LOGINLangit mulai memerah di ufuk barat saat Zera meninggalkan balkon, membiarkan Johnny terdiam dalam kesunyian yang menggantung pekat. Udara sore mulai menipis, dan langkahnya terasa berat saat ia kembali menuju kamarnya. Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, sebuah suara dari lantai bawah membuatnya terhenti.
Bukan suara keras. Hanya bisikan yang terbawa angin—namun cukup untuk menusuk naluri waspadanya. Dengan langkah perlahan, nyaris tanpa suara, Zera menyusuri tangga menurun. Ia berhenti di anak tangga keempat, tempat di mana pandangan tak bisa menembus ruang tamu, namun suara dapat mengalir jelas. Cangkir beradu dengan piring kecil. Lalu suara Evelyn yang tenang namun dingin terdengar. “Dia bukan tandinganmu, Clarisse. Hanya percikan kecil yang akan segera padam.” Zera menegang. Matanya membulat kosong, dan tangannya yang menggenggam pegangan kayu mulai gemetar. “Tapi Johnny membelanya,” suara Clarisse menyusul, nadanya mengandung kebencian yang terbungkus manis. “Meski hanya lewat sikap. Itu cukup membuatku muak.” Zera memejamkan mata, menahan napas yang mulai memburu. Jantungnya berdetak seperti genderang perang—tak bisa dia hentikan, tak bisa dia abaikan. Ia ingin berbalik, melangkah pergi. Tapi tubuhnya tak mau bergerak. Evelyn terkekeh pelan, rendah dan menyeramkan. “Johnny keras kepala, tapi dia punya titik lemah. Kita hanya perlu menekannya di tempat yang tepat. Jika kau ingin menyingkirkan gadis itu, buat Johnny percaya bahwa dia membawa bencana.” Ada jeda. Sunyi. Zera mendengar detak jarum jam di dinding ruang bawah, berdetak bersamaan dengan gemuruh ketakutan yang membesar di kepalanya. Clarisse bicara lagi. Pelan, namun begitu dingin. “Aku akan urus sendiri.” Gelas teh kembali beradu di piring kecil. Evelyn berucap dengan suara yang terdengar seperti mantera kutukan, “Lakukan dengan bersih. Jangan sampai Johnny tahu kau menjebaknya. Kalau tidak, kita berdua akan hancur.” Zera mundur perlahan, langkahnya goyah. Kakinya nyaris tergelincir di anak tangga, tapi ia berhasil menahan diri dengan menggenggam kuat pagar kayu. Wajahnya pucat. Tubuhnya berkeringat dingin. Suara-suara itu masih bergaung di telinganya. Tapi lebih dari itu—rasa ditargetkan, dan rasa takut yang mencengkeram, menggumpal jadi satu dalam dada. Dia bukan sekadar pion dalam permainan ini. Dia adalah sasaran. Dan mereka sedang merancang kejatuhannya. Malam turun pelan, membawa hawa dingin yang menusuk. Zera masih belum makan. Perutnya kosong, tapi kepalanya penuh. Ia tak ingin terlihat lemah, tapi tubuhnya sendiri mulai menolak untuk diajak berkompromi. Pukul sembilan malam, ketukan pelan terdengar di pintunya. Bukan suara pelayan. Ketukannya terlalu ragu. Terlalu familiar. Zera berdiri perlahan, mendekati pintu. “Johnny?” Tak ada jawaban. Tapi ia membuka pintu perlahan. Dan memang, lelaki itu berdiri di ambang, masih mengenakan kemeja hitam, lengan dilipat hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan, matanya merah kelelahan. “Kau belum makan,” ujarnya pelan. Zera diam sejenak. “Dan kau datang bukan karena peduli. Hanya karena takut aku jatuh sakit, lalu mempermalukanmu lagi di depan ibumu.” Johnny tidak membalas langsung. Ia menyerahkan nampan kecil berisi sup dan sepotong roti. “Makanlah.” Zera menerima nampan itu dengan tangan gemetar. “Terima kasih,” gumamnya tanpa menatap. Johnny tidak pergi. Ia menatap ke dalam kamar, lalu menatap gadis itu. “Clarisse tidak akan tinggal lama.” Zera menahan senyum getir. “Tapi dia belum pergi.” Johnny mendekat. “Apa kau ingin aku usir dia malam ini juga?” Zera menoleh ke arah suara Johnny. “Tidak. Karena aku tahu kau tidak akan melakukannya.” Johnny terdiam. Zera menarik napas panjang. “Aku hanya ingin kau jujur. Jika kau masih mencintainya, katakan. Aku akan tahu batasku.” Johnny mendekat lebih jauh. Jarak mereka hanya sejengkal. Tapi dunia yang memisahkan terasa seperti jurang yang dalam. “Bukan urusanmu, kau tak berhak bertanya, ” ucap Johnny. “Baiklah, aku hanya ingin memastikan,” balas Zera lirih. Johnny menatapnya. “Diantara kita tak lebih sebatas kesepakatan di atas kertas, Zera. Sudah ku tegaskan jangan bersandar padaku apalagi berani menaruh hati.” Zera tertawa kecil. Suaranya nyaris pecah. “Akupun tak tau mengapa harus perduli pada hal semacam itu, maaf ....” Johnny menatap mata Zera. Mata yang tak bisa melihatnya, tapi bisa membaca isi hatinya lebih dari siapa pun. Dan itu… menakutkan. “Teruslah membenciku!” bisik Johnny. Zera memejamkan mata. “Baiklah, aku sadar posisiku.” Johnny masih berdiri di sana saat Zera menutup pintu perlahan. Kali ini, ia tidak menguncinya. Tapi Johnny juga tidak masuk. Keesokan paginya, Zera bangun lebih awal dari biasanya. Tak ada mimpi semalam—hanya keheningan panjang yang menghimpit dadanya seperti batu. Ia mengenakan gaun sederhana dan berjalan pelan menyusuri lorong, ditemani denting jam antik dan langkah kakinya yang nyaris tak bersuara. Telinganya menangkap bisik-bisik samar dari lantai bawah. Ia tak bisa melihat wajah mereka, tapi ia tahu betul: Evelyn dan Clarisse sudah menyusun sesuatu. “Dia tidak boleh lama-lama di sini,” bisik Clarisse. “Dia mengganggu keseimbangan Johnny.” Zera berhenti di anak tangga. Ia tidak berniat menguping, tapi kata-kata Clarisse begitu keras, seperti ditujukan agar ia bisa mendengarnya. “Lagi pula,” lanjut wanita itu, “aku tahu bagaimana menyelesaikan ini tanpa membuat Johnny marah.” Evelyn tertawa kecil. “Lakukan dengan anggun. Kita keluarga Lawrence, bukan preman pasar.” Zera menarik napas dalam. Setiap kata mereka menambah lapisan keteguhan dalam dirinya. Jika mereka ingin mengusirnya… biarlah. Tapi mereka tidak akan menghancurkannya. Ketika ia sampai di dapur, pelayan kaget melihatnya sudah berdiri di sana. “Boleh aku membantu menyiapkan sarapan untuk Tuan Johnny?” tanyanya lembut. Pelayan itu bingung, tapi mengangguk. Zera tersenyum samar dan mulai memotong roti, menyusun buah-buahan, dan menyeduh kopi. Tangannya terampil meski hanya meraba-raba. Dan semua itu dilakukan bukan untuk menyenangkan Johnny—melainkan sebagai caranya sendiri untuk tetap tegak, meski semua orang ingin membuatnya jatuh. Tak lama, langkah kaki Johnny terdengar. Ia berhenti di ambang pintu, terkejut melihat Zera duduk tenang di meja makan. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya, nada suaranya tak bisa ditebak. “Membuat sarapan. Untukmu,” jawab Zera. Johnny duduk perlahan. Ia menatap meja, lalu menatap Zera. “Kau tak harus melakukan ini.” Zera tersenyum samar. “Aku tahu.” Johnny menggenggam cangkir kopinya. Tangannya bergetar. Entah karena marah, bingung, atau... takut. “Clarisse akan tetap di sini beberapa hari,” ucap Johnny akhirnya. “Ibu yang memintanya.” Zera mengangguk pelan. “Aku mengerti.” “Kau boleh memilih tinggal di paviliun belakang jika merasa tidak nyaman.” Zera menoleh ke arah suaranya. “Kau ingin aku pergi dari kamar?” Johnny terdiam. “Aku hanya tak ingin—” “Tak ingin mereka melihatku dan menganggapmu lemah?” potong Zera halus. Johnny menatapnya tajam, tapi Zera tetap tenang. “Aku akan tetap di kamar itu,” lanjut Zera. “Kecuali kau sendiri yang meminta aku pergi, sebagai suamiku.” Johnny mengepalkan rahangnya. “Kau mulai bermain api, Zera.” “Tidak. Aku hanya belajar melindungi diriku.” Johnny bangkit, hampir menjatuhkan kursinya. Ia berjalan menjauh, tapi sebelum keluar dari ruangan, ia menoleh sekali lagi. “Kau tidak tahu permainan macam apa yang sedang kau masuki.” Zera mengangguk