Share

Permintaan maaf

last update Last Updated: 2022-11-29 10:40:38

Kami kembali menikmati hidangan yang sudah di sajikan Bi Sumi di meja makan. Aku mengambil makanan kesukaan Mas Wawan, cumi goreng tepung asam manis.

"Makan yang banyak ya Ar, jangan malu-malu. Tambah lagi nasinya kalau perlu," celetuk Ayah yang rupanya senang melihatku makan banyak.

"Siap Yah. Makanannya enak sekali. Seumur-umur baru kali ini Arini makan makanan enak seperti di restoran. Biasanya Arini hanya melihat makanan seperti di acara makan-makan di televisi.

"Nah makanya kamu makan yang banyak ya Dek," imbuh Mas Wawan.

Aku mengangguk. Kami bertiga makan dengan lahap. Aku sampai kekenyangan, yang ada sekarang aku malah susah gerak.

"Habis ini kita istirahat aja ya di kamarku, kasian kamu sampai kekenyangan gitu," kata Mas Wawan sambil melihatku yang bersandar di kursi sambil mengelus perutku yang sedikit buncit.

"Iya Mas. Oh ya, sebelum istirahat. Aku mau mencuci piring-piring ini dulu ya," jawabku yang tak enak bila harus langsung istirahat ke kamar.

"Eh enggak usah Ar. Kamu istirahat aja, biar Bi Sumi yang mencuci piring-piringnya," sanggah Ayah yang melarang mencuci piring.

"Tapi Yah, Arini enggak enak bila habis makan enggak mencuci piring. Biasanya kalau di rumah, habis makan Arini langsung mencuci piring," balasku yang sungkan.

Ayah mertuaku begitu baik padaku, berbeda sekali dengan Ibuku. Bila aku telat sedikit saja atau aku kelelahan tak bisa mencuci piring. Maka suara piring beradu bersahutan akan kudengar dari dapur.

"Sudahlah Dek, kalau di rumahku kamu enggak perlu kerja apa-apa," sahut Mas Wawan tersenyum kepadaku.

"Tapi nanti badanku pegel-pegel semua kalau aku enggak mengerjakan pekerjaan rumah. Bukannya tugas seorang istri adalah berbakti pada suaminya," kataku yang tak enak bila Mas Wawan malah menyuruhku untuk santai-santai di rumahnya.

"Berbakti dengan suami bukan hanya mengurus pekerjaan rumah tangga tapi juga melayani suami dengan sepenuh hati," ujar Mas Wawan sambil menarik hidungku gemas.

Mendengar kata melayani suami, pikiranku jadi kemana-mana. Maksudnya bukan hanya melayani di ranjang saja, tapi juga menyiapkan keperluannya.

"Hayo kamu mikirkan apaan tuh?" celetuk Mas Wawan yang seolah bisa membaca pikiranku.

"Eh, enggak. Enggak mikirin apa-apa kok, hehehe," jawabku berusaha mengelak.

"Jangan bohong sama Mas lho. Nanti hidungmu panjang seperti pinokio," balas Mas Wawan menggodaku.

"Ah enggak kok Mas."

"Kalau mau gituan ya nanti malam, kalau sekarang masih sore. Sabar ya," bisik Mas Wawan sambil mengedipkan sebelah matanya.

Aku memukul bahunya. Nah lho, siapa yang sebenarnya punya pikiran ngeres?

Ketika kami akan beranjak dari meja makan. Dengan tergopoh-gopoh, Bi Sumi menghampiri kami.

"Pak Anjas, Den Wawan, dan Non Arini. Saya atas nama anak saya, minta maaf yang sebesar-besarnya atas tingkah laku anak saya yang kurang ajar tadi. Saya tau perbuatan dia tadi tak pantas di maafkan," kata Bi Sumi dengan tangis yang terisak.

"Gimana ya Bi? Masalahnya dia tadi sudah kurang ajar banget sih," jawab Mas Wawan sambil mengelus dagunya.

Aku menyikut lengan Mas Wawan. Aku kasihan dengan Bi Sumi, pasti ia malu sekali dengan kelakuan anaknya. Aku juga tak semudah itu bisa memaafkan kesalahan Mas Irgi. Tapi mau gimana lagi. Semua keputusan ada di tangan Ayah dan Mas Wawan.

"Apaan sih?" tanya Mas Wawan yang kaget karena aku menyikut lengannya.

