MasukZera terhenyok. Hatinya menolak, tubuhnya gemetar namun bibirya kelu, la mencoba mencari pegangan di sekitar tempat duduknya, tapi hanya menemukan dinginnya kursi jati.
"Bagus," ucap Johnny, berdiri dan melangkah mendekat. la berlutut di depan Zera, membiarkan jari-jarinya menyentuh dagu gadis itu, mengangkat wajahnya. "Mulai sekarang, aku akan menjadi suamimu, Zera. Dan kamu akan belajar bagaimana caranya bertahan di dunia ini. " Zera menahan napas. Suara Johnny cekat, namun asing. Ada ancaman terselubung di balik kelembutan yang dipaksakan, Oliver bergidik. Zera tak mengerti apa maksud mereka, tapi ia tahu satu hal— hidupnya tak akan pernah sama lagi. Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa kebutaan bukanlah kekurangannya yang paling berat. Yang lebih menakutkan adalah ketidak berdayaan. *** Keheningan merayap di setiap sudut kamar megah itu. Tak ada gemericik air dari kamar mandi, tak ada denting musik, tak ada percakapan—hanya suara detik jam dinding yang berdetak pelan namun menusuk, membelah keheningan menjadi serpihan rasa tak nyaman. Zera duduk di tepi ranjang, tubuhnya kaku, seolah tak berani bergerak. Gaun tidurnya tipis, putih gading, dipilih oleh pembantu rumah tangga sesuai instruksi pernikahan. Katanya, gaun itu pantas untuk seorang istri baru. Tapi Zera merasa seperti boneka yang didandani untuk dipersembahkan—bukan pengantin yang disambut cinta. Dari balik pintu kayu jati yang menjulang tinggi, terdengar langkah kaki. Berat. Mantap. Terlalu tenang untuk sebuah malam yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru. Jantung Zera berdebar, namun bukan karena cinta atau harapan. Yang terasa hanya ketakutan, cemas, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak berani ia suarakan. Pintu terbuka. Johnny masuk tanpa ekspresi. Tubuh tegapnya dibalut kemeja hitam yang baru, masih menyisakan aroma parfum yang dingin dan tajam seperti pribadi pemiliknya. Rambutnya sedikit basah, menunjukkan bahwa ia baru saja mandi. Tapi tak ada sisa kegugupan di wajahnya. Tidak ada senyum, tidak ada kelembutan. Tatapan matanya jatuh pada Zera—dingin. Terlalu dingin. “Jangan berdiri,” katanya tajam saat Zera mencoba bangkit dari tempat duduknya. Langkah Johnny mendekat, perlahan, seolah setiap langkahnya adalah tekanan. “Kau duduk saja di situ. Dengarkan aku baik-baik, Zera,” ucapnya datar. “Aku tidak menikahimu karena cinta. Aku tidak pernah menginginkanmu. Ini semua hanya permainan kotor yang dibuat ayahmu dan keluargaku. Kau hanyalah bagian dari kesepakatan, dan aku membencinya.” Zera menunduk. Telinganya panas. Tapi ia tidak membalas. Tidak bertanya. Ia tahu tempatnya. Sejak awal, ia bukan apa-apa selain pion dalam permainan para pria. Johnny berhenti hanya beberapa jengkal di hadapannya. Ia membungkuk sedikit, menurunkan wajahnya sejajar dengan Zera yang masih menunduk. “Satu hal yang harus kau tahu sejak malam ini,” bisiknya pelan namun tajam. “Jangan pernah—sekali pun—menaruh hati padaku. Jangan berharap apa pun dariku. Aku tidak punya tempat untuk wanita sepertimu dalam hidupku.” Zera membeku. Kata-kata itu seperti cambuk. Tajam dan menyakitkan, meski ia sudah mempersiapkan diri untuk penolakan. “Kalau kau berani melanggar, aku bisa membuat hidupmu jauh lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah kau bayangkan.” Ada