Beranda / Romansa / GAIRAH MASA LAJANG / Bab 7. Bangun Lebih Awal

Share

Bab 7. Bangun Lebih Awal

Penulis: Andy Lorenza
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 22:05:19

“Ah... Aku rasa nggak perlu. Besok kan hari sabtu, lusa hari minggunya aku bisa bekerja seharian penuh. Hemmm.. Aku pasti akan mendapatkan uang untuk penambah bayar sewa kos bulan ini,” gumamku bersemangat, kerisauan yang kemarin hadir melanda pikiranku saat itu juga sirna dengan upah yang aku terima dari hasil pekerjaanku sebagai kuli.

Hidup di kota memang butuh perjuangan terutama bagi diriku yang memang berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Aku menyingkap tudung nasi, di sana aku jumpai hanya tinggal sepotong ikan untuk sekali makan begitu pula dengan nasi yang ada di termos merupakan nasi terakhir karena saat itu beras pun sudah habis.

Aku pun makan dengan lahapnya, karena seharian tadi perutku hanya diganjal dengan 4 buah gorengan serta sekitar 1 liter air mineral selama ia bekerja. Hanya duduk beberapa menit setelah makan, mataku pun terasa berat, saat itu jam baru menunjukan pukul 8, Aku tidur lebih awal dari biasanya jam 10 malam efek kekenyangan dan kelelahan.

****

Letak pasar sentral Kota P tidak jauh dari lokasi sekolahku, hingga aku memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju pasar dan ruko milik Ko Aheng tempat aku bekerja. Begitu sampai di ruko aku segera masuk ke kamar mandi, untuk mengganti pakaian yang telah aku persiapkan di dalam tas.

Aku kembali melakukan pekerjaan seperti kemarin siang, membawa bungkusan kantong plastik yang berisi pecahan es ke lantai atas pasar sentral tempat para penjual daging dan ikan, hal itu aku lakukan berulang-ulang, makan siangku kembali hanya dengan beberapa buah gorengan dan kali ini ditambah sebuah jagung rebus, aku merasa cukup kenyang karena semangat bekerja di tempat usaha milik Ko Aheng yang aku anggap orang yang sangat baik itu.

Kebaikan dan perhatian dari Ko Aheng yang telah menerima aku bekerja walaupun setengah hari, membuat ku harus membayar kebaikan itu dengan giat bekerja dan menghindari hal-hal yang akan membuat Ko Aheng itu kecewa. Hari kedua bekerja memang masih aku rasakan berat membawa pecahan es di dalam kantong plastik di bahu, selain berat juga rasa dingin hingga ke tulang bahu, namun semua itu tak aku perdulikan, aku harus bisa menyelesaikan pekerjaan ku itu hingga waktu pulang nanti.

Aku kembali menerima upah sebesar Rp. 4.000,- saat waktu tutup ruko dan waktu para pekerja pulang, aku yang masih duduk di bangku SMK kelas 1 itu kembali ceria saat berada di dalam angkot menuju kos, karena aku telah berhasil menuntaskan pekerjaanku di hari ke dua dengan upah yang sama seperti yang aku dapatkan kemarin sore, bukan hanya itu saat aku hendak membeli seekor ikan untuk aku jadikan sambal sebagai lauk ku untuk 3 hari ke depan, harga ikan yang sejati Rp. 1.000,- / ekor itu hanya dikasih secara cuma-cuma oleh penjual ikan karena dia tahu aku salah seorang kuli angkat Ko Aheng.

Penjual ikan itu merupakan langganan tetap pecahan es milik Ko Aheng yang aku antarkan kemarin, entah karena kasihan melihat aku atau memang sebagai sedekah karena hari itu penjualan ikannya bisa saja melebihi dari hari-hari biasanya? Hanya penjual ikan itu sendiri yang mengetahuinya, yang pasti aku sangat berterima kasih pada penjual ikan yang memberikan aku ikan secara cuma-cuma itu.

Aku hanya memakai uang dari upah bekerja sebesar Rp. 1.300,- yang Rp. 1.000,- membeli 1 liter beras, yang Rp. 300,- untuk ongkos angkot ke kos karena aku tidak sedang memakai seragam sekolah, tarif angkot yang dikenakan padaku adalah tarif untuk umum.

Setiba di kos aku mandi sambil membersihkan ikan yang diberi penjual ikan di lantai atas pasar sentral itu, kemudian setelah memasak nasi aku melanjutkan membuat sambal untuk lauk 3 hari ke depan, hampir tak ada aku rasakan kelelahan di tubuh karena saking semangatnya bekerja dengan menerima upah, aku juga optimis dengan bekerja begitu aku akan bisa menutupi kekurangan yang ada, jika nanti orang tuaku kembali mengalami kesulitan dan mengirimkan uang seperti yang aku terima bulan ini.