"Di maafkan aja Bi Suminya, kasihan dia. Kalau Mas Irgi ya enggak usah di maafkan. Mending kita kasih pelajaran aja dia," bisikku pelan kepada Mas Wawan. Semoga saja Bi Sumi tidak mendengar kata-kataku.

"Hmmm, boleh juga," jawab Mas Wawan mengangguk.

Mas Wawan nampak berpikir. Kulirik Ayah, sepertinya ia juga mempunyai pikiran yang sama dengan Mas Wawan.

"Gimana dong Pa?" tanya Mas Wawan bingung mengambil keputusan.

"Terserah kamu saja Wan. Ayah serahkan keputusan di tanganmu. Mau kamu pecat Bi Sumi, silakan saja?" sahut Ayah melirik Mas Wawan.

Tentu saja kalimat terakhir yang Ayah ucapkan tadi sepertinya hanya gertakan saja kepada Bi Sumi. Bagaimanapun Bi Sumi telah mengabdi cukup lama di keluarga ini, kata Mas Wawan bercerita saat kami makan tadi.

Bi Sumi bergidik ketakutan. Tentu saja ia takut kalau di pecat. Mengingat ia sudah lama bekerja di sini dan juga Bi Sumi merupakan tulang punggung keluarganya.

"Ya sudah kali ini kumaafkan karena aku masih kasihan dengan Bi Sumi. Tapi lain kali, kalau Irgi berulah. Enggak akan ada ampun," jawab Mas Wawan dengan tangan yang dilipat di dadanya.

Bi Sumi nampak menangis haru. Ia berjalan ke arah Mas Wawan, meraih tangannya, dan kemudian mencium tangannya.

"Ya Allah. Alhamdulillah, terimakasih ya Den," kata Bi Sumi menangis haru.

Mas Wawan menarik tangannya. Tentu saja ia merasa risih tangannya di cium oleh orang yang lebih tua. Walaupun orang itu adalah Asisten Rumah Tangga keluarganya. Namun ia merasa tak enak.

"Sudahlah Bi. Aku memaafkannya karena istriku. Berterimakasih lah padanya karena Irgi adalah kakak ipar istriku. Suami dari Mbak Arumi--kakak Arini--.

Bi Sumi terkejut bukan main begitu mendengar kalau Mas Irgi adalah kakak iparku. Ia malah semakin merasa malu padaku.

"Ya Allah Non. Maafkan Irgi. Bibi enggak tau kalau Non Arini adalah adik ipar Irgi. Jika Bibi tau dari awal pasti Bibi tidak akan memperbolehkan Irgi sampai bertemu dengan Non Arini di rumah ini," ucap Bi Sumi dengan penuh penyeselan.

"Iya Bi. Enggak papa. Nasi telah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur. Aku juga sudah biasa kok menerima hinaan dari Mas Irgi," sahutku yang malah ujung-ujungnya mengadu soal kelakuan Mas Irgi terhadapku selama ini.

"Kok bisa sih Non? Dasar Irgi benar-benar anak enggak tau di untung," tanya Bi Sumi penasaran.

"Enggak tau juga Bi. Tanya aja sama Mas Irgi langsung," kataku tak mau meneruskan kalimatku.

"Sudahlah Bi. Lebih baik, Bibi kembali aja ke dapur. Kami sudah lelah hari ini, kami ingin beristirahat dulu di kamar," sela Ayah yang mengerti keadaan kami yang sudah kelelahan.

"I, iya. Maaf Pak," sahut Bi Sumi sambil membungkukkan badannya.

Bi Sumi berlalu dan menuju dapur. Kini kami juga akan menuju kamar masing-masing.

"Lebih baik kalian istirahat aja dulu di kamar sana. Tadi Bi Yuyun juga sudah menyiapkan kamar dan sprei baru untuk kalian," tambah Ayah lagi.

"Oke Yah," balas Mas Wawan singkat. Sedangkan aku hanya mengangguk kecil.

"Astaghfirullah Mas!" kataku sambil menepuk jidatku.

"Ada apa Dek?" tanya Mas Wawan agak cemas. .

"Dompet, ponsel, dan mahar dari Mas ketinggalan di kamarku di rumahku. Gimana dong?" jawabku panik.

"Ya sudah sekarang kita ambil aja yuk. Masa enggak di ambil? Kasihan kamu nanti," sahut Mas Wawan tanpa menyalahkanku sedikit pun atas keteledoranku. Kami tadi memang langsung pergi saja. Tanpa mengecek lagi ke kamarku barang apa saja yang ketinggalan.