jeda. Hening. Lalu suara tawa kecil keluar dari mulut Johnny, getir dan tanpa rasa. “Lucu, ya? Bahkan dalam pernikahan pun, aku harus memperingatkan istriku sendiri untuk tidak jatuh cinta.” Zera menahan napas. Matanya yang buta tak bisa melihat wajah Johnny, tapi ia bisa merasakan tekanannya. Dingin. Terlalu dingin untuk disebut manusiawi. “Aku tidak buta hati, Tuan,” gumam Zera akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku tahu ini bukan cinta. Aku tidak mengharapkannya.” Johnny terdiam. Untuk sesaat, sorot matanya berubah, seolah ada kilatan aneh yang melintas. Tapi secepat itu pula wajahnya kembali datar. “Bagus,” ucapnya singkat. “Terus pertahankan pikiran itu.” Tanpa berkata lagi, ia mulai membuka kancing kemejanya. Satu per satu, perlahan, tanpa ekspresi. Zera memalingkan wajah secara refleks, meskipun ia tahu bahwa pandangannya tak akan melihat apa pun. Johnny melemparkan kemejanya ke sofa. Lalu ia berjalan menuju sisi ranjang, menarik selimut dengan kasar, dan membaringkan tubuhnya di sisi kanan. Namun ia tak menyentuh Zera. Bahkan tak mengarah padanya. Tubuhnya membelakangi gadis itu, seolah menegaskan bahwa ia tidak mengakui keberadaannya. Lampu kamar dimatikan. Seketika kegelapan menyelimuti segalanya. Zera tetap duduk di tempat, tak tahu harus berbaring atau tetap diam. Rasa dingin menjalari kakinya, naik ke lutut, lalu ke dadanya. Bukan dingin karena suhu, tapi karena penolakan yang begitu telanjang. “Tidur, Zera,” ucap Johnny dalam gelap. “Kau tidak akan kusentuh malam ini. Tapi jangan pernah menganggap itu sebagai bentuk kebaikan. Aku hanya... belum sudi menyentuh sesuatu yang diberikan dengan paksa.” Kalimat itu menghantam seperti palu. Zera akhirnya menarik napas dalam-dalam. Ia meraba-raba ranjang dengan tangan, lalu membaringkan tubuhnya perlahan. Ia tak berani mengeluarkan suara, hanya menyatu dalam diam, menyembunyikan gemuruh emosi yang mengancam untuk meledak. Mereka berbaring di ranjang yang sama, tapi dinding tak kasatmata membentang di antara mereka. Jarak yang tak bisa dijangkau oleh kata-kata, hanya bisa ditembus oleh luka atau waktu. Dalam gelap, Zera membuka mulutnya. Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan roh yang tak ingin didengar dunia. “Kalau kau ingin aku membencimu… mungkin aku bisa mencobanya lebih mudah daripada mencintaimu.” Johnny tak menjawab. Tapi di sisi lain ranjang, matanya yang terpejam tiba-tiba terbuka. Suara Zera menggema dalam pikirannya lebih lama dari yang seharusnya. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap punggung Zera yang mungil dan menggigil di bawah selimut. Wajahnya tetap dingin, tapi dalam dadanya, sesuatu berdenyut perlahan. Sesuatu yang ia benci. Sesuatu yang selama ini ia tekan dalam-dalam. Rasa bersalah? Rasa iba? Atau rasa ingin melindungi? Tidak. Ia menepisnya cepat-cepat. Itu kelemahan. Dan Johnny tidak boleh lemah. Keesokan paginya, matahari menyelinap masuk melalui celah tirai, memandikan ruangan dalam cahaya pucat keemasan. Tapi suasana kamar masih dingin. Zera bangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam selimut di pangkuannya, tak yakin apakah ia tidur nyenyak atau hanya berpura-pura tertidur sepanjang malam. Johnny masih terbaring, tapi wajahnya sudah menoleh ke jendela. Ia tidak memandang Zera. Tidak bicara. Tidak bertanya