Inicio / Romansa / Gadis Buta milik Mafia Kejam / Bab 6. Tamu tak diundang

Compartir

Bab 6. Tamu tak diundang

last update Última actualización: 2025-05-05 14:10:55

Rumah keluarga Lawrence yang megah berdiri dalam diam yang menekan, seperti sedang menahan napas untuk menyambut sesuatu yang tak diundang.

Zera baru saja turun dari tangga saat suara deru mobil mewah memecah keheningan halaman. Ia menghentikan langkah, tangannya menggenggam ujung pegangan tangga dengan gugup. Ada suara langkah cepat dari para pelayan, lalu denting sepatu hak tinggi menggema di lantai marmer.

“Nyonya Evelyn Lawrence sudah tiba!” ucap seorang pelayan tergesa.

Zera menegang. Nama itu tak asing. Ibu Johnny. Sosok yang selama ini hanya hadir dalam bisikan samar para pelayan—anggun, kuat, namun berhati dingin seperti salju musim dingin.

Tak sampai semenit, suara langkah semakin mendekat. Dan kemudian ia mendengarnya—suara perempuan dewasa, lembut namun tajam, seperti belati dibungkus sutra.

“Mana suamimu?” tanya Evelyn, nada suaranya seperti penguasa yang menuntut penjelasan.

Johnny muncul dari ruang kerja di sisi kanan lorong. Ia tampak acuh seperti biasa, namun Zera melihat bagaimana gerakan bahunya mengeras sejenak.

“Ibu datang tanpa pemberitahuan. Seharusnya kami menyambut lebih layak,” ucap Johnny datar.

“Pemberitahuan hanya untuk tamu. Aku ibu kandungmu, Johnny. Dan aku punya hak untuk tahu dengan siapa kau mengikat pernikahan,” sahut Evelyn.

Zera melangkah pelan ke arah lorong, berniat menyapa, tapi suara lain membuatnya terpaku.

“Sayang… aku terlambat?” suara itu ringan, menggoda, dan penuh percaya diri.

Dari arah pintu utama, seorang wanita melangkah masuk. Wajahnya cantik memikat, rambut cokelat gelap digerai ikal longgar, bibir merah menyala tersenyum penuh keanggunan. Gaun putih gading membalut tubuh rampingnya sempurna.

Johnny mematung. Wajahnya seketika berubah.

Zera tidak perlu menunggu penjelasan. Perasaan itu datang sendiri, menyengat di dada.

Wanita itu menatap Johnny dengan sinar mata yang menyala. “Masih ingat aku, kan?”

Evelyn tersenyum tipis. “Tentu saja Johnny ingat. Dia tidak mungkin lupa wanita yang seharusnya menjadi istrinya. Zera Lawrence… ini Clarisse Moreau.”

Zera menelan ludah. Ia berdiri kaku di ambang lorong, tak tahu harus mendekat atau pergi.

Clarisse menghampiri Johnny, lalu memeluknya sepintas dengan akrab. “Aku sungguh terkejut mendengar kabar pernikahanmu. Lebih terkejut lagi saat tahu pengantinnya… seorang gadis buta.”

Zera menegang.

“Cukup,” ucap Johnny tegas, tapi matanya tak menatap Zera.

Clarisse tersenyum. “Oh, maaf. Aku terlalu blak-blakan, ya? Aku hanya khawatir. Apa dia bisa mengurusmu, Johnny? Maksudku… dengan kondisi seperti itu. Kau terbiasa dengan standar tinggi, bukan?”

Evelyn mendekat. Tatapannya menusuk Zera. “Apa yang membuatmu berpikir kau pantas berada di rumah ini, Zera?”

Zera menggigit bibir. “Karena saya sudah menjadi istri putra Anda, Bu.”

“Kau pikir status bisa membeli kelas?” cibir Evelyn. “Gadis dari desa, buta, tanpa koneksi, tanpa silsilah. Johnny hanya sedang menghukum dirinya sendiri dengan menikahimu. Atau mungkin… sedang main-main.”

“Sudah.” Johnny mendekat, suaranya rendah tapi tegang. “Ini rumahku. Jangan mempermalukan orang yang tinggal di sini.”

Evelyn mendesah. “Lihat? Kau bahkan tidak menyangkal bahwa ini semua lelucon.”

