MasukSebelum Sandra benar-benar sendiri, Ofi datang jauh lebih cepat ketimbang Arhan, karena kebetulan itu juga rumah sakit yang sama tempat Evan dirawat. "Sandra, bagaimana keadaanmu?" Ofi mendekat dia datang dengan wajah khawatir. "Ibu!" panggil Sandra dengan suara parau, tangisnya langsung pecah saat memeluk Ofi. Dia hanya butuh tempat bersandar untuk menghilangkan rasa takutnya sejak tadi. Ofi membalas pelukan dengan mengusap-usap punggung Sandra. "Tidak apa-apa, jangan takut. Kamu pasti sembuh." Ofi terus menenangkan, meski yang dia tahu Sandra hanya sakit perut dan anemia. Sandra sempat terisak, dia tidak curhat pada siapa pun jika dia hamil. Dia terus menangis karena takut dan bingung. Dia belum siap memberi tahu Endra apalagi ayahnya. Jadi Sandra hanya memendamnya sendiri. Arhan dan datang bersama Ziana, saat mereka sampai Sandra sudah tenang dan sedang tertidur dijagai oleh Ofi. Sedangkan Aris sudah keluar sejak tadi. "Bagaimana kondisinya?" tanya Arhan pada Ofi yang ada di
Sandra tidak menolak, dia tahu tidak mungkin bisa pergi sendiri. "Om Aris, maaf merepotkan," ucap Sandra lemas, tidak seperti biasanya. Sandra duduk di jok belakang bersama Nana dan Leo yang sekarang sudah tertidur. Mereka dalam perjalanan pulang setelah tadi membutuhkan waktu untuk membuat Leo yang tantrum karena ditinggal Ziana bisa kembali diam dan tenang. "Tidak masalah. Kamu pulang ke rumah ayahmu kan?" Sandra mengangguk. Dia lalu memejam dan menyenderkan kepalanya ke kursi. Lebih baik dia pulang ke rumah ayahnya saja yang dekat dengan rumah Aris, jadi tidak akan terlalu merepotkan. Dia juga merasa tidak bisa sendirian karena meriang. Kalau pulang ke apartemen, siapa yang akan merawatnya? Sampai di jalan rumah mereka, Aris lebih dulu mengantar Leo dan pengasuhnya. Setelahnya baru ke rumah Arhan. Dia membantu Sandra berjalan. "Sepertinya ayahmu dan Ziana belum pulang? Mereka sedang makan malam di luar," celetuk Aris saat masuk ke rumah dan melihat suasana yang sepi. "Kok,
Akhirnya bisa makan malam dengan tenang, Ziana fokus pada Arhan, begitu juga sebaliknya. Saat Ziana iseng ingin menyuapi, Arhan menolak. "Itu kekanakan Ziana, ini di tempat umum." Ziana cemberut. "Baiklah, padahal aku sengaja ingin mencobanya di tempat seperti ini. Tapi kalo Pak Arhan tidak mau apa boleh buat. Kapan-kapan aku akan mencobanya dengan pria lain saja." Mendengarnya gerakan tangan Arhan terhenti, dia ingin kesal tapi rasanya sudah terlalu lelah. Jadi yang dia lakukan meraih tangan Ziana lalu menyendokkan makanan ke mulutnya. "Sudah?" Senyum Ziana terbit, dia merasa lucu karena mudah sekali memprovokasi Arhan. "Hanya malam ini saja, aku begitu sabar," imbuh Arhan selanjutnya. Tangannya masih menggenggam tangan Ziana yang memegang sendok. ***Plaaak! Sandra mengayunkan tangan menampar seorang wanita yang kepergok sedang jalan dengan Endra. "Sandra apa yang kamu lakukan?!" Endra menarik Sandra dengan kasar. "Kamu selingkuh?!" tuduh Sandra dengan nyalang. Dia paling
Aris jelas tidak terima. Dia menatap lelaki di depannya dengan tidak suka. "Pak Arhan, Anda tidak boleh kasar pada anak kecil." "Saya tidak kasar." Arhan kembali tersenyum, tapi senyum miring yang menampakkan ketidaksukaannya. "Untuk menghadapi anak kecil yang banyak tingkah, harus lebih tegas." Arhan memang menyebalkan sejak dulu, Aris diam-diam menahan kesal. Lelaki tua itu pintar bersikap dan berbicara hingga tampak tetap berwibawa meski sebenarnya apa yang dilakukannya sangat tidak adil. Leo menangis dan Aris harus menenangkannya. Jadi, dia tidak bisa menahan Ziana. *** Di mobil, Ziana masih melihat ke belakang. "Pak Arhan, Leo masih menangis," katanya dengan ekspresi iba. "Itu bukan urusanmu, Ziana. Kamu bukan babysitter-nya." "Tapi.... " Arhan menoleh. "Kamu tahu? Kamu harus lebih berhati-hati." "Memang kenapa? Om Aris terlihat seperti orang baik." Arhan tersenyum miring. "Ziana, apa kamu tidak tahu kalo pria punya banyak trik? Apalagi seorang duda, dia akan gunaka
Hampir Ziana tersentak, tidak percaya. Ternyata dia memang berjodoh dengan Arhan, sampai di tempat seperti ini pun takdir mempertemukan mereka. Ziana tersenyum, hampir melambaikan tangan, namun Arhan justru menatapnya makin tajam. Lelaki itu juga melihat pada si kecil Leo dengan tak suka. "Ziana, kamu mau minum?" Aris menawari minuman, suaranya membuat Ziana memalingkan wajahnya dari Arhan. "Terima kasih, Om Aris," balasnya dengan senyum senang. Senyum yang tertangkap jelas oleh Arhan. Saat Ziana menoleh lagi, lampu merah sudah berganti, mobil Arhan sudah melesat dengan cepat. Mata Ziana menatap jauh, lalu ponselnya bergetar. Ada pesan Arhan yang membuat Ziana buru-buru membukanya. [Saya tunggu di depan.] Pesan itu singkat, Ziana mengulas senyum saat kembali mendongak dan dia melihat mobil Arhan berhenti di depan. "Pak Aris berhenti," pinta Ziana. "Sampai sini saja." "Ini masih sangat jauh, Ziana?" Aris tidak mengerti, namun saat ada lelaki yang menghadang di depan, hampir A
Wina tertegun sejenak, mungkin tidak menyangka anaknya akan jadi patokan penilaian Ziana. Sesaat kemudian wanita tua itu baru terkekeh. "Yah, tidak kurang seperti itu. Hanya saja kamu bisa dapatkan dengan versi lebih muda. Mungkin akan lebih mudah untukmu jika menjalin hubungan dengan lelaki yang jarak umurnya tidak beda jauh," ujar Wina sedikit memberi saran. Ziana juga tertawa pelan, menanggapi obrolan ini dengan candaan agar tidak terlalu tegang. "Tidak juga, aku justru suka yang dewasa. Umur bukan masalah, bahkan jika berbeda dua kali lipat dari usiaku," kata Ziana yang membuat Wina sedikit mengernyit. "Maksudku, umur bukan patokan," tambah Ziana dengan ekspresi tenang dan wajar. Wina yang tadi sempat berpikir keras, dia kembali tersenyum. Tidak menanggapi ucapan Ziana berlebihan, mungkin gadis muda itu hanya sedang mengutarakan pendapatnya? *** Ziana pulang dari rumah Wina sore hari. Dia terlalu betah sampai tidur siang di sana. Dia pulang dengan memakai tak







