MasukHari perlombaan akhirnya tiba.
Di balik panggung, Rania berdiri di depan cermin besar. Kostum baletnya berkilau, riasan wajahnya sempurna. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melirik ke arah celah tirai, matanya sibuk memindai barisan kursi tamu kehormatan. Di mana Tuan Mahesa itu? Wajah-wajah yang ia lihat hanyalah para pejabat, sponsor, dan tokoh seni. Tak satu pun tampak seperti penguasa kejam yang sering dibicarakan orang. Atau cuma omong kosong, batinnya meremehkan. Tepuk tangan tiba-tiba menggema ketika pembawa acara naik ke panggung. “Dan pada malam ini,” suara itu menggema mantap, “pemenang lomba akan menerima penghargaan langsung dari pemberi dana terbesar acara ini… Tuan Mahesa.” Sorotan lampu berpindah ke barisan paling depan. Seorang pria berdiri. Jas hitamnya rapi, potongannya tegas. Tubuhnya tinggi dan tegap, posturnya lurus tanpa cela. Rahangnya keras, bahunya bidang. Namun yang membuat seluruh ruangan seketika hening... wajahnya tertutup topeng hitam polos. Tak ada ekspresi. Tak ada identitas. Hanya aura dingin yang terasa bahkan dari kejauhan. Tepuk tangan kembali meledak, lebih keras dari sebelumnya. Bisik-bisik terdengar di mana-mana. “Dia itu Tuan Mahesa?” “Serius?” “Dia memang tak pernah menampakan diri ke publik" Rania menyipitkan mata. Bibirnya melengkung membentuk senyum kecil. Tidak pernah menampakkan wajah di depan publik? Menarik. “Aku akan lihat wajahmu,” gumamnya pelan, penuh percaya diri. Di saat itulah,seolah merasakan tatapannya pria bertopeng itu sedikit menoleh. Pandangan mereka bertemu. Jarak cukup jauh, namun Rania yakin: tatapan itu sedang mengarah padanya. Rania tersenyum paling manis. Senyum yang biasa ia gunakan untuk menaklukkan, untuk menarik perhatian, untuk membuat orang merasa dipilih. Namun reaksi pria itu sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Nares hanya mengangguk singkat. Tidak tersenyum. Tidak tertarik. Tidak terpengaruh. Satu anggukan dingin seolah Rania hanyalah nama dalam daftar panjang yang sudah ia tandai. ** Lampu panggung meredup, lalu menyala kembali menyinari satu penari demi satu penari. Gerakan mereka rapi. Tekniknya benar. Ekspresinya terlatih. Namun di mata Nares... semuanya terasa datar. Tak ada yang membuat napasnya tertahan. Tak ada yang membuat dadanya bergerak. Biasa, batinnya dingin. Sangat biasa. Bahkan bayangan Anya menari sambil tertawa kecil di ruang keluarga dengan kaki telanjang dan musik seadanya terasa jauh lebih hidup dibanding apa yang ia lihat malam ini. Hingga nama itu dipanggil. “Peserta berikutnya… Rania Marni.” Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan. Rania melangkah ke tengah panggung dengan senyum lembut. Kostumnya berwarna pucat, jatuh mengikuti tubuhnya, memberi kesan anggun dan lugu. Rambutnya disanggul rapi, lehernya jenjang, bahunya terbuka dengan kesan rapuh yang disengaja. Ia tahu bagaimana menampilkan diri. Gerakan awalnya perlahan. Lembut. Banyak lengkungan tangan dan putaran kecil. Ekspresinya dibuat polos, mata sedikit membesar, senyum tipis, seperti gadis yang menari bukan karena ambisi, melainkan karena cinta pada seni. Penonton terlihat terpikat. Beberapa orang mengangguk kagum. Tepuk tangan kecil terdengar bahkan sebelum musik usai. Dari sisi panggung, seorang pria berdiri dan bertepuk tangan paling meriah. Nares menangkap gerakan itu. Wajah itu. Revaldo. Rahang Nares mengeras. Kedua tangannya mengepal perlahan di balik jas. Kalian berdua akan membayarnya, batinnya dingin, tanpa emosi, justru karena amarahnya sudah terlalu matang. Di atas panggung, Rania menutup tariannya dengan pose manis. Sedikit membungkuk, senyum kembali dipamerkan. Tepuk tangan kembali menggema. Namun dari barisan depan... tak ada perubahan. Nares tetap duduk tegak. Tatapannya datar. Tak bertepuk tangan. Tak menunjukkan ketertarikan. Matanya menilai, bukan mengagumi. Jadi ini gerakan yang dia punya? Dengan ini dia ingin menang dari Anya? Sudut bibir Nares terangkat tipis, bukan senyum. “Cih…” gumamnya pelan. “Bahkan tak layak dibandingkan.” ** Dirumah Sakit Suara monitor jantung berbunyi tidak beraturan. Garis di layar naik turun lemah, seolah bisa berhenti kapan saja. Anya terbaring pucat di atas ranjang IGD. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Bibirnya membiru. “Saturasi turun!” seru seorang perawat. Dokter Dirga berdiri di sisi ranjang, wajahnya tegang namun fokus. Tangannya cekatan memeriksa denyut nadi di leher Anya. “Detak jantung melemah,” ucapnya dingin tapi tegas. “Siapkan defibrillator. Sekarang.” Perawat Riri segera mendorong alat defibrillator mendekat. Tangan Riri sedikit gemetar saat mengambil paddle. “Gel,” kata Dirga singkat. Perawat lain mengoleskan gel ke dada Anya. Dirga mengambil paddle dan menempelkannya kuat di dada pasien. “Semua mundur,” perintahnya. “Dok, tekanannya turun terus,” ujar Riri dengan suara bergetar. Dirga menatap layar monitor. Garis hampir lurus. “Charge… dua ratus joule,” katanya. Mesin berbunyi nyaring. “Clear!” “Clear!” Semua menjauh. Dirga menekan tombol. DORR! Tubuh Anya tersentak keras. Namun monitor hanya menunjukkan garis tipis yang masih lemah. “Sial…” gumam Dirga. “Charge lagi. Tiga ratus.” Riri menelan ludah. “Dok, kalau ini gagal...” “Dia tidak boleh pergi,” potong Dirga tegas. “Belum.” Mesin kembali berbunyi. “Clear!” DORR! Sesaat hening. Semua mata tertuju pada layar. Beep… beep… beep… Garis di monitor mulai bergerak, perlahan tapi stabil. “Detak jantung naik, Dok!” seru Riri hampir menangis lega. Napas Anya masih berat, tapi ritmenya mulai membaik. Dirga menghembuskan napas panjang. “Pasang oksigen penuh. Siapkan ICU. Jangan lepas pantauan sedetik pun.” Ia menatap wajah Anya yang pucat. “Bertahanlah Anya… seseorang sangat membutuhkanmu.” Di luar ruang IGD Amanda mondar-mandir di lorong rumah sakit. Tangannya gemetar menggenggam ponsel. Keringat dingin membasahi pelipisnya. “Angkat, Nares… tolong angkat,” gumamnya sambil menekan nomor itu lagi. Tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi. Dan lagi. “Kenapa sih gak diangkat!” suaranya pecah. Amanda menekan ponsel ke dadanya, matanya berkaca-kaca. “Kamu harus tahu, Nares… Anya lagi kritis,” bisiknya putus asa. “Kalau kamu gak datang… aku gak tahu harus apa. Jangan sampai kamu menyesal” Ia kembali menelpon. Nada sambung. Berdering. Berdering. Namun tetap… sunyi. Amanda terduduk lemas di kursi lorong, air matanya akhirnya jatuh. “Tolong cepat datang,” isaknya lirih. “Jangan biarin Anya sendirian.” ***Dirga berdiri di sisi ranjang, menurunkan stetoskopnya perlahan. Anya masih terbaring dengan infus terpasang, wajahnya pucat namun napasnya sudah lebih teratur. Leon berdiri tak jauh, sementara Nares menatap Dirga dengan sorot tajam menuntut jawaban. “Kondisinya kembali kambuh,” ujar Dirga akhirnya, suaranya serius. “Bukan karena fisik. Secara medis, tubuh Anya membaik. Tapi ini murni dipicu oleh trauma.” Nares mengepalkan tangan. “Kenapa bisa?.” Dirga menarik napas. “Anya mengalami Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Gangguan stres pascatrauma. Setiap kali otaknya menangkap rangsangan yang mirip dengan kejadian masa lalu wajah, suara, bahkan sekadar ingatan tubuhnya bereaksi seolah kejadian itu terulang.” Leon mengernyit. “Makanya dia tiba-tiba histeris?” “Ya,” jawab Dirga. “Bagi Anya, itu bukan kenangan. Itu ancaman yang terasa nyata.” Nares menunduk, rahangnya mengeras. “Kalau begitu, bagaimana cara mencegahnya?” Dirga menatap Nares lurus. “Kamu harus menemukan
Nares dengan hati-hati mengangkat tubuh Anya dan memangkunya. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras. Ia melangkah cepat menuju kamar, berusaha menahan amarah yang bergejolak di dadanya. Namun di tengah langkahnya, telinganya menangkap percakapan yang membuat darahnya mendidih. Pelayan bernama Mila berbisik dengan nada sinis, “Nona Anya benar-benar sudah gila.” “Sst!” Resty menegurnya pelan tapi tegas. “Jaga ucapanmu. Jangan bicara sembarangan.” “Aku cuma bilang yang sebenarnya,” balas Mila ketus. “Kamu lihat sendiri kan? Berani-beraninya dia menampar tuan muda. Dia sudah gila.” “Nona itu sakit,” bantah Resty. “Bukan gila.” Mila mendengus, lalu tertawa kecil. “Sakit jiwa, maksudmu.” Langkah Nares berhenti. Ia menoleh perlahan. Tatapan matanya membuat udara di sekitarnya terasa membeku. Mila dan Resty langsung terdiam. Wajah mereka pucat. Tanpa sepatah kata, Nares kembali melangkah, mengantarkan Anya ke kamar dan membaringkannya dengan hati-hati di ranjang. Tak lama kemudian, D
Anya menggeliat pelan saat membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Nares yang berada tepat di atasnya terlalu dekat, terlalu tenang, dan jelas sedang menatapnya sejak lama. “Kak… udah bangun?” tanya Anya, suaranya masih serak oleh sisa kantuk. Nares mengangguk ringan. “Aku nggak terbiasa bangun siang.” Anya mendengus kecil. Tatapannya bergeser ke arah cahaya matahari yang menembus tirai kamar. Ucapan Nares jelas terdengar seperti sindiran halus untuknya. “Huft… iya, iya,” gumamnya. Nares bangkit sedikit. “Kakak mandi dulu.” “Mandi ya tinggal mandi lah,” jawab Anya santai, masih setengah malas bergerak. Nares menoleh, lalu melirik ke bawah. Tangan dan kaki Anya ternyata masih melingkar di tubuhnya, seolah semalaman ia menjadikannya bantal hidup. “Kalau begitu,” kata Nares datar, “bisa dilepaskan dulu?” Anya tersentak. Matanya membulat. “Ah...maaf!” Ia buru-buru menarik tangan dan kakinya. Dalam hati ia menjerit panik. Astaga… malu banget. Aku tidur begi
Semua pelayan berjajar rapi di halaman mansion saat mobil berhenti. Pintu mobil dibukakan oleh kepala pelayan, Pak Liem, dengan sikap hormat. “Silakan, Tuan.” Pak Liem membantu mengeluarkan kursi roda. Namun sebelum Anya dipindahkan, Nares sudah lebih dulu memangku tubuh Anya dengan hati-hati, mengangkatnya seolah tak peduli ada puluhan pasang mata yang melihat. Ia lalu menurunkan Anya perlahan ke kursi roda. Begitu roda kursi menyentuh lantai, seluruh pelayan menunduk bersamaan. “Selamat datang, Nona Besar.” Anya terkejut. Ia menoleh ke Nares, alisnya mengernyit kecil. “Kak… kamu sengaja?” bisiknya. Nares menjawab santai, “Cuma sambutan kecil.” Leon yang baru turun dari mobil mendengus. “Cari perhatian.” Anya melirik Leon sekilas, tapi Nares sudah mendorong kursi rodanya masuk ke dalam mansion, meninggalkan Leon di belakang. Leon memutar bola matanya kesal. “Kamu selalu menguasai Anya,” gumamnya. Di ruang makan, meja panjang sudah dipenuhi hidangan. Dari makanan
Langkah Anya terasa berhenti meski kursi rodanya masih bergerak. Dadanya bergetar. Bukan takut. Bukan marah. Sesuatu yang aneh. Seperti ada tarikan halus di dalam tubuhnya. Getaran yang membuat napasnya tercekat. Tangannya refleks menegang. Nares langsung menyadarinya. Ia berhenti mendorong kursi roda. “Ada apa?” tanya Nares pelan. Anya cepat-cepat menggeleng. “Nggak… nggak apa-apa. Cuma grogi mau pulang.” Nares menunduk, mengusap kepala Anya dengan lembut. “Tenang.kita pulang ke mansion.” Leon sempat melirik ke arah wanita paruh baya itu. “Itu Nyonya Hasan.” gumamnya. Anya menelan ludah. “Ibu Aldo?” tanyanya pelan. Leon mengangguk. “Iya. Pantas kelihatan cemas. Anak satu-satunya mengalami kengerian kayak gitu.” Kondisi Aldo menjadi konsumsi publik saat di temukan keluarganya dirumah sakit. Banyak yang berpikir apa yang aldo alami disebabkan persaingan bisnis. Apalagi keluarga Hasan sedang naik daun, perusahaan meraka melaju pesat sejak lima tahun terakhir
Untuk menghindari Rosa yang bisa datang sesuka hati dan kembali membuat onar, Nares memutuskan membawa Anya ke mansion miliknya. Beberapa hari yang lalu... Nares baru saja masuk ke rumah tua keluarga Mahesa. Langkahnya berat, wajahnya dingin. Di ruang tengah, Jhon sudah menunggunya dengan ekspresi tegang. Beberapa menit lalu, Nares memerintahkannya mengambil berkas di ruang kerja. Namun saat Jhon masuk, yang ia temukan bukan hanya berkas melainkan kekacauan. Bingkai foto favorit Nares pecah. Foto yang selalu ia bawa setiap perjalanan bisnis. Foto Anya. Jhon yang terkejut langsung menghubungi Nares. Sekarang, Nares berdiri di depan ruang kerja itu. “Ada apa, Jhon?” tanya Nares datar, tapi nadanya berbahaya. Tanpa menjawab, Jhon membuka pintu ruang kerja. KRAK. Pemandangan itu langsung menyulut amarah Nares. Kaca berserakan di lantai. Bingkai foto hancur. Wajah Anya di foto itu terbelah oleh retakan. Napas Nares berat. “Siapa,” ucapnya pelan, sangat pelan,