apa pun. Sebelum Zera sempat berkata sesuatu, Johnny bangkit, mengambil kemejanya, dan menuju kamar mandi tanpa sepatah kata pun. Ia meninggalkan aroma sabun dan keheningan yang lebih menyakitkan dari kata-kata kasar. Zera menarik napas pelan. Ini bukan kisah cinta. Ini adalah pernikahan antara dua luka, dua ego, dua manusia yang tak pernah memilih satu sama lain. Tapi dalam hatinya, Zera berjanji—ia tidak akan menjadi wanita lemah yang Johnny pikirkan. Ia akan bertahan. Bahkan jika harus membeku dalam pernikahan tanpa kehangatan ini. Dan entah mengapa… dalam kebekuan itulah, sebuah bara kecil justru mulai menyala.Hujan turun perlahan di halaman kediaman Lawrence malam itu, menimbulkan suara lembut di atas kaca jendela besar ruang tamu. Di antara redup cahaya lampu gantung kristal, Evelyn Lawrence duduk tegak di kursi panjang berlapis beludru merah tua. Tangannya yang mengenakan sarung satin memegang ponsel dengan tatapan dingin.Suaranya tenang, tapi menyimpan nada mengancam.“Aku sudah memperingatkan sejak awal, proyek itu tak boleh bocor lagi. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau dunia luar mendengarnya.”Suara berat dari seberang sambungan terdengar pelan—tak jelas siapa. Tapi nada bicaranya menunjukkan posisi tinggi, seseorang yang dulu mungkin menjadi bagian dari proyek rahasia itu.“Tenanglah, Nyonya Lawrence,” suara itu bergetar samar, “data mengenai Neuro X-9 sudah diamankan. Tak seorang pun yang hidup bisa mengaitkannya dengan keluarga Lawrence.”Evelyn menegakkan punggung, menatap kaca di depannya yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri—dingin, nyaris tanpa emosi.“Neuro X-9…,” gu
Beberapa hari yang lalu .... Malam merayap pelan di kediaman Lawrence. Langit menggantung berat, seolah menelan cahaya bulan. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menyesakkan dada.Shio melangkah tanpa suara di sepanjang koridor menuju halaman belakang. Ia bermaksud memastikan area keamanan setelah sistem pendeteksi gerak sempat menunjukkan aktivitas mencurigakan di sisi timur taman. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara samar dari balik dinding batu tua.Suara wanita. Lembut tapi tegang. Clarisse.Ia mencondongkan tubuh, bersembunyi di balik semak, matanya menajam di antara sela cahaya lampu taman yang temaram.“…kau yakin ini akan berhasil?” tanya Clarisse pelan. “Johnny bukan orang bodoh. Sekali saja dia mencium ada yang janggal, semuanya bisa berantakan.”Suara pria menjawab dengan nada datar. “Tenang saja. Flashdisk itu sudah diletakkan di ruang kerjanya. Semua bukti akan mengarah pada Zera. Bahkan jika Johnny mencoba menyelidiki, dia tetap ak
Langkah kaki Johnny terdengar berat ketika pintu kamarnya berderit terbuka. Malam telah larut, udara dingin menempel di dinding-dinding batu rumah besar itu. Dari arah ranjang, Zera yang sejak tadi duduk dalam diam langsung menegakkan tubuhnya. Telinga tajamnya menangkap irama langkah itu—pelan, namun setiap hentakan membawa aura kemarahan yang menyesakkan.Ada bau yang menusuk hidungnya. Bukan aroma parfum mahal yang biasanya melekat pada tubuh Johnny, melainkan aroma besi yang tajam, anyir, pekat—darah. Tubuh mungil Zera menegang. Kedua tangannya yang menggenggam kain selimut bergetar.“Johnny…,” suaranya lirih, ragu, seolah takut kata-katanya justru mengundang badai. “Kau… kau pulang?”Johnny tidak langsung menjawab. Ia hanya melepaskan jas hitam yang tadi menempel di tubuhnya, melemparkannya begitu saja ke kursi. Gerakannya kasar, seolah setiap lipatan kain mengingatkannya pada amarah yang belum tuntas.“Apa yang kau dengar, hm?” Johnny akhirnya bersuara. Nada rendahnya menekan, m
