MasukPatah hati karena pengkhianatan kekasihnya membuat Gea nekat melakukan hal gila: mengajak seorang pria asing untuk menghabiskan malam dengannya. Namun, penyesalan datang saat ia menyadari siapa pria berotot yang menguasai tubuhnya semalaman. Dia adalah Stefano, dosennya sendiri yang terkenal dingin dan berwibawa! Usaha Gea untuk menjauh justru dibalas Stefano dengan desakan yang kian berani dan mengikis pertahanan dirinya. Kini, Gea terjebak. Mampukah ia menyembunyikan hubungan rahasia ini, ataukah semuanya akan terkuak dan menghancurkan masa depannya?
Lihat lebih banyakDentuman musik memenuhi ruangan, lampu-lampu neon berkilau di antara orang-orang yang menari di bar hotel malam itu. Gea Andriana tersenyum kecil sambil memegang gelas koktailnya. Malam ini seharusnya menyenangkan. Teman-teman satu jurusannya merayakan kelulusan beberapa senior, dan Gea berniat melepas penat setelah satu minggu penuh tugas.
Awalnya, semuanya baik-baik saja. Hingga matanya menangkap sosok yang familiar. Langkah Gea terhenti. Napasnya membeku. Di sudut ruangan, seorang pria yang sangat ia kenal tengah memeluk pinggang seorang wanita berbaju seksi. Kepalanya menunduk, mencium bibir wanita itu dengan rakus tanpa rasa bersalah sedikit pun. Gea tidak percaya. Itu Marvel Kekasih yang selama satu tahun ini ia percaya mati-matian. Suhu di tubuh Gea seolah turun drastis. Tanpa berpikir panjang, dia menghampiri mereka dan mendorong tubuh Marvel . "Marvel!" Plak! Tamparan keras melayang menghantam pipi laki-laki itu. Suaranya begitu nyaring, sampai beberapa orang menoleh. Rasa sakit menguar di wajah Marvel, namun rasa sakit di dada Gea jauh lebih hebat. “Apa yang kamu lakukan… hah!?” suara Gea pecah, nyaris bergetar. Elgar terkejut, matanya membesar. “Gea? Kok kamu ada di sini?” Wanita seksi itu memeluk lengan Marvel semakin erat. “Sayang, siapa wanita ini?” Dan jawaban Marvel menghancurkan seluruh benteng pertahanan Gea. “Dia bukan siapa-siapa aku.” Gea merasakan jantungnya diremas. Seolah seluruh dunia berhenti hanya untuk memperlihatkan betapa bodohnya dia mempercayai pria yang sedang merendahkannya. “Kamu jahat, Marvel…” suara Gea melemah. Gea tidak kuat lagi berada di hadapan Marvel dan wanita itu. Nafasnya tercekat, matanya panas, dan dadanya terasa sesak. Tanpa menoleh lagi, Gea berbalik dan berjalan cepat menuju meja tempat teman-temannya berkumpul. Tangannya gemetar saat meraih gelas terdekat dan menenggaknya dalam sekali teguk, seolah alkohol bisa menghapus rasa sakit di dadanya. “Kamu yang sabar, ya, Gea.” Raya menepuk pundaknya lembut. Namun suara itu seperti angin lewat. Gea hampir tidak mendengar apa pun. Suara musik, suara orang-orang, semuanya samar. Yang jelas hanya satu: pengkhianatan yang masih membekas di pikirannya. Gea mengambil gelas kedua. Ketiga. Keempat. Setiap tegukan membuat pikirannya semakin melayang menjauh dari kenyataan. “Gea, jangan banyak minum. Nanti kamu mabuk,” peringatan Raya. "Benar kata Raya, memang Marvel aja yang berengsek," kata Nadia ikut membela. Tapi Gea tidak peduli. Dadanya masih terasa seperti diiris. Semakin banyak alkohol masuk, semakin ia berharap bisa lupa walau hanya beberapa menit. Setelah beberapa lama, tubuhnya mulai oleng. Gea memegang kepala, berdiri dengan susah payah. “Aku mau pulang…” “Mau kuantar?” tanya Nadia, wajahnya khawatir. Gea menggeleng dengan senyum kecil yang jelas hanya menutupi luka. “Nggak usah.” Dia menoleh lalu berjalan keluar dari bar. Langkahnya goyah, tapi dia memaksakan diri. Tangga hotel tampak berputar, tapi Gea tetap menuruni satu per satu, dengan hati yang semakin berat. Di tengah langkah yang tidak stabil, bruk! Gea menabrak seseorang, tubuhnya hampir terjatuh bila saja tangan kuat itu