LOGINDola pun mau-maunya menghampiri ku di selokan itu, padahal hal itu tak pernah ia lakukan. Jangan kan melihat dan mendekati selokan, melihat pembuangan air dari dapur pun Dola tak pernah, terkecuali tak sengaja saat ia berada di perkarangan belakang rumahnya dulu, saat saluran pembuangan air itu masih terbuka tidak seperti sekarang telah dibuatkan saluran pembuangan air melalui sambungan paralon oleh ku menuju selokan.Bahkan Dola seakan betah berlama-lama di sana, menemani ku bekerja sambil sesekali mengajak aku ngobrol.“Senin depan kamu udah masuk sekolah kembali, jangan sampai kehujanan lagi ya? Nanti kamu sakit!” Dola menasehati.“Aku sih sering kehujanan Tante, tapi nggak seperti malam itu saat aku membantu Mbak Ningsih,” ujar ku.“Ya, tapi kamu juga jangan gegabah! Jika bisa dihindari, hindarilah jangan sampai kehujanan! Begitu pula jika menolong seseorang, kamu juga harus memikirkan kondisi tubuhmu! Sakit itu benar-benar nggak ngenakin, buktinya apapun itu akan pahit untuk dite
Pakaian mereka bertebaran ke seluruh penjuru ruang kamar itu, seprei dan bantal yang tadinya rapi menjadi awut-awutan, bak pengembara yang kehausan tak menemukan air selama di perjalanan, begitu bertemu ia akan melepaskan rasa dahaga itu hingga puas. Sore pun telah berubah menjadi malam, sepasang tubuh yang tadinya terkulai lemas hingga tertidur pulas pun bangun.“Sepertinya udah saatnya aku pulang, Aldo. Aku nggak bisa lebih lama lagi di sini, aku harus tiba di rumah kembali sebelum Mas Deni pulang.” Ujar Cindy sambil mengenakan pakaiannya kembali.“Ya, aku akan mengantarmu pulang.” ulas Aldo yang juga mengenakan pakaiannya.“Untuk saat ini nggak usah, Aldo. Aku kuatir nanti menimbulkan kecurigaan tetangga di sekitaran rumah Mas Deni, aku pulang dengan taksi saja.” tolak Cindy.“Oh ya udah kalau begitu, kapan sekiranya kita akan bertemu lagi Cindy?” tanya Aldo, yang sepertinya belum puas akan pertemuan mereka itu.“Hemmm... Kamu harus sabar, sayang. Untuk sementara ini biar aku saja
Bagi ku hal itu memang menjenuhkan, karena aku telah terbiasa untuk bergerak dan melakukan apa saja yang bisa dikerjakan, namun aku menyadari semua yang dilakukan Dola itu adalah untuk kebaikan diri ku juga, hingga aku menuruti saja semua yang diperintahkan Dola itu.*****Aldo telah berusaha untuk melupakan Cindy dalam hidupnya, namun hal itu benar-benar sulit ia lakukan, buktinya sudah 3 bulan lebih sejak pertemuan mereka yang terakhir kalinya di sebuah restoran, Cindy selalu saja mengganggu pikirannya. Semakin ia berusaha melupakan justru semakin kacau pikirannya, Aldo ternyata belum bisa mengiklaskan Cindy pada pria yang saat ini telah menjadi suaminya.Sementara bagi Cindy sendiri, perasaannya tak serta merta hilang pada Aldo, boleh dikatakan Aldo justru mendapat tempat lebih di hati Cindy, karena selama ini memang hubungan mereka jalin berdasarkan cinta, bukan seperti pada Deni yang tujuan utamanya hanya untuk menguasai materi mantan suami Dola itu.Saat bercinta pun Cindy meras
“Ya bisa jadi begitu, Bi. Oh ya Bi, nanti masakan yang seger-seger ya? Seperti sup misalnya, agar Ryan lebih berselera untuk makan!” pinta Dola.“Baik Nyonya, setelah melipat pakaian ini aku akan ke pasar membeli bahan-bahan yang akan dibuat sup,” ujar Bi Lastri.“Uang untuk belanja dapur masih ada, Bi?”“Masih banyak Nyonya, cukup kok hingga akhir bulan ini.” jawab Bi Lastri.Seharian penuh aku benar-benar dirawat oleh Dola, mulai dari makan hingga melap seluruh tubuh ku dengan air hangat. Begitu malam datang Dola masih menjaga ku, Dola memang ikut berbaring di samping ku namun sengaja ia tidak memejamkan mata, nampak sekali perhatiannya yang besar pada ku.Terkadang Dola senyum-senyum sendiri sambil menatap wajah ku yang telah tertidur dengan pulasnya, bahkan sesekali ia mengecup mesra kening ku yang berbaring di sampingnya itu.“Andai saja kamu bukan muridku, mungkin suatu saat nanti aku bersedia untuk kamu jadikan istri. Saat ini saja aku merasa begitu nyaman, dan kamu seolah-olah
“Semalam aku kehujanan Tante, aku membantu tetangga kosku yang akan melahirkan dengan membawanya ke rumah sakit. Suaminya belum pulang dari berdagang sate keliling, semalam kan hujan lebat Tante kan tahu untuk menuju jalan raya dari kosku itu harus terlebih dahulu melewati gang. Karena aku fokusnya menggandeng Mbak Ningsih agar kuat berjalan sampai jalan raya, makanya aku basah kutub kehujanan,” tutur ku.“Lalu dia nya nggak kenapa-kenapa dengan janin yang ia kandung?” tanya Dola kaget atas tindakan nekad yang aku lakukan tadi malam itu.“Nggak apa-apa, Tante. Mbak Ningsih melahirkan dengan selamat begitu tiba di rumah sakit.” jawab ku.“Syukurlah kalau begitu.” Dola menghela nafas lega.“Ryan...!” tiba-tiba Dola berteriak saat tubuh ku yang tadi bersandar di dinding terjatuh dengan posisi tertelungkup di lantai, sepertinya aku pingsan akibat suhu panas tubuh ku terlalu tinggi.Dola dan Bi Lastri segera membalikan tubuh ku, lalu dengan cepat Bi Lastri mengambil bantal di kamar agar ak
Tak perlu bagi ku untuk menjelaskan kalau diri aku bukan suami dari wanita yang baru saja melahirkan itu, yang terpenting saat itu Mbak Ningsih melahirkan dengan selamat, tanpa ada pertanyaan panjang jika nanti aku mengatakan kalau aku bukan suaminya pada dokter yang berdiri di hadapan ku itu.“Terima kasih dokter,” ucap ku.“Ya, silahkan masuk saja! Aku mau ke ruangan sebelah, Istri anda sekarang ditangani bidan.” tutur dokter itu, lalu ia berlalu menuju ruangan sebelah yang ia maksudkan.Aku dan Arya pun masuk ke dalam ruangan persalinan, di sana aku melihat Mbak Ningsih, seorang perawat dan seorang bidan yang tengah mengendong bayi.“Mbak Ningsih selamat ya! Sekarang aku akan kembali ke kos dulu, siapa tahu Mas Sugeng udah pulang sembari membawa semua keperluan serta pakaian yang akan dibutuhkan nanti! Titip Arya ya, Bu Bidan?” ucap ku, Ningsih dan Bidan itu pun anggukan kepala.Aku pun bergegas ke luar ruangan itu menuju halaman rumah sakit di mana taksi yang diminta untuk menung