pelan. “Justru karena aku tahu, aku tidak akan mundur.” Johnny pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Malam itu, Clarisse datang ke kamar Zera. Tanpa mengetuk. Hanya dorongan pelan pada pintu yang tidak dikunci. “Aku tahu kau tidak tidur,” katanya sambil menyalakan lampu. Zera duduk di ranjang, wajahnya tenang. “Apa yang kau inginkan?” Clarisse berjalan mendekat, mengenakan gaun tidur satin berwarna merah anggur, parfum mahalnya memenuhi udara. “Aku hanya ingin bicara. Wanita ke wanita.” “Apakah itu bisa disebut pembicaraan?” Clarisse tertawa kecil. “Kau pintar, Zera. Tapi kau terlalu polos untuk dunia ini. Johnny adalah pria yang penuh luka. Aku mengenalnya sejak kami remaja. Aku tahu bagian dirinya yang paling gelap.” Zera diam. “Kau tidak akan bisa bertahan. Kau akan hancur oleh dirinya sendiri.” Zera menatap lurus—bukan ke wajah Clarisse, tapi ke arah suaranya. “Biar aku yang memutuskan itu.” Clarisse mendekat hingga hanya sejengkal darinya. “Baik. Tapi jangan salahkan aku… jika aku merebut kembali apa yang seharusnya milikku.” Zera menatap kosong. “Kau tidak perlu merebut apa pun, Clarisse. Karena aku tidak pernah memilikinya.” Clarisse tercengang. Ia menatap Zera untuk waktu yang lama, lalu berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Namun di ambang pintu, ia menoleh sekali lagi. “Kau bukan wanita biasa, Zera. Tapi itu belum tentu pertanda baik.” Zera hanya tersenyum samar. “Begitu juga dirimu.”Hujan turun perlahan di halaman kediaman Lawrence malam itu, menimbulkan suara lembut di atas kaca jendela besar ruang tamu. Di antara redup cahaya lampu gantung kristal, Evelyn Lawrence duduk tegak di kursi panjang berlapis beludru merah tua. Tangannya yang mengenakan sarung satin memegang ponsel dengan tatapan dingin.Suaranya tenang, tapi menyimpan nada mengancam.“Aku sudah memperingatkan sejak awal, proyek itu tak boleh bocor lagi. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau dunia luar mendengarnya.”Suara berat dari seberang sambungan terdengar pelan—tak jelas siapa. Tapi nada bicaranya menunjukkan posisi tinggi, seseorang yang dulu mungkin menjadi bagian dari proyek rahasia itu.“Tenanglah, Nyonya Lawrence,” suara itu bergetar samar, “data mengenai Neuro X-9 sudah diamankan. Tak seorang pun yang hidup bisa mengaitkannya dengan keluarga Lawrence.”Evelyn menegakkan punggung, menatap kaca di depannya yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri—dingin, nyaris tanpa emosi.“Neuro X-9…,” gu
Beberapa hari yang lalu .... Malam merayap pelan di kediaman Lawrence. Langit menggantung berat, seolah menelan cahaya bulan. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menyesakkan dada.Shio melangkah tanpa suara di sepanjang koridor menuju halaman belakang. Ia bermaksud memastikan area keamanan setelah sistem pendeteksi gerak sempat menunjukkan aktivitas mencurigakan di sisi timur taman. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara samar dari balik dinding batu tua.Suara wanita. Lembut tapi tegang. Clarisse.Ia mencondongkan tubuh, bersembunyi di balik semak, matanya menajam di antara sela cahaya lampu taman yang temaram.“…kau yakin ini akan berhasil?” tanya Clarisse pelan. “Johnny bukan orang bodoh. Sekali saja dia mencium ada yang janggal, semuanya bisa berantakan.”Suara pria menjawab dengan nada datar. “Tenang saja. Flashdisk itu sudah diletakkan di ruang kerjanya. Semua bukti akan mengarah pada Zera. Bahkan jika Johnny mencoba menyelidiki, dia tetap ak
