LOGINMalam kembali turun, namun kali ini bukan dengan ketakutan yang membekukan—melainkan dengan ketegangan yang berdenyut seperti kawat baja ditarik sampai batasnya. Di ruang kerja mansion, lampu tetap menyala. Layar-layar memantulkan wajah-wajah yang tak lagi ragu, hanya fokus.“Umpannya siap,” ujar Felix, suaranya rendah namun mantap. “Aku menanamkan paket data palsu di server cadangan. Isinya cukup ‘menggiurkan’ untuk membuat pelaku bergerak.”Kelvin menepuk papan tulis. “Jalur pelarian juga kita siapkan. Kita biarkan dia merasa aman.”Arsenio berdiri di tengah, lengan terlipat, mata elangnya menatap satu layar tertentu—peta waktu yang kini membentuk garis lurus. “Ingat,” katanya, tenang tapi berbahaya, “kita tidak mengejar pengakuan. Kita mengunci kebenaran.”Felix mengangguk. “Jejak digitalnya akan menempel. Sekali dia masuk, tak ada jalan keluar.”Jam berdetak. Setiap detik terasa panjang. Di ruang tengah mansion, Alexa duduk di kursi dekat jendela, Dania di sisinya. Mereka tidak
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap melalui tirai kamar. Udara terasa berbeda—masih berat, tapi tidak lagi menekan. Arsenio terbangun sebelum alarm berbunyi. Untuk sesaat ia hanya berbaring, menatap langit-langit, mendengarkan nafas Alexa yang teratur di sisinya. Tangannya bergerak pelan, menyentuh perut istrinya yang mulai membulat.Di sanalah semangat itu berdenyut.“Ayah akan berjuang,” bisiknya lirih. “Untukmu... dan ibumu.”Alexa membuka mata, seolah mendengar sumpah itu. Ia tersenyum kecil, lelah namun hangat. “Kami percaya padamu,” katanya pelan. “Kami selalu percaya.”Arsenio mengangguk. Tak ada lagi bayang-bayang semalam. Yang tersisa adalah tekad. Ia mencium kening Alexa, lalu berdiri. Punggungnya tegap. Hari ini ia kembali menjadi pemimpin. Kepala rumah tangga. Calon ayah. Ia tak boleh lemah.Ruang kerja mansion berubah menjadi pusat komando. Tirai terbuka lebar. Meja panjang dipenuhi layar, berkas, peta waktu, dan kabel-kabel yang menjalar seperti nadi. Felix
Mobil berhenti perlahan di halaman mansion yang gelap. Lampu-lampu taman menyala redup, seolah ikut menahan nafas. Arsenio turun dengan langkah yang tidak sepenuhnya stabil. Udara malam menyentuh wajahnya, dingin, tajam—sedikit membantu menjernihkan kepalanya, tapi tidak mengusir berat yang menekan dadanya.Felix dan Kelvin menatap dari dalam mobil. Tak ada kata perpisahan. Mereka tahu, ada pertempuran yang tak bisa mereka masuki.Arsenio melangkah masuk. Sepatu kulitnya bergema pelan di lantai marmer yang dingin.Setiap langkah terasa seperti membawa beban seribu pikiran. Ia berhenti sejenak di kaki tangga, mengatur nafas. Bau alkohol masih melekat di tubuhnya—ia membencinya. Ia tak ingin Alexa mencium kehancurannya.Kamar itu gelap, hanya cahaya lampu tidur yang temaram. Alexa terlelap, rambutnya terurai di bantal, wajahnya tampak pucat namun damai. Arsenio berdiri di ambang pintu, memandangi istrinya lama. Ada rasa rindu yang menyayat—rindu akan ketenangan yang selalu ia temukan d
Malam turun perlahan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Gedung pengadilan masih terang benderang ketika sidang Ny. Eli berlanjut untuk hari ketiga. Kilatan kamera tak pernah berhenti. Nama Arsenio kembali disebut, lagi dan lagi, seolah setiap tarikan napas Ny. Eli adalah bayangan hitam yang menyeret perusahaannya semakin dalam.Di ruang sidang, Ny. Eli duduk dengan wajah pucat namun tegak. Tatapannya kosong, sesekali menoleh ke arah kursi pengunjung—mencari wajah yang tak pernah muncul. Arsenio tidak datang. Bukan karena tak peduli, melainkan karena jika ia duduk di sana, sorotan akan semakin membakar segalanya.“Sidang diskors satu jam,” ketukan palu hakim menggema.Di luar, wartawan langsung mengepung.“Apakah Arsenio terlibat?”“Benarkah perusahaan menutupi penculikan?”“Bagaimana tanggapan Anda atas kesaksian terbaru?”Tak ada jawaban. Yang ada hanya pintu mobil hitam yang menutup cepat.Di gedung perusahaan, Arsenio berdiri sendirian di ruangannya. Tirai terbuka
Lampu kamar rumah sakit meredup ketika Alexa perlahan membuka matanya. Pandangannya buram, kepalanya terasa berat seolah baru saja dihantam gelombang besar. Suara mesin monitor berdetak pelan di sampingnya, teratur, menenangkan—namun juga mengingatkan bahwa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.“Alexa…”Suara itu.Pelan, tapi penuh kecemasan.Alexa mengerjap, lalu melihat wajah Arsenio di samping ranjangnya. Matanya merah, garis lelah jelas terukir di wajah yang biasanya tegas itu.Tangannya menggenggam tangan Alexa dengan erat, seakan takut ia akan menghilang jika dilepas sedetik saja.“Kamu sudah sadar…” bisiknya lega.Alexa mencoba tersenyum, tapi tenggorokannya terasa kering. “Aku… kenapa aku di sini?”Arsenio menghela nafas panjang. “Kamu pingsan. Dokter bilang kamu kelelahan. Stres berat.”Alexa terdiam, lalu perlahan mengusap perutnya. Gerakannya gemetar.“Bayiku…” suaranya bergetar. “Dia baik-baik saja, kan?”Arsenio segera mengangguk, meski matanya berkaca-kaca. “Iya. Bayi ki
Langkah kaki menggema di lorong rumah tahanan itu. Sunyi, dingin, dan terasa begitu berat—seolah setiap langkah membawa beban kebenaran yang tak ingin dihadapi siapa pun.Arsenio berjalan paling depan. Wajahnya keras, rahangnya mengeras menahan emosi. Di belakangnya, Alexa menggenggam tangan Dania erat-erat. Jemarinya dingin, telapak tangannya basah oleh keringat cemas. Kelvin mengikuti dengan langkah tertahan, matanya terus bergerak, seolah mencari sesuatu yang tak kasatmata.Dan di ujung lorong itu… Ny. Eli duduk sendiri.Rambutnya kini tak lagi rapi. Wajahnya pucat, mata cekung, seperti seseorang yang telah menangis terlalu lama sampai tak tersisa air mata. Ketika pintu besi dibuka dan ia melihat mereka, tubuhnya menegang.“Dania…” suaranya bergetar. “Kamu datang…”Dania berhenti melangkah.Ada ribuan pertanyaan di dadanya, tapi lidahnya kelu. Ia menatap wanita yang selama ini dianggap ibu—yang membesarkannya, melindunginya—kini duduk di balik jeruji besi dengan status tersangka pe







