari kuliah. Rencananya mulai hari itu setiap pulang kuliah aku akan langsung menuju cafe tempat usaha Mama-mama cantik itu, namun ternyata Eva tak langsung membawanya ke sana, melainkan singgah dulu di sebuah taylor langganan Eva menjahit baju-baju seragam karyawan cafe miliknya.Setelah mengukur ukuran baju dan celana, barulah aku dibawanya menuju cafe.“Nah, sekarang kamu pakai pakaian biasa saja dulu, 3 hari lagi paling lama pakaian seragam cafe itu akan selesai.” ujar Eva saat tiba di tempat parkiran cafe milikny
Jam menunjukan hampir pukul 10 malam, itu artinya sebentar lagi tepat jam 10 tidak boleh ada kegiatan lagi di kos-kosan berupa terima tamu maupun aktifitas keluar masuk pintu pagar. Sepeninggal Weni dan Rista yang saat itu telah kembali ke ruangan kos-kosannya, aku tetap duduk di teras bersiap memberi tahu para penghuni yang tengah menerima tamu serta yang masih hilir-mudik keluar-masuk pintu pagar, bahwa sebentar lagi pintu pagar akan ditutup.Para penghuni dan tamu yang memang mengetahui batas yang ditetapkan di sana, secara teratur beranjak dari kawasan halaman kos-kosan itu, para tamu pun pergi dan para mahasiswi serta penghuni kos-kosan lainnya pun kembali ke ruangan mereka masing-masing, aku segera menutup dan mengunci pintu pagar, kemudian kembali ke bangunan di samping kos-kosan itu untuk beristirahat.****Seperti biasanya saat jam jeda kuliah menunggu mata kuliah selanjutnya, aku kembali menuju perpustakaan kampus. Aku kaget saat tiba di sana, Fitria, Anggi dan Puspita telah
“Sendirian aja nih, Ryan? Boleh kami ikut gabung duduk di sini?” sapa salah seorang dari 2 cewek yang datang menghampirinya itu.“Eh, Weni dan Rista. Tentu saja boleh, silahkan duduk! Kalian mau minum apa? Sebentar aku bikinin!” ulas ku sambil menawarkan minum.“Nggak usah buat minum segala, kami baru saja siap makan. Kamu udah makan malam, Ryan?” tanya cewek yang bernama Rista.“Udah Ris, barusan aja. Selesai makan aku duduk-duduk di sini,” jawab ku.“Gimana Ryan, kuliah hari pertamamu seru nggak?” kali ini Weni yang bertanya.“Ya serulah, di samping merasakan ruangan dan cara belajar yang baru juga banyak kenalan teman-teman yang baru.” jawab ku.“Sejak Ibu Eva memintamu tinggal di sini, kok nggak ada kami lihat kamu membawa cewekmu bertamu ke sini? Apa kamu sengaja nggak ingin memperkenalkannya pada kami di sini? Atau juga Bu Eva melarangnya?” tanya Weni lagi.“He.. he.. he! Cewekku yang mana? Aku nggak punya cewek yang ada teman aja, Tante Eva nggak pernah melarangku mengundang t
Bram yang setengah jam lalu pulang dari kantor hanya bisa memandangnya dari kejauhan, tak berani menghampiri apalagi bertanya pada Dola kenapa dia bermenung seorang diri di pinggiran kolam, Ia mengakui betapa sulitnya meluluhkan hati istrinya itu, namun Bram faham butuh ekstra kesabaran lagi dalam memperjuangkan cintanya.Yang mengherankan kenapa juga Bram begitu bersikukuhnya mempertahankan dan berjuang untuk mendapatkan hati Dola? Sementara di sekitarnya banyak wanita yang ingin menjadi pendampingnya, jika dilihat dari raut wajah Dola tak ada sedikitpun kemiripan dengan wajah mantan istrinya yang telah tiada itu.Lantas dari mana Bram begitu besarnya menaruh harapan jika kelak ia akan menemui kebahagiaan bersama Guru cantik itu? Entahlah yang pasti hatinya berkata sosok Dola wanita yang baik dan penyanyang, hanya saja sampai saat ini ia belum mampu untuk menundukan hatinya.Karena hari sudah semakin senja, Bi Lastri pun menghampiri Dola. Dia tak ingin melihat Nyonya itu terlalu menu
“Aku percaya kok, kamu nggak akan mudah tergoda dengan cewek-cewek dan pergaulan di kampus. Karena aku tahu prinsipmu juga kuat, untuk mengutamakan kuliah diatas segalanya.” ulas Eva.“Hanya saja aku belum terbiasa dengan waktu luang sepulang dari kuliah dihabiskan dengan duduk-duduk saja di rumah ini, Tante. Jika hanya mengawasi para penghuni kos-kosan, aku rasa hal itu waktu yang tepatnya dilakukan mulai jam 7 sampai jam 10 malam, saat aku harus menutup dan mengunci pintu pagar halaman.” ujar ku.“Hemmm... Aku faham apa yang kamu maksud, Kamu nggak betah dan terbiasakan dengan hanya duduk-duduk saja di sini sepulang dari kuliah kan?”“Iya Tante, kalau Tante ijinin aku boleh ya bantu-bantu di cafe Tante hingga jam setengah 7 malam? Nggak digaji juga nggak apa-apa, Tante. Asal aku ada kegiatan, nggak diam duduk-duduk di rumah ini saja.” pinta ku.“Memang susah ya, kalau udah terbiasa kerja keras. Sehari nggak ada kegiatan aja, membuat nggak betah dan bosan. Baik lah aku ijinin kamu ba
“Aku udah nggak tinggal di sana lagi, Aldo.” jawab Cindy.“Kok bisa begitu? Kamu pindah ke mana?” Cindy tak segera menjawab ia mencoba menarik napas yang seketika terasa berat, ia tak tahu harus memulai dari mana, tiba-tiba saja ia dilanda keraguan.“Loh, kok kamu diam saja Cindy? Kamu nggak mau ya
“Lele goreng Ibu benar-benar lezat! Sudah lama aku nggak pernah menikmati makanan selezat yang Ibu masak ini,” puji ku, membuat Ibu tersanjung.“Memangnya di kota nggak pernah kamu temui ikan lele yang dimasak seperti yang Ibumu masak, Ryan?” tanya Ayah.“Ada sih lele goreng, tapi lele nya bukan le
“Berangkat jam berapa tadi, Nak?” tanya Ibu yang tak dapat menyembunyikan rasa kangen pada ku putra sulungnya.“Dari terminal bus jam 8 pagi, Bu.” jawab ku yang telah duduk di ruang depan bersama kedua orang tua dan adik-adik ku.“Oh ya Bu, Ayah! Aku berhasil meraih rangking 1 di kelas dan naik ke
Siang itu kembali aku bareng dengan Dola dari sekolah menuju rumah megah milik Guru cantik itu, setelah makan siang bersama dan beristirahat sejenak, aku menuju perkarangan belakang rumah lokasi galian kolam ikan yang dikerjakan para pekerja dari toko bangunan langganan Dola, galian itu benar-benar







