Share

Kena mental

Penulis: anggikartika93
last update Terakhir Diperbarui: 2022-11-29 10:39:42

"Bu, itu pasangan suami istri kok enak-enak makan di meja makan majikan. Mana makan makanan enak lagi, bikin ngiler aja," kata pria itu menatap sinis kepadaku. 

Pria itu ternyata adalah Mas Irgi, suami Mbak Arumi alias kakak iparku yang resenya minta ampun. Enggak nyangka aku, kalau dia anaknya Bi Sumi. 

"Mereka berdua itu anak dan menantu majikan Ibu. Anaknya Pak Anjas," jawab Bi Sumi menyebut nama Ayah mertuaku.

Majikan? Jadi rumah dan mobil tadi beneran punya Ayah dan Mas Wawan? Sungguh aku tak dapat mencerna semua ini dengan otakku yang terbatas. Masa sih pria yang baru saja menikahiku ini anak orang kaya? Lalu kenapa ia hanya memberikanku mahar lima juta? 

Padahal ketika kami melaksanakan akad nikah kemarin, Ibu meminta uang mahar lima puluh juta beserta biaya untuk pesta di gedung seperti Mbak Arumi. Namun Mas Wawan menyatakan tak sanggup untuk memenuhinya dan mengatakan ingin acara ijab qobul saja.

Mas Irgi menatap ke arah Ayah, ia sepertinya kaget dengan penampilan Ayah yang mengenakan kaos bermerk terkenal dan celana jeans. Sedangkan tadi ketika ke acara akad nikah kami, Ayah hanya memakai baju koko biasa.

"Ah enggak mungkin. Pasti Ibu salah. Ibu mau membohongi aku. Mereka itu pasti pembantu juga di rumah ini kan? Rekan kerja Ibu," balas Mas Irgi mengelak jawaban Ibunya sendiri. 

Wajah Bi Sumi memerah. Ia kini benar-benar menahan amarah karena perkataan anaknya yang seenak jidatnya. 

"Hush, kamu enggak boleh bilang gitu. Mereka semua itu majikan Ibu. Pak Anjas, Den Wawan, dan istrinya--non Arini--," balas Bi Sumi yang kesal dengan anaknya.

"Hei anak ingusan, kenapa kamu makan enak di situ hah?" tegur Mas Irgi dengan nada nyaring. Benar-benar kakak ipar yang enggak tau malu. Padahal aku sudah berusaha mengalihkan pandanganku dan pura-pura tidak tau kalau ia anaknya Bi Sumi. 

"Aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu ada di sini? Apakah pantas di sebut seorang suami jika uang saja masih meminta Ibunya?" sindir Mas Wawan kepada Mas Irgi.

Aku tersenyum penuh kemenangan. Sebelum menikah aku selalu di hina oleh Mbak Arumi, Mas Irgi, dan Ibu. Aku dibilang anak yang tak tau terima kasih karena hanya bisa menghabiskan uang orangtua untuk kuliah dan akhirnya kerja di rumah. 

"Heh kamu, beraninya kamu menghinaku seperti itu? Itu urusan aku dan Ibuku. Kamu itu hanya pembantu juga di rumah ini enggak usah sok belagu," sahut Mas Irgi yang hatinya pasti sedang kepanasan. 

"Irgi, hentikan! Jangan kau hina majikan Ibu. Bikin malu Ibu aja kelakuanmu hari ini," kata Bu Sumi berusaha menengahi perdebatan antara Mas Wawan dan Mas Irgi. 

"Bu, aku harus memberi pelajaran pada Arini dan Wawan agar mereka tidak berbuat seenaknya sampai makan saja harus di kursi majikan," balas Mas Irgi berjalan ke arah kami.

"Ya Allah, jangan Gi. Jangan lakukan itu terhadap majikan Ibu!" tegur Bi Sumi yang sudah sangat jengkel.

Bi Sumi berusaha menghalangi Mas Irgi dengan memegang tangan Mas Irgi. Namun karena tubuhnya kalah kuat dengan anak lelakinya, ia tubuhnya terjatuh ke belakang hingga mengakibatkan pinggangnya terasa sakit. Terlihat ia sedang mengusap-usap  pinggangnya. 

"Mau apa kau dengan anak-anakku? Berani kau menyentuh sedikit saja kulit anak-anakku akan kupecat Ibumu! Supaya kau tidak mendapatkan uang subsidi dari Ibumu lagi," bentak Ayah ketika Mas Irgi akan menghampiriku. 

Tubuh Mas Irgi sepertinya mendadak kaku. Terlihat ia berdiri mematung. Nyalinya mendadak ciut. 

"Huh baru segitu aja nyalimu udah ciut. Emang susah sih kalau masih di ketek orangtua," sindir Mas Wawan. 

Kukira Mas Wawan orangnya pendiam dan polos. Tapi ternyata malah sindirannya lebih tajam. Mampus tuh! Kena mental juga akhirnya si Irgi.

Ia menatap kami dengan tatapan mata sinis dan tajam. Kemudian dia membalikkan badannya dan langsung berjalan cepat tanpa pamit. 

"Gi! Mau kemana kamu. Kita perlu bicara," hardik Bi Sumi kepada putranya. 

Sementara itu kami tersenyum puas karena mampu membalas pria yang sombongnya dan sok kaya itu! Tenang Irgi, ini masih babak pertama kok.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Perjuangan Terus Berlanjut

    Arini bab 22Beberapa bulan telah berlalu sejak Arumi resmi menjadi staf administrasi di kantor tempat Irgi bekerja. Dirinya yang dulu hanya membersihkan kaca, menyapu, dan mengepel lantai setiap pagi. Kini duduk di balik meja-- mengoperasikan komputer, mengurus laporan, dan melayani klien dengan senyum ramah.Arumi tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah seperti ini. Dulu, ia hanya seorang cleaning service yang dianggap sebelah mata oleh banyak pegawai. Tetapi karena sikapnya yang sopan, rajin, dan tidak pernah mengeluh. Pihak manajemen kantor perlahan mempercayainya.Penampilan Arumi berubah. Wanita mengenakan seragam kantor resmi, blouse krem dan rok panjang hitam. Meski wanita itu belum tergerak hatinya untuk mengenakan hijab. ID card tergantung di lehernya. Setiap pagi, ia datang bersama suaminya-- Irgi, yang masih bekerja sebagai OB di gedung yang sama.“Bu Arumi, ini dokumen keuangan untuk bulan lalu sudah saya taruh di meja ya,” ujar seorang rekan kerja dengan ramah.Aru

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Tindakan Tegas Arini

    Beberapa minggu kemudian...Bu Risna mulai berubah. Sejak kejadian di hotel itu, ia sempat bungkam. Tetapi Serly tak tinggal diam. Ia datang ke rumah Bu Risna membawa beberapa lembar foto hasil jebakannya.“Tante, ini buktinya. Lihat aja sendiri. Mas Wawan dan aku di kamar hotel,” ucap Serly dengan nada licik.Bu Risna menatap foto-foto itu, keningnya mengerut. Wanita paruh baya itu terheran-heran dengan aksi Serly. “Tante yakin Arini pantas jadi istri Mas Wawan? Dia itu bukan siapa-siapa. Cuma anak angkat. Dia numpang nama keluarga Tante aja selama ini,” tambah Serly.Kata-kata itu menggoyahkan hati Bu Risna. Diam-diam, ia mulai ragu lagi. Wanita paruh baya merasa Wawan memang pantas mendapatkan pasangan dari keluarga 'baik-baik' seperti Serly."Sementara itu, di sudut kota yang lain, Arumi sedang menyapu lorong kost tempat ia tinggal. Peluh menetes di dahinya, tapi ia tetap tersenyum. Di tengah perjuangannya, sebuah kabar mengejutkan datang.HRD perusahaan tempat mereka bekerja me

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Wawan Dijebak

    Beberapa bulan kemudian...Toko pertanian milik Arini makin ramai. Ia kini tak hanya menjual pupuk dan alat pertanian, tapi juga menjadi tempat konsultasi petani kecil di sekitar kota. Bahkan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi menunjuk toko tersebut sebagai salah satu UMKM binaan unggulan.Karena kegigihannya, Arini diundang sebagai pembicara dalam seminar perempuan wirausaha tingkat provinsi. Undangan itu membuatnya gugup sekaligus bangga. Siapa sangka, perempuan yang dulu dianggap hanya 'anak angkat', kini berdiri sejajar dengan para pengusaha tangguh?Di sisi lain, Wawan pun tak kalah bersinar. Setelah bekerja sebagai penyuluh pertanian honorer, ia akhirnya lolos tes PPPK di Dinas Pertanian. Nilainya nyaris sempurna, tak heran, Wawan memang lulusan cumlaude jurusan pertanian. Dedikasi dan kerja kerasnya yang luar biasa kini membuahkan hasil yang begitu manis.Di hari seminar itu, Arini tampil anggun mengenakan gamis berwarna pastel dan hijab segiempat bermotif polkadot. Wanita ayu it

