Share

Rebutan Mahar

last update Last Updated: 2022-12-22 13:09:44

"Ada apa nih? Kenapa kalian menghalangi jalanku?" tanyaku yang heran karena Ibuku, Mbak Arini, dan Mas Irgi sudah berada di hadapan kami.

"Mau kemana kalian? Bisa-bisanya kalian membawa barang sebanyak itu, enak sekali ya," celetuk Ibu sambil berkacak pinggang. 

"Wah jangan-jangan barang kita juga di bawa Bu! Ayo Bu, cepat kita geledah," Mbak Arumi menimpali. 

"Iya Bu, bener banget apa yang di katakan Arumi," sambung Mas Irgi yang juga ikut-ikutan nimbrung. 

Mbak Arumi dan Mas Irgi maju ke hadapanku dan berusaha merebut tas dariku. Namun Mas Wawan langsung menghalangi mereka. 

"Jangan pernah kalian sentuh lagi istriku!" kata Mas Wawan sambil merentangkan tangannya dan berdiri di hadapanku. 

"Widih mau jadi pahlawan kesiangan nih si Wawan! Ingat ini rumah kami, bukan rumahmu. Kamu tidak bisa bertindak seenaknya, apalagi membawa barang dari rumah ini tanpa seizin kami," jawab Ibu dengan ketus. 

"Ini semua barang-barangku Bu. Aku hanya mengambil barang yang ada di kamarku, tak ada satupun barang yang aku ambil di luar kamar ini," balasku membela diri. 

Mbak Arumi dan Mas Irgi melihat kami dengan tatapan sinis. Seakan mereka iri dengan kami. Apalagi tadi Mas Irgi yang sepertinya sudah tau kalau Ibunya adalah Asisten Rumah Tangga Mas Wawan. 

"Kalau kamu mau keluar dari rumah ini. Tidak usah membawa barang-barang dari rumah," Mbak Arumi menimpali. 

"Enak aja aku enggak bawa apa-apa. Hampir sebagian besar barang yang ada di kamarku adalah hasil kerja kerasku," jawabku enggak mau kalah. 

"Hah? Kerja keras apaan? Cuma di rumah aja kamu bilang kerja keras? Mana ada orang bekerja di rumah terus dapat duit. Kalau mau dapat duit tu kerja di luar rumah, kayak aku di kantor," sahut Mas Irgi dengan sinis.

"Sudah yuk Dek, kita pergi aja dari rumah ini. Percuma juga kita capek-capek menjelaskan sama mereka. Tapi mereka juga enggak pernah bisa mengerti," kata Mas Wawan yang semangat membawa dua tas besarku. Sementara aku membawa satu tas yang lain. 

Mas Irgi mencoba menghalangi Mas Wawan. Namun rupanya Mas Irgi kalah kuat dengan suamiku itu. Ia sudah merentangkan tangannya. Namun Mas Wawan mendorong Mas Irgi hingga terjatuh. 

Ia memegangi pinggangnya yang sakit. Tetapi matanya nyalang menatap ke arah Mas Wawan, tentu saja ia tak terima di perlakukan seperti itu.

"Keterlaluan, beraninya kamu mendorongku hah!" hardik Mas Irgi. 

Mas Wawan dengan cepat berjalan menuju sepeda motornya dan meletakkan dua tas besarku di depan motor. Aku ingin berjalan menyusulnya, tapi kedua tanganku di tarik Ibu dan Mbak Arumi bersamaan. 

"Mana maharmu dari Wawan? Sini berikan sama Ibu, sekalian kamu buka kunci kotaknya di hadapan Ibu," bentak Ibu sambil menarik tanganku. Sedangkan aku meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi aku kalah kuat dengan tenaga mereka yang berjumlah dua orang. 

"Enggak, enggak akan pernah aku menyerahkan mahar ini kepada kalian karena ini pemberian Mas Wawan kepadaku. Bukan hak kalian memintanya," jawabku berusaha mempertahankan mahar milikku.

"Oh gitu. Dasar anak tidak tau terima kasih! Aku berhak atas maharmu karena aku adalah Ibumu yang melahirkan dan mengurusmu," sahut Ibu yang terus memaksaku.

Mbak Arumi berusaha mengambil tasku. Namun Mas Wawan meneriaki kami. 

"Hei hentikan! Kalian apakan istriku!" bentak Mas Wawan yang melihat kedua tanganku di pegangi Ibu dan Mbak Arumi. 

Mas Wawan menghampiriku dan melepaskan kedua tanganku dari Ibu dan Mbak Arumi. Tanpa banyak bicara, ia berusaha menolongku.

"Heh berani kamu menyentuhku," kata Ibu yang geram ketika Mas Wawan melepaskan tangan Ibu dari lenganku.

Dengan cepat Mbak Arumi mengambil tasku. Aku pun tak mau kalah, aku berusaha merebut tasku dari tangannya.

Mas Wawan membantuku untuk merebut tasku dari Mbak Arumi. Tentu saja Mbak Arumi kalah tenaga dengan kami. Sehingga ia juga jatuh terduduk.

"Huh, dasar kamu ya Wan. Beraninya sama orang yang lebih tua. Awas kamu!" kata Mbak Arumi jengkel dengan Mas Wawan. 

"Irgi, tolong kami! Hajar si Wawan," perintah Ibu yang tak terima karena Mas Wawan melepas tangan Ibu dari lenganku dengan kasar. 

Mas Irgi hanya diam saja mendengar perintah dari Ibu, sepertinya nyalinya ciut karena tadi ia di dorong oleh Mas Wawan. 

"Ayo kita pergi dari sini Dek! Bisa gila kalau aku di sini terus," ajak Mas Wawan menarik tanganku dan mengajakku keluar dari sini. 

"Iya Mas. Aku juga sudah jengah dengan mereka semua," jawabku kesal. 

Kami segera berlari menuju sepeda motor Mas Wawan. Aku duduk di belakangnya dengan membawa satu tas. Sedangkan dua tas yang lain di taruh di depan motor. 

"Ayo cepat Mas," kataku menyuruh Mas Wawan untuk segera menggas sepeda motornya. 

Aku menoleh ke belakang. Nampak Ibu dan Mbak Arumi mengejar kami yang akan pergi dari rumah ini. 

"Hei tunggu! Jangan pergi dulu," teriak Ibu.

Terlihat Ibu dan Mbak Arumi berlari mengejar kami. Tetapi Mas Wawan terus melajukan motornya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Perjuangan Terus Berlanjut

    Arini bab 22Beberapa bulan telah berlalu sejak Arumi resmi menjadi staf administrasi di kantor tempat Irgi bekerja. Dirinya yang dulu hanya membersihkan kaca, menyapu, dan mengepel lantai setiap pagi. Kini duduk di balik meja-- mengoperasikan komputer, mengurus laporan, dan melayani klien dengan senyum ramah.Arumi tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah seperti ini. Dulu, ia hanya seorang cleaning service yang dianggap sebelah mata oleh banyak pegawai. Tetapi karena sikapnya yang sopan, rajin, dan tidak pernah mengeluh. Pihak manajemen kantor perlahan mempercayainya.Penampilan Arumi berubah. Wanita mengenakan seragam kantor resmi, blouse krem dan rok panjang hitam. Meski wanita itu belum tergerak hatinya untuk mengenakan hijab. ID card tergantung di lehernya. Setiap pagi, ia datang bersama suaminya-- Irgi, yang masih bekerja sebagai OB di gedung yang sama.“Bu Arumi, ini dokumen keuangan untuk bulan lalu sudah saya taruh di meja ya,” ujar seorang rekan kerja dengan ramah.Aru

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Tindakan Tegas Arini

    Beberapa minggu kemudian...Bu Risna mulai berubah. Sejak kejadian di hotel itu, ia sempat bungkam. Tetapi Serly tak tinggal diam. Ia datang ke rumah Bu Risna membawa beberapa lembar foto hasil jebakannya.“Tante, ini buktinya. Lihat aja sendiri. Mas Wawan dan aku di kamar hotel,” ucap Serly dengan nada licik.Bu Risna menatap foto-foto itu, keningnya mengerut. Wanita paruh baya itu terheran-heran dengan aksi Serly. “Tante yakin Arini pantas jadi istri Mas Wawan? Dia itu bukan siapa-siapa. Cuma anak angkat. Dia numpang nama keluarga Tante aja selama ini,” tambah Serly.Kata-kata itu menggoyahkan hati Bu Risna. Diam-diam, ia mulai ragu lagi. Wanita paruh baya merasa Wawan memang pantas mendapatkan pasangan dari keluarga 'baik-baik' seperti Serly."Sementara itu, di sudut kota yang lain, Arumi sedang menyapu lorong kost tempat ia tinggal. Peluh menetes di dahinya, tapi ia tetap tersenyum. Di tengah perjuangannya, sebuah kabar mengejutkan datang.HRD perusahaan tempat mereka bekerja me