**

Aku dan Mas Wawan memutuskan untuk pergi ke rumahku lagi untuk mengambil dompet, ponsel, dan maharku yang ketinggalan. 

"Kita naik mobil aja ya Sayang, supaya kamu enggak kepanasan," kata Mas Wawan ketika kami berada di garasi rumahnya. 

"Enggak usah Mas, kalo naik mobil nanti malah lambat. Mending naik sepeda motor aja, bisa menerobos macet sekalian," usulku kepada suamiku itu. 

Aku bisa sedikit membaca pikiran Mas Wawan. Ia ingin membawa mobil untuk menunjukkan kepada Ibuku dan Mbak Arumi kalau dia orang kaya. Tetapi aku tak mau mereka langsung mengetahuinya.

"Benar juga ya. Ayo buruan kita berangkat," ajak Mas Wawan.  

Aku mengangguk. Kemudian kami menuju garasi dan memakai helm berstandar SNI yang mahal. Garasi mobil Mas Wawan begitu besar. Ada dua mobil dan dua sepeda motor terparkir di sini. Mas Wawan memilih sepeda motor model matic keluaran terbaru yang berbody besar.  

'Wah pas banget nih kami ke rumahku pakai sepeda motor ini. Kan Mbak Arumi sangat mengidamkan sepeda motor matic seperti punya Mas Wawan. Hmmm, enggak bisa kubayangkan dia nanti kepanasan melihat kami,' aku membathin.  

"Hei kok senyum-senyum sendiri," tegur Mas Wawan menepuk bahuku.

"Eh, enggak kok. Yuk kita cabut," jawabku dengan semangat. 

"Siap nonaku yang cantik." 

Mas Wawan memboncengku dengan kecepatan yang lumayan kencang. Aku berpegangan di pundaknya. Seumur-umur aku baru kali ini berboncengan dengan lelaki. Apalagi lelaki ini yang sudah sah menjadi suamiku.  

"Dek, kok pegangannya di pundak," protes Mas Wawan.  

"Apaaa Mas?" tanyaku dengan berteriak karena suara Mas Wawan kurang jelas akibat angin. 

"Jangan pegangan di pundak Dek. Di pinggangku dong," pinta Mas Wawan.  

"Tapi aku malu Mas." 

"Widih, ngapain juga malu. Kan kita udah halal."

"Iya juga sih." 

Akhirnya aku meletakkan tanganku di pinggang Mas Wawan. Tetapi ia malah meraih tanganku dan melingkarkan tanganku di perutnya. Sehingga tubuh kami saling menempel.  

 

Perasaan gugup menghinggapiku. Selain itu, ada getaran lain yang menyusup kurasakan. Getaran yang tentu saja sulit kuungkapkan dengan kata-kata. Apakah ini yang namanya getaran cinta sesudah menikah yang membuat pikiranku jadi ke arah sana? 

Kami melewati jalan tempat Ibu-Ibu kampung berkumpul. Ternyata jam segini mereka masih berada di sana. Aku heran, apa mereka tidak memasak atau membereskan rumah? 

Kami melaju melewati Ibu-Ibu tukang gosip itu. Tentu saja kulihat mereka pada melongo melihat kami karena aku membuka kaca helmku ketika melewati mereka. 

Tak berapa lama kami sampai di rumahku. Mas Wawan segera memarkirkan sepeda motornya di halaman. 

Kami memasuki rumah dari depan. Tumben pintu rumah tidak di kunci. Terdengar suara perdebatan antara Ibu dan Mbak Arumi. 

"Bu, bagi-bagi dong duit yang Ibu dapat dari Arini. Aku juga perlu duit Bu. Emang cuma Ibu aja yang perlu," kata Mbak Arumi dengan nada kesal.

Kami melihat Ibu sedang memegang uang pecahan ratusan ribu di tangannya. Aku jadi heran, darimana Ibu bisa mendapatkan uang sebanyak itu. 

Kami bergegas ke kamar karena perasaanku tidak enak. Ibu dan Mbak Arumi sepertinya tidak menyadari kehadiran kami. Kulihat ponselku masih tergeletak anteng di atas nakas. Aku memeriksa tasku yang terletak di atas meja belajar yang berisi dompetku. Langsung kuperiksa dompetku dan benar saja, uang satu juta yang berada di dompetku telah raib.

"Astaghfirullah," gumamku yang terduduk lemas di samping ranjang begitu mengetahui dompetku sudah kosong. Hanya tertinggal kartu-kartu saja.

"Kenapa Sayang?" tanya Mas Wawan dengan heran. 

"Uang satu juta di dompetku hilang Mas. Kayaknya yang dipegang Ibu tadi uangku deh," jawabku lemas. 

"Ya udah kita ambil aja sekarang. Itu kan hak kamu. Terserah Ibu mau ngomong apa nanti," sahut Mas Wawan memberikan saran. 

"Percuma Mas mengambil uangku yang sudah di tangan Ibu. Kayaknya Ibu juga enggak akan mengaku kalau dia sudah mengambilnya di dalam dompetku. Maklum di rumahku enggak ada CCTV sih." 

"Sabar ya Dek. Ikhlaskan saja. Insya Allah, kamu akan mendapatkan gantinya lebih." 

"Sebenarnya enggak bisa ikhlas juga sih. Soalnya itu kan uang hasil kerjaku Mas. Aku baru aja menarik dari ATM sehari sebelum pernikahan kita."

Aku teringat dengan mahar yang kusimpan dalam lemari. Apakah aman atau uangnya juga di ambil Ibuku? Perasaanku malah jadi makin kalut seperti ini. 

"Mas, aku mau mengecek maharku di lemari. Apakah Ibu mengambilnya juga ya?" kataku penuh keraguan. 

Sementara Mas Wawan hanya santai dan senyum-senyum saja. Ia terlihat bermain dengan ponselnya yang bergambar apel di gigit keluaran terbaru. 

"Mas, aku lho lagi panik gini. Kok kamu santai aja sih? Bantuin mengecek juga dong," protesku kesal. 

* *

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Perjuangan Terus Berlanjut

    Arini bab 22Beberapa bulan telah berlalu sejak Arumi resmi menjadi staf administrasi di kantor tempat Irgi bekerja. Dirinya yang dulu hanya membersihkan kaca, menyapu, dan mengepel lantai setiap pagi. Kini duduk di balik meja-- mengoperasikan komputer, mengurus laporan, dan melayani klien dengan senyum ramah.Arumi tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah seperti ini. Dulu, ia hanya seorang cleaning service yang dianggap sebelah mata oleh banyak pegawai. Tetapi karena sikapnya yang sopan, rajin, dan tidak pernah mengeluh. Pihak manajemen kantor perlahan mempercayainya.Penampilan Arumi berubah. Wanita mengenakan seragam kantor resmi, blouse krem dan rok panjang hitam. Meski wanita itu belum tergerak hatinya untuk mengenakan hijab. ID card tergantung di lehernya. Setiap pagi, ia datang bersama suaminya-- Irgi, yang masih bekerja sebagai OB di gedung yang sama.“Bu Arumi, ini dokumen keuangan untuk bulan lalu sudah saya taruh di meja ya,” ujar seorang rekan kerja dengan ramah.Aru

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Tindakan Tegas Arini

    Beberapa minggu kemudian...Bu Risna mulai berubah. Sejak kejadian di hotel itu, ia sempat bungkam. Tetapi Serly tak tinggal diam. Ia datang ke rumah Bu Risna membawa beberapa lembar foto hasil jebakannya.“Tante, ini buktinya. Lihat aja sendiri. Mas Wawan dan aku di kamar hotel,” ucap Serly dengan nada licik.Bu Risna menatap foto-foto itu, keningnya mengerut. Wanita paruh baya itu terheran-heran dengan aksi Serly. “Tante yakin Arini pantas jadi istri Mas Wawan? Dia itu bukan siapa-siapa. Cuma anak angkat. Dia numpang nama keluarga Tante aja selama ini,” tambah Serly.Kata-kata itu menggoyahkan hati Bu Risna. Diam-diam, ia mulai ragu lagi. Wanita paruh baya merasa Wawan memang pantas mendapatkan pasangan dari keluarga 'baik-baik' seperti Serly."Sementara itu, di sudut kota yang lain, Arumi sedang menyapu lorong kost tempat ia tinggal. Peluh menetes di dahinya, tapi ia tetap tersenyum. Di tengah perjuangannya, sebuah kabar mengejutkan datang.HRD perusahaan tempat mereka bekerja me

