LOGINCahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse, menyapu lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat. Aku mengerjapkan mata, merasakan beban berat namun nyaman di lenganku. Saat kesadaranku pulih sepenuhnya, aku menyadari bahwa aku masih berada dalam dekapan Arion. Aku melirik jam digital di nakas. Pukul delapan pagi. Aku tersentak kecil—aku bangun kesiangan. Biasanya, jam segini aku sudah sibuk membongkar stok bunga mawar di toko bersama Audrey. Namun, rasa panikku bukan karena pekerjaan, melainkan karena satu nama: Bik Mina. Pikiran itu menghantamku seketika. Bagaimana kalau Bik Mina sudah ada di dapur? Bagaimana kalau beliau melihatku keluar dari kamar utama ini bersama Arion? Meskipun Arion sudah bebas secara hukum, sisa-sisa rasa maluku sebagai mantan sekretaris sekaligus kekasih rahasia masih menghantui. Aku menoleh ke samping, menatap wajah Arion yang masih terlelap. Dia tidur dengan posisi yang sangat posesif—kepalanya bersandar di dadaku, tangannya
Malam semakin larut di penthouse, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh dengung halus pendingin ruangan. Setelah percakapan panjang yang membongkar semua rahasia dua tahun terakhir, Arion bangkit dari sofa. Ia mengulurkan tangannya, membantuku berdiri dengan sangat hati-hati agar tidak membebani pergelangan kakiku yang masih dibalut perban. "Canna, tidurlah. Ini sudah hampir tengah malam," ucapnya lembut. Ia menuntunku menuju kamar utama, kamar yang dulu menjadi tempatku beristirahat saat masih bekerja di sini. "Semuanya masih sama, tidak ada yang aku ubah. Pakaianmu yang dulu kamu tinggalkan, semuanya masih tertata rapi di lemari." Aku berdiri di ambang pintu kamar, menatap ruangan yang terasa asing namun sangat familiar. Aroma room spray lavender yang kusukai masih tercium di sana. "Aku akan tidur di kamar sebelah," lanjut Arion. Ia mengusap kepalaku sebentar, memberikan tatapan yang menenangkan. "Istirahatlah dengan tenang. Tidak ada yang akan mengganggumu." Aku menganggu
Lampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela penthouse seolah menjadi saksi bisu atas kebenaran yang baru saja tumpah. Aku menyandarkan punggungku di sofa, membiarkan uap dari teh hangat yang baru saja Arion siapkan membelai wajahku. Pergelangan kakiku sudah tidak terlalu nyeri, namun hatiku justru terasa semakin berat setelah mendengar cerita perjuangannya selama aku menghilang. Arion menatapku dalam-dalam, tangannya masih setia berada di dekat kakiku, seolah memastikan aku tidak akan tiba-tiba menghilang kembali menjadi asap. "Kenapa harus dua tahun, Arion?" bisikku. "Kenapa prosesnya begitu lama dan berdarah?" Arion menghela napas panjang, gurat kelelahan yang selama ini ia sembunyikan kini terpampang nyata. "Wichita tidak semudah itu melepaskan statusnya sebagai menantu keluarga Richie, Canna. Dia tidak peduli padaku, tapi dia sangat peduli pada kekuasaan. Dan yang paling menyakitkan adalah... dia menggunakan Kimi sebagai senjata." Aku tersentak. "Kimi?" "Dia menunt
Suasana di penthouse itu terasa seperti waktu yang membeku. Setelah mangkuk ramen yang kosong disingkirkan, Arion masih duduk di lantai, bersandar pada sofa tepat di dekat kakiku yang sudah dibalut perban tipis. Keheningan ini tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan tanya yang menumpuk selama hampir dua tahun.Aku menarik napas panjang, menatap pantulan lampu kota dari jendela besar yang menghadap ke jalanan Sudirman. "Bagaimana kamu bisa menemukanku, Arion? Aku sudah melakukan segalanya. Aku mengganti namaku, aku pindah ke Bogor, lalu ke Bandung, dan saat kembali ke Jakarta pun, aku sangat berhati-hati. Bagaimana bisa kamu tahu soal Marigold Florist?"Arion terdiam sejenak. Ia mengambil ponselnya dari saku jas, lalu menunjukkan sebuah foto lama. Itu adalah foto manifes penerbangan palsu yang kubuat saat aku melarikan diri dulu."Awalnya, aku benar-benar kehilangan jejakmu, Canna," Arion memulai dengan suara rendah, seolah mengenang masa-masa tergelapnya. "Aku percaya pada tiket p