Langkah kaki Johnny terdengar berat ketika pintu kamarnya berderit terbuka. Malam telah larut, udara dingin menempel di dinding-dinding batu rumah besar itu. Dari arah ranjang, Zera yang sejak tadi duduk dalam diam langsung menegakkan tubuhnya. Telinga tajamnya menangkap irama langkah itu—pelan, namun setiap hentakan membawa aura kemarahan yang menyesakkan.Ada bau yang menusuk hidungnya. Bukan aroma parfum mahal yang biasanya melekat pada tubuh Johnny, melainkan aroma besi yang tajam, anyir, pekat—darah. Tubuh mungil Zera menegang. Kedua tangannya yang menggenggam kain selimut bergetar.“Johnny…,” suaranya lirih, ragu, seolah takut kata-katanya justru mengundang badai. “Kau… kau pulang?”Johnny tidak langsung menjawab. Ia hanya melepaskan jas hitam yang tadi menempel di tubuhnya, melemparkannya begitu saja ke kursi. Gerakannya kasar, seolah setiap lipatan kain mengingatkannya pada amarah yang belum tuntas.“Apa yang kau dengar, hm?” Johnny akhirnya bersuara. Nada rendahnya menekan, m
Clarisse tertawa kecil, tajam, lalu mendekat lebih dekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Ia menunduk, berbisik di telinga Zera.“Kau pikir Johnny butuh bukti untuk meninggalkanmu? Tidak, sayang. Aku hanya perlu sedikit waktu… sedikit dorongan… dan dia akan sadar betapa menjijikkannya kehadiranmu di sisinya.”Zera menggeleng cepat, wajahnya pucat. “Tidak… dia bukan orang seperti itu—”“Oh, kau terlalu naif,” potong Clarisse. Jarinya menyentuh dagu Zera, mengangkat wajah gadis buta itu dengan paksa. “Kau hanya seorang gadis buta yang terseret ke dalam dunia yang tidak pernah menginginkanmu. Johnny adalah milikku sejak lama, dan kau… hanya noda sementara.”Zera mencoba menjauh, tapi Clarisse menahan. Tekanan pada dagunya semakin keras, hampir menyakitkan.“Aku akan menyingkirkanmu, Zera. Kalau kau pintar, kau akan pergi sendiri sebelum Johnny melakukannya. Karena percayalah… saat dia yang melemparmu keluar, kau tidak akan punya tempat kembali.”Air mata jatuh dari mata Zera, bukan k
Langkah sepatu Clarisse terdengar begitu ringan, namun setiap hentakannya terasa bagai palu godam yang jatuh di dada Zera.“Johnny,” suara Clarisse terdengar halus, penuh percaya diri, tapi mengandung racun yang menyusup pelan. “Aku tidak bermaksud mengganggu, tapi kurasa… ini saat yang tepat.”Johnny menoleh setengah, matanya menyipit, seolah sudah menduga Clarisse tak datang dengan tangan kosong. Zera menggigit bibirnya, firasat buruk menyelubungi batinnya.“Apa yang kau bawa kali ini, Clarisse?” tanya Johnny, suaranya dingin tapi bergetar samar. Clarisse melangkah mendekat, sepatu hak tingginya bergema di lantai marmer. Di tangannya, ia membawa sebuah tablet tipis. Ia menyalakannya dengan satu sentuhan, dan layar menyala, menampilkan rekaman yang seketika membuat jantung Zera serasa berhenti berdetak.Suara itu—suara dirinya sendiri.Suara Zera terdengar dari rekaman, lirih namun jelas: “Aku akan mencoba mendekat padanya… aku harus tahu rahasia yang disembunyikannya. Dia tidak bol
Malam itu, ruang kerja Johnny dipenuhi aroma asap cerutu yang menyengat. Di kursi kulit hitamnya, Johnny duduk tegak, menunggu seseorang. Pintu berderit. Leo masuk dengan langkah ringan, wajahnya setengah tersembunyi oleh bayangan. Senyum kecil melekat di bibirnya, namun matanya tajam, penuh kewaspadaan. “Sepertinya kau sudah tidak sabar,” ucap Leo santai, menarik kursi lalu duduk di hadapan Johnny. Johnny tidak menjawab langsung. Ia menyalakan cerutu, mengisap dalam, lalu menghembuskan asap perlahan. Matanya yang tajam menatap Leo, seperti menimbang sesuatu. “Aku butuh kau untuk sesuatu,” akhirnya Johnny membuka suara. Leo tertawa kecil. “Aku tahu, kalau tidak, kau tak akan memanggilku di jam segila ini.” Johnny meletakkan cerutunya di asbak, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Zera. Aku ingin tahu sejauh mana dia berani.” Leo mengangkat alis. “Kau masih mencurigainya?” “Bukan sekadar curiga.” Johnny mengusap dagunya. “Aku ingin tahu siapa yang menggerakkan dia. Ad







