مشاركة

Hilang Arah

مؤلف: Miss Wang
last update آخر تحديث: 2025-10-31 16:59:30

Dania, gadis muda yang menjadi adik asuh Arsenio di panti asuhan itu, berdiri terpaku, matanya kini memancarkan kesedihan. Dua tahun lalu, dia pernah menyaksikan segalanya—sebuah luka yang terukir begitu dalam di ingatannya, yang tak pernah bisa dia hapus meski waktu terus berjalan.

"Ini semua salah kamu!”

Suaranya menggema di seluruh ruangan, memecah keheningan. Ia menangis keras, tapi di balik isaknya, kata-katanya menohok seperti pisau yang menusuk tanpa ampun.

Alexa menatap gadis itu, matanya membulat lebar, mulutnya terbuka, tapi tak ada satu pun kata yang bisa keluar.

“Apa yang kamu bilang…?” suaranya bergetar.

Dania melangkah maju, wajahnya merah, air matanya bercampur amarah.

“Kak Arsen baik-baik aja sebelum kamu datang lagi! Setelah kamu balik dari luar negeri, semuanya jadi berantakan! Dan sekarang...” ia menunjuk tubuh Arsenio yang terbaring tak berdaya di ranjang, "... dia kayak gini! Karena kamu!”

“Dania, cukup!” seru Ny. Eli, suaranya bergetar menahan tangis. Namun ga
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Tertekan

    Lampu kamar rumah sakit meredup ketika Alexa perlahan membuka matanya. Pandangannya buram, kepalanya terasa berat seolah baru saja dihantam gelombang besar. Suara mesin monitor berdetak pelan di sampingnya, teratur, menenangkan—namun juga mengingatkan bahwa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.“Alexa…”Suara itu.Pelan, tapi penuh kecemasan.Alexa mengerjap, lalu melihat wajah Arsenio di samping ranjangnya. Matanya merah, garis lelah jelas terukir di wajah yang biasanya tegas itu.Tangannya menggenggam tangan Alexa dengan erat, seakan takut ia akan menghilang jika dilepas sedetik saja.“Kamu sudah sadar…” bisiknya lega.Alexa mencoba tersenyum, tapi tenggorokannya terasa kering. “Aku… kenapa aku di sini?”Arsenio menghela nafas panjang. “Kamu pingsan. Dokter bilang kamu kelelahan. Stres berat.”Alexa terdiam, lalu perlahan mengusap perutnya. Gerakannya gemetar.“Bayiku…” suaranya bergetar. “Dia baik-baik saja, kan?”Arsenio segera mengangguk, meski matanya berkaca-kaca. “Iya. Bayi ki

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Mengincar Perusahaan

    Langkah kaki menggema di lorong rumah tahanan itu. Sunyi, dingin, dan terasa begitu berat—seolah setiap langkah membawa beban kebenaran yang tak ingin dihadapi siapa pun.Arsenio berjalan paling depan. Wajahnya keras, rahangnya mengeras menahan emosi. Di belakangnya, Alexa menggenggam tangan Dania erat-erat. Jemarinya dingin, telapak tangannya basah oleh keringat cemas. Kelvin mengikuti dengan langkah tertahan, matanya terus bergerak, seolah mencari sesuatu yang tak kasatmata.Dan di ujung lorong itu… Ny. Eli duduk sendiri.Rambutnya kini tak lagi rapi. Wajahnya pucat, mata cekung, seperti seseorang yang telah menangis terlalu lama sampai tak tersisa air mata. Ketika pintu besi dibuka dan ia melihat mereka, tubuhnya menegang.“Dania…” suaranya bergetar. “Kamu datang…”Dania berhenti melangkah.Ada ribuan pertanyaan di dadanya, tapi lidahnya kelu. Ia menatap wanita yang selama ini dianggap ibu—yang membesarkannya, melindunginya—kini duduk di balik jeruji besi dengan status tersangka pe