Seluruh tenagaku seolah tersedot habis oleh pengakuan Arion. Tubuhku lemas, pikiranku buntu, dan pergelangan kakiku yang berdenyut nyeri membuatku tak punya daya untuk melawan saat Arion tiba-tiba mengangkat tubuhku. Ia menggendongku dengan protektif, seolah-olah aku adalah porselen yang nyaris hancur.Mobil Audi hitam itu mendadak sudah berada di sisi kami, seakan sang sopir memang selalu siap siaga dalam bayang-bayang. Begitu pintu terbuka, Arion membawaku masuk ke kursi belakang yang luas. Namun, ia tidak mendudukkanku di kursi sebelah. Ia justru mendudukkanku di pangkuannya, merangkul pinggangku dengan tangan yang gemetar halus, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku sejenak. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu liar di dadaku."Arion, turunkan aku... aku bisa duduk sendiri," bisikku, mencoba mendorong bahunya yang kokoh."Diamlah, Canna. Sebentar saja. Biarkan aku memastikan kamu benar-benar di sini," suaranya serak, penuh dengan ketakutan
Satu setengah tahun menjalankan Marigold Florist telah mengubahku menjadi wanita yang tangguh. Aku sudah terbiasa dengan ritme Jakarta, bau tanah basah di pagi hari, dan peluh yang bercucuran saat merangkai dekorasi besar. Bagiku, toko ini adalah benteng pertahanan yang suci, tempat di mana nama "Canna Jolene" yang terluka telah terkubur dan digantikan oleh "Nara", sang perangkai bunga.Pagi itu, seorang pria dengan kemeja rapi masuk ke toko. Wajahnya asing, namun sikapnya sangat sopan. Ia memesan sebuah buket sebagai ungkapan permintaan maaf."Pria ini lagi, Kak," bisik Audrey saat aku mulai mengambil beberapa tangkai Tulip putih. "Dia datang setiap bulan, lho. Tapi biasanya Kakak lagi di gudang atau kirim pesanan, jadi aku yang terima."Aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku, dia hanyalah pelanggan setia lainnya. Aku merangkai buket itu dengan penuh perasaan—Tulip putih yang melambangkan kerendahan hati, baby's breath untuk ketulusan, dan dedaunan ruscus agar terlihat segar. Aku me
Suara bariton Arion menggema melalui pengeras suara, memenuhi setiap sudut Grand Ballroom dengan otoritas yang tenang. Ia sedang berdiri di atas podium, bermandikan cahaya spotlight yang membuatnya tampak seperti dewa bisnis yang tak tersentuh. Ia bicara tentang visi, masa depan Richie Group, dan
Lantai dansa Grand Ballroom mulai dipenuhi pasangan yang bergerak mengikuti irama waltz yang lembut, namun di sudut area buffet, atmosfer terasa seperti medan perang yang membeku. Arion tidak datang dengan ledakan kemarahan. Ia melangkah tenang, satu tangannya diselipkan ke saku celana berbahan m
Gerimis tipis mulai membasahi kaca jendela mobil mewah Arion saat kendaraan itu membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Di dalam kabin yang kedap suara, aku duduk bersandar, sesekali melirik Pak Salim melalui spion tengah. Rasanya sedikit tidak enak hati membiarkan pria paruh baya itu mengan
Suara denting spatula yang beradu dengan wajan dan bunyi klethak-klethuk dari arah dapur akhirnya menyeret kesadaranku sepenuhnya. Aku tertawa kecil di balik bantal, membayangkan Arion Richie—sang singa PT Rich Karya Industri & Kontraktor yang sanggup mengatur ribuan pekerja konstruksi—sedang ber







