LOGINWARNING! 🔞 Banyak mengandung adegan dewasa implisit. Arumi terpaksa menggantikan posisi ibunya sebagai mempelai wanita usai ibunya menghilang begitu saja. Awalnya, Langit, pria yang seharusnya menjadi calon Ayah Tiri Arumi, mengatakan tidak akan pernah menyentuhnya. Namun, entah mengapa, malam ini semuanya menjadi berbeda. "Biar saya ajari kamu, cara berciuman yang benar, Arumi." - Langit
View More“Berhenti menatap saya seolah saya ini adalah hantu. Tenang saja, saya tidak akan menyentuh kamu.”
Kalimat itu terdengar datar, tapi cukup membuat bahu Arumi menegang. Suara berat itu mengisi kamar yang terlalu sunyi. Ia refleks menunduk, menghindari tatapan pria yang kini resmi menjadi suaminya. Angkasa Langit Cakrawiguna, laki-laki dewasa yang seharusnya menikahi ibunya, bukan dirinya. Arumi masih belum sepenuhnya percaya jika pernikahan itu benar-benar terjadi. Ia hanya menjalani apa yang diperintahkan, tanpa sempat bertanya kenapa hidupnya bisa berbelok sejauh ini. Langit berdiri di depan meja rias, terus mengancing kemejanya hingga selesai. Gerakannya tenang, tapi cukup dingin. Arumi duduk di tepi ranjang, diam dengan kepala menunduk, memainkan ujung piyama satinnya hanya untuk menutupi gugup yang semakin menjadi. Bukan karena Arumi menyimpan rasa pada pria itu. Bukan juga karena malu. Ia hanya … takut. Takut salah bicara, takut salah bersikap, takut membuat keadaan yang sudah rumit ini semakin terasa aneh. “Maksud Om Langit, apa?” suaranya keluar ragu, hampir bergetar. Langit menoleh sebentar, lalu menjawab tanpa basa-basi. “Status kita hanya sebatas hitam di atas putih. Setelah Mama kamu kembali, kita akan segera bercerai.” Arumi diam. Ucapan pria itu tidak mengejutkan, tapi tetap membuat dadanya terasa sesak. Ia mengangguk kecil, mencoba menelan keadaan yang bahkan belum sempat ia pahami. “Arumi tahu, kok, Om. Arumi juga nggak akan nuntut apa-apa. Sejak awal kan pernikahan ini cuma buat nutupin aib keluarga masing-masing, jadi Om Langit tenang aja,” katanya pelan. Arumi berusaha menjaga suaranya tetap datar, meski hatinya campur aduk antara takut dan bingung. Baginya, ini semua hanya peran yang harus dijalani sampai ibunya kembali. Langit memicingkan mata sebentar, seolah menimbang sesuatu, tapi akhirnya hanya berbalik membelakangi gadis itu lagi. Keheningan kembali menyelimuti kamar. Arumi menatap punggung pria itu tanpa ekspresi. Ia tidak tahu harus apa. Tidak tahu juga harus bersikap bagaimana. Yang ia tahu, malam ini, ia resmi menjadi istri dari laki-laki yang bahkan tidak pernah ia bayangkan duduk bersanding dengannya dan mungkin sebentar lagi juga akan menjadi mantan suaminya. “Terus, kenapa juga wajahmu terlihat tegang saat melihat saya? Kamu takut saya tergoda?” tanya Langit tiba-tiba. Tersentak mendengar penuturan Langit, Arumi pun mengangkat kepala cepat dan segera menggeleng. “Nggak kok, Om. Nggak sama sekali,” bantahnya. “Terus ...?” Tatapan Langit kembali mengintimidasi. “A—Arum ... Arum cuma gugup aja, Om. Soalnya ... soalnya Arum nggak pernah sekamar sama cowok.” Suaranya kecil, nyaris seperti bisikan yang tenggelam di antara dengung pendingin ruangan. Ujung jarinya saling mencubit, mencoba menyalurkan gugup yang tak bisa diucapkan. “Oh ya?” Langit menyunggingkan senyum miring, lalu melipat lengan kemejanya sampai sepertiga panjang tangan. Gerakannya sederhana, tapi entah kenapa, mata Arumi seperti otomatis mengikuti tiap detailnya, urat halus di lengannya, garis otot yang samar, sampai jam tangan hitam yang kontras di kulitnya. Arumi buru-buru mengalihkan pandang. Lebih aman menatap lantai marmer, daripada terus melihat punggung pria itu. Hatinya berdebar tak karuan. Dada terasa sesak seolah ruang di kamar itu menyusut perlahan. “Jadi kamu tidak pernah pacaran?” tanya Langit tiba-tiba. “N—nggak … nggak pernah, Om,” jawab Arumi. “Masa sih?” Langit tak percaya. Lagi-lagi Arumi hanya diam. Ia menggigit bibir bawahnya, tidak tahu harus menjawab apa. Di kepalanya, pertanyaan itu terasa seperti ujian yang jawabannya pasti salah apa pun yang ia katakan. “Berarti kamu tidak pernah berciuman?” Pertanyaan itu membuat Arumi spontan menegakkan kepala. Jantungnya berdenyut keras, lebih karena terkejut daripada marah. Untuk apa bertanya seperti itu? Bukannya tadi bilang tidak akan menyentuhnya? “Apa itu penting untuk Arum jawab, Om?” suaranya keluar pelan, tapi tegas. Ada sedikit getar di sana, tapi juga keberanian yang tak ia sadari sebelumnya. Langit terdiam. Mungkin tidak menyangka gadis itu bisa membalas. Pandangan matanya berubah dari menggoda, jadi seperti sedang menilai sesuatu yang baru. Arumi kembali menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memanas. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, bisa merasakan setiap detik keheningan yang lewat seperti gema. “Bersiaplah, kita harus makan malam bersama Ayah dan Bunda,” kata Langit akhirnya. Suaranya terdengar datar, tapi ada sesuatu yang tertahan di ujung nada itu. Arumi menelan ludah. Ia akhirnya berani mengangkat kepala, menatap pria itu sejenak sebelum berdiri. Langit sudah lebih dulu berbalik, tapi entah kenapa, punggungnya terasa lebih lebar dari sebelumnya dan udara di ruangan itu masih saja membawa sisa aroma tubuhnya yang membuat Arumi sulit bernapas. Langit sudah melangkah ke arah pintu dan Arumi bersiap untuk bangkit dari duduknya. Namun, belum sempat tangannya menyentuh handle, ia pun kembali berbalik dan berkata, “Oh, ya ... ada satu lagi.” Arumi berbalik dan melihat ke arah Langit. Untuk beberapa saat pandang mereka bertemu dalam posisi yang sama-sama berdiri. “Apa, Om?” tanyanya. Langit maju mendekat. Bahkan sangat-sangat dekat hingga wajah keduanya nyaris bertabrakan. Arumi menelan ludah berat. Ia bahkan sampai menutupkan mata saking gugupnya. Ia pikir, apa ini alasan kenapa Langit bertanya soal ciuman pertamanya tadi. “Katanya tadi nggak akan nyentuh Arum, Om?!” seru Arumi tiba-tiba, dengan rasa panik dan matanya terpejam.Hari berlalu, namun Grace masih dengan diamnya seolah tidak tahu apa-apa. Sementara Ray terus memainkan peran suami pura-puranya pada Selena. Setiap pagi, pemandangan yang Grace lihat adalah kemesraan penuh kepalsuan dari tante dan mantan dosennya itu. Tentang bagaimana Selena menyambut Raymond dengan senyuman manis, menyendokan makanan ke piring pria itu, atau mendengar tawa renyah yang dibuat-buat hingga perut Grace mendadak mual.Pagi ini di meja makan saat mereka tengah sarapan, Selena membuka percakapan seperti biasa. “Sayang, nanti sore kamu ada jadwal ke kampus lagi, nggak?” tanya Selena lembut sembari menuangkan secangkir kopi hitam ke cangkir suaminya. Jemari lentiknya dengan sengaja membelai bahu Raymond sekilas. “Kalau nggak ada, temani aku ke butik sebentar ya. Ada gaun baru yang harus aku fitting untuk acara amal minggu depan.”Raymond mengaduk kopinya tanpa terburu-buru. Wajahnya datar, menyembunyikan seringai dingin yang hanya bisa ditangkap oleh Grace yang duduk te
“Hhmmpp—” Desahan pelan mulai terdengar keluar dari mulut Grace. Ketika Raymond perlahan menyudahi ciumannya, ia menyandarkan dahi ke bahu Grace, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis yang kini berada penuh dalam penguasaannya itu. Napas mereka bersahutan teratur di dalam keheningan apartemen.“Ingat ini, Grace,” bisik Raymond serak namun mantap tepat di samping daun telinga gadis itu. “Mulai hari ini, kamu tidak perlu takut lagi menyimpan rahasia kita sendirian. Ada saya bersama kamu.” Mendengar itu, Grace pun menjatuhkan kepalanya pada bidang dada Ray yang datar, jemarinya mengelus-ngelus kemeja satin pria itu. Tak lama kemudian, ponsel Ray yang ada di atas meja berpendar, sebuah panggilan masuk. Grace melepaskan pelukannya dan kembali duduk dengan tegak. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena ciuman panas mereka barusan. “Sebentar.” Ray meraih ponselnya dan melihat nama kontak yang tertera di sana. Selena. Ray membuang napas berat, dahinya berkerut halus nam
Bukannya merespon ucapan Ray, Grace justru terdiam dan terpaku cukup lama. Dua netranya terus menatap pria itu dengan raut wajah yang sulit diartikan. “Grace …,” panggil Ray pelan. “Heuh?” sahut Grace bingung. “Kok malah melamun?”“Eh, maaf, Pak.” Grace buru-buru mengalihkan pandangannya. Melihat gelagat gugup wanita yang pernah menghabiskan malam panas bersamanya dua tahun lalu, Ray pun tersenyum geli. Ia bahkan terkekeh pelan, tawa renyah yang terdengar teramat langka namun begitu merdu di telinga Grace.“Ke–kenapa Bapak tertawa?” tanya Grace polos dan kembali menundukkan wajah. Bukannya menjawab, Ray justru mengulurkan satu tangannya, mengusap lembut puncak kepala Grace sebelum jemari hangatnya bergerak turun menyapu rahang gadis itu, memandu wajah Grace agar kembali menatapnya.“Kenapa? Kamu terkejut mendengarnya?” bisik Raymond dengan nada suara yang begitu lembut, matanya berbinar jenaka sekaligus menyiratkan afeksi yang amat pekat. “Atau ... kamu justru bahagia dengan peng
Pintu apartemen Ray terbuka, pria itu mempersilahkan Grace masuk lebih dulu. Tatapan matanya yang berbeda dari biasanya seketika membuat Grace runtuh dalam sekejap. Ray tahu jika pernikahannya tak wajar, tapi kenapa justru ia yang begitu peduli pada Grace? Bukankah harusnya ia yang dihibur?Grace melangkah masuk dengan langkah pelan, nyaris diseret. Di belakangnya Raymond menyusul dan langsung menutup pintu. “Silahkan duduk dulu. Saya buatkan kamu minuman,” ucap Ray. Grace tidak menjawab, masih mematung di tempatnya. Tatapannya terus melekat pada punggung Raymond yang melangkah ke arah mini kitchen apartemennya. Setelah pria itu hilang di balik pantry, barulah ia duduk. Tak lama, Raymond sudah kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh hangat yang asap tipisnya masih membumbung pelan. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja kaca di hadapan Grace, lalu duduk di samping gadis itu tanpa mengikis seluruh jarak yang ada.“Minum dulu. Kamu pasti butuh sesuatu untuk menenangkan pikir
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore