Share

Tamu tak diundang

Penulis: anggikartika93
last update Terakhir Diperbarui: 2022-11-29 10:38:45

Aku tak boleh terlalu jumawa kalau Mas Wawan adalah anak orang kaya sementang kami berdua di jemput oleh mobil mewah di tengah kerumunan Ibu-ibu komplek tadi. 

Siapa tau memang benar apa yang di katakan oleh mereka. Kalau Mas Wawan hanyalah Asisten Rumah Tangga dan Ayahnya hanyalah supir. 

"Hei kok melamun aja," kata Mas Wawan sambil menepuk pundakku. 

"Eh, enggak kok," sahutku mengelak.

"Widih belum apa-apa aja sudah berbohong sama Mas," jawab Mas Wawan sambil membelai kepalaku yang tertutup kerudung. 

"Hehehe." 

Tak berapa lama, mobil mewah ini melewati perumahan elit. Rumah-rumah mewah dan besar yang biasa kulihat di film maupun sinetron kini ada di depan mataku. 

"Mas, kita kan mau ke rumahmu. Kenapa kita masuk ke komplek ini?" tanyaku heran. Begitu banyak pertanyaan yang bermuatan positif maupun negatif bersarang di kepalaku. 

"Sudahlah kamu enggak usah banyak tanya. Nanti lihat aja sendiri," balas Mas Wawan menjawab pertanyaanku. 

Aku hanya mengangguk. Aku akhirnya memilih untuk diam. 

"Yah, kok tumben nyetir sendiri sih. Emangnya Pak Hadi kemana?" tanya Mas Wawan  heran.

"Hari ini dia off. Tadi dia minta izin ke Ayah, katanya ada urusan keluarga mendadak," jawab Ayah masih fokus menyetir. 

"Oh gitu." 

Pak Hadi? Siapa itu Pak Hadi? Kenapa juga Mas Wawan bilang tumben Ayahnya menyetir sendiri. Atau jangan-jangan Pak Hadi teman Ayah juga sesama supir.

"Tadi Bi Sumi sudah masak makanan enak lho untuk kalian," imbuh Ayah mertua. 

"Asyik! Bi Sumi masak cumi tepung asam manis kesukaanku kan Yah?" sahut Mas Wawan kegirangan.

"Iya dong." 

Setengah jam kemudian mobil yang di kendarai Ayah mertuaku memasuki sebuah rumah mewah bertingkat tiga. Pak Satpam membukakan pintu pagar dengan sigap. 

"Lho kok kita ke sini sih Mas? Katanya tadi kita akan ke rumahmu?" tanyaku dengan kebingungan. 

"Ayo kita turun," hanya itu jawaban yang kudengar dari Mas Wawan. 

Aku agak sedikit kecewa. Mas Wawan ternyata berbohong membawaku ke rumahnya. Yang ada, aku malah di bawa Mas Wawan ke tempat ia bekerja. Mungkin benar kata Ibuku kalau rumah Mas Wawan ada di kampung. 

Aku turun dari mobil dengan mata terpana. Aku memandang sekeliling rumah mewah yang ada di hadapanku sekarang dengan takjub. Ya, walaupun ini hanya rumah majikan Mas Wawan aku lebih bahagia ketimbang tinggal di pondok belakang rumahku yang lebih mirip kandang kambing. 

Mas Wawan dan Ayah mengajakku masuk dari pintu besar. Aku terkagum-kagum dengan ruang tamu yang besar dan mewah yang bagusnya seratus delapan puluh derajat di banding rumahku. Kami berjalan menuju ruang makan. Mataku tak lepas memandang perabotan yang antik dan bagus. 

Tibalah kami di ruang makan. Di depanku sudah ada sebuah meja makan kayu jati dengan ukiran yang indah. Kira-kira ada delapan buah kursi yang bermotif sama dengan meja. 

Di atas meja terhidang banyak makanan seperti cumi goreng tepung asam manis, udang bakar, sate cumi, dan sup jamur. Tentu saja membuat air liurku menetes dan perutku terasa lapar lagi. 

"Ayo kita makan, pasti kalian sudah lapar," ajak Ayah dengan bersemangat. 

"I, iya Yah," jawabku agak ragu.

Mas Wawan dan Ayah duduk di kursi. Mereka tanpa malu dan ragu mengambil nasi dan lauk yang lezat itu tanpa ragu. Sedangkan aku masih berdiri mematung. 

"Lho kok kamu masih berdiri di sana Dek? Ayo sini duduk," ajak Mas Wawan yang heran melihatku masih berdiri.

Aku hanya bisa bengong dan berjalan menuju kursi di sebelah Mas Wawan. Kemudian aku berbisik di telinga pria jangkung itu. 

"Mas, emang kita boleh makan di sini?" bisikku pelan, aku malu kalau sampai kedengaran Ayahnya Mas Wawan. 

"Ya iyalah, ayo makan. Nanti kamu kelaparan kalau enggak makan," jawab Mas Wawan sambil mengambilkan nasi dan sate cumi untukku.

Seorang wanita paruh baya berpostur tambun muncul membawakan nampan yang berisi makanan. 

"Maaf Pak, bakso kepitingnya baru aja matang," ujar wanita itu kepada Ayah, kemudian ia menghidangkan makanan tersebut di meja kami. 

"Oh iya enggak papa Bi Sumi," jawab Ayah sambil meminum jus mangga yang menemani makan sore kami. 

Jadi wanita tua itu yang bernama Bi Sumi? Apa dia itu teman kerja Mas Wawan ya? Tapi kenapa dia bersikap begitu hormat kepada Ayah?

Aku pun mencoba mengambil bakso kepiting dan memakannya. Karena aku begitu penasaran dengan rasanya. Masya Allah sungguh lezat! Sampai-sampai aku meneteskan air mata. Seumur-umur baru kali ini aku menikmati makanan lezat seperti ini. 

Bi Sumi meninggalkan meja makan kami. Sepertinya ia ingin kembali ke dapur. Namun belum sempat ia menuju dapur, tiba-tiba muncul seorang pria yang begitu kukenal. 

"Bu, aku minta uang dong untuk membeli bajunya Arumi. Tadi Arumi merengek minta di belikan baju di butik yang ia lihat," kata pria itu berbisik kepada Bi Sumi. 

"Waduh gimana dong Gi? Ibu belum gajian, Ibu gajian masih beberapa hari lagi," jawab Bi Sumi dengan wajah cemas.

Aku dan pria itu saling bertatapan. Tentu saja ia kaget seperti melihat hantu begitu mengetahui aku berada di sini. Astaga kenapa sih aku harus bertemu makhluk yang menyebalkan itu di saat tidak tepat seperti ini?

** 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Perjuangan Terus Berlanjut

    Arini bab 22Beberapa bulan telah berlalu sejak Arumi resmi menjadi staf administrasi di kantor tempat Irgi bekerja. Dirinya yang dulu hanya membersihkan kaca, menyapu, dan mengepel lantai setiap pagi. Kini duduk di balik meja-- mengoperasikan komputer, mengurus laporan, dan melayani klien dengan senyum ramah.Arumi tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah seperti ini. Dulu, ia hanya seorang cleaning service yang dianggap sebelah mata oleh banyak pegawai. Tetapi karena sikapnya yang sopan, rajin, dan tidak pernah mengeluh. Pihak manajemen kantor perlahan mempercayainya.Penampilan Arumi berubah. Wanita mengenakan seragam kantor resmi, blouse krem dan rok panjang hitam. Meski wanita itu belum tergerak hatinya untuk mengenakan hijab. ID card tergantung di lehernya. Setiap pagi, ia datang bersama suaminya-- Irgi, yang masih bekerja sebagai OB di gedung yang sama.“Bu Arumi, ini dokumen keuangan untuk bulan lalu sudah saya taruh di meja ya,” ujar seorang rekan kerja dengan ramah.Aru

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Tindakan Tegas Arini

    Beberapa minggu kemudian...Bu Risna mulai berubah. Sejak kejadian di hotel itu, ia sempat bungkam. Tetapi Serly tak tinggal diam. Ia datang ke rumah Bu Risna membawa beberapa lembar foto hasil jebakannya.“Tante, ini buktinya. Lihat aja sendiri. Mas Wawan dan aku di kamar hotel,” ucap Serly dengan nada licik.Bu Risna menatap foto-foto itu, keningnya mengerut. Wanita paruh baya itu terheran-heran dengan aksi Serly. “Tante yakin Arini pantas jadi istri Mas Wawan? Dia itu bukan siapa-siapa. Cuma anak angkat. Dia numpang nama keluarga Tante aja selama ini,” tambah Serly.Kata-kata itu menggoyahkan hati Bu Risna. Diam-diam, ia mulai ragu lagi. Wanita paruh baya merasa Wawan memang pantas mendapatkan pasangan dari keluarga 'baik-baik' seperti Serly."Sementara itu, di sudut kota yang lain, Arumi sedang menyapu lorong kost tempat ia tinggal. Peluh menetes di dahinya, tapi ia tetap tersenyum. Di tengah perjuangannya, sebuah kabar mengejutkan datang.HRD perusahaan tempat mereka bekerja me

