LOGIN"Tolong hargai juga hatiku, Ma. Kuburan suamiku bahkan sudah kering, tapi Mama sudah meminta aku untuk menikah lagi dengan pria lain. Apa aku tidak seberharga ini, sampai Mama ingin aku menjadi menantunya orang lain?" lirih Jessica menatap kecewa.Sally kehabisan kata-kata, dia tidak menyangka jika menantunya itu ternyata sangat mencintai Angello sedemikian dalam. Selama ini, Angello selalu terbuka padanya, tentang perasaannya pada Jessica. Bahkan Sally tidak pernah keberatan dengan status Jessica yang dulu menikah dengan anaknya bukan sebagai seorang gadis, melainkan seorang janda.Baginya, mau gadis atau janda yang paling penting adalah akhlaknya. Tidak disangka sekarang Sally melihat cinta yang luar biasa dalam di hati Jessica. Ia pun menghela nafas dan memegang kedua pergelangan nangan Jessica."Maafkan mama yah, mama hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh Angello, Sayang. Kau adalah menantuku dan sudah menjadi anakku, aku tidak mungkin mau memberikanmu pada keluarga lain. Sek
"Lalu, anaknya siapa Alvaro Jessica! Setelah aku pikir-pikir, mungkinkah Angello sengaja menyewa Juan dan memiliki maksud tertentu yang berhubungan dengan Alvaro?" Lidah Jessica langsung keluh, air matanya sudah tergenang di pelupuk mata dan jemarinya gemetar menahan gelombang pertanyaan yang tidak pernah disangka akan keluar begitu saja dari bibir Xairus."Aku, tidak mengerti apa maksud pertanyaanmu. Sudahlah Xairus, aku lelah terus berdebat denganmu." Jessica menghindar dan segera berjalan meninggalkan Xairus yang langsung mendapatkan kepastian jawaban hanya dari sikap adiknya."Jadi benar, Alvaro adalah anaknya Juan. Lantas, apa Juan tau?" gumamnya pada diri sendiri.Sekembalinya Jessica ke kediamannya, Prillia yang sudah menunggu gelisah langsung menghampiri Jessica dengan wajah sembabnya."Kenapa Kakak menjebloskan suamiku ke penjara?!" todong Prill dengan berderai air mata dan Jessica kembali memijat pelipis kepalanya."Bukan aku, Pri
"Mengertilah." Ketegasan Jessica langsung membungkam Juan.Dia terkejut, tidak menyangka bisa mendengar penolakan tegas dan kasar secara langsung. Tanpa Juan sadari, kakinya langsung mundur beberapa langkah, tubuhnya terhuyung karna keterkejutannya. Harusnya, dia bisa lebih bersabar menyatakan perasaan hatinya.Namun, mau bagaimana lagi, Juan sudah gila karna kerinduan yang selama ini tidak pernah sampai. Tanpa ada tau, selama ini Juan selalu mencari tau bagaimana kehidupan Jessica. Apakah dia bahagia, apakah dia masih cinta padanya.Tapi, hari ini dia mendengar langsung secara tegas. Jessica tidak lagi mencintainya. Hubungannya murni hanya sebatas profesional. Itu pun, tak lantas membuat Jessica sudi untuk berinteraksi langsung padanya dan saat Jessica kembali mengingatkan batasan yang menyakitkan tersebut, Juan tak lagi sanggup untuk sekedar berdeham menenangkan diri.Dia hanya diam, dengan rasa sakit yang teramat perih. Luka di bibirnya, dia suka! Dia
"DIAM JUAN!" bentak Jessica tegas."Jangan pernah lagi mengungkit hubungan kita di masa lalu. Kau harus tau batasan!" dengusnya tidak suka.Bibir Juan berkedut, kedua tangan mengepal di sisi tubuh dan alisnya sesaat menyatu sebelum ia memicingkan kedua matanya. Ditatapnya Jessica kembali dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia menilai, tampak jelas, gestur wanita ini sangat tidak nyaman dengan keberadaannya.Dan Jessica tidak memanggil dengan formal, dia memanggil namanya. Dengan lancang Juan malah mengikis jarak dengan maju dua langkah ke depan tanpa mengalihkan tatapan yang bertemu dengan kedua mata tajam Jessica."Kau panggil aku Juan, Nyonya Ramirez?" bisik Juan dengan sedikit penekanan.Tidak ingin terlibat dalam permainan mantan suaminya, Jessica langsung membalikkan tubuhnya. Ia gusar, bukan karna dibuat-buat atau sengaja jual mahal.Jessica memang sudah mengubur Juan jauh ke dalam hatinya yang mungkin hampir tidak bisa tersent
Tubuh Rodrigo membuka, ia menatap nyalang wajah Eddie, pengacara Angello dan tampak juga George, notaris perusahaan serta seorang pria yang tidak dia kenal. Tapi wajah itu terlalu familiar bagi Rodrigo. Dirinya hampir gila karna frustasi memikirkan di mana dia pernah bertemu dengan pria di hadapannya ini."Siapa kau?!" bentak Rodrigo menunjuk Juan.Yah! Juanlah yang kini berada di hadapan semua dewan direksi, Rodrigo dan mantan istrinya. Ingin rasanya Jessica bertanya untuk apa Juan datang ke kantor suaminya. Hanya saja, kehadiran Eddie dan tuan George membuat Jessica mengurungkan niatnya.Fokusnya saat ini adalah Rodrigo dan jika kedua tangan kanan suaminya itu mengenal Juan itu berarti mantan suaminya itu, pasti memiliki alasan yang kuat untuk berdiri membela harga dirinya."Aku adalah akuntan perusahaan ini. Tuan Angello, menyewa jasaku sampai tiga tahun ke depan untuk membantunya 'merapikan' beberapa laporan perusahaan yang tercecer. Selebihnya, aku d
Satu minggu sebelum rapat dadakan yang dihadiri oleh Jessica. Tiba-tiba saja Eddie datang ke kantor Juan. Ia menerobos masuk begitu saja, membuat Tommy kelabakan."Tuan Myers, ini sudah hampir empat puluh hari sejak meninggalnya tuan Angello! Kenapa anda tidak segera datang ke Moskow?" desak Eddie menatal tajam eajah Juan. "Tuan maaf, aku sudah mencoba untuk mencegahnya tapi, tuan ini menerobos masuk begitu saja. Apa saya perlu mengambil keamanan?" tanya Tommy, takut Juan marah. Tangan Juan langsung terangkat ia menggeleng. "Tidak perlu, dia tamu ku, Tommy. Duduklah, Tuan Eddie," ucap Juan dengan sopan.Keduanya bernafas lega. Juan juga meminta Tommy untuk duduk bersamanya. "Kau tidak perlu keluar, beliau adalah pengacara tuan Ramirez. Kau juga boleh mendengar pembicaraan kami, karna aku juga butuh pendapat darimu."Setelah semuanya