Clarisse menoleh ke Zera, lalu mendekat. Tatapannya penuh kasihan yang dibuat-buat.

“Aku tahu ini bukan salahmu. Kau pasti hanya menjalankan perintah. Mungkin keluargamu butuh uang, atau kau ingin kehidupan lebih baik. Tapi Johnny—dia bukan pria yang bisa jatuh cinta pada seseorang sepertimu.”

Zera menunduk. Suaranya bergetar. “Saya tidak pernah memaksa siapa pun mencintai saya.”

Clarisse tertawa kecil. “Tapi kau tinggal di sini, mengenakan cincin Lawrence, memegang nama keluarga yang tidak kau bangun.”

Semua pelayan diam. Ruangan menjadi saksi penghinaan yang bertubi-tubi.

Zera mengangkat wajahnya. Walau tak melihat, air matanya tertahan di pelupuk. “Saya tidak minta belas kasihan siapa pun. Saya tidak buta hati seperti yang kalian pikirkan.”

Clarisse menyeringai. “Tapi tetap saja, kau tidak akan pernah setara dengan Johnny. Tidak sekarang, tidak nanti.”

Evelyn melipat tangan di dada. “Dan jika kau pikir bisa menaklukkan keluarga Lawrence dengan sikap manismu, kau keliru, Zera. Kami tidak mengakui perempuan seperti kau.”

Zera membuka mulut, ingin menjawab, tapi tubuhnya gemetar. Ia mundur satu langkah… lalu dua. Suasana mencekam, seperti tanah tempatnya berpijak berubah menjadi lumpur hisap yang menariknya ke dasar.

Johnny hanya berdiri diam. Tak satu pun kata pembelaan keluar dari mulutnya lagi.

Zera akhirnya berbalik, meninggalkan ruangan itu dalam diam yang menyayat. Ia menaiki tangga dengan gemetar, satu tangan menahan isak, satu tangan menyapu air mata yang jatuh tanpa suara.

Sore hari menjelang. Rumah itu sepi kembali, tapi udara tetap terasa dingin, bukan karena cuaca… melainkan luka yang belum reda.

Johnny berdiri di balkon lantai dua. Rokok menyala di jemarinya, dibiarkan membakar ujungnya perlahan.

Zera belum keluar dari kamarnya. Tak makan siang. Tak menjawab ketukan pintu. Pelayan bilang ia mengunci diri sejak pagi.

Suara langkah pelan terdengar. Johnny menoleh.

Zera muncul dari balik pintu, tubuhnya lemah namun tetap berusaha tegak. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya pucat. Tapi matanya—mata yang tak melihat—menatap Johnny dengan keberanian yang menyakitkan.

“Kau tidak perlu berpura-pura peduli,” ucap Zera pelan.

Johnny menghembuskan asap rokok. “Aku tidak pura-pura.”

Zera tersenyum tipis. “Tapi kau juga tidak membelaku.”

Keheningan menelan jawaban Johnny.

Zera melangkah mendekat, berdiri hanya beberapa langkah darinya. “Aku tidak minta dikasihani. Tapi jika aku harus dihancurkan di depan orang-orangmu, aku ingin tahu: apakah itu perintahmu juga?”

Johnny menatap gadis itu. Lama. Lalu akhirnya menjawab.

“Aku menikahimu karena alasan tertentu. Tapi itu tidak berarti aku ingin mereka memujamu.”

Zera menahan napas. “Jadi mereka boleh menghina?”

“Aku sudah melarangnya,” sahut Johnny, lebih pelan.

“Tapi kau diam saat mereka menyerang harga diriku. Dan itu… lebih menyakitkan dari hinaan mereka.”

Johnny menunduk. “Kau harus kuat. Hidup di keluarga Lawrence tidak mudah.”

Zera menoleh ke luar jendela. “Aku bukan gadis lemah, Johnny. Tapi aku tidak bisa menjadi batu. Aku berdarah. Aku merasa.”

Johnny mendekat, berdiri di hadapannya. “Kalau begitu, jangan jatuh hati padaku. Jangan berharap aku akan jadi tempatmu bersandar.”

Zera mengangkat wajah. “Sudah kau katakan sejak malam pertama.”

“Karena itu kenyataan.”

Zera menahan napas, lalu mengangguk. “Kalau begitu, jangan salahkan aku jika suatu hari… aku pergi tanpa menoleh.”

Johnny tak menjawab. Matanya hanya menatap Zera sekilas sebelum berpaling, seolah gadis itu tak layak mendapatkan perhatian lebih lama. Gerak-geriknya tenang, nyaris malas, seperti seseorang yang sudah terbiasa bersikap acuh.

Ia merogoh saku jaketnya, menarik sebatang rokok, lalu menyalakannya dengan gerakan lambat namun mantap. Asap pertama mengepul di udara, mengaburkan sebagian wajahnya yang tanpa ekspresi.

Tak ada sepatah kata pun. Tak ada penjelasan. Ia hanya berdiri di sana beberapa detik, lalu berbalik dan melangkah pergi—seakan percakapan barusan tak berarti apa-apa. Seakan Zera hanyalah angin lalu yang kebetulan mengganggu harinya.

Langkah sepatunya bergema pelan di lorong, menjauh... dan meninggalkan Zera sendirian dalam diam yang lebih menusuk dari bentakan apa pun. 

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 33. Rahasia yang taj seharusnya didengar

    Hujan turun perlahan di halaman kediaman Lawrence malam itu, menimbulkan suara lembut di atas kaca jendela besar ruang tamu. Di antara redup cahaya lampu gantung kristal, Evelyn Lawrence duduk tegak di kursi panjang berlapis beludru merah tua. Tangannya yang mengenakan sarung satin memegang ponsel dengan tatapan dingin.Suaranya tenang, tapi menyimpan nada mengancam.“Aku sudah memperingatkan sejak awal, proyek itu tak boleh bocor lagi. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau dunia luar mendengarnya.”Suara berat dari seberang sambungan terdengar pelan—tak jelas siapa. Tapi nada bicaranya menunjukkan posisi tinggi, seseorang yang dulu mungkin menjadi bagian dari proyek rahasia itu.“Tenanglah, Nyonya Lawrence,” suara itu bergetar samar, “data mengenai Neuro X-9 sudah diamankan. Tak seorang pun yang hidup bisa mengaitkannya dengan keluarga Lawrence.”Evelyn menegakkan punggung, menatap kaca di depannya yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri—dingin, nyaris tanpa emosi.“Neuro X-9…,” gu

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 32. Bayangan yang menyimpan rahasia

    Beberapa hari yang lalu .... Malam merayap pelan di kediaman Lawrence. Langit menggantung berat, seolah menelan cahaya bulan. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menyesakkan dada.Shio melangkah tanpa suara di sepanjang koridor menuju halaman belakang. Ia bermaksud memastikan area keamanan setelah sistem pendeteksi gerak sempat menunjukkan aktivitas mencurigakan di sisi timur taman. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara samar dari balik dinding batu tua.Suara wanita. Lembut tapi tegang. Clarisse.Ia mencondongkan tubuh, bersembunyi di balik semak, matanya menajam di antara sela cahaya lampu taman yang temaram.“…kau yakin ini akan berhasil?” tanya Clarisse pelan. “Johnny bukan orang bodoh. Sekali saja dia mencium ada yang janggal, semuanya bisa berantakan.”Suara pria menjawab dengan nada datar. “Tenang saja. Flashdisk itu sudah diletakkan di ruang kerjanya. Semua bukti akan mengarah pada Zera. Bahkan jika Johnny mencoba menyelidiki, dia tetap ak

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 31. Anyir Darah

    Langkah kaki Johnny terdengar berat ketika pintu kamarnya berderit terbuka. Malam telah larut, udara dingin menempel di dinding-dinding batu rumah besar itu. Dari arah ranjang, Zera yang sejak tadi duduk dalam diam langsung menegakkan tubuhnya. Telinga tajamnya menangkap irama langkah itu—pelan, namun setiap hentakan membawa aura kemarahan yang menyesakkan.Ada bau yang menusuk hidungnya. Bukan aroma parfum mahal yang biasanya melekat pada tubuh Johnny, melainkan aroma besi yang tajam, anyir, pekat—darah. Tubuh mungil Zera menegang. Kedua tangannya yang menggenggam kain selimut bergetar.“Johnny…,” suaranya lirih, ragu, seolah takut kata-katanya justru mengundang badai. “Kau… kau pulang?”Johnny tidak langsung menjawab. Ia hanya melepaskan jas hitam yang tadi menempel di tubuhnya, melemparkannya begitu saja ke kursi. Gerakannya kasar, seolah setiap lipatan kain mengingatkannya pada amarah yang belum tuntas.“Apa yang kau dengar, hm?” Johnny akhirnya bersuara. Nada rendahnya menekan, m