tidak cepat menangkap pinggangnya. “Pelan-pelan. Anda tidak apa-apa?” Suara seorang pria terdengar rendah dan berwibawa. Gea mendongak. Sosok pria tinggi berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya tajam, rahangnya tegas, dan tatapannya… memikat. Terlalu memikat untuk seseorang yang baru saja hancur hatinya. Gea terpaku beberapa detik. Alkohol di kepalanya membuat semua batasan hilang. Tanpa berpikir panjang, Gea menarik wajah pria itu dan menciumnya dengan berani. Laki-laki itu terkejut. Tubuhnya menegang sejenak, tapi hanya sejenak. Lidahnya kemudian merespons, lembut namun semakin menuntut, seolah menikmati aroma manis alkohol yang menempel di bibir Gea. “Bercinta denganku…” bisik Gea dengan suara serak sensual. Tatapan pria itu berubah. Ada api. Ada dorongan. Ada sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi. Tanpa kata tambahan, pria itu membungkuk dan menggendong Gea dengan mudah, seolah tubuhnya tidak berbobot. Gea tersenyum samar, menyandarkan kepalanya di bahunya. Mereka memasuki kamar hotel. Pintu tertutup di belakang mereka, memutuskan dunia luar. Pria itu menurunkan Gea di atas ranjang dengan perlahan. Gea langsung meraih dasi pria itu, menariknya dengan cepat dan berantakan. Nafasnya terengah, matanya setengah terbuka penuh rayuan. Pria itu menatapnya, sedikit terkejut sekaligus terpesona. Gea mengangkat kakinya dan menyentuhkan tumitnya ke dada bidang pria tersebut, menggodanya tanpa ragu. Sebuah aksi yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya pada pria itu. Pria tersebut memiringkan senyuman berbahayanya, namun penuh dengan menantang. Dengan perlahan, ia membuka kancing kemejanya satu per satu, membiarkan dada bidangnya terlihat di bawah cahaya lampu kamar. “Kamu sangat berani,” katanya dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Gea meremang. Pria itu memegang pinggang Gea, lalu mendorong tubuhnya ke atas kasur. Gea terbaring, napasnya tersengal. Dan tanpa memberi kesempatan Gea untuk berpikir, pria itu menindih tubuhnya, mencium bibirnya dengan kenikmatan yang membuat seluruh tubuhnya meleleh. Gea merasakan tubuh pria itu mendekat lebih erat.. Kulitnya merinding, bukan karena dingin, tapi karena sensasi yang mengalir begitu kuat hingga sulit digambarkan dengan kata-kata. “Ngg… ah…” Gea menggigit bibirnya, kedua tangannya meraih pundak pria itu, menariknya lebih dekat, seakan ingin menyatu dengannya sepenuhnya. Pria itu menahan pinggangnya, semakin menunduk hingga dahi mereka bersentuhan. Nafas mereka bercampur, panas, berat, dan memabukkan. “Lihat aku…” bisik pria itu, suaranya dalam dan menuntut. Gerakannya semakin kuat, namun tetap ritmis dan terkontrol, membuat Gea tersentak kecil di bawahnya. Setiap dorongan membawa sensasi baru yang membuat tubuhnya bergetar lemah. **** Pagi hari yang begitu sangat cerah, membangunkan sosok Gea yang masih terlelap dalam tidurnya. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul, dia berusaha untuk bangun tetapi tubuhnya terasa sangat berat. Sampai dia melihat tangan kekar yang memeluk dirinya, membuat Gea langsung refleks menoleh kearah samping. Betapa terkejutnya dia ketika melihat pria asing yang sedikit tampan disampingnya. “Aduh, kenapa rasanya begini berat?” gumamnya lirih. Ia mengucek mata, mencoba meraih selimut, tapi tangannya justru menyentuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat dan keras. Tangan kekar. Detik itu juga Gea langsung menoleh. Jantungnya serasa meloncat keluar dari dada ketika mendapati pria asing dengan rahang tegas dan rambut sedikit berantakan, tertidur damai di sampingnya. Nafasnya stabil, badan telanjangnya terbalut hanya setengah selimut. “A-astaga…” Gea menutup mulutnya. “Apa yang aku lakukan?!” Panik, ia