Arini bab 22Beberapa bulan telah berlalu sejak Arumi resmi menjadi staf administrasi di kantor tempat Irgi bekerja. Dirinya yang dulu hanya membersihkan kaca, menyapu, dan mengepel lantai setiap pagi. Kini duduk di balik meja-- mengoperasikan komputer, mengurus laporan, dan melayani klien dengan senyum ramah.Arumi tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah seperti ini. Dulu, ia hanya seorang cleaning service yang dianggap sebelah mata oleh banyak pegawai. Tetapi karena sikapnya yang sopan, rajin, dan tidak pernah mengeluh. Pihak manajemen kantor perlahan mempercayainya.Penampilan Arumi berubah. Wanita mengenakan seragam kantor resmi, blouse krem dan rok panjang hitam. Meski wanita itu belum tergerak hatinya untuk mengenakan hijab. ID card tergantung di lehernya. Setiap pagi, ia datang bersama suaminya-- Irgi, yang masih bekerja sebagai OB di gedung yang sama.“Bu Arumi, ini dokumen keuangan untuk bulan lalu sudah saya taruh di meja ya,” ujar seorang rekan kerja dengan ramah.Aru
Beberapa minggu kemudian...Bu Risna mulai berubah. Sejak kejadian di hotel itu, ia sempat bungkam. Tetapi Serly tak tinggal diam. Ia datang ke rumah Bu Risna membawa beberapa lembar foto hasil jebakannya.“Tante, ini buktinya. Lihat aja sendiri. Mas Wawan dan aku di kamar hotel,” ucap Serly dengan nada licik.Bu Risna menatap foto-foto itu, keningnya mengerut. Wanita paruh baya itu terheran-heran dengan aksi Serly. “Tante yakin Arini pantas jadi istri Mas Wawan? Dia itu bukan siapa-siapa. Cuma anak angkat. Dia numpang nama keluarga Tante aja selama ini,” tambah Serly.Kata-kata itu menggoyahkan hati Bu Risna. Diam-diam, ia mulai ragu lagi. Wanita paruh baya merasa Wawan memang pantas mendapatkan pasangan dari keluarga 'baik-baik' seperti Serly."Sementara itu, di sudut kota yang lain, Arumi sedang menyapu lorong kost tempat ia tinggal. Peluh menetes di dahinya, tapi ia tetap tersenyum. Di tengah perjuangannya, sebuah kabar mengejutkan datang.HRD perusahaan tempat mereka bekerja me
Beberapa bulan kemudian...Toko pertanian milik Arini makin ramai. Ia kini tak hanya menjual pupuk dan alat pertanian, tapi juga menjadi tempat konsultasi petani kecil di sekitar kota. Bahkan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi menunjuk toko tersebut sebagai salah satu UMKM binaan unggulan.Karena kegigihannya, Arini diundang sebagai pembicara dalam seminar perempuan wirausaha tingkat provinsi. Undangan itu membuatnya gugup sekaligus bangga. Siapa sangka, perempuan yang dulu dianggap hanya 'anak angkat', kini berdiri sejajar dengan para pengusaha tangguh?Di sisi lain, Wawan pun tak kalah bersinar. Setelah bekerja sebagai penyuluh pertanian honorer, ia akhirnya lolos tes PPPK di Dinas Pertanian. Nilainya nyaris sempurna, tak heran, Wawan memang lulusan cumlaude jurusan pertanian. Dedikasi dan kerja kerasnya yang luar biasa kini membuahkan hasil yang begitu manis.Di hari seminar itu, Arini tampil anggun mengenakan gamis berwarna pastel dan hijab segiempat bermotif polkadot. Wanita ayu it
Keesokan harinya...Pagi itu cuaca cerah. Matahari belum terlalu terik, angin berembus lembut menyapu halaman toko alat pertanian milik Arini. Di sudut halaman, seorang wanita paruh baya mengenakan kerudung ala Yenny Wahid dan daster batik lengan panjang. Wanita tua itu sedang menyapu dengan cekatan.Dialah Bi Sumi, yang kini tinggal bersama Arini dan Wawan. Meski sudah tidak bekerja pada Bu Risna, rasa tanggung jawab dan cintanya terhadap keluarga membuatnya tetap rajin membantu Termasuk merawat halaman toko tempat Arini merintis usahanya.Namun saat menyapu ke bagian depan, Bi Sumi tiba-tiba berhenti. Matanya membelalak, wanita tua itu terkejut melihat dua sosok yang begitu ia kenal. Tepat di seberang gang kecil ada dua orang yang duduk bersandar di tembok Mereka adalah Irgi, anak kandungnya, dan Arumi, menantunya. Mereka tampak kusut dan letih. Suara lirih keluhan pun terdengar dari bibir Arumi."Aku lapar banget, Mas. Kita cuma minum air dari galon warung tadi. Gimana ini? Kamu j
Arini hanya bisa mematung, tubuhnya masih gemetar. Pecahan kaca berserakan di lantai ruang tengah, suara tangisannya menggema, namun ia berusaha menahannya agar tidak makin menambah kepanikan.Wawan kembali masuk ke dalam rumah setelah gagal mengejar pelaku. Napasnya memburu, pria itu berusaha menenangkan istrinya."Maaf, Dek. Mas nggak berhasil tangkap orangnya. Tapi Mas sudah lihat motornya, nanti kita lapor polisi," katanya sambil meraih tangan Arini dan membawanya menjauh dari pecahan kaca.Arini hanya mengangguk. Di dalam hatinya, ia tahu siapa yang kemungkinan besar berada di balik ini semua.Dan benar saja…Keesokan paginya, ketika Arini dan Wawan membersihkan pecahan kaca dan memperbaiki jendela, terdengar suara motor berhenti di depan rumah kontrakan mereka. Wawan menyipitkan mata, ia merasa mengenali suara itu.“Arumi,” bisik Arini pelan, ketika melihat Arumi turun dari motor bersama Irgi.Arumi melipat tangannya di dada, berdiri dengan kepala terangkat tinggi. “Wah, rumah or
Setelah semua masalah ini, aku merasa... seperti baru saja menikah denganmu lagi, Mas," ucap Arini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Wawan.Wawan tersenyum lembut. "Dan aku seperti baru menemukan makna sejati jadi suami."Mereka tertawa kecil. Tetapi keduanya tahu, ini bukan akhir dari segalanya, hanya awal dari kehidupan pernikahan mereka yang lebih dewasa.****Beberapa minggu setelah pindah ke kontrakan kecil di ujung desa, kehidupan Arini dan Wawan terasa lebih tenang. Walau rumahnya sederhana hanya terdiri dari dua kamar, namun mereka bahagia karena bisa saling mendukung dan hidup tanpa tekanan dari orangtua. Terutama kedua orangtua dari Wawan. Namun ketenangan itu nyatanya hanya bertahan sebentar. Suatu pagi, saat Arini sedang menggantung jemuran, ia mendengar suara gaduh di luar pagar kontrakan. Betapa kagetnya dia ketika melihat Arumi dan Irgi berdiri di sana sambil membawa koper!"Apa-apaan ini? Kalian ngapain di sini?" tanya Arini terkejut."Eh, bukan rumah ini punya ka