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Wawan Dijebak

    Beberapa bulan kemudian...Toko pertanian milik Arini makin ramai. Ia kini tak hanya menjual pupuk dan alat pertanian, tapi juga menjadi tempat konsultasi petani kecil di sekitar kota. Bahkan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi menunjuk toko tersebut sebagai salah satu UMKM binaan unggulan.Karena kegigihannya, Arini diundang sebagai pembicara dalam seminar perempuan wirausaha tingkat provinsi. Undangan itu membuatnya gugup sekaligus bangga. Siapa sangka, perempuan yang dulu dianggap hanya 'anak angkat', kini berdiri sejajar dengan para pengusaha tangguh?Di sisi lain, Wawan pun tak kalah bersinar. Setelah bekerja sebagai penyuluh pertanian honorer, ia akhirnya lolos tes PPPK di Dinas Pertanian. Nilainya nyaris sempurna, tak heran, Wawan memang lulusan cumlaude jurusan pertanian. Dedikasi dan kerja kerasnya yang luar biasa kini membuahkan hasil yang begitu manis.Di hari seminar itu, Arini tampil anggun mengenakan gamis berwarna pastel dan hijab segiempat bermotif polkadot. Wanita ayu it

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Peluang untuk Arini

    Keesokan harinya...Pagi itu cuaca cerah. Matahari belum terlalu terik, angin berembus lembut menyapu halaman toko alat pertanian milik Arini. Di sudut halaman, seorang wanita paruh baya mengenakan kerudung ala Yenny Wahid dan daster batik lengan panjang. Wanita tua itu sedang menyapu dengan cekatan.Dialah Bi Sumi, yang kini tinggal bersama Arini dan Wawan. Meski sudah tidak bekerja pada Bu Risna, rasa tanggung jawab dan cintanya terhadap keluarga membuatnya tetap rajin membantu Termasuk merawat halaman toko tempat Arini merintis usahanya.Namun saat menyapu ke bagian depan, Bi Sumi tiba-tiba berhenti. Matanya membelalak, wanita tua itu terkejut melihat dua sosok yang begitu ia kenal. Tepat di seberang gang kecil ada dua orang yang duduk bersandar di tembok Mereka adalah Irgi, anak kandungnya, dan Arumi, menantunya. Mereka tampak kusut dan letih. Suara lirih keluhan pun terdengar dari bibir Arumi."Aku lapar banget, Mas. Kita cuma minum air dari galon warung tadi. Gimana ini? Kamu j

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Hijrah ke Kota

    Arini hanya bisa mematung, tubuhnya masih gemetar. Pecahan kaca berserakan di lantai ruang tengah, suara tangisannya menggema, namun ia berusaha menahannya agar tidak makin menambah kepanikan.Wawan kembali masuk ke dalam rumah setelah gagal mengejar pelaku. Napasnya memburu, pria itu berusaha menenangkan istrinya."Maaf, Dek. Mas nggak berhasil tangkap orangnya. Tapi Mas sudah lihat motornya, nanti kita lapor polisi," katanya sambil meraih tangan Arini dan membawanya menjauh dari pecahan kaca.Arini hanya mengangguk. Di dalam hatinya, ia tahu siapa yang kemungkinan besar berada di balik ini semua.Dan benar saja…Keesokan paginya, ketika Arini dan Wawan membersihkan pecahan kaca dan memperbaiki jendela, terdengar suara motor berhenti di depan rumah kontrakan mereka. Wawan menyipitkan mata, ia merasa mengenali suara itu.“Arumi,” bisik Arini pelan, ketika melihat Arumi turun dari motor bersama Irgi.Arumi melipat tangannya di dada, berdiri dengan kepala terangkat tinggi. “Wah, rumah or

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Kebenaran Mulai Terungkap

    Setelah semua masalah ini, aku merasa... seperti baru saja menikah denganmu lagi, Mas," ucap Arini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Wawan.Wawan tersenyum lembut. "Dan aku seperti baru menemukan makna sejati jadi suami."Mereka tertawa kecil. Tetapi keduanya tahu, ini bukan akhir dari segalanya, hanya awal dari kehidupan pernikahan mereka yang lebih dewasa.****Beberapa minggu setelah pindah ke kontrakan kecil di ujung desa, kehidupan Arini dan Wawan terasa lebih tenang. Walau rumahnya sederhana hanya terdiri dari dua kamar, namun mereka bahagia karena bisa saling mendukung dan hidup tanpa tekanan dari orangtua. Terutama kedua orangtua dari Wawan. Namun ketenangan itu nyatanya hanya bertahan sebentar. Suatu pagi, saat Arini sedang menggantung jemuran, ia mendengar suara gaduh di luar pagar kontrakan. Betapa kagetnya dia ketika melihat Arumi dan Irgi berdiri di sana sambil membawa koper!"Apa-apaan ini? Kalian ngapain di sini?" tanya Arini terkejut."Eh, bukan rumah ini punya ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status