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 30. Cemburu Buta

    Clarisse tertawa kecil, tajam, lalu mendekat lebih dekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Ia menunduk, berbisik di telinga Zera.“Kau pikir Johnny butuh bukti untuk meninggalkanmu? Tidak, sayang. Aku hanya perlu sedikit waktu… sedikit dorongan… dan dia akan sadar betapa menjijikkannya kehadiranmu di sisinya.”Zera menggeleng cepat, wajahnya pucat. “Tidak… dia bukan orang seperti itu—”“Oh, kau terlalu naif,” potong Clarisse. Jarinya menyentuh dagu Zera, mengangkat wajah gadis buta itu dengan paksa. “Kau hanya seorang gadis buta yang terseret ke dalam dunia yang tidak pernah menginginkanmu. Johnny adalah milikku sejak lama, dan kau… hanya noda sementara.”Zera mencoba menjauh, tapi Clarisse menahan. Tekanan pada dagunya semakin keras, hampir menyakitkan.“Aku akan menyingkirkanmu, Zera. Kalau kau pintar, kau akan pergi sendiri sebelum Johnny melakukannya. Karena percayalah… saat dia yang melemparmu keluar, kau tidak akan punya tempat kembali.”Air mata jatuh dari mata Zera, bukan k

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 29. Terungkap

    Langkah sepatu Clarisse terdengar begitu ringan, namun setiap hentakannya terasa bagai palu godam yang jatuh di dada Zera.“Johnny,” suara Clarisse terdengar halus, penuh percaya diri, tapi mengandung racun yang menyusup pelan. “Aku tidak bermaksud mengganggu, tapi kurasa… ini saat yang tepat.”Johnny menoleh setengah, matanya menyipit, seolah sudah menduga Clarisse tak datang dengan tangan kosong. Zera menggigit bibirnya, firasat buruk menyelubungi batinnya.“Apa yang kau bawa kali ini, Clarisse?” tanya Johnny, suaranya dingin tapi bergetar samar. Clarisse melangkah mendekat, sepatu hak tingginya bergema di lantai marmer. Di tangannya, ia membawa sebuah tablet tipis. Ia menyalakannya dengan satu sentuhan, dan layar menyala, menampilkan rekaman yang seketika membuat jantung Zera serasa berhenti berdetak.Suara itu—suara dirinya sendiri.Suara Zera terdengar dari rekaman, lirih namun jelas: “Aku akan mencoba mendekat padanya… aku harus tahu rahasia yang disembunyikannya. Dia tidak bol

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 28. Keraguan

    Malam itu, ruang kerja Johnny dipenuhi aroma asap cerutu yang menyengat. Di kursi kulit hitamnya, Johnny duduk tegak, menunggu seseorang. Pintu berderit. Leo masuk dengan langkah ringan, wajahnya setengah tersembunyi oleh bayangan. Senyum kecil melekat di bibirnya, namun matanya tajam, penuh kewaspadaan. “Sepertinya kau sudah tidak sabar,” ucap Leo santai, menarik kursi lalu duduk di hadapan Johnny. Johnny tidak menjawab langsung. Ia menyalakan cerutu, mengisap dalam, lalu menghembuskan asap perlahan. Matanya yang tajam menatap Leo, seperti menimbang sesuatu. “Aku butuh kau untuk sesuatu,” akhirnya Johnny membuka suara. Leo tertawa kecil. “Aku tahu, kalau tidak, kau tak akan memanggilku di jam segila ini.” Johnny meletakkan cerutunya di asbak, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Zera. Aku ingin tahu sejauh mana dia berani.” Leo mengangkat alis. “Kau masih mencurigainya?” “Bukan sekadar curiga.” Johnny mengusap dagunya. “Aku ingin tahu siapa yang menggerakkan dia. Ad

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status