LOGINJessica hanya memberitahu apa yang menimpa Angello pada kakaknya. Seperti yang sudah dia katakan, jika mertua dan opanya tau. Keluarga akan menjadi panik. Tak lama kemudian, Xairus segera bertolak menuju ke rumah sakit. Di sana pada akhirnya ia bertemu dengan iparnya yang tampak mulai berangsur membaik. Sejenak Xairus menghela panjang dan menatap sendu wajah Ello dari balik kaca, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar perawatannya Angello. "Kakak ipar, terima kasih sudah datang mengunjungiku," kelakar Ello saat melihat siapa yang baru saja datang. Angello memang selalu mencairkan suasana di tengah kepanikan yang dirasakan oleh orang terdekatnya. Tingkah Angello yang seolah baik-baik saja, membuat Xairus membalasnya dengan dengusan kesal. "Kau ini, suka sekali membuat orang khawatir," omel Xairus juga menahan rasa sedih. Bukan hanya sedih karna keadaan Ello. Tapi, di
Moskow, beberapa bulan yang lalu, tepat saat hari ulangtahun Alvaro Damian Ramirez dirayakan. Kebahagian keluarga Ramirez berubah menjadi kepanikan, saat Angello yang berlari ketika bermain bersama Damian justru terjatuh pingsan tanpa ada hujan angin. "Angello!" pekik Sally saat melihat tubuh anaknya menghantam bebatuan yang berada di taman tempat mereka bercengkerama bersama. Jessica segera berlari dan memeluk Ello yang tampak tak sadarkan diri. "Xairus! Bantu aku!" teriak Jessica tidak kalah panik. Xairus pun segera berlari dan menggendong Ello ke punggungnya. Diikuti oleh Jessica dan disusul oleh Marco, Sally dan Oleg dengan mobil yang berbeda. Mereka segera menuju ke rumah sakit keluarga Ramirez, di sana Angello langsung dibawa ke ruang ICU dan segera menjalani pemeriksaan sekaligus perawatan darurat. Tubuhnya berkeringat dan wajahnya pucat pasi, sebuah selang tampak dimasukkan ke dalam mulut dan
Benar saja, mata Juan langsung menatap Maxton kembali, seolah menuntut penjelasan yang lebih. "Angello Bastian akan datang, yakin kau tidak mau berkenalan dengannya?" tanya Maxton sekali lagi.Hati Juan kembali merasa ngilu, dia terdiam dan rahangnya tampak mengetat. Maxton lantas beranjak dari kursinya dan menatap Juan dengan santai."Jika berubah pikiran, kau bisa langsung merapat ke Lotur Bar, pukul delapan malam, ruangan VIP 168." Setelah mengatakannya, Maxton pun segera pergi meninggalkan Juan dalam kebisuannya.Bukan tanpa alasan Maxton mengajak Juan turut bergabung dalam pertemuannya kali ini. Semua atas permintaan Xairus yang mengatakan jika iparnya membutuhkan tenaga ahli dalam pemetaan lokasi tambang.Sekalian saja Maxton tawarkan pada Juan, apalagi selama ini Juan selalu penasaran dengan kehidupan Jessica. Mungkin, dengan melihat Jessica bahagia, Juan akan berhenti berharap dan dapat membuka hatinya kembali. Walau memiliki ma
"Jika anda terus berada di sini, menyiksa diri ... bukan hanya tuan Xairus yang akan mencibir anda. Tapi, nyonya Jessica akan bersyukur atas pilihannya meninggalkan anda," ucapan Tommy bak belati tajam yang menusuk relung jantung Juan.Ia masih terdiam dan membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Harapannya sudah pupus, kekayaannya tidak sebanding dengan keluarga Ramirez, lantas apa lagi yang harus dibuktikan? Dia sudah kalah telak.Namun, Tommy tidak mau menyerah begitu saja. "Bahkan orang sekaya keluarga Ramirez pun membutuhkan beberapa tenaga ahli untuk memperlancar usahanya. Untuk sampai ke sana, baiknya anda mulai bekerja sekarang!""Ada tawaran dari Rusia, perusahaan kecil bukan perusahaan besar. Tapi, beliau memiliki koneksi yang luas, dengan begitu anda dapat membangun nama baik dalam bidang keuangan dan pemetaan tambang. Bagaimana Tuan? Tawaran ini hanya berlaku sampai dua jam ke depan," tegas Tommy.Menimbang semua yang dikatakan
"Lupakan Jessica, dan mulailah dengan kehidupan yang baru. Dia sudah tidak bisa kau jangkau lagi, Juan. Dia, sudah menjadi istri orang lain!" tegas Maxton, menampar kesadaran Juan yang mulai kehilangan arah. Juan masih terdiam dengan mengetatkan bibirnya dan kedua tangan tampak semakin terkepal kuat hingga memperlihatkan urat-urat tangannya yang seolah hampir keluar dari balik kulitnya. Dengan nafas yang terengah akhirnya ia menatap Maxton dengan wajah penuh luka. "Bagaimana bisa?" tanya Juan dengan suara yang bergetar dan jelas dia sedang menahan emosinya. "Terimalah kenyataannya, Brengsek!" Maxton terpancing emosinya, ia tidak ingin Juan nekat dan menghancurkan kehidupannya Jessica sekali lagi. "Ingatlah, bagaimana dulu kau memperlakukan Jessica seperti pengemis cinta yang menjijikkan! INi adalah harga yang memang pantas kau bayar. Jessica, sudah diluar jangkauanmu, Juan." "Aku cukup mengenal keluarga
Kedatangan Maria disambut baik oleh Sally yang saat itu tengah bersiap untuk acara simbolis pemberkatan nikahnya Ello dan Jessica yang akan diadakan tepat pukul sepuluh pagi. "Maria, maaf karna aku tidak bisa menjemputmu langsung. Kau tau kan, bagaimana repotnya aku saat ini," ucapan Sally tidak terdengar seperti sebuah keluhan, justru terdengar sangat bersemangat seolah dia sudah menunggu moment ini sangat lama. "Ah, untuk apa kau menjemputku, Sally. Kau adalah ibu dari calon mempelai pria," ucap Maria sambil melihat suaminya Mhyron yang saat ini sedang berkelakar dengan Marco, suaminya Sally. "Calon? Sory yah, aku memang mertua mempelai wanita. Ini rahasia, pernikahan nanti hanya simbolis saja. Mereka sudah menikah gereja empat hari yang lalu. Aku sangat bersemangat, Maria. Doakan agar tahun depan aku segera menimang cucu," bisik Sally sangat bersemangat sampai melompat kecil ditempatnya. Maria membelalakkan kedua matanya. "Mereka sudah menikah?