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Wawan Dijebak

    Beberapa bulan kemudian...Toko pertanian milik Arini makin ramai. Ia kini tak hanya menjual pupuk dan alat pertanian, tapi juga menjadi tempat konsultasi petani kecil di sekitar kota. Bahkan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi menunjuk toko tersebut sebagai salah satu UMKM binaan unggulan.Karena kegigihannya, Arini diundang sebagai pembicara dalam seminar perempuan wirausaha tingkat provinsi. Undangan itu membuatnya gugup sekaligus bangga. Siapa sangka, perempuan yang dulu dianggap hanya 'anak angkat', kini berdiri sejajar dengan para pengusaha tangguh?Di sisi lain, Wawan pun tak kalah bersinar. Setelah bekerja sebagai penyuluh pertanian honorer, ia akhirnya lolos tes PPPK di Dinas Pertanian. Nilainya nyaris sempurna, tak heran, Wawan memang lulusan cumlaude jurusan pertanian. Dedikasi dan kerja kerasnya yang luar biasa kini membuahkan hasil yang begitu manis.Di hari seminar itu, Arini tampil anggun mengenakan gamis berwarna pastel dan hijab segiempat bermotif polkadot. Wanita ayu it

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Peluang untuk Arini

    Keesokan harinya...Pagi itu cuaca cerah. Matahari belum terlalu terik, angin berembus lembut menyapu halaman toko alat pertanian milik Arini. Di sudut halaman, seorang wanita paruh baya mengenakan kerudung ala Yenny Wahid dan daster batik lengan panjang. Wanita tua itu sedang menyapu dengan cekatan.Dialah Bi Sumi, yang kini tinggal bersama Arini dan Wawan. Meski sudah tidak bekerja pada Bu Risna, rasa tanggung jawab dan cintanya terhadap keluarga membuatnya tetap rajin membantu Termasuk merawat halaman toko tempat Arini merintis usahanya.Namun saat menyapu ke bagian depan, Bi Sumi tiba-tiba berhenti. Matanya membelalak, wanita tua itu terkejut melihat dua sosok yang begitu ia kenal. Tepat di seberang gang kecil ada dua orang yang duduk bersandar di tembok Mereka adalah Irgi, anak kandungnya, dan Arumi, menantunya. Mereka tampak kusut dan letih. Suara lirih keluhan pun terdengar dari bibir Arumi."Aku lapar banget, Mas. Kita cuma minum air dari galon warung tadi. Gimana ini? Kamu j

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Hijrah ke Kota

    Arini hanya bisa mematung, tubuhnya masih gemetar. Pecahan kaca berserakan di lantai ruang tengah, suara tangisannya menggema, namun ia berusaha menahannya agar tidak makin menambah kepanikan.Wawan kembali masuk ke dalam rumah setelah gagal mengejar pelaku. Napasnya memburu, pria itu berusaha menenangkan istrinya."Maaf, Dek. Mas nggak berhasil tangkap orangnya. Tapi Mas sudah lihat motornya, nanti kita lapor polisi," katanya sambil meraih tangan Arini dan membawanya menjauh dari pecahan kaca.Arini hanya mengangguk. Di dalam hatinya, ia tahu siapa yang kemungkinan besar berada di balik ini semua.Dan benar saja…Keesokan paginya, ketika Arini dan Wawan membersihkan pecahan kaca dan memperbaiki jendela, terdengar suara motor berhenti di depan rumah kontrakan mereka. Wawan menyipitkan mata, ia merasa mengenali suara itu.“Arumi,” bisik Arini pelan, ketika melihat Arumi turun dari motor bersama Irgi.Arumi melipat tangannya di dada, berdiri dengan kepala terangkat tinggi. “Wah, rumah or

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Kebenaran Mulai Terungkap

    Setelah semua masalah ini, aku merasa... seperti baru saja menikah denganmu lagi, Mas," ucap Arini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Wawan.Wawan tersenyum lembut. "Dan aku seperti baru menemukan makna sejati jadi suami."Mereka tertawa kecil. Tetapi keduanya tahu, ini bukan akhir dari segalanya, hanya awal dari kehidupan pernikahan mereka yang lebih dewasa.****Beberapa minggu setelah pindah ke kontrakan kecil di ujung desa, kehidupan Arini dan Wawan terasa lebih tenang. Walau rumahnya sederhana hanya terdiri dari dua kamar, namun mereka bahagia karena bisa saling mendukung dan hidup tanpa tekanan dari orangtua. Terutama kedua orangtua dari Wawan. Namun ketenangan itu nyatanya hanya bertahan sebentar. Suatu pagi, saat Arini sedang menggantung jemuran, ia mendengar suara gaduh di luar pagar kontrakan. Betapa kagetnya dia ketika melihat Arumi dan Irgi berdiri di sana sambil membawa koper!"Apa-apaan ini? Kalian ngapain di sini?" tanya Arini terkejut."Eh, bukan rumah ini punya ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status