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Peluang untuk Arini

    Keesokan harinya...Pagi itu cuaca cerah. Matahari belum terlalu terik, angin berembus lembut menyapu halaman toko alat pertanian milik Arini. Di sudut halaman, seorang wanita paruh baya mengenakan kerudung ala Yenny Wahid dan daster batik lengan panjang. Wanita tua itu sedang menyapu dengan cekatan.Dialah Bi Sumi, yang kini tinggal bersama Arini dan Wawan. Meski sudah tidak bekerja pada Bu Risna, rasa tanggung jawab dan cintanya terhadap keluarga membuatnya tetap rajin membantu Termasuk merawat halaman toko tempat Arini merintis usahanya.Namun saat menyapu ke bagian depan, Bi Sumi tiba-tiba berhenti. Matanya membelalak, wanita tua itu terkejut melihat dua sosok yang begitu ia kenal. Tepat di seberang gang kecil ada dua orang yang duduk bersandar di tembok Mereka adalah Irgi, anak kandungnya, dan Arumi, menantunya. Mereka tampak kusut dan letih. Suara lirih keluhan pun terdengar dari bibir Arumi."Aku lapar banget, Mas. Kita cuma minum air dari galon warung tadi. Gimana ini? Kamu j

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Hijrah ke Kota

    Arini hanya bisa mematung, tubuhnya masih gemetar. Pecahan kaca berserakan di lantai ruang tengah, suara tangisannya menggema, namun ia berusaha menahannya agar tidak makin menambah kepanikan.Wawan kembali masuk ke dalam rumah setelah gagal mengejar pelaku. Napasnya memburu, pria itu berusaha menenangkan istrinya."Maaf, Dek. Mas nggak berhasil tangkap orangnya. Tapi Mas sudah lihat motornya, nanti kita lapor polisi," katanya sambil meraih tangan Arini dan membawanya menjauh dari pecahan kaca.Arini hanya mengangguk. Di dalam hatinya, ia tahu siapa yang kemungkinan besar berada di balik ini semua.Dan benar saja…Keesokan paginya, ketika Arini dan Wawan membersihkan pecahan kaca dan memperbaiki jendela, terdengar suara motor berhenti di depan rumah kontrakan mereka. Wawan menyipitkan mata, ia merasa mengenali suara itu.“Arumi,” bisik Arini pelan, ketika melihat Arumi turun dari motor bersama Irgi.Arumi melipat tangannya di dada, berdiri dengan kepala terangkat tinggi. “Wah, rumah or

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Kebenaran Mulai Terungkap

    Setelah semua masalah ini, aku merasa... seperti baru saja menikah denganmu lagi, Mas," ucap Arini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Wawan.Wawan tersenyum lembut. "Dan aku seperti baru menemukan makna sejati jadi suami."Mereka tertawa kecil. Tetapi keduanya tahu, ini bukan akhir dari segalanya, hanya awal dari kehidupan pernikahan mereka yang lebih dewasa.****Beberapa minggu setelah pindah ke kontrakan kecil di ujung desa, kehidupan Arini dan Wawan terasa lebih tenang. Walau rumahnya sederhana hanya terdiri dari dua kamar, namun mereka bahagia karena bisa saling mendukung dan hidup tanpa tekanan dari orangtua. Terutama kedua orangtua dari Wawan. Namun ketenangan itu nyatanya hanya bertahan sebentar. Suatu pagi, saat Arini sedang menggantung jemuran, ia mendengar suara gaduh di luar pagar kontrakan. Betapa kagetnya dia ketika melihat Arumi dan Irgi berdiri di sana sambil membawa koper!"Apa-apaan ini? Kalian ngapain di sini?" tanya Arini terkejut."Eh, bukan rumah ini punya ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status