Seperti malam kemarin setelah makan malam, aku kembali tidur lebih awal walaupun saat itu malam minggu ketika kebanyakan dari orang-orang di Kota P itu menghabiskan waktunya dengan jalan keluar bersama ke luar atau pula orang-orang yang dikasihi, bagiku meskipun besok pagi libur tidak masuk sekolah, namun aku ingin mencoba bekerja seharian dengan upah penuh seperti yang dikatakan Ko Aheng.

****

Fajar telah menyingsing di ufuk timur, cahayanya membias menerangi seluruh alam Kota P,  aku yang memang lebih awal bangun dan mandi tampak menyiapkan perbekalan untuk aku bawa ke tempat kerja di pasar sentral, perbekalan itu akan aku gunakan untuk makan siang nanti saat waktu istirahat kerja tiba.

Setelah semua perlengkapan aku masukan ke dalam tas, akupun melangkah meninggalkan tempat kos-kosan menuju pasar sentral dengan menggunakan angkot, hari minggu itu aku rencananya akan bekerja di ruko milik Ko Aheng sehari penuh, sementara dengan urusan mencuci pakaian seragam sekolah, yang akan aku pakai hari senin besok telah aku lakukan sebelum mandi dan terbit fajar tadi.

Aku tak merasa kuatir lagi menjemur pakaian-pakaian yang telah aku cuci itu di luar kos, karena sebelum berangkat ke pasar sentral aku bertemu dengan Ningsih istrinya Sugeng yang saat itu sama-sama menjemur pakaian, Ningsih sempat bertanya padaku mau ke mana pagi-pagi sekali sudah bangun dan terlihat tergesa-gesa, aku menjawab akan bekerja di pasar dan meminta tolong padanya untuk diangkat jemuranku jika nanti hujan turun.

Tanpa diminta pun Ningsih pasti akan melakukan itu semua, karena baginya aku sudah seperti adik kandungnya sendiri, kedekatan aku dengan keluarga Sugeng memang begitu erat, terlebih lagi dengan Arya hampir setiap saat aku berada di kos putra mereka itu selalu main dan bersenda-gurau denganku.

Lebih kurang 10 menitan aku pun tiba di ruko tempat aku bekerja di pasar sentral Kota P itu, seperti biasanya aku langsung menuju kamar mandi mengganti pakaian, setiap kali akan bekerja aku selalu memakai baju kaos dan celana pendek, agar aku merasa mudah untuk berjalan menaiki anak tangga ke lantai atas los pasar sentar mengantarkan pecahan es yang telah dibungkus ke dalam kantong plastik.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 11. Birahi Liar Bu Dola

    Sebuah ciuman hangat mendarat di bibirku, aku kaget tapi tak berani bertindak apa-apa selain diam dengan sejuta tanya dalam hati akan sikap wanita cantik di dekatku itu.Ciuman itu semakin intens hingga tubuh kami terbakar gelora panas yang bergejolak, sebuah sensasi baru yang tak pernah aku alami, bahkan membayangkannya pun aku tak pernah, debaran jantungku semakin kencang, badan terasa panas dingin, ada sesuatu hasrat yang menyeruak dari tubuhku.Bu Dola semakin liar, kali ini bukan hanya bibirnya saja yang ditempelkan akan tetapi lidahnya pun masuk menyeruak mencari lidahku. Ketika bertemu ia pun memainkannya, hingga tubuhku makin bergetar karena birahiku muncul.Di samping memainkan lidahnya, Bu Dola juga melumat rakus bibirku hingga aku agak sulit bernapas. Meskipun lidah dan air liur saling bertaut, akan tetapi kerongkongan kami terasa kering akibat gelora nafsu yang kian membara di sekujur tubuh.Bu Dola tiba-tiba hentikan ciumannya, ia melangkah ke arah pintu gudang lalu mengu

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 10. Gudang Bekas Perpustakaan

    “Iya Bu, aku memang udah punya pacar. Namanya Desy, siswi jurusan akuntansi.” Jawabku ragu-ragu.“Wah, udah sering dong jalan bareng di luar?” tebak Bu Dola.“Aku sama Desy nggak pernah jalan, Bu. Kami hanya bertemu saat jam istirahat di perpustakaan sekolah saja,” jawabku dengan polosnya.“Pacaran seperti apa itu?!” Bu Dola tertawa kecil merasa lucu dengan yang baru saja aku katakan.“Pacaran itu ya mesti dibawa jalan dong, Ryan. Pergi ke tempat-tempat yang romantis kek, atau di ajak nonton di bioskop, kan asyik tuh?” sambung Bu Dola.“Aku belum berani, Bu. Meskipun Desy sering mengajakku untuk jalan, lagi pula aku pun merasa nggak punya uang lebih untuk itu. Kiriman orang tuaku benar-benar pas-pasan, hanya cukup untuk keperluan sehari-hari, bayar kos dan bayar bulanan sekolah.” tuturku apa adanya.“Oh, karena uang yang pas-pasan itu penyebabnya hingga kamu menolaknya untuk jalan?” ulas Bu Dola.“Nggak juga, Bu. Desy juga pernah aku kasih tahu akan alasan itu, Ia bahkan sanggup untuk