Clarisse tertawa kecil, tajam, lalu mendekat lebih dekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Ia menunduk, berbisik di telinga Zera.“Kau pikir Johnny butuh bukti untuk meninggalkanmu? Tidak, sayang. Aku hanya perlu sedikit waktu… sedikit dorongan… dan dia akan sadar betapa menjijikkannya kehadiranmu di sisinya.”Zera menggeleng cepat, wajahnya pucat. “Tidak… dia bukan orang seperti itu—”“Oh, kau terlalu naif,” potong Clarisse. Jarinya menyentuh dagu Zera, mengangkat wajah gadis buta itu dengan paksa. “Kau hanya seorang gadis buta yang terseret ke dalam dunia yang tidak pernah menginginkanmu. Johnny adalah milikku sejak lama, dan kau… hanya noda sementara.”Zera mencoba menjauh, tapi Clarisse menahan. Tekanan pada dagunya semakin keras, hampir menyakitkan.“Aku akan menyingkirkanmu, Zera. Kalau kau pintar, kau akan pergi sendiri sebelum Johnny melakukannya. Karena percayalah… saat dia yang melemparmu keluar, kau tidak akan punya tempat kembali.”Air mata jatuh dari mata Zera, bukan k
Langkah sepatu Clarisse terdengar begitu ringan, namun setiap hentakannya terasa bagai palu godam yang jatuh di dada Zera.“Johnny,” suara Clarisse terdengar halus, penuh percaya diri, tapi mengandung racun yang menyusup pelan. “Aku tidak bermaksud mengganggu, tapi kurasa… ini saat yang tepat.”Johnny menoleh setengah, matanya menyipit, seolah sudah menduga Clarisse tak datang dengan tangan kosong. Zera menggigit bibirnya, firasat buruk menyelubungi batinnya.“Apa yang kau bawa kali ini, Clarisse?” tanya Johnny, suaranya dingin tapi bergetar samar. Clarisse melangkah mendekat, sepatu hak tingginya bergema di lantai marmer. Di tangannya, ia membawa sebuah tablet tipis. Ia menyalakannya dengan satu sentuhan, dan layar menyala, menampilkan rekaman yang seketika membuat jantung Zera serasa berhenti berdetak.Suara itu—suara dirinya sendiri.Suara Zera terdengar dari rekaman, lirih namun jelas: “Aku akan mencoba mendekat padanya… aku harus tahu rahasia yang disembunyikannya. Dia tidak bol
Malam itu, ruang kerja Johnny dipenuhi aroma asap cerutu yang menyengat. Di kursi kulit hitamnya, Johnny duduk tegak, menunggu seseorang. Pintu berderit. Leo masuk dengan langkah ringan, wajahnya setengah tersembunyi oleh bayangan. Senyum kecil melekat di bibirnya, namun matanya tajam, penuh kewaspadaan. “Sepertinya kau sudah tidak sabar,” ucap Leo santai, menarik kursi lalu duduk di hadapan Johnny. Johnny tidak menjawab langsung. Ia menyalakan cerutu, mengisap dalam, lalu menghembuskan asap perlahan. Matanya yang tajam menatap Leo, seperti menimbang sesuatu. “Aku butuh kau untuk sesuatu,” akhirnya Johnny membuka suara. Leo tertawa kecil. “Aku tahu, kalau tidak, kau tak akan memanggilku di jam segila ini.” Johnny meletakkan cerutunya di asbak, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Zera. Aku ingin tahu sejauh mana dia berani.” Leo mengangkat alis. “Kau masih mencurigainya?” “Bukan sekadar curiga.” Johnny mengusap dagunya. “Aku ingin tahu siapa yang menggerakkan dia. Ad