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Masih Misteri

    Ruang interogasi itu dingin.Terlalu dingin untuk seseorang yang hatinya sedang diguncang ketakutan.Ny. Eli duduk di kursi besi dengan tangan gemetar. Matanya sembab, wajahnya pucat, seolah semalam tak tidur sama sekali. Di hadapannya, dua penyidik menatap tanpa ekspresi. Sebuah map tebal terbuka di meja—berisi foto lokasi kejadian, hasil autopsi, dan satu bukti yang paling mengerikan: sidik jari.“Sidik jari Anda ditemukan di pisau yang digunakan untuk menusuk Ny. Kelly,” ucap salah satu penyidik datar. “Bagaimana Anda menjelaskannya?”Ny. Eli menelan ludah.“Aku… aku memang datang menemuinya malam itu,” suaranya bergetar. “Tapi aku tidak membunuhnya. Demi Tuhan… aku tidak.”“Lalu kenapa Anda berada di sana?”Air mata mengalir.“Aku ingin meminta maaf. Aku ingin mengatakan bahwa aku menyesal. Aku ingin mengakhiri semuanya dengan damai…”Tangannya mengepal.“Tapi saat aku datang, dia sudah marah. Kami bertengkar. Aku pergi sebelum terjadi apa-apa.”“Lalu bagaimana dengan pisau ini?”

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Misteri Pembunuhan

    Hujan kembali turun malam itu, lebih deras dari sebelumnya, seolah langit ikut meratap atas sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.Di ruang rawat rumah sakit jiwa, suara alat medis mendesing panjang—menandai satu kehidupan yang telah benar-benar padam.Ny. Kelly dinyatakan meninggal dunia pukul 23.47.Tusukan itu menembus punggungnya, tepat di antara tulang belikat. Luka yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Darah membasahi lantai dingin, bercampur dengan sisa-sisa kegilaan dan penyesalan yang tak sempat terucap.Dan keesokan paginya—Berita itu meledak.“NY. KELLY TEWAS MISTERIUS — DUGAAN PEMBUNUHAN BERENCANA”“SOSOK WANITA DALAM KASUS ARSENIO TEWAS DI RUMAH SAKIT JIWA”Media kembali gaduh.Nama Dania kembali disebut.Nama Arsenio kembali diseret.Dan satu nama lain… mulai muncul dalam bisik-bisik tajam.Ny. Eli.Dania sedang duduk di ruang makan mansion saat berita itu muncul di layar televisi.Sendoknya terjatuh.Wajahnya memucat seketika.“Apa…?” suaranya tercekat.Layar me

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Ditikam

    Hujan belum juga reda saat mobil yang ditumpangi Dania dan Kelvin melaju meninggalkan bangunan tua itu. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota, seperti serpihan kenangan yang tak mau padam.Mereka duduk diam di kursi belakang, wajahnya pucat, matanya kosong. Tangannya menggenggam erat ponsel—di dalamnya tersimpan rekaman suara Ny. Kelly. Rekaman pengakuan. Rekaman yang bisa menyelamatkan… atau menghancurkan segalanya.Ia memejamkan mata.Dadanya sesak.Ia tidak menangis. Air matanya sudah habis.Sementara itu, di sisi lain kota, Alexa mondar-mandir gelisah di ruang kerja mansion. Arsenio berdiri di dekat jendela, menatap gelap dengan rahang mengeras."Kenapa dia nekat? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya," ucap Alexa pelan, tapi penuh kecemasan. “Seharusnya dia menghubungi kita.”Arsenio meraih ponselnya lagi, menelpon. Tidak aktif. Ia menekan nomor Kelvin, tak aktif juga. “Ini tidak benar,” gumamnya. “Dia ingin menemui wanita itu. Seharusnya aku melarang sejak awal.”Alexa m

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Bertemu

    Di kantor pusat perusahaan AJ, suasana berubah mencekam.Karyawan berbisik-bisik. Saham turun drastis. Media berkumpul di gerbang."Tuan Arsenio! Apakah benar Anda melindungi pelaku penculikan?”“Benarkah Ny. Eli mengambil anak secara ilegal untuk kepentingan keluarga Anda?”“Apakah yayasan hanya kedok?”Satu pertanyaan lebih tajam dari yang lain.Di ruang rapat, para direksi bersitegang.“Ini serangan sistematis,” ujar salah satu petinggi. “Ada pihak yang menginginkan perusahaan jatuh. Mereka tahu kelemahan Anda ada pada sisi kemanusiaan.”Arsenio menghela nafas panjang.“Mereka menyentuh hal yang paling sensitif,” katanya pelan. “Anak. Masa lalu. Dan rasa bersalah.”Sementara itu, di sudut lain kota, Dania terkunci di kamarnya.Ia membaca berita demi berita, tangannya gemetar.'Dugaan eksploitasi anak oleh keluarga konglomeratPerempuan bernama Dania diduga korban penculikanNy. Eli dan Arsenio terancam proses hukum'Dania menjatuhkan ponselnya.“Kak Arsen..., ini karena aku...," b

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status