INICIAR SESIÓN“Ah... Aku rasa nggak perlu. Besok kan hari sabtu, lusa hari minggunya aku bisa bekerja seharian penuh. Hemmm.. Aku pasti akan mendapatkan uang untuk penambah bayar sewa kos bulan ini,” gumamku bersemangat, kerisauan yang kemarin hadir melanda pikiranku saat itu juga sirna dengan upah yang aku terima dari hasil pekerjaanku sebagai kuli.
Hidup di kota memang butuh perjuangan terutama bagi diriku yang memang berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Aku menyingkap tudung nasi, di sana aku jumpai hanya tinggal sepotong ikan untuk sekali makan begitu pula dengan nasi yang ada di termos merupakan nasi terakhir karena saat itu beras pun sudah habis.
Aku pun makan dengan lahapnya, karena seharian tadi perutku hanya diganjal dengan 4 buah gorengan serta sekitar 1 liter air mineral selama ia bekerja. Hanya duduk beberapa menit setelah makan, mataku pun terasa berat, saat itu jam baru menunjukan pukul 8, Aku tidur lebih awal dari biasanya jam 10 malam efek kekenyangan dan kelelahan.
****
Letak pasar sentral Kota P tidak jauh dari lokasi sekolahku, hingga aku memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju pasar dan ruko milik Ko Aheng tempat aku bekerja. Begitu sampai di ruko aku segera masuk ke kamar mandi, untuk mengganti pakaian yang telah aku persiapkan di dalam tas.
Aku kembali melakukan pekerjaan seperti kemarin siang, membawa bungkusan kantong plastik yang berisi pecahan es ke lantai atas pasar sentral tempat para penjual daging dan ikan, hal itu aku lakukan berulang-ulang, makan siangku kembali hanya dengan beberapa buah gorengan dan kali ini ditambah sebuah jagung rebus, aku merasa cukup kenyang karena semangat bekerja di tempat usaha milik Ko Aheng yang aku anggap orang yang sangat baik itu.
Kebaikan dan perhatian dari Ko Aheng yang telah menerima aku bekerja walaupun setengah hari, membuat ku harus membayar kebaikan itu dengan giat bekerja dan menghindari hal-hal yang akan membuat Ko Aheng itu kecewa. Hari kedua bekerja memang masih aku rasakan berat membawa pecahan es di dalam kantong plastik di bahu, selain berat juga rasa dingin hingga ke tulang bahu, namun semua itu tak aku perdulikan, aku harus bisa menyelesaikan pekerjaan ku itu hingga waktu pulang nanti.
Aku kembali menerima upah sebesar Rp. 4.000,- saat waktu tutup ruko dan waktu para pekerja pulang, aku yang masih duduk di bangku SMK kelas 1 itu kembali ceria saat berada di dalam angkot menuju kos, karena aku telah berhasil menuntaskan pekerjaanku di hari ke dua dengan upah yang sama seperti yang aku dapatkan kemarin sore, bukan hanya itu saat aku hendak membeli seekor ikan untuk aku jadikan sambal sebagai lauk ku untuk 3 hari ke depan, harga ikan yang sejati Rp. 1.000,- / ekor itu hanya dikasih secara cuma-cuma oleh penjual ikan karena dia tahu aku salah seorang kuli angkat Ko Aheng.
Penjual ikan itu merupakan langganan tetap pecahan es milik Ko Aheng yang aku antarkan kemarin, entah karena kasihan melihat aku atau memang sebagai sedekah karena hari itu penjualan ikannya bisa saja melebihi dari hari-hari biasanya? Hanya penjual ikan itu sendiri yang mengetahuinya, yang pasti aku sangat berterima kasih pada penjual ikan yang memberikan aku ikan secara cuma-cuma itu.
Aku hanya memakai uang dari upah bekerja sebesar Rp. 1.300,- yang Rp. 1.000,- membeli 1 liter beras, yang Rp. 300,- untuk ongkos angkot ke kos karena aku tidak sedang memakai seragam sekolah, tarif angkot yang dikenakan padaku adalah tarif untuk umum.
Setiba di kos aku mandi sambil membersihkan ikan yang diberi penjual ikan di lantai atas pasar sentral itu, kemudian setelah memasak nasi aku melanjutkan membuat sambal untuk lauk 3 hari ke depan, hampir tak ada aku rasakan kelelahan di tubuh karena saking semangatnya bekerja dengan menerima upah, aku juga optimis dengan bekerja begitu aku akan bisa menutupi kekurangan yang ada, jika nanti orang tuaku kembali mengalami kesulitan dan mengirimkan uang seperti yang aku terima bulan ini.
Seperti malam kemarin setelah makan malam, aku kembali tidur lebih awal walaupun saat itu malam minggu ketika kebanyakan dari orang-orang di Kota P itu menghabiskan waktunya dengan jalan keluar bersama ke luar atau pula orang-orang yang dikasihi, bagiku meskipun besok pagi libur tidak masuk sekolah, namun aku ingin mencoba bekerja seharian dengan upah penuh seperti yang dikatakan Ko Aheng.