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Wawan Dijebak

    Beberapa bulan kemudian...Toko pertanian milik Arini makin ramai. Ia kini tak hanya menjual pupuk dan alat pertanian, tapi juga menjadi tempat konsultasi petani kecil di sekitar kota. Bahkan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi menunjuk toko tersebut sebagai salah satu UMKM binaan unggulan.Karena kegigihannya, Arini diundang sebagai pembicara dalam seminar perempuan wirausaha tingkat provinsi. Undangan itu membuatnya gugup sekaligus bangga. Siapa sangka, perempuan yang dulu dianggap hanya 'anak angkat', kini berdiri sejajar dengan para pengusaha tangguh?Di sisi lain, Wawan pun tak kalah bersinar. Setelah bekerja sebagai penyuluh pertanian honorer, ia akhirnya lolos tes PPPK di Dinas Pertanian. Nilainya nyaris sempurna, tak heran, Wawan memang lulusan cumlaude jurusan pertanian. Dedikasi dan kerja kerasnya yang luar biasa kini membuahkan hasil yang begitu manis.Di hari seminar itu, Arini tampil anggun mengenakan gamis berwarna pastel dan hijab segiempat bermotif polkadot. Wanita ayu it

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Peluang untuk Arini

    Keesokan harinya...Pagi itu cuaca cerah. Matahari belum terlalu terik, angin berembus lembut menyapu halaman toko alat pertanian milik Arini. Di sudut halaman, seorang wanita paruh baya mengenakan kerudung ala Yenny Wahid dan daster batik lengan panjang. Wanita tua itu sedang menyapu dengan cekatan.Dialah Bi Sumi, yang kini tinggal bersama Arini dan Wawan. Meski sudah tidak bekerja pada Bu Risna, rasa tanggung jawab dan cintanya terhadap keluarga membuatnya tetap rajin membantu Termasuk merawat halaman toko tempat Arini merintis usahanya.Namun saat menyapu ke bagian depan, Bi Sumi tiba-tiba berhenti. Matanya membelalak, wanita tua itu terkejut melihat dua sosok yang begitu ia kenal. Tepat di seberang gang kecil ada dua orang yang duduk bersandar di tembok Mereka adalah Irgi, anak kandungnya, dan Arumi, menantunya. Mereka tampak kusut dan letih. Suara lirih keluhan pun terdengar dari bibir Arumi."Aku lapar banget, Mas. Kita cuma minum air dari galon warung tadi. Gimana ini? Kamu j

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Hijrah ke Kota

    Arini hanya bisa mematung, tubuhnya masih gemetar. Pecahan kaca berserakan di lantai ruang tengah, suara tangisannya menggema, namun ia berusaha menahannya agar tidak makin menambah kepanikan.Wawan kembali masuk ke dalam rumah setelah gagal mengejar pelaku. Napasnya memburu, pria itu berusaha menenangkan istrinya."Maaf, Dek. Mas nggak berhasil tangkap orangnya. Tapi Mas sudah lihat motornya, nanti kita lapor polisi," katanya sambil meraih tangan Arini dan membawanya menjauh dari pecahan kaca.Arini hanya mengangguk. Di dalam hatinya, ia tahu siapa yang kemungkinan besar berada di balik ini semua.Dan benar saja…Keesokan paginya, ketika Arini dan Wawan membersihkan pecahan kaca dan memperbaiki jendela, terdengar suara motor berhenti di depan rumah kontrakan mereka. Wawan menyipitkan mata, ia merasa mengenali suara itu.“Arumi,” bisik Arini pelan, ketika melihat Arumi turun dari motor bersama Irgi.Arumi melipat tangannya di dada, berdiri dengan kepala terangkat tinggi. “Wah, rumah or

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Kebenaran Mulai Terungkap

    Setelah semua masalah ini, aku merasa... seperti baru saja menikah denganmu lagi, Mas," ucap Arini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Wawan.Wawan tersenyum lembut. "Dan aku seperti baru menemukan makna sejati jadi suami."Mereka tertawa kecil. Tetapi keduanya tahu, ini bukan akhir dari segalanya, hanya awal dari kehidupan pernikahan mereka yang lebih dewasa.****Beberapa minggu setelah pindah ke kontrakan kecil di ujung desa, kehidupan Arini dan Wawan terasa lebih tenang. Walau rumahnya sederhana hanya terdiri dari dua kamar, namun mereka bahagia karena bisa saling mendukung dan hidup tanpa tekanan dari orangtua. Terutama kedua orangtua dari Wawan. Namun ketenangan itu nyatanya hanya bertahan sebentar. Suatu pagi, saat Arini sedang menggantung jemuran, ia mendengar suara gaduh di luar pagar kontrakan. Betapa kagetnya dia ketika melihat Arumi dan Irgi berdiri di sana sambil membawa koper!"Apa-apaan ini? Kalian ngapain di sini?" tanya Arini terkejut."Eh, bukan rumah ini punya ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status