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 9. Bu Dola

    “Oh, nggak usah Bu. Terima kasih, aku baru saja selesai makan,” tolakku yang ikut duduk bersama Ibu kos itu di beranda rumah tempat Sugeng berjualan sate.“Nggak perlu sungkan, nanti Ibu yang bayarin.” ujar Bu Eva sembari tersenyum.“Nggak sungkan kok, Bu. Serius, aku baru saja selesai makan. Mengetahui Ibu datang menagih sewa kos dan duduk di sini, aku pun menghampiri Ibu di sini untuk membayar sewa kosku bulan ini.” tuturku sembari menyerahkan uang Rp. 20.000,- kepada Bu Eva.“Terima kasih, Ryan. Oh ya, bagaimana kabar orang tuamu di desa? Apakah mereka dalam baik-baik saja?”” tanya Bu Eva.“Mereka baik-baik saja, Bu.” jawabku yang menutupi jika bulan ini orang tuaku lagi kesusahan dan hanya bisa mengirim uang untuk bayar SPP, sementara kekurangan uang sewa kos aku tambah dari hasil bekerja menjadi kuli di pasar sentral.“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Bu Eva lagi sambil makan pesanan sate yang dibuatkan Sugeng.“Lancar-lancar saja, Bu.” jawabku lagi.“Bagus, bagi kamu yang jau

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 8. Ibu Kos Cantik

    Ada keistimewaan jika masuk bekerja di hari minggu, Ko Aheng memberi upah lebih dari hari-hari biasanya, jika hari biasa para pekerjanya diupah sebesar Rp. 8.000,- namun khusus bagi siapa saja yang masuk di hari minggu akan diupah Rp. 10.000,-.Dulunya Ko Aheng ingin menutup usahanya itu setiap hari minggu tiba, karena ia berfikir tidak akan ada para pekerjanya mau masuk bekerja, sebab hari minggu itulah saatnya untuk berlibur bersama keluarga oleh kebanyakan orang yang berada di kota itu, namun sejak para pekerjanya memutuskan untuk tetap masuk bekerja meskipun hari minggu, makanya Ko Aheng tetap membuka usahanya dengan memberi upah lebih pada para pekerja khusus hari minggu itu saja.Aku sendiri belum mengetahui akan hal itu, karena memang aku baru masuk bekerja jum’at siang, Ko Aheng pun tidak menjelaskan padaku akan bonus jika masuk kerja di hari minggu itu, Ko Aheng juga tidak melarang bagi pekerjanya yang tidak bisa masuk bekerja saat hari minggu tiba, namun para pekerja di sana

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 7. Bangun Lebih Awal

    “Ah... Aku rasa nggak perlu. Besok kan hari sabtu, lusa hari minggunya aku bisa bekerja seharian penuh. Hemmm.. Aku pasti akan mendapatkan uang untuk penambah bayar sewa kos bulan ini,” gumamku bersemangat, kerisauan yang kemarin hadir melanda pikiranku saat itu juga sirna dengan upah yang aku terima dari hasil pekerjaanku sebagai kuli.Hidup di kota memang butuh perjuangan terutama bagi diriku yang memang berasal dari keluarga yang kurang mampu.Aku menyingkap tudung nasi, di sana aku jumpai hanya tinggal sepotong ikan untuk sekali makan begitu pula dengan nasi yang ada di termos merupakan nasi terakhir karena saat itu beras pun sudah habis.Aku pun makan dengan lahapnya, karena seharian tadi perutku hanya diganjal dengan 4 buah gorengan serta sekitar 1 liter air mineral selama ia bekerja. Hanya duduk beberapa menit setelah makan, mataku pun terasa berat, saat itu jam baru menunjukan pukul 8, Aku tidur lebih awal dari biasanya jam 10 malam efek kekenyangan dan kelelahan.****Letak p

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 6. Jadi Kuli Angkat

    “Ya, Aku sanggup Pak.” tegasku lagi.“Hemmm... Aku hargai kegigihanmu, Nak. Jarang sekali aku jumpai orang se usiamu mau bekerja seperti ini, aku sebenarnya nggak tega karena kamu masih sekolah tapi mendengar ceritamu tadi aku akan terima kamu bekerja di sini.” tutur pria setengah baya itu diiringi senyum kagumnya.“Terima kasih, Pak. Tapi apakah bisa aku hanya bekerja setengah hari saja, karena aku musti sekolah dulu? Jika aku masuk pagi, siangnya sepulang sekolah aku langsung ke sini dan jika aku masuk siang, paginya aku ke sini dulu bekerja.” Ucapku gembira, namun aku terlebih dulu ingin memastikan apakah pria setengah baya pemilik usaha es itu mau menerimaku bekerja setengah hari.“Ya, kamu boleh bekerja setengah hari dan memang kamu harus sekolah dulu. Kalau sampai kamu nggak sekolah karena keasyikan kerja, kamu akan aku berhentikan!” tutur pria pemilik ruko dan usaha es itu.“Terima kasih, Pak. Terima kasih,” aku sangat senang mendengar penuturan bijak dari pria setengah baya it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status