แชร์

Bab 130

ผู้เขียน: Ratu As
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-27 08:22:14

Ziana berjalan dengan tertatih, kakinya yang terluka terasa nyeri dan perih. Namun dia terus memaksanya untuk melangkah, menjauh dari tempat mengerikan itu dan berharap bisa kembali ke rumah Arhan yang menenangkan.

Hutan kecil itu sangat gelap, Ziana hanya bisa menajamkan pengelihatannya yang terbatas, sesekali kakinya yang telanjang menginjak semak dan rumput berduri.

Hawa dingin dari malam dan hujan menembus ke tulang-tulang. Baju yang terkoyak dan basah itu semakin membuat badan Ziana menggigil.

Entah sudah seberapa jauh, ketika Ziana mulai melihat fajar dan sekeliling jauh lebih terang, Ziana melihat jalan. Dia berhasil keluar dari hutan dan tempat terpencil itu.

“Tolooong!” teriak Ziana dengan suaranya yang serak dan parau.

Langkahnya gontai, ketika dia mendengar suara deru mobil di belakang Ziana ragu-ragu ingin menampakan diri atau bersembunyi? Dia butuh bantuan, tapi takut jika yang datang itu justru orang-orang dari dokter Andre.

Ziana memutuskan untuk menepi, dia henda
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 162

    Jana tidak menyiakan waktu untuk mencari berkas-berkas milik anak pantinya untuk dicocokkan dengan informasi yang orang tadi berikan. Waktu kehilangan sudah cukup lama, belasan tahun, jadi Jana tidak mengingat persis, apalagi anak panti begitu banyak selama kurun waktu itu. "Bu Jana, Anda sibuk sekali? Sedang cari apa?" Ziana yang baru selesai membantu di dapur umum menyempatkan untuk menyapa Jana di ruangannya. Begitu mendengar suara Ziana, Jana mendongak dengan jantung berdebar. "Ziana.... " Dia baru ingat tentang Ziana, bayi perempuan yang ditemukan di panti hampir dua puluh tahun lalu. Ziana tersenyum saat Jana mendekat. "Zi, Ibu pernah kembalikan barang-barang milikmu waktu bayi kan? Barang terakhir yang kamu pakai saat ditemukan?" Ziana mengangguk. "Iya, Bu. Selimut dan gelang bayi, kenapa?""Ibu agak lupa, apa bentuknya seperti ini?" Jana menunjukan foto yang orang sebelumnya berikan. Ziana melihat dan mengamati foto gelang itu. Dia menggeleng pelan. "Ibu, gelang punya

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 161

    "Hm, Pak Arhan sok berani."Arhan terkekeh lirih, sesaat dia juga menyenderkan dagunya di pundak Ziana. Dan terus menatap gadis itu dari dekat. Ziana masih fokus menyelesaikan tugasnya. "Kamu pasti lebih senang kalau dia memergoki kita seperti ini kan?" Ziana menoleh hanya untuk mendapati tatapan menggoda Arhan. Dia lalu tersenyum dan membalik tubuhnya menghadap Arhan. "Meski benar, memang Pak Arhan mau melakukannya?" "Semua ada konsekuensinya. Kalau kamu sudah siap untuk itu.... " Ziana menggeleng pelan, kedua tangannya merangkul leher lelaki itu, seolah ingin selalu dekat. "Aku masih ingin menikmati suasana tenang seperti ini. Aku masih ingin membuat banyak momen manis diam-diam," ucap Ziana nakal. Ketika terdengar suara langkah kaki buru-buru Ziana melepaskan tangannya. Arhan kembali berdiri tegak. "Ziana, mana susu yang kamu buatkan untuk Sandra?" Ofi melihat Arhan juga ada di dapur, dia tidka bisa biasa saja. Tatapannya penuh curiga, sayangnya tidak bisa menuduh apa pun.

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 160

    "A--pa maksud Pak Arhan? Aku sudah berusaha keras melindungk Evan. Tapi para bajingan itu memisahkan kami." Air mata Ofi turun deras. "Andai boleh ditukar, aku mau menggantikan Evan. Biar aku saja yang sakit," Ofi semakin terisak. Di tempat umum menangis seperti itu, jelas membuat Arhan tak nyaman. Dia mengambil tisu lalu memberikannya pada Ofi. "Bagiku putraku adalah segalanya." Arhan tersenyum miring. "Sama. Aku juga berpikir putriku adalah segalanya. Karena itulah sekarang aku masih mempertahankanmu. Selagi Sandra bahagia." Sandra tidak pernah sangat memaksa sebelumnya, bahkan ketika kecil dia sangat menginginkan ibu, dia masih bisa menahannya. Namun sekarang, Sandra seolah sangat menginginkan Ofi jadi ibunya. Apa yang Arhan lakukan sekarang tidak lain hanya demi Sandra, darah daging yang paling dia sayangi. *** Wajah Endra menegang dengan mata mendelik kaget, dia mungkin tidak menyangka Sandra akan memberikan kabar yang mengejutkan. "Ka--kamu hamil?" Sandra menga

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 159

    Aris mengendikkan bahunya, menoleh sekilas dengan senyum menyebalkan lalu kembali melangkah menyusul Ziana.Arhan berdecih, dia kesal tapi tidak bisa melampiaskan kekesalannya. Awas saja di lain waktu, Arhan tidak segan membuat lelaki itu lebih kesal darinya. ***Ziana sudah bersemangat, bangun pagi hanya untuk menyiapkan sarapan yang akan dia bawa ke rumah sakit, namun saat membaca pesan yang Sandra kirim membuat Ziana mengurungkan niatnya. [Zi, enggak usah jenguk ke rumah sakit. Siang ini aku udah boleh pulang, kok. Kamu tunggu di rumah ya.] Tidak hanya satu, ada dua pesan lagi yang Sandra kirim beserta foto Arhan dan Ofi yang duduk berseberangan di samping kanan-kiri ranjang yang Sandra tempati. Mereka mungkin ketiduran, lalu Sandra menyatukan tangan mereka. [Lihat mereka, sweet banget kan? Aku sedang menikmati saat-saat mereka bersama merawatku. Rasanya seneng banget.] Ziana tersenyum getir, jemarinya berhenti bergerak. Dia tidak tahu harus membalas apa, perasaannya berubah

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 158

    Sebelum Sandra benar-benar sendiri, Ofi datang jauh lebih cepat ketimbang Arhan, karena kebetulan itu juga rumah sakit yang sama tempat Evan dirawat. "Sandra, bagaimana keadaanmu?" Ofi mendekat dia datang dengan wajah khawatir. "Ibu!" panggil Sandra dengan suara parau, tangisnya langsung pecah saat memeluk Ofi. Dia hanya butuh tempat bersandar untuk menghilangkan rasa takutnya sejak tadi. Ofi membalas pelukan dengan mengusap-usap punggung Sandra. "Tidak apa-apa, jangan takut. Kamu pasti sembuh." Ofi terus menenangkan, meski yang dia tahu Sandra hanya sakit perut dan anemia. Sandra sempat terisak, dia tidak curhat pada siapa pun jika dia hamil. Dia terus menangis karena takut dan bingung. Dia belum siap memberi tahu Endra apalagi ayahnya. Jadi Sandra hanya memendamnya sendiri. Arhan dan datang bersama Ziana, saat mereka sampai Sandra sudah tenang dan sedang tertidur dijagai oleh Ofi. Sedangkan Aris sudah keluar sejak tadi. "Bagaimana kondisinya?" tanya Arhan pada Ofi yang

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 157

    Sandra tidak menolak, dia tahu tidak mungkin bisa pergi sendiri. "Om Aris, maaf merepotkan," ucap Sandra lemas, tidak seperti biasanya. Sandra duduk di jok belakang bersama Nana dan Leo yang sekarang sudah tertidur. Mereka dalam perjalanan pulang setelah tadi membutuhkan waktu untuk membuat Leo yang tantrum karena ditinggal Ziana bisa kembali diam dan tenang. "Tidak masalah. Kamu pulang ke rumah ayahmu kan?" Sandra mengangguk. Dia lalu memejam dan menyenderkan kepalanya ke kursi. Lebih baik dia pulang ke rumah ayahnya saja yang dekat dengan rumah Aris, jadi tidak akan terlalu merepotkan. Dia juga merasa tidak bisa sendirian karena meriang. Kalau pulang ke apartemen, siapa yang akan merawatnya? Sampai di jalan rumah mereka, Aris lebih dulu mengantar Leo dan pengasuhnya. Setelahnya baru ke rumah Arhan. Dia membantu Sandra berjalan. "Sepertinya ayahmu dan Ziana belum pulang? Mereka sedang makan malam di luar," celetuk Aris saat masuk ke rumah dan melihat suasana yang sepi. "Kok,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status