MasukHari-hari di mansion berjalan seperti lukisan yang tenang—pagi dengan cahaya lembut yang menyentuh tirai, aroma kopi hangat, dan tangis kecil James Alvier yang menjadi alarm paling manis di dunia. Alexa menggendong putra mereka dengan senyum mengantuk, sementara Arsenio berdiri di dekat jendela, menatap halaman yang dijaga lebih ketat dari sebelumnya. Kamera tambahan terpasang. Petugas keamanan berganti sif lebih cepat. Setiap pintu memiliki kode baru. Setiap bayangan terasa terlalu panjang. Di luar, hidup terlihat normal. Di dalam dada Arsenio, badai tak pernah benar-benar reda. Ia mencintai dua manusia itu—istrinya dan anaknya—melebihi hidupnya sendiri. Cinta yang membuatnya waspada, tajam, dan terkadang… takut. Bukan takut akan mati, melainkan takut gagal menjaga. Pesan singkat itu masih terngiang, seperti pisau kecil yang ditinggalkan di bawah kulit. “Permainan belum selesai.” Setiap pagi Arsenio mengecup kening Alexa dan dahi kecil James, menghirup aroma rumah yang ia bangun
Pagi itu, cahaya matahari menyelinap lembut melalui tirai kamar rumah sakit, membelai wajah kecil yang terlelap di pelukan Alexa. Bayi itu tenang, napasnya halus, dadanya naik turun dengan ritme yang menenangkan. Arsenio berdiri di samping ranjang, tak lelah menatap keajaiban yang kini menjadi pusat dunianya. “James Alvier,” ucap Alexa pelan, seolah takut nama itu pecah jika diucapkan terlalu keras. Arsenio tersenyum, matanya berkaca-kaca. “James,” ia mengulang, lalu menunduk, mengecup kening bayi itu dengan hati-hati. “Nama yang kuat… seperti doaku untuknya.” Bayi itu membuka mata sesaat—sepasang mata hazel yang jernih, bulu mata lentik, kulit putih kemerahan khas bayi baru lahir. Hidungnya kecil namun tegas, garis rahangnya kelak akan sama dengan Arsenio. Bahkan saat tertidur, ada ketegasan halus di wajah mungil itu, seolah dunia sudah menunggunya dengan segala tantangan. “Dia mirip kamu,” bisik Alexa, matanya berbinar. Arsenio tertawa kecil. “Syukurlah. Aku takut dia mewarisi
Satu bulan berlalu dengan napas yang kian berhati-hati. Malam itu, hujan turun tipis—bukan deras, tapi cukup untuk membuat jalanan berkilau dan hati mudah berdebar. Alexa terbangun dengan napas terputus, tangannya refleks menekan perut yang mengeras tiba-tiba. “Arsen…” suaranya gemetar. Arsenio bangun seketika. Tak ada jeda antara sadar dan siaga. Ia duduk, menatap wajah istrinya yang pucat, keringat membasahi pelipis. “Sakit?” tanyanya, suaranya berusaha tenang, meski dadanya seperti dihantam palu. Alexa mengangguk. “Kurasa… ini waktunya.” Kalimat itu menjatuhkan seluruh ketegaran Arsenio. Tangannya bergetar saat meraih ponsel, menekan nomor dokter, lalu Ny. Eli, Dania, Kelvin—semuanya dalam satu tarikan napas. Mansion yang biasanya sunyi mendadak hidup oleh langkah tergesa, pintu yang terbuka-tutup, suara instruksi yang saling bersahut. Ny. Eli datang dengan wajah pucat tapi tegas. “Tenang. Tarik napas, Alexa. Kita berangkat sekarang.” Dania membantu mengenakan jaket, tangann
Beberapa bulan berlalu seperti alunan musik yang pelan—tak tergesa, tak berisik, hanya mengisi ruang dengan kehangatan yang menetap. Musim berganti tanpa pengumuman, dan di dalam mansion, waktu seolah belajar bersikap ramah. Perut Alexa kini membulat sempurna, seperti bulan yang hampir penuh. Langkahnya melambat, napasnya lebih teratur, dan senyumnya—lebih sering. Setiap pagi, Arsenio memastikan ia duduk nyaman sebelum matahari benar-benar tinggi. Setiap malam, ia menutup tirai dengan hati-hati, seolah cahaya pun harus meminta izin untuk pergi. Alexa berdiri di jendela, tangan menopang punggung bawah. Senja menorehkan warna tembaga di langit. Arsenio menghampiri, menyelipkan jaket tipis ke bahunya. “Dingin?” tanyanya. “Sedikit,” jawab Alexa. “Atau mungkin hanya perasaan.” Arsenio tersenyum, lalu berlutut. Ia berbicara pada perut itu—suara rendah, penuh janji—tentang dunia yang akan menyambut, tentang tangan-tangan yang siap memeluk. Alexa menutup mata, membiarkan kata-kata i
Hari-hari setelah badai terasa seperti hadiah yang tak berani mereka minta, namun akhirnya diberikan juga. Mansion itu tidak lagi dipenuhi langkah tergesa atau bisik-bisik tegang. Pagi datang dengan cahaya lembut, sore ditutup dengan senja yang hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, waktu berjalan pelan—dan tidak ada yang ingin mengejarnya. Alexa berdiri di depan cermin kamar, kedua tangannya menopang perut yang kini jelas membulat. Gaun rumah berwarna krem jatuh longgar, menyisakan siluet kehamilan yang membuatnya tersenyum tanpa sadar. Ada kehidupan di sana. Ada masa depan. Arsenio muncul di belakangnya, tanpa suara. Tangannya melingkar pelan di pinggang Alexa, lalu naik menutup kedua tangannya di perut itu. “Kamu makin cantik,” ucapnya lirih, nyaris seperti doa. Alexa tertawa kecil. “Atau makin sensitif?” “Dua-duanya,” jawab Arsenio sambil tersenyum. Ia menunduk, menempelkan kening ke bahu Alexa. Dulu, ia selalu berdiri dengan punggung tegang, mata waspada. Kini,
Pagi itu datang tanpa gemuruh. Tidak ada sirene. Tidak ada kilatan kamera. Hanya cahaya matahari yang masuk perlahan ke mansion—lembut, hangat, seolah dunia akhirnya memberi izin untuk bernapas. Dania berdiri di depan jendela kamar, menatap taman yang basah oleh embun. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa ringan. Tidak ada ketakutan yang menekan. Tidak ada suara di kepalanya yang menuduh. Yang tersisa hanya lelah… dan lega. Pintu diketuk pelan. “Dania?” suara itu lirih, ragu. Ia menoleh. Di ambang pintu, Ny. Eli berdiri—bebas. Tanpa borgol. Tanpa seragam tahanan. Wajahnya masih pucat, tubuhnya tampak lebih kurus, tapi matanya… hidup. Penuh penyesalan yang tak lagi disembunyikan. Dania menelan ludah. Kakinya melangkah pelan, berhenti beberapa langkah dari wanita yang telah menjadi ibu baginya—dan hampir menghancurkan hidupnya. “Aku… boleh masuk?” tanya Ny. Eli. Dania mengangguk. Sunyi menggantung. Lama. Terlalu lama. “Aku minta maaf,” ucap Ny. Eli akhirnya