****
Fajar telah menyingsing di ufuk timur, cahayanya membias menerangi seluruh alam Kota P, aku yang memang lebih awal bangun dan mandi tampak menyiapkan perbekalan untuk aku bawa ke tempat kerja di pasar sentral, perbekalan itu akan aku gunakan untuk makan siang nanti saat waktu istirahat kerja tiba.
Setelah semua perlengkapan aku masukan ke dalam tas, akupun melangkah meninggalkan tempat kos-kosan menuju pasar sentral dengan menggunakan angkot, hari minggu itu aku rencananya akan bekerja di ruko milik Ko Aheng sehari penuh, sementara dengan urusan mencuci pakaian seragam sekolah, yang akan aku pakai hari senin besok telah aku lakukan sebelum mandi dan terbit fajar tadi.
Aku tak merasa kuatir lagi menjemur pakaian-pakaian yang telah aku cuci itu di luar kos, karena sebelum berangkat ke pasar sentral aku bertemu dengan Ningsih istrinya Sugeng yang saat itu sama-sama menjemur pakaian, Ningsih sempat bertanya padaku mau ke mana pagi-pagi sekali sudah bangun dan terlihat tergesa-gesa, aku menjawab akan bekerja di pasar dan meminta tolong padanya untuk diangkat jemuranku jika nanti hujan turun.
Tanpa diminta pun Ningsih pasti akan melakukan itu semua, karena baginya aku sudah seperti adik kandungnya sendiri, kedekatan aku dengan keluarga Sugeng memang begitu erat, terlebih lagi dengan Arya hampir setiap saat aku berada di kos putra mereka itu selalu main dan bersenda-gurau denganku.
Lebih kurang 10 menitan aku pun tiba di ruko tempat aku bekerja di pasar sentral Kota P itu, seperti biasanya aku langsung menuju kamar mandi mengganti pakaian, setiap kali akan bekerja aku selalu memakai baju kaos dan celana pendek, agar aku merasa mudah untuk berjalan menaiki anak tangga ke lantai atas los pasar sentar mengantarkan pecahan es yang telah dibungkus ke dalam kantong plastik.
Dola pun mau-maunya menghampiri ku di selokan itu, padahal hal itu tak pernah ia lakukan. Jangan kan melihat dan mendekati selokan, melihat pembuangan air dari dapur pun Dola tak pernah, terkecuali tak sengaja saat ia berada di perkarangan belakang rumahnya dulu, saat saluran pembuangan air itu masih terbuka tidak seperti sekarang telah dibuatkan saluran pembuangan air melalui sambungan paralon oleh ku menuju selokan.Bahkan Dola seakan betah berlama-lama di sana, menemani ku bekerja sambil sesekali mengajak aku ngobrol.“Senin depan kamu udah masuk sekolah kembali, jangan sampai kehujanan lagi ya? Nanti kamu sakit!” Dola menasehati.“Aku sih sering kehujanan Tante, tapi nggak seperti malam itu saat aku membantu Mbak Ningsih,” ujar ku.“Ya, tapi kamu juga jangan gegabah! Jika bisa dihindari, hindarilah jangan sampai kehujanan! Begitu pula jika menolong seseorang, kamu juga harus memikirkan kondisi tubuhmu! Sakit itu benar-benar nggak ngenakin, buktinya apapun itu akan pahit untuk dite
Pakaian mereka bertebaran ke seluruh penjuru ruang kamar itu, seprei dan bantal yang tadinya rapi menjadi awut-awutan, bak pengembara yang kehausan tak menemukan air selama di perjalanan, begitu bertemu ia akan melepaskan rasa dahaga itu hingga puas. Sore pun telah berubah menjadi malam, sepasang tubuh yang tadinya terkulai lemas hingga tertidur pulas pun bangun.“Sepertinya udah saatnya aku pulang, Aldo. Aku nggak bisa lebih lama lagi di sini, aku harus tiba di rumah kembali sebelum Mas Deni pulang.” Ujar Cindy sambil mengenakan pakaiannya kembali.“Ya, aku akan mengantarmu pulang.” ulas Aldo yang juga mengenakan pakaiannya.“Untuk saat ini nggak usah, Aldo. Aku kuatir nanti menimbulkan kecurigaan tetangga di sekitaran rumah Mas Deni, aku pulang dengan taksi saja.” tolak Cindy.“Oh ya udah kalau begitu, kapan sekiranya kita akan bertemu lagi Cindy?” tanya Aldo, yang sepertinya belum puas akan pertemuan mereka itu.“Hemmm... Kamu harus sabar, sayang. Untuk sementara ini biar aku saja
Bagi ku hal itu memang menjenuhkan, karena aku telah terbiasa untuk bergerak dan melakukan apa saja yang bisa dikerjakan, namun aku menyadari semua yang dilakukan Dola itu adalah untuk kebaikan diri ku juga, hingga aku menuruti saja semua yang diperintahkan Dola itu.*****Aldo telah berusaha untuk melupakan Cindy dalam hidupnya, namun hal itu benar-benar sulit ia lakukan, buktinya sudah 3 bulan lebih sejak pertemuan mereka yang terakhir kalinya di sebuah restoran, Cindy selalu saja mengganggu pikirannya. Semakin ia berusaha melupakan justru semakin kacau pikirannya, Aldo ternyata belum bisa mengiklaskan Cindy pada pria yang saat ini telah menjadi suaminya.Sementara bagi Cindy sendiri, perasaannya tak serta merta hilang pada Aldo, boleh dikatakan Aldo justru mendapat tempat lebih di hati Cindy, karena selama ini memang hubungan mereka jalin berdasarkan cinta, bukan seperti pada Deni yang tujuan utamanya hanya untuk menguasai materi mantan suami Dola itu.Saat bercinta pun Cindy meras
“Ya bisa jadi begitu, Bi. Oh ya Bi, nanti masakan yang seger-seger ya? Seperti sup misalnya, agar Ryan lebih berselera untuk makan!” pinta Dola.“Baik Nyonya, setelah melipat pakaian ini aku akan ke pasar membeli bahan-bahan yang akan dibuat sup,” ujar Bi Lastri.“Uang untuk belanja dapur masih ada, Bi?”“Masih banyak Nyonya, cukup kok hingga akhir bulan ini.” jawab Bi Lastri.Seharian penuh aku benar-benar dirawat oleh Dola, mulai dari makan hingga melap seluruh tubuh ku dengan air hangat. Begitu malam datang Dola masih menjaga ku, Dola memang ikut berbaring di samping ku namun sengaja ia tidak memejamkan mata, nampak sekali perhatiannya yang besar pada ku.Terkadang Dola senyum-senyum sendiri sambil menatap wajah ku yang telah tertidur dengan pulasnya, bahkan sesekali ia mengecup mesra kening ku yang berbaring di sampingnya itu.“Andai saja kamu bukan muridku, mungkin suatu saat nanti aku bersedia untuk kamu jadikan istri. Saat ini saja aku merasa begitu nyaman, dan kamu seolah-olah
“Semalam aku kehujanan Tante, aku membantu tetangga kosku yang akan melahirkan dengan membawanya ke rumah sakit. Suaminya belum pulang dari berdagang sate keliling, semalam kan hujan lebat Tante kan tahu untuk menuju jalan raya dari kosku itu harus terlebih dahulu melewati gang. Karena aku fokusnya menggandeng Mbak Ningsih agar kuat berjalan sampai jalan raya, makanya aku basah kutub kehujanan,” tutur ku.“Lalu dia nya nggak kenapa-kenapa dengan janin yang ia kandung?” tanya Dola kaget atas tindakan nekad yang aku lakukan tadi malam itu.“Nggak apa-apa, Tante. Mbak Ningsih melahirkan dengan selamat begitu tiba di rumah sakit.” jawab ku.“Syukurlah kalau begitu.” Dola menghela nafas lega.“Ryan...!” tiba-tiba Dola berteriak saat tubuh ku yang tadi bersandar di dinding terjatuh dengan posisi tertelungkup di lantai, sepertinya aku pingsan akibat suhu panas tubuh ku terlalu tinggi.Dola dan Bi Lastri segera membalikan tubuh ku, lalu dengan cepat Bi Lastri mengambil bantal di kamar agar ak
Tak perlu bagi ku untuk menjelaskan kalau diri aku bukan suami dari wanita yang baru saja melahirkan itu, yang terpenting saat itu Mbak Ningsih melahirkan dengan selamat, tanpa ada pertanyaan panjang jika nanti aku mengatakan kalau aku bukan suaminya pada dokter yang berdiri di hadapan ku itu.“Terima kasih dokter,” ucap ku.“Ya, silahkan masuk saja! Aku mau ke ruangan sebelah, Istri anda sekarang ditangani bidan.” tutur dokter itu, lalu ia berlalu menuju ruangan sebelah yang ia maksudkan.Aku dan Arya pun masuk ke dalam ruangan persalinan, di sana aku melihat Mbak Ningsih, seorang perawat dan seorang bidan yang tengah mengendong bayi.“Mbak Ningsih selamat ya! Sekarang aku akan kembali ke kos dulu, siapa tahu Mas Sugeng udah pulang sembari membawa semua keperluan serta pakaian yang akan dibutuhkan nanti! Titip Arya ya, Bu Bidan?” ucap ku, Ningsih dan Bidan itu pun anggukan kepala.Aku pun bergegas ke luar ruangan itu menuju halaman rumah sakit di mana taksi yang diminta untuk menung