buru-buru melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya. Ia bangun terlalu cepat, hingga rasa ngilu di antara pahanya membuatnya meringis. “Sialan, ini pertama kalinya,” desisnya kesal pada diri sendiri. Kamar itu berantakan, baju berserakan, sepatu terlempar jauh, bahkan kancing kemejanya hilang entah ke mana. Gea memijit pelipis, mencoba mengingat potongan semalam: Pria itu menangkapnya saat hampir jatuh kemarin. Dia mengingatnya sekarang dan itu sangat memalukan. Pandangan mereka bertemu, dan tiba-tiba dia malah mengajak pria asing itu. “Mari bercinta,” katanya sendiri… Gea menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Oh Tuhan, aku yang mulai duluan” Ia buru-buru memakai bajunya serabutan. Setiap gerakan memicu sedikit rasa sakit, tapi ia memaksa. Rasa malu bercampur frustasi membuatnya ingin menghilang dari muka bumi. Ketika dia hendak meraih dompet, pria di kasur itu menggeliat pelan. Napas Gea langsung tercekat. Refleks dia langsung menoleh kearah pria tersebut. Pria itu membuka mata, menatapnya dengan pandangan yang masih setengah sadar. Suaranya berat dan serak ketika bicara. “Hm, kamu mau pergi?” Gea tak sanggup menghadapi tatapannya. Tanpa berpikir panjang, ia merogoh dompet, mengambil beberapa lembar uang, lalu meletakkannya di meja samping. “Terima kasih untuk tadi malam,” katanya cepat, suaranya pecah karena gugup. “Saya harap Anda melupakan semuanya.” Hening. Pria itu menatap uang itu. Alisnya bergerak naik, antara bingung dan tersinggung. “Kamu pikir aku—” “Tolong, cukup. Anggap saja kita tidak pernah bertemu.” Gea membungkuk singkat, lalu buru-buru keluar sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimat. Dia tidak mau bertemu dengan pria asing yang menyebalkan itu. Pintu tertutup. Pria itu duduk tegak sekarang, rambutnya sedikit acak, ekspresinya tidak bisa dibaca. Ia mengambil uang itu, memutarnya di tangan, lalu mendecak rendah. “Wanita aneh…” Namun sudut bibirnya terangkat dalam senyum tipis, senyum yang berbahaya. Ia mengusap wajah, mencoba mengingat jelas wanita itu. Mata itu, kulitnya, tubuhnya yang menggeliat membuat dia tertarik. "Seksi dan menarik," gumamnya. Pria tersebut memunguti baju yang berserakan, lalu dia mengingat kembali wanita tadi. "Namanya siapa yah?" BERSAMBUNGPagi itu, Raya terlihat sibuk mempersiapkan diri. Sesekali dia memeriksa ponselnya, memastikan tidak ada pesan baru dari Hans.Pria itu sudah menghubunginya sejak pagi dan mengatakan bahwa dia akan menjemput Raya untuk makan siang bersama.Sementara itu, di rumah Gea, wanita tersebut tampak gelisah. Pikirannya terus tertuju pada pertemuan sahabatnya dengan Hans."Mas, apa orang-orangmu sudah bersiap?" tanya Gea ketika Stefano baru saja keluar dari ruang kerjanya.Stefano mengangguk sambil merapikan jam tangannya."Mereka sudah berada di sekitar tempat yang akan dikunjungi Hans dan Raya. Saya juga sudah meminta mereka untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat Hans curiga."Gea mengembuskan napas perlahan."Aku hanya takut Raya kenapa-kenapa."Stefano mendekat, kemudian menggenggam tangan istrinya."Jangan terlalu khawatir. Selama orang-orang saya mengawasi mereka, Raya tidak akan dibiarkan menghada
Stefano masih duduk di depan laptopnya. Dia kembali memutar rekaman yang berhasil didapatkan dari apartemen Hans.Sementara itu, Gea duduk di sampingnya dengan wajah serius. Dia benar-benar ingin mengetahui apa yang sebenarnya direncanakan oleh pria yang kini menjadi kekasih Raya tersebut.Suara Hans kembali terdengar."Kalau kita berhasil mendekati Gea, semuanya akan jauh lebih mudah."Kemudian terdengar suara Sonia."Memangnya kamu yakin bisa melakukan itu? Stefano bukan orang bodoh. Dia pasti akan mencurigai kita."Hans tertawa kecil."Justru itu sebabnya aku mendekati Raya. Aku tahu dia memiliki hubungan dekat dengan Gea. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan informasi yang kubutuhkan tanpa harus berhadapan langsung dengan Stefano."Gea langsung menoleh kepada suaminya."Jadi, selama ini dia memang sengaja mendekati Raya?"Stefano mengangguk."Sepertinya begitu."Gea kembali memperhatikan laptop.Suara Sonia terdengar lagi."Tapi aku tidak suka kalau kamu terlalu dekat dengan wanita
Setelah berhasil meninggalkan apartemen Hans, Raya segera masuk ke dalam mobilnya. Dia menghela napas lega karena rencananya berjalan sesuai dengan apa yang sudah disepakati bersama Gea dan Stefano.Meskipun sempat merasa gugup ketika hampir ketahuan oleh Hans, pada akhirnya dia berhasil menyelesaikan tugasnya.Raya mengambil ponsel dari dalam tas, kemudian menghubungi Gea. Tidak membutuhkan waktu lama sampai panggilannya tersambung."Halo, Gea.""Hai, Raya. Bagaimana? Kamu sudah pulang?" tanya Gea dari seberang telepon."Iya, aku sudah keluar dari apartemennya Hans."Gea langsung duduk lebih tegak."Terus bagaimana? Semuanya berjalan lancar?"Raya tersenyum kecil."Tenang saja. Aku berhasil memasang alat yang diberikan Stefano. Bahkan tadi aku sempat mendengar Hans berbicara dengan seseorang di dalam kamar."Gea langsung terdiam."Seseorang? Maksud kamu Sonia?""Iya. Aku yakin itu Sonia. Aku mendengar suaranya dengan jelas."Gea mengembuskan napas lega."Syukurlah. Berarti sekarang k
Di dalam sebuah kamar, Gea merasa khawatir. Dia takut rencana yang sudah dia lakukan bersama dengan Stefano akan berantakan. "Kamu yakin kalau rencana kita akan berhasil?" tanya Gea kembali menatap kearah Stefano. Stefano menggenggam tangan Gea dengan penuh keyakinan. Dia sudah merencanakan semuanya dengan matang. Tidak mungkin kalau kali ini dia gagal. Lagian semuanya sudah dia rencanakan dengan baik. "Tidak usah khawatir."Dia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Termasuk dengan semua yang dia lakukan sekarang. "Kamu yakin?""Iya," jawab Stefano. "Bagaimana mungkin kalau Sonia ada pada pacarnya Raya?" tanya Gea yang masih penasaran atas semuanya. Stefano mengambil laptop miliknya dan dia berusaha untuk memperlihatkan sesuatu pada Gea. Dia sudah merencanakan semuanya dengan matang untuk memberitahu wanita itu. Termasuk dengan apa yang sudah terjadi sekarang. "Kamu memang belum yakin dengan semuanya. Tetapi kamu bisa melihat ini untuk meyakinkan dirimu sendiri."Gea lalu
Rumor tentang Gea berada di perpustakaan bersama dengan Stafano kini kian menyebar. Semuanya karena Satpam itu yang membicarakan ini pada penjaga lainnya. Bahkan mahasiswa lain juga ada yang ikut mendengar rumor tersebut. "Tidak menyangka yah, Gea orang yang seperti itu.""Demi nilai, dia merenda
Gea langsung panik ketika melihat satpam itu memergoki dirinya dengan Stefano, bahkan dengan posisi mereka sekarang yang sulit sekali untuk diartikan. "Pak Stefano, anda dengan mahasiswa itu! Astaga."Satpam itu langsung pergi dengan begitu saja setelah melihat Gea dan Stefano dengan posisi Stefa
Perpustakaan Gea berada di sebuah perpustakaan dan mencari buku tentang sistem digital. Kebetulan sekali dia adalah seorang mahasiswa tehnik elektro. Dia mencari di tumpukan buku. "Mana sih, gak ada," umpat Gea dengan kesal. Dia tidak menemukan buku yang dia cari, padahal ini sudah hampir larut
"Itu sangat memalukan!"Gea sudah berada di sebuah kafe dan dia tengah menyusun gelas dengan benar. Dia terus saja memikirkan dosen barunya itu. Bisa-bisanya tadi dia malah asal masuk ke dalam mobil orang dan ternyata adalah mobil dosennya sendiri. "Memalukan. Kenapa malah masuk mobil dia pula?